Musuhku Kekasihku

Musuhku Kekasihku
Chapter 7


__ADS_3

Hanna menundukkan kepala. Berpikir. Apa yang dia rasakan? Hanna juga bingung apa yang dia rasakan. "Gue… nyaman? Kalau sama dia maksudnya." Entahlah, cuma itu yang terpikirkan saat ini. 


"Nyaman ya.. Senyaman saat bersama Ken? Apa kamu merasakan getaran seperti kamu bersama Ken saat bersama dia.. atau nggak?" Felline bertanya dengan hati-hati. Pasalnya, dia telah menyangkut pautkan kekasih yang sangat disayanginya. Hubungan yang rumit. 


"Getaran?"


Gadis cantik dengan rambut terurai itu mengangguk. "Ya, getaran. Emm you love him kan? Ken maksudnya." Sehati-hati mungkin mengatakan ini. Berharap tidak ada yang akan sakit hati. Tidak Hanna. Tidak juga dirinya. 


Hanna terperangah. Nggak nyangka Felline akan membuka pembicaraan ini. Dan apa itu tadi, Felline tahu kalau Hanna mencintai Ken? Gadis itu masih anteng dan selalu peduli padanya? Bukannya harusnya Hanna sudah dijambak ya? "Lo tahu?"


Felline mengangguk. 


Hanna makin bingung. "Kok lo masih baik sama gue?"


"Emang kenapa?"


Hanna mendecak. Temannya ini kelewat polos atau bagaimana. "Ya minim-minim lo harusnya jambak gue kek atau gimana. Emang lo nggak takut kalau gue bakal rebut dia dari lo?"


"Emang kamu berencana rebut dia?" Felline kembali membalikkan pertanyaan Hanna.


"Nggak lah, bukan gaya gue begitu."


Mendengar ini, Felline tersenyum. Seperti kata Ken, Hanna memang sebaik itu. Makanya Felline tetap percaya dan mau berteman dengan gadis itu meskipun riskan ditusuk dari belakang, tapi dia yakin tidak akan seperti itu. "Ok, berarti nggak masalah. Lagian, siapapun bisa menyukai siapa aja. Kita nggak bisa larang-larang itu, Hanna. Kecuali… kamu coba rebut Ken dari aku, ya aku bakal bertindak." Felline tersenyum cerah seraya mengerlingkan mata.


"Ish," Hanna mendecak. "Ya kecuali kalau Ken kelihatan cinta sama gue, mungkin gue bakal rebut," katanya lalu tertawa, diikuti oleh tawa Felline yang memahami maksudnya. Intinya, Hanna berdedikasi, dan Felline percaya itu. Jadi seharusnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. 


"Seharusnya aku yang minta maaf, Hanna." Felline kembali berbicara setelah puas menertawakan sesuatu yang entah apa yang lucu. "Ken pasti sudah menyakiti kamu, begitu juga aku." Dirinya kini tertunduk. Menyadari bahwa mungkin kehadirannya membuat Hanna sering tak nyaman dan bersedih. 


Hanna menggenggam tangan Felline, menenangkannya. "Nggak, ya maksudnya, itu di luar kendali kalian. I'm ok. Gue bisa atasi perasaan gue."


Lalu tiba-tiba Hanna teringat, jika yang seringkali mengatasi perasaannya adalah Ronin. Yang pernah memeluknya dan mengalihkan perhatiannya karena kesedihan itu adalah Ronin. 


Gadis itu jadi bertanya, lalu bagaimana perasaannya jika seperti itu? 



Setelah beberapa hari di rumah sakit, akhirnya Hanna sudah boleh pulang. Untungnya kondisi Hanna tidak terlalu parah, hanya perlu istirahat beberapa hari saja untuk mengembalikan tenaga. Terlebih Hanna jadi lebih sering pusing semenjak kejadian itu. 

__ADS_1


Selama di rumah sakit, Hanna jadi sadar bahwa yang benar-benar peduli padanya hanya kedua orang tuanya, juga tentu saja Ken, Felline, dan Ronin. Hanna memang tidak memiliki teman sih tapi bukankah keterlaluan kalau selain mereka bertiga, tidak ada teman sekelasnya maupun teman OSIS nya yang menjenguknya, padahal dia sampai masuk rumah sakit. Ada seorang gadis lagi sih, sekretaris OSIS sekolah Hanna, salah satu informan Hanna yang menurut Hanna bisa dipercaya. Tapi gadis itu hanya datang sebentar, tidak lebih dari 15 menit. Tapi ya sudah, Hanna bisa maklum karena memang mereka tak begitu dekat.


Karena sebenarnya lumayan peningkatan juga, dari yang awalnya sebelumnya hanya ada Ken, kini ada 3 orang lagi. 


Terutama Ronin. Pemuda itu setiap hari selalu mengunjunginya, dengan dalih kalau dia masih menjalani hukuman jadi tidak ada tujuan kemana-kemana selain menemui Hanna. Jadilah ia setiap hari ke RS. Adakalanya mereka main mobile legend bersama, ataupun main game-game seru lainnya. Yang membuat Ronin aneh karena ternyata gadis itu bisa bermain game. 


Terkadang Ronin juga menemani Hanna belajar atau sekedar membaca buku. Gadis itu setiap hari selalu menyempatkan diri untuk belajar bahkan di kondisi seperti ini. Sangat tidak relate menurut Ronin. Tapi dia bisa maklum, mengingat gadis itu ambisius nya minta ampun, hingga selalu jadi juara kelas bahkan sekolah. Satu-satunya yang bisa menandinginya saat ini hanya Ken. Berbanding terbalik dengan Ronin, pemuda yang nggak peringkat terbawah satu sekolah saja sudah alhamdulillah. 


Terkadang juga Ronin menemaninya berjalan-jalan di sekitar RS, entah itu di taman, atau lorong ruangan. Sejauh ini, pemuda itu sudah tidak pernah membahas perasaannya lagi. Hanna hampir berpikir bahwa pernyataannya yang waktu itu hanya karena dirinya terkesan sesaat pada Hanna. Tapi kalau memang begitu, mengapa dia masih datang setiap hari? 


Ronin IPS 3: Woy


Yang dibicarakan dalam hati malah mengirim pesan. Apa mereka terkoneksi? 


Ronin IPS 3: Kangen


Belum sempat Hanna membalasnya, pemuda itu sudah mengirimkan pesan lagi.


Sebentar. Kangen? Apa mereka berada dalam hubungan yang wajar untuk kangen-kangenan? Dan lagi, bukankah mereka kemarin bertemu di rumah sakit? Kan baru hari ini Hanna pulang ke rumah. 


Ronin IPS 3: Emang ga boleh ya gw ke rumah lo? 


Tapi kasihan juga. 


Kasihan apa Hanna juga kangen? 


Eh ya nggak dong, baru juga sehari, masak sudah kangen? 


Ronin IPS 3: Hanna sayang


Pemuda itu mengirim pesan lagi. Ya ampun, memang tidak sabaran yah. 


Hanna: Besok kan ketemu, gue besok masuk kok. 


Hanna memang berencana masuk sekolah lagi mulai besok. Sudah bosan banget dia rebahan, baca buku, rebahan lagi, sudah macam kucing. Lagipula, dia sudah ketinggalan banyak sekali pelajaran, nanti susah mengejarnya kalau gadis itu tak segera masuk sekolah. Begitu pikirnya. 


Ronin IPS 3: Buset lo kalo ambis jangan kebangetan han. Atau lo kangen gue juga ya makanya pengen cepet2 masuk? 

__ADS_1


What? 


Hanna: :) 


Hanna hanya membalas dengan satu senyuman. Tak lama balasan langsung muncul dari pemuda ini. 


Ronin IPS 3: Vc dong


Belum sampai Hanna mengetikkan balasan, sudah ada panggilan video dari pemuda ini. Hanna menimbang-nimbang apakah harus mengangkatnya atau tidak, tapi akhirnya diangkat juga karena toh apa salahnya.


Begitu panggilan video diterima, pantulan wajah pemuda itu pun segera muncul di layar handphone Hanna. Sepertinya dia tengah tiduran di kasurnya. Penampilannya yang seperti ini membuat pemuda ini jadi tak lagi terlihat garang seperti yang selalu dikatakan semua orang. Meskipun ya, akhir-akhir ini saat bersama Hanna, pemuda ini pun terlihat lebih soft dari yang biasanya ditunjukkannya pada semua orang.


“Hai.” Pemuda itu tampak memandangnya lekat-lekat. Matanya terasa hangat, hilang sudah kesan bad boy pemuda ini saat memandang Hanna. 


“Lo udah sehat?” tanya pemuda itu saat tak ada kata-kata yang terucap dari Hanna. 


Hanna mengangguk sekilas. “Udah,”


“Udah nggak pusing?” tanya pemuda itu lagi. Hanna merasa pemuda ini jadi seperti dokter pribadinya.


“Kadang-kadang aja, tapi nggak papa.”


“Lo yakin nggak papa? Udah cek keseluruhan?”


Hanna mengerutkan keningnya, tapi lalu menahan senyum karena merasakan perhatian pemuda ini yang kelewat batas. “Ronin, I’m ok.”


Hening sejenak. Ronin masih tak berhenti memandangnya, membuat Hanna jadi malu sendiri dipandang seperti itu.


“Ok, besok gue jemput ya?” akhirnya pemuda itu kembali bersuara. tapi segera dibalas gelengan keras oleh Hanna. 


“Nggak usah, gue diantar kok. Ketemu di sekolah aja.”


“Tapi, Han…”


“Ronin..” Hanna menyela. “Jangan posesif.” Dirinya memperingatkan. Final. Hanna tak bisa dipaksa. 


Ronin menghembuskan napasnya, terasa berat. Tapi tak ayal tetap menghormati keputusan gadis ini. “Ok, ya udah lo istirahat gih.” pintanya. 

__ADS_1


Panggilan video pun terputus. Kepala Hanna juga mulai terasa berat. Sepertinya sudah cukup untuknya beraktivitas hari ini. Gadis itu menyandarkan kepalanya, perlahan memasuki dunia mimpi yang menyambutnya.



__ADS_2