
"Kok mereka kelihatan akrab banget?" Felline berbisik di sebelah Hanna. Membuat gadis berpita merah itu kembali melirik mereka berdua.
"Mereka tetanggaan." Jun menjelaskan. "Udah kenal dari kecil kayaknya."
"Oh ya?" Kedua alis Hanna bertaut. Well, apa Hanna juga akan kembali dikalahkan oleh teman masa kecil? Mendadak gadis itu berpikiran yang tidak-tidak.
Jun mengangguk. "Lo belum pernah ke rumahnya Ronin ya? Ada di gang sebelah. Lo mampir aja nanti."
"Ngapain." Entah kenapa, ada semburat merah di pipi Hanna yang sangat sulit ia sembunyikan.
"Tapi btw, meskipun kenal dari kecil, apa harus seakrab itu?" Ken menginterupsi. Pemuda ini sepertinya belum bisa melepaskan Hanna begitu saja. Tidak saat dia belum bisa benar-benar percaya pada Ronin.
"Tenang aja, Ronin cuma menganggap dia kakak kok." May mengerling pada Hanna.
Jun mengangguk. "Lagian gue juga nggak pernah lihat Ronin bucin ke Kak Mela atau siapapun, kecuali ke elo, Hanna." Pemuda beralis tebal itu menambahkan.
Hanna salah tingkah. Mendadak gadis itu lebih tertarik pada piring-piring kue yang disuguhkan di meja. Gadis itu lalu meneguk minuman di gelasnya sejenak.
Hening sejenak. Tak lama kemudian Ronin beranjak, memberi kode pada mereka jika ingin pulang. Tak butuh waktu lama keenam remaja itu sudah keluar dari rumah duka.
Awalnya mereka berencana untuk makan dulu, tapi karena Felline akan ada kegiatan lain, akhirnya semuanya memutuskan untuk berpisah disini dan langsung pulang.
Keempatnya telah lebih dulu pergi, tinggal Hanna dengan Ronin. Hanna tampak ragu ketika akan menaiki motor Ronin. Gadis itu merasakan tak nyaman. Padahal sebelum kesini sudah ganti pembalut dan membersihkan diri, tapi ya namanya hari pertama, baru beberapa jam saja sudah terasa penuh.
"Ronin," panggil Hanna pelan. Gadis itu masih enggan menaiki motor Ronin.
Ronin menoleh, mendapati Hanna yang tampak gelisah. "Ada apa, sayang?" tanyanya.
"Gue kayaknya perlu ke toilet." Hanna mencicit kecil. "Tapi gue nggak enak kalau disini."
Ronin memandangnya. Menarik tangan gadis itu, memberi kode agar ia naik. "Yaudah ke rumah gue aja, deket sini kok."
Loh? Jadi beneran mau ke rumah Ronin?
Hanna tak ada pilihan lain selain mengikuti pemuda ini. Lagipula, mau kemana juga?
__ADS_1
"Lo deket sama Kak Mela?" Tanpa sengaja Hanna melontarkan pertanyaan itu saat mereka sudah di perjalanan. Seperti ada dorongan yang sangat besar pada gadis ini untuk segera menanyakannya pada yang bersangkutan.
"Lumayan. Kenapa?"
"Deket banget?"
Ronin berpikir sejenak. "Kalau yang dimaksud deket bangetnya kayak Jun sama May, atau elo sama Ken, ya nggak segitunya. Tapi akrab iya emang. Dia kayak kakak buat gue. Emangnya kenapa, Princess?"
"Yakin cuma nganggep kakak?"
Ronin mengulum senyum. Pemuda ini jadi paham arah pembicaraan Hanna. Pertanyaan gadis itu yang terkesan ngegas malah jadi menggemaskan sekali.
Ronin tak langsung menjawab. Pemuda itu malah menghentikan motornya di depan sebuah rumah yang cukup besar, tapi tentunya tak semegah rumah Hanna. Membuka pagarnya sendiri, lalu masuk ke dalam.
Hanna memperhatikan rumah Ronin yang tampak lengang. Tak ada satu orang pun saat mereka berdua masuk ke dalam.
"Mama masih kerja, jadi sepi." Ronin seperti menjelaskan pertanyaan dalam hati Hanna. Pemuda itu masuk ke dalam sebuah kamar, yang Hanna yakini sebagai kamar Ronin melihat dari dekorasinya yang benar-benar mencerminkan pemuda itu. Gelap yang misterius.
"Kamar mandi yang di kamar gue aja ya? Soalnya kalau kamar mandi tamu kan jarang dipakai, takutnya kotor." Ronin menjelaskan. Pemuda itu menunggu Hanna masuk ke kamarnya.
Tidak sampai 10 menit, Hanna sudah keluar dari kamar mandi. Gadis itu lebih fresh karena selesai mencuci muka lalu memoleskan sedikit pelembab bibir, juga menyemprotkan sedikit minyak wangi beraroma coklat. Dia memang kurang pede saat haid karena takut ada bau anyir yang mengganggu.
Hanya dengan tampilan sederhana itu pun, sudah membuat Ronin menahan napas menyadari kecantikan alami gadis itu.
Hanna mengabaikan Ronin yang memperhatikannya. Lebih tertarik memperhatikan kamar pemuda ini. Gadis itu berkeliling memperhatikan deretan gundam dan beberapa action figure yang tertata rapi. "Boys will be boys." Hanna menggumam.
Ronin menyeringai. Pemuda itu menarik pita merah Hanna. Membuat rambut panjang gadis itu terurai sempurna. Sengaja mencari perhatian gadis itu. "Coba sekali-sekali begini," bisiknya sambil tersenyum.
Tapi sepertinya pemuda itu melakukan kesalahan. Wajah Hanna yang teramat cantik, dipadu dengan rambut panjang lurus hitam legam terurai yang mempesona, belum lagi aroma tubuh Hanna yang serupa coklat, benar-benar membuat Ronin tak bisa berpikir. Pemuda itu menelan ludah, entah kenapa suasana kamarnya menjadi terasa panas baginya.
"Princess." Suaranya berubah serak. "Gue sepertinya melakukan kesalahan."
"Hm?"
"Sekarang gue jadi pengen nyium lo," ujar Ronin terus terang. Tak mendapat jawaban, pemuda itu kembali bertanya, "can I kiss you?"
__ADS_1
"Lo ngomong gitu padahal biasanya nggak pernah ijin tiap mau nyium gue."
Ronin tertawa. Pemuda itu menangkup pipi gadis dihadapannya, gemas sekali. "Gue suka jawaban lo."
Lalu di detik selanjutnya pemuda itu telah mencium Hanna dengan sangat lembut. Bibirnya menekan bibir Hanna, memberi kesempatan gadis itu untuk membalas. Tak sampai beberapa detik, Hanna telah membalasnya.
Ronin semakin memperdalam ciumannya. Aroma serta rasa stroberi di bibir Hanna membuatnya jadi hilang kendali. Ciuman yang awalnya lembut menjadi tak terkendali. Seperti ada kabut nafsu yang melingkupi keduanya.
Hanna tak pernah merasa seperti ini. Gadis ini seharusnya menolak. Tapi dia seperti tak mampu, malah justru menginginkan lebih dan lebih. Gadis itu terus saja menarik Ronin dalam pelukannya, seperti berharap Ronin akan mencumbuinya di seluruh bagian tubuhnya.
"Ronin." Gadis itu berbisik saat ciuman pemuda itu turun ke lehernya. Pemuda itu menggesekkan hidungnya di leher Hanna, membuat gadis itu meremang.
Entah bagaimana ceritanya, mereka berdua sudah berada di atas ranjang, dengan Ronin yang menindih tubuh gadis itu.
Ronin melepas baju seragam juga kaosnya, hingga menampilkan tubuhnya yang atletis. Sangat menggoda bagi Hanna. Gadis itu menelusuri dada dan punggung Ronin dengan tangannya.
Ronin pun tak kalah, pemuda itu mengusap perut Hanna membuat gadis itu terkesiap. Tangan nakalnya masuk ke dalam baju seragam gadis itu, naik ke atas, ke belakang punggung Hanna lalu melepas pengait bra nya hanya dengan satu sentuhan. Perlahan, tangan nakalnya kembali bergerilya, kali ini menangkup dada gadis itu, lalu perlahan meremas nya.
"Uhh…" Hanna tak mampu lagi menahan lenguhan hingga lolos dari mulutnya.
Berkali-kali, Ronin meremas kedua dada gadis ini. Hanna jadi harus berkali-kali menahan napas. Gadis itu mencengkram punggung Ronin dengan kukunya, menahan segala rasa yang ditimbulkan oleh Ronin.
Lalu, seperti tak puas hanya dengan menyentuh, pemuda itu perlahan membuka kancing baju Hanna. Gadis itu sudah tak kuasa menolak, hanya berbaring pasrah saat Ronin membuka bajunya. Dengan cepat pemuda ini segera meloloskan baju juga bra Hanna yang menghalangi pandangannya.
Hanna adalah semacam karya seni. Begitu indah. Begitu memukau. Begitu menggoda. Ronin membenamkan wajahnya di antara buah dada gadis itu, menikmati aroma coklat yang begitu menyenangkan.
Lalu tanpa diduga, Ronin segera melahap salah satu buah dada gadis itu.
"Ronin.. Uhhh Roninn," Hanna sedikit berteriak. Ini di luar dugaan. Gadis ini tak mampu menahan segala kenikmatan yang ia rasakan.
"Ronin…" Gadis itu seperti tak berhenti menyebut nama Ronin. Apalagi pemuda itu seperti tak memberi jeda, berkali-kali menghisap kedua payudara gadis itu secara bergantian. Bagaimana Hanna tak hilang kendali?
Gadis itu bergerak gelisah. Seperti ada getaran aneh yang melingkupi seluruh tubuhnya. “Ronin, please..” Hanna setengah memohon.
Ronin menghentikan aktivitasnya. Pemuda itu menatap manik mata Hanna dengan lembut. “Kenapa, sayang?” tanyanya mengusap pipi gadis itu.
__ADS_1