Musuhku Kekasihku

Musuhku Kekasihku
Chapter 27


__ADS_3

It’s the day. 


Sebenarnya ini juga tidak semendebarkan itu. Mungkin karena Hanna sudah sering mengikuti lomba sehingga dia terkesan biasa saja. Namun tetap berusaha mempersiapkannya sebaik mungkin. 


Rencananya, Hanna akan pergi berdua dengan Ken. Perjalanannya tak seberapa jauh, hanya membutuhkan 1 jam perjalanan. Jadi mereka berencana naik motor.


Hanya saja, Hanna punya lover yang protektifnya setengah mati. H-1 jam saja dia masih meributkan bahayanya naik motor berdua, jauh gitu, apalagi sama Ken, duh banyak lah alasannya cowok bucin satu ini. 


Tapi tentu, bukan Hanna namanya jika nurut-nurut saja. Pada akhirnya, Ronin harus membesarkan hatinya karena gadis kesayangannya tetap akan pergi berdua dengan saingan terbesarnya - seseorang yang pernah menduduki posisi tertinggi di hati Hanna. 


Sementara Hanna, entah sejak kapan, ada kecanggungan di antara mereka berdua. Mungkin karena hubungan yang rumit ini. Padahal sebelumnya, meskipun kata Hanna dia nggak punya teman, tapi Ken lebih dari cukup untuk menjadi segalanya bagi Hanna. Yang selalu bersama dan support sekaligus saingan dengan Hanna. Yang tahu kapan Hanna sedih, capek, insecure, maupun sakit.


Tapi kenapa Ken yang sedemikian pekanya itu tidak pernah tahu perasaan Hanna dan malah harus dispill dulu sama netizen di sekolah mereka berdua?


“Diem mulu, lo.”


Suara Ken menarik Hanna ke dalam dunia nyata. Hanna menatap manik mata Ken yang juga tengah menatapnya. Saat ini, mereka tengah menunggu acara dimulai, mungkin masih sekitar satu jam lagi. Mereka memang sengaja berangkat lebih pagi, demi menghindari macet maupun hal-hal lain yang di luar dugaan. 


“Gue biasanya juga emang diem.” Hanna bersuara. Gadis itu mengalihkan wajah, menatap para siswa lain yang mulai berdatangan. 


Namun Ken masih saja menatapnya. Pemuda itu, masih saja menatap penuh arti ke arah gadis di hadapannya.


Bagaimana Hanna tidak grogi?


“Apa? Lo mau ngomong apa?” tanya Hanna frustasi sendiri.


Ken menggeleng. “Enggak, cuman canggung aja.” Dia mencoba tersenyum. 


"Emang biasanya nggak canggung?" tanya Hanna heran. 


Bukannya Hanna memang dari dulu jarang ngomong ya? Bedanya apa? 


"Nggak. Lo emang dari dulu judes-judes gimana gitu tapi nggak ada canggung-canggungnya kan kita. Sorry ya kayaknya ini gara-gara gue." Ken menunduk lemah. 


Kini ganti Hanna yang memandangnya penuh arti. "Ken." Tangannya beralih menyentuh lengan pemuda itu, membuat Ken kembali menoleh padanya. "Lo nggak salah apa-apa. Ya emang kita butuh penyesuaian aja," hiburnya lembut. 


Ken mengangguk singkat, mencoba mengerti. “Btw lo serius sama Ronin? Yakin lo bisa betah ngadepin dia?” Pemuda itu meraih kotak bekal berisi roti lapis yang dibawa Hanna, memakannya satu.


Alis mata Hanna berkerut. “Kenapa harus nggak betah?” tanyanya bingung.


“Ya lo tahu sendiri sifatnya kayak gitu. Pergaulannya. Tabiatnya. Benar-benar berbanding terbalik sama lo.” Ken mengedikkan bahunya. “Kalau apa yang lo lakuin sekarang buat pengalihan isu, bikin gue marah, atau semacamnya, sebaiknya lo berhenti. Itu cuma bakal bikin lo repot aja.”


Hanna melongo. Gadis itu memandang cengo ke arah pemuda di hadapannya. 

__ADS_1


Bagaimana tadi katanya? Pengalihan isu?


“Ken, serius lah. Gue tersinggung kalo lo nganggep gue kayak gitu.” Gadis itu meraih kotak bekalnya, menutupnya rapat sebelum menyimpannya ke dalam tas. “Kalau lo memang beneran sahabat gue, seharusnya lo tahu kalau gue nggak serendah itu,” pungkasnya sembari beranjak.


Tepat saat itu, acara segera dimulai. 



Hanna berjalan di koridor kampus seorang diri. Ternyata, view malam hari bagus juga. Acara hari ini telah selesai, akan dilanjutkan besok. Jadi, semua peserta bisa beristirahat terlebih dahulu. Gadis itu lebih memilih berjalan-jalan karena sudah buntu seharian. 


Niatnya sih mau refreshing ya. Tapi sepertinya akan gagal begitu dilihatnya beberapa siswi tampak berjalan ke arahnya dengan pandangan sinis setengah mati. 


Astaga.


Haruskah semua orang mengganggunya di setiap tempat?


“Eh, lo Hanna kan? Lo ada hubungan apa sama Ken?” tanya salah satu anak dengan rambut panjang tergerai. 


“Hubungan gue sama Ken? Urusannya apa sama lo?” tanya Hanna ikutan sinis. Gadis ini melipat tangannya di dada, dengan pandangan meremehkan ke arah keempat gadis di hadapannya.


“Eh, lo gak usah deket-deket Ken. Lo itu gak cocok sama dia,” kata anak yang satunya lagi, yang disebelah gadis yang pertama. 


Hanna semakin tersenyum mengejek. “Terus siapa yang cocok? Lo gitu?” tanyanya sarkastis.


“Lah bukannya kalian ya yang sekarang lagi sok ke gue?”


Aduh kesabaran Hanna setipis tisu. Kalau bukan ini lagi di kampus, sudah dijambak satu-satu mereka sama Hanna. 


Gadis yang pertama maju ke depan, menunjuk-nunjuk Hanna. “Lo nggak usah nantang deh, lo disini bukan siapa-siapa.”


“Lah yang dari tadi nantangin siapa? Kan kalian?”


Astaga, serius deh. Apa anak-anak ini harus diberi pelajaran aja ya? Pusing sekali Hanna kalau bersilat lidah terus. 


“Lo itu benar-benar ya!” Gadis yang sedari tadi paling banyak bicara, mengangkat tangannya, sudah bersiap akan memukul Hanna. 


Hanna juga bersiap akan menepis tangan gadis itu, namun tanpa diduga, sudah ada tangan lain yang menepisnya. 


Hanna menoleh, demi mendapati Ken yang menatapnya tenang, tanpa ekspresi. Namun mampu membuat keempat gadis di depannya tersenyum pias. Sebelum akhirnya mereka mampu memperbaiki ekspresinya. 


“Ken, Hanna yang lebih dulu, dia ngehina temen-temen gue,” lapor gadis yang tangannya masih dipegang Ken ini, dengan muka memelas.


Hanna menarik alisnya, heran sendiri. Masih ada ternyata sinetron indosiar di jaman yang serba modern ini.

__ADS_1


Ken menoleh pada Hanna, menarik alisnya, meminta Hanna bicara. Padahal dia sendiri juga pasti percaya pada sahabatnya. Namun dia akan membiarkan Hanna membela dirinya terlebih dahulu. 


Yang dilakukan Hanna malah di luar ekspektasi. Gadis itu menarik lengan Ken yang masih memegang gadis di hadapannya. Memegangi lengan Ken sembari sedikit bergelayut manja. 


“Mereka yang lebih dulu datengin aku. bilang kalo aku nggak cocok sama kamu. Kamu percaya aku kan?” rengeknya dengan nada yang dibuat-buat. 


Mata Ken berkedip. Berusaha memproses informasi yang dia terima. Pemuda itu menatap Hanna dengan pandangan kosong, meminta penjelasan. 


Tapi Hanna tidak peduli, malah semakin bergelayut manja sembari tersenyum licik pada keempat gadis itu. 


Astaga, queen of late game ini memang beda. 


"Siapa yang bilang kamu nggak cocok sama aku?" tanya Ken setelah memahami situasi. Pemuda itu melepaskan tangan Hanna, beralih merapatkan tubuhnya dan mengelus puncak kepala Hanna dengan sayang. 


"Mereka tuh." 


Langsung ulti nih bos. 


Keempat gadis itu hanya saling berpandangan bingung. 


"Ken, ini nggak seperti yang kamu pikirin. Hanna tuh licik. Dia bohong, Ken," sahut gadis yang tadi akan memukul Hanna. 


"Kamu masak lebih percaya dia daripada aku?" Hanna masih dengan rengekannya, sekaligus dengan senyum sinisnya. 


"Ya aku percaya kamu lah, Sayang." Ken menekankan kalimatnya pada kata sayang. Sepertinya selain pasangan emas dalam akademik, mereka juga cocok berpasangan dalam bermain drama. 


"Jangan ganggu Hanna. Sekali gue lihat kalian ganggu dia lagi, gue bakal bertindak." Ken mengatakan ini dengan pandangan menusuk. Pemuda ini meraih tangan Hanna, menggenggamnya, lalu berjalan melewati keempat gadis itu. 


Sementara Hanna mengikuti Ken sambil tersenyum penuh kemenangan memandang keempat gadis yang tak mampu berkutik. Lagian siapa suruh ganggu Hanna di malam yang sangat indah ini. Kena mental deh. 


Ken masih menggenggam lembut jemari tangan Hanna meskipun mereka sudah jauh. Bahkan hingga berada di depan kamar gadis itu. 


"Yaudah, lo masuk gih, istirahat." katanya lalu melepas tangan Hanna. 


Hanna mengangguk. "Makasih ya lo udah bantuin gue. Sorry, gue agak drama." Gadis itu tersenyum begitu manis. 


Ken hampir lupa kalau senyum Hanna memang semanis itu karena jarang melihatnya tersenyum. Untungnya, dia dapat menguasai diri meskipun sebenarnya agak geter juga. Tangannya lalu terulur, kembali mengusap puncak kepala gadis itu. 


"Tidur gih." Tersenyum singkat, lalu berbalik menuju kamarnya sendiri. 


Dirinya tidak sadar, kalau tindakannya ini juga mampu membuat Hanna sedikit oleng. 


Ya ampun, kenapa susah sekali bersikap biasa saja? 

__ADS_1



__ADS_2