Musuhku Kekasihku

Musuhku Kekasihku
Chapter 24


__ADS_3

Melihat mamanya yang tampak sedih, ekspresi Ronin melunak. "Mama istirahat aja, Ronin nggak lama kok, nanti sore pulang." Pemuda itu melirik Hanna yang masih terdiam. "Ayo, Hanna," ajaknya. 


Mau tak mau, Hanna ikut beranjak. Gadis itu berpamitan sebentar pada Laras, lalu mengikuti Ronin. 


Tak ada yang berbicara. Hanna bingung harus memulai pembicaraan. Ronin juga sepertinya tak berniat mengatakan sesuatu.


"Lo mau makan apa?" tanya Ronin akhirnya. Pemuda itu berhenti di depan pujasera dekat taman kota. Memarkirkan motornya, lalu berjalan beriringan dengan Hanna. 


"Makan bakso aja gue." Hanna memilih asal. Gadis itu masih fokus memperhatikan Ronin. 


"Bakso lagi?"


Hanna mengangguk. "Gue butuh yang anget-anget dan berkuah," alibinya. 


Ronin hanya mengangguk, lalu memesankan makanan untuk Hanna, juga untuk dirinya sendiri. Pemuda itu memilih tempat di sudut ruangan, bersebelahan dengan jendela yang langsung menampilkan pemandangan taman kota yang asri. 


Hanna memperhatikannya. Perlahan, gadis itu meraih tangan Ronin. "Are you ok?"


Ronin mengalihkan perhatiannya pada Hanna. Pemuda itu ganti menggenggam tangan Hanna. Dia mengangguk sekilas. "Maaf ya lo jadi dengerin permasalahan keluarga gue."


"Kalau lo emang mau ngajak gue masuk ke kehidupan lo, ya gue bakal tau permasalahan keluarga lo juga."


Ronin tersenyum. Pemuda itu kembali mengalihkan pandangan pada jendela, menatap taman kota yang selalu ramai. 


"Gue nggak mau mama terluka. Sudah cukup selama ini orang-orang ngomong yang enggak enggak tentang mama. Kalau sampai mereka tau mama berhubungan dengan bosnya, apalagi pemilik perusahaan, bakal sekejam apa omongan orang-orang? Gue bukannya malu, tapi gue cuma nggak mau mama tersakiti. Lagian juga si Bastian itu belum tentu tulus sama mama."


Ronin menyeruput es tehnya. Mereka diam sejenak saat ada pramusaji yang mengantarkan pesanan mereka. 


"Tapi kalau mama lo bahagia, dan Om Bastian itu beneran tulus sama mama lo, apa lo bakal merestui hubungan mereka?" Hanna kembali bertanya setelah memastikan tak ada lagi pramusaji yang datang. Gadis itu mengambil sambal seperti biasa, lalu mengaduknya perlahan. 


"Gue nggak tau."


Hanna diam sesaat. Gadis itu menyeruput minumannya sedikit. Sebelum akhirnya menyatakan sesuatu yang sedari tadi mengganjal hatinya. "Papa ngelarang gue buat deket sama lo."


Ronin menghentikan aktivitasnya. Pemuda itu kini menatap Hanna sepenuhnya. Menunggu gadis itu melanjutkan kalimatnya. 


"Papa mikir gue bisa dalam bahaya kalau deket sama lo. Lagian toh elo belum tentu tulus juga, papa nggak mau gue tersakiti."


Well, permasalahan ini terkesan beda tapi serupa. 


“Tapi gue, gue mau ikutin kata hati gue. Dan gue juga berharap papa ngasih kesempatan buat gue untuk memilih.” Hanna kembali melanjutkan aksi makannya. Tak mempedulikan Ronin yang masih memandangnya. Keduanya akhirnya makan dengan tenang, dengan pikiran masing-masing.


Setelah menyelesaikan masalah makan masing-masing, keduanya kembali melanjutkan perjalanan. Hari mulai sore. Hanna harus segera pulang kalau tak ingin papanya yang akan menyusulnya langsung. 


Sesampainya di depan rumah Hanna, Ronin memegang kedua tangan gadis itu. “Ucapan lo tadi, apa itu artinya lo percaya sama gue?”


Hanna menatap mata elang itu. Mata elang yang selalu menatapnya dengan lembut. “Iya.”


Dan seketika mata elang itu langsung berbinar. Pemuda itu tanpa sadar memeluk Hanna. Namun segera melepaskannya kembali karena sekarang sedang berada di depan rumah gadis itu. “Makasih ya, gue nggak bakal sia-siain kepercayaan yang lo kasih ke gue,” katanya seraya tersenyum.


Hanna jadi ikut tersenyum. Gadis itu mengangguk pelan. “Yaudah lo pulang gih. Oh ya, jangan terlalu keras sama tante, cuma lo yang beliau punya.”

__ADS_1


Sepasang yang entah sudah resmi menjadi kekasih atau belum ini pun berpisah. Keduanya mengulum senyum. Ada binar-binar cerah di mata masing-masing. Semoga, ini keputusan yang tepat.



Suasana tak seperti biasanya saat Hanna tengah makan malam bersama kedua orang tuanya. Kaku sekali. Padahal biasanya, meskipun Hanna bukan pribadi yang ceria, suasana tetap hangat dan menyenangkan.


“Kamu dari mana tadi?” Suara Adra memecah keheningan. 


Hanna menoleh. “Ada pegawai sekolah yang berduka. Hanna pergi kesana.”


“Setelah dari situ kemana?”


“Sayang, biarin Hanna selesai makan dulu.” Suara Lisa, Mama Hanna menginterupsi.


Hanna menghela napas, pada akhirnya pertanyaan itu akan muncul dari papanya. “Rumah temen, Hanna numpang kamar mandi.”


“Siapa?” 


Masalahnya, Hanna tidak bisa berbohong.


“Ya teman, Pa. Teman Hanna.”


“Siapa namanya?”


Hanna benar-benar tidak bisa berbohong.


“Pemuda itu lagi?”


Adra menghela napas, merasa frustasi dengan anaknya sendiri. “Hanna, Papa kan minta kamu menjauhi dia, tapi kamu malah datang ke rumahnya?”


“Pa, Hanna tau Papa pasti khawatir, tapi Hanna bisa jaga diri."


Adra meletakkan sendoknya. Menatap anak semata wayangnya ini. "Hanna, Papa melakukan itu demi kebaikan kamu."


"Pa, apa yang baik menurut Papa, belum tentu benar-benar baik buat Hanna!" Hanna terdengar emosi mengatakannya. 


"Hanna…" Lisa mengingatkan. Wanita itu menatap Hanna. 


Hanna tertunduk menyadari ucapannya yang terlalu keras. "Maaf," lirih nya. Sedari kecil, Hanna memang dididik agar jangan sampai melawan orang tua. Gadis itu mendapatkan semuanya yang dia mau, mendapatkan banyak kasih sayang untuk mengisi tangki cintanya. Tapi tetap penuh keberanian. 


"Keputusan Papa tetap sama. Jangan dekat-dekat dengan pemuda itu. Papa yang akan mengantar jemput kamu ke sekolah. Jangan coba-coba dekat dengannya juga di sekolah. Atau kalau perlu kamu pindah sekolah. Masih banyak sekolah yang lebih baik dan lebih bergengsi." Adra berdiri. Pria itu meninggalkan putrinya yang kini terperangah. 


Hanna tak habis pikir. Bagaimana papanya bisa berpikir seperti itu dengan begitu mudah. Pindah sekolah? Apa-apaan ini? 


Gadis itu jadi ikut berdiri. Dengan muka masamnya berjalan menuju kamarnya. Tak memedulikan Lisa yang kini menatapnya prihatin. 



Lisa masuk ke kamar anak semata wayangnya saat gadis itu tengah membaca buku di kamarnya. Selain belajar rutin setiap malam, gadis itu memang menyempatkan diri membaca buku ringan sebelum tidur. Katanya sih biar mengantuk. Tapi malah seringkali kepalang tanggung, hingga akhirnya malah membacanya sampai selesai – baru tidur. 


Begitu Hanna melihat mamanya, gadis itu segera menutup bukunya. Lalu menanti hingga dapat tidur di pangkuan wanita itu. 

__ADS_1


Lisa mengelus rambut Hanna dengan sayang. "Ronin itu, yang waktu itu sering nemenin Hanna waktu di rs kan?" Ia membuka obrolan. 


Hanna hanya mengangguk. Gadis itu begitu nyaman berada di pangkuan mamanya begini. 


"Hanna suka sama dia?"


Hanna lagi-lagi mengangguk. 


"Terus Ken?" tanya Lisa lagi. 


Hanna menoleh. Mamanya ini, bahkan tanpa bertanya pun bisa tahu segalanya. “Ken kan punya pacar, Ma.”


Lisa manggut-manggut. “Oh, Felline itu, ya? Anak mama patah hati?”


Hanna beranjak dari tidurnya. Gadis itu melihat mamanya, berpikir sejenak. Lalu mengangguk kemudian. 


“Nangis?”


Hanna meringis kecil, lalu mengangguk sekilas. “Tapi cuma sebentar Mama, Ronin yang temenin Hanna biar Hanna nggak sedih terus.” Hanna terkekeh. Gadis itu jadi mengingat bagaimana sikap Ronin setelah Hanna menangis. Bilang terhormat karena Hanna yang judes menangis di pelukannya? Astaga Hanna jadi ingin menjitak pemuda itu begitu mengingatnya. 


Lisa tersenyum. Wanita itu kembali mengelus rambut putrinya. “Ronin baik sama Hanna? Nggak kasar?”


“Sama Hanna?” Hanna menunjuk dirinya sendiri. “Nggak pernah.”


“Nggak pernah mukul? Kalau lagi bete sama Hanna, ngapain? Atau belum pernah bete?”


Hanna menatap mamanya. Gadis itu mengerutkan kening, berpikir sejenak. “Mama takut Hanna jadi korban kekerasan? KDRT gitu? Eh tapi belum berumah tangga ya.” Dan dia pun jadi terkekeh geli sendiri. 


“Mama nggak pengen Hanna kena toxic relationship. Terkadang, orang yang terbiasa meluapkan emosinya dengan cara kekerasan, juga bisa melakukan itu ke pasangan atau keluarganya juga. Mama sama papa nggak mau itu terjadi sama kamu.” Lisa terdiam sejenak. Ditatapnya putri yang sangat disayanginya ini. “Tapi… kalau mama, memberikan semua keputusan pada Hanna, kan kamu yang menjalani. Cuma sekali lagi mama harap, Hanna tetap jaga diri. Kalau merasa hubungan sudah nggak sehat lagi, Hanna harus bisa melawan atau menjauh. Say no to bucin bucin buat toxic relationship.”


Hanna menatap mamanya. Mamanya memang selalu mengerti dirinya. Tapi… “mama gaul banget.” Hanna mengatakan itu dengan pandangan menyelidik. Gadis itu lalu tertawa diikuti oleh mamanya. Memang terbaik mamanya ini.


“Kamu ini.. ya pokoknya gitu lah. Kalau masalah papa, Hanna sabar dulu, papa pasti butuh waktu. Yang penting tetep ditunjukin kalau dia memang bakal menghargai dan menyayangi Hanna. Jadi papa bisa percaya sama pilihan Hanna. Ok?”


“Iya mamaku sayang, makasih, Ma.” Hanna memeluk mamanya. Gadis angkuh yang sangat sombong dan jutek ini memang sebenarnya manja dan lembut persis seperti mamanya.


Lisa beranjak. Tapi sebelum wanita itu keluar, dia kembali berbalik menatap Hanna. “Dua minggu lagi ulang tahun kamu kan? Mau dirayain?” 


“Nggak deh, Ma. Hanna nggak punya banyak temen juga lagian.”


Lisa kembali duduk di ranjang Hanna. “Bertepatan tanggal itu kan papa lagi pembukaan resto cabang baru. Hanna bisa undang teman Hanna. Berapapun juga bisa, dua tiga orang nggak masalah. Nanti Mama siapin tempat khusus biar nggak terganggu sama aktivitas rekan bisnis papa yang lain. Nanti Hanna bisa undang Ronin juga. Gimana?”


“Emang bisa gitu, Ma?”


“Nanti mama yang bujuk papa. Hitung-hitung menyenangkan anak di hari spesial. Ya?”


Gadis itu mengangguk, tersenyum senang. Lisa akhirnya mengangguk dan kembali beranjak dari tempat tidur Hanna. “Yaudah, kalau gitu Hanna tidur gih, sudah malam.”


Lisa meninggalkan putri semata wayangnya untuk tidur. Di dalam kamar, Hanna tersenyum, bersyukur memiliki orang tua yang sangat menyayanginya — meskipun dengan cara yang berbeda.


__ADS_1


__ADS_2