Musuhku Kekasihku

Musuhku Kekasihku
Chapter 34


__ADS_3

Capek banget. Melelahkan sekali hari ini ya. Padahal Hanna hanya sekolah selama sekitar 2 jam. Sisanya Ia malah bolos, nonton TV, mesra-mesraan, lalu makan dengan teman-temannya. Setelah itu paling jalan tipis-tipis dengan Ronin - yang untungnya papanya sedang sangat sibuk sehingga tidak begitu menyadari aktivitas gadis ini.


Tapi capek banget bunda. 


Gadis itu menyandarkan tubuhnya di kasur, sudah bersiap untuk tidur. 


1 menit


5 menit


10 menit


30 menit


Kenapa susah banget untuk tidur padahal sudah capek begini. 


Gadis itu jadi mengingat apa yang terjadi akhir-akhir ini. Benar-benar di luar ekspektasi. Dari mulai yang tiba-tiba Ken punya pacar. Hanna dekat dengan Ronin - yang kayak nggak mungkin mereka bisa cocok. Lalu Hanna jadi punya teman. Tapi juga sekaligus ternyata banyak yang tidak suka dengan Hanna. Dll dll. 


Dunianya benar-benar jungkir balik. Tapi Hanna tak pernah menyesalinya. Menemukan orang yang selalu ada untuk Hanna, bahkan rela melakukan apapun untuk gadis itu, Hanna takkan pernah menukarnya dengan apapun. 


Astaga. Hanna jadi senyum-senyum sendiri memikirkannya. Apa ini ya yang namanya lagi bucin? Duh.


Dering handphone Hanna membuyarkan lamunannya. Gadis itu menoleh ke handphonenya. Mendapati nama Ronin disana. Lagi-lagi, Ia menyunggingkan senyum. 


“Halo?”


“Halo, Sayang,” sapa pemuda dari seberang telepon. Manis banget kayak gulali.


“Hmm.” 


“Kok lemes gitu?” tanya Ronin. Padahal, Hanna begini karena tengah menahan senyumnya. 


“Nggak lemes tuh. Ada apa?” Tapi bukan Hanna namanya ya kalau tidak sok cuek.


“Dih, masa mau nelpon pacar sendiri butuh alasan?” Lalu panggilan berubah menjadi panggilan video. 


Tampak Ronin yang kini menghiasi layar, tersenyum pada Hanna. 


Manis banget mata elang satu ini. 

__ADS_1


Aduh duh duh Hanna jadi bucin pemirsa. Melihat Ronin yang memandangnya seperti itu membuatnya jadi serasa di atas awan. Tapi lagi, siapa sih yang tidak melayang jika dipandangi dengan penuh cinta begini?


"Lagi apa?" tanya Ronin. Pemuda itu ikut menyandarkan kepalanya, setengah berbaring di kasur. 


"Lagi tiduran aja."


"Oh sudah mau tidur? Yaudah istirahat aja gih."


Hanna mendecak. "Enggak ih. Ya temenin nggak papa," katanya malu-malu. Kalau sudah begini, hilang sudah imej misterius pada diri Hanna. Yang ada sekarang Hanna yang super manja dan tetap menggemaskan bagi Ronin. 


"Gemes banget." Ronin menggumam. Tersenyum mengagumi seraya menyentuh layar handphonenya, seakan Ia tengah menyentuh pipi gadis itu. 


"Apaan sih kamu buat aku malu." Hanna menutupi wajahnya dengan guling. Menyembunyikan pipinya yang kini sewarna tomat. 


Ronin tertawa melihat aksi gadisnya ini. Makin gemes deh. "Ih sayang, jangan disembunyikan atuh wajahnya. Mau lihat."


"Nggak mau, aku malu."


"Sayaaang, Hanna cantikku." Ronin memanggil. "Princess, udah vc nih mau lihat pacarku yang cantik kok malah ditutupin?"


"Apaan sih Ronin jangan bikin aku salting ah."


Perlahan, Hanna kembali menampakkan wajahnya. Bibirnya mengerucut dengan pipi sedikit menggembung. Lucu sekali. Ronin bisa diabetes kalau seperti ini terus. 


"Sayang kamu banget, Han." Katanya sedikit berbisik.


"Sayang kamu juga, Ronin." 


Untuk pertama kalinya, Hanna mengakui perasaannya. 



Waktu berjalan begitu cepat. Mungkin karena sudah masuk ujian kenaikan kelas, semuanya terasa cepat. 


Setiap hari Hanna sibuk belajar. Ya meskipun, libur sekolah pun Hanna memang akan tetap belajar sih. Tapi kalau sudah masuk waktu ujian begini, dirinya benar-benar fokus. 


Untungnya Ronin mengerti. Pemuda ini selalu menunggu Hanna dengan sabar. Menunggu gadis itu di perpustakaan. Menunggu gadis itu ikut bimbel. Menunggu gadis itu belajar setiap malam - padahal sering juga ketiduran. Ronin tidak pernah mengeluh meskipun waktu kencannya jadi sangat sebentar. 


Ya tapi memang gadis angkuh satu ini juga bisa dibilang romantis sih. Bahkan dengan waktunya yang terbatas itu Ia masih sempat membawakan bekal untuk Ronin, meskipun hanya bekal sederhana.

__ADS_1


Hari ini adalah hari terakhir ujian kenaikan kelas. Sebentar lagi, mereka akan bebas. Ya meskipun masih ada remedial dll sih. Tapi tidak apa-apa, Hanna lebih plong karena jadwalnya sudah tak lagi padat. 


Rencananya, sore ini Hanna akan kencan bersama Ronin. Selesai Hanna menghadiri rapat OSIS nya di jam terakhir, Ronin akan menjemputnya ke sekolah, jadi mereka bisa jalan-jalan sore. 


Senangnya hati. Hanna berbunga-bunga sekali. Gadis itu tak pernah berekspektasi bisa sebahagia ini. Tapi bersama dengan orang yang selalu melakukan semuanya untuk kita, memang membahagiakan kan? 


Hanna mampir ke toilet, gadis itu mencuci muka sebentar, mengeringkan nya lalu memoleskan pelembab bibir dan sedikit pewarna bibir senada dengan warna asli bibirnya. Tak lupa Ia juga menyemprotkan parfum dengan aroma coklatnya yang sepertinya sangat disukai Ronin. Terlihat dari bagaimana pemuda itu selalu saja berusaha untuk menghirup aroma tubuhnya. 


Itu sih mungkin karena Ronin mesum ya. 


Eh gimana? 


Hanna senyum-senyum sendiri menyadari pemikirannya yang aneh-aneh. 


Gadis itu lalu berjalan ke luar kelas, bahkan ke luar gedung sekolah. Ia sudah bilang pada Ronin akan menunggu di halte. Bukan tanpa alasan gadis itu melakukan ini. Hanya tukang parkir sekolah terkadang agak susah dan banyak tanya. Nanti Hanna pusing jawabnya. Jadilah mereka memilih bertemu di luar area sekolah begini. 


Toh masih depan sekolah juga kan. 


Hanna berdiri di depan halte dengan tenang. Gadis itu sedikit menunduk, membaca pesan-pesannya dengan Ronin. 


Aduh kadar bucinnya Hanna sepertinya sudah level maksimal ya. 


Semuanya tampak tenang awalnya. Tampak tak ada yang aneh. 


Hingga tiba-tiba tepat di depan mata Hanna, ada seorang pemotor yang melaju kencang, lalu tertabrak sebuah mobil yang melaju tak tentu arah. 


Benar-benar tepat di depan Hanna. 


Hanna membeku. Seperti semua semut hitam tengah berkumpul di mata dan otaknya. Sesaat Hanna tak mampu bereaksi. 


Hingga akhirnya gadis itu tersadar apa yang telah terjadi. Mungkin lebih tepatnya, siapa yang tengah kecelakaan itu. 


Hanna berteriak histeris. Berlari menghampiri pemuda yang kini berdarah tampak di banyak bagian. Bahkan ada bagian dimana darahnya mengucur deras. Siapapun akan bergidik ngeri jika membayangkannya. 


"Ronin!!!“ Hanna benar-benar mengenali pemuda ini. Dari motornya, jaketnya, helmnya, bahkan semua yang menempel di tubuh pemuda itu adalah milik Ronin. Membuat Hanna menangis kencang. Benar-benar histeris menyadari itu adalah pemuda yang sangat disayanginya. 


Enggak, plis, enggak, ini cuma mimpi. 


Hanna meracau dalam hatinya. Tetapi sampai serasa ada semut yang memenuhi mata dan otaknya, hingga membuat gadis itu sedikit kehilangan keseimbangan, Hanna menyadari bahwa ini bukanlah mimpi. 

__ADS_1



__ADS_2