Musuhku Kekasihku

Musuhku Kekasihku
Chapter 32


__ADS_3

Hanna terperangah melihat dua pemuda yang astaga, apakah Hanna kenal mereka berdua?


Penampilan keduanya tampak acak-acakan, dengan beberapa luka memar dan darah di hampir seluruh bagian. Tapi untungnya keduanya masih terlihat sehat, hanya wajahnya saja yang tampak ditekuk karena kesal.


Hanna menoleh pada May yang tampak sama putus-asanya. Astaga. Apa kesalahan Hanna sebesar itu sampai menyebabkan semuanya jadi begini?


Hanna menghampiri mereka berdua. “Kalian ngapain?” tanyanya gemas.


“Dia yang mulai duluan.”


“Dia yang cari gara-gara.”


“Lo pikir lo bisa dapetin Hanna dengan cara lo yang kasar gitu?”


“Hah? Lo pikir lo udah sempurna dan berhak dapetin Hanna?”


“Lo..”


“STOP!” Hanna berteriak membuat kedua pemuda ini berhenti berdebat. Gadis itu menghembuskan napasnya kasar. 


“Gue minta maaf, ini murni kesalahan gue. Tapi ini salah paham. Ini nggak seperti yang kalian pikir.” Hanna menoleh pada Felline. “Felline, percaya gue ya?”


Felline menoleh. Gadis itu memandang Hanna sepenuhnya. “Coba kamu bayangin kalau kamu jadi aku, Han. Apa kamu bakal sebegitu mudah percaya?” Felline menghela napas. “Pacar kamu gandengan tangan sama cewek lain loh. Cewek yang pernah sayang sama dia setengah mati, bahkan bisa aja masih sayang sampai sekarang. Cewek yang selalu dibelain sama pacar kamu mati-matian.”


Hanna ingin membuka mulutnya, tapi ditahannya lagi. Ada sesuatu yang menghujam dadanya hingga dia tak sanggup berbicara. Sesuatu yang baru dia sadari, bahwa mungkin dia telah menyakiti hati gadis ini, sedemikian sakitnya. 


“Aku sudah mencoba untuk bersabar, mencoba untuk mengerti. Tapi aku juga manusia biasa. Siapa yang nggak overthinking kalau kasusnya seperti itu?”


“Sayang…” 


“Jangan belain dia terus! Kamu juga salah, Ken!”


Felline terisak. Gadis itu menutupi wajah dengan kedua tangannya. Membuat Ken refleks memeluk gadis itu, menenangkan.


“Maaf, maaf banget, aku salah.” Ken mengelus rambut Felline dengan sayang, sambil masih memeluk gadis itu. 


Hening sejenak. Hanna menarik lengan Ronin agar berdiri, lalu memberi kode pada May yang langsung dipahami maksudnya. 


“Kita bicarakan lain kali kalau lo udah tenang,” katanya seraya menarik Ronin agar menjauh. Diikuti oleh May dan Jun yang juga meninggalkan dua sejoli ini agar punya waktu untuk berdua. 


Hanna mengajak Ronin ke atap gedung, tempat lain mereka biasa bertemu selain di gedung belakang sekolah. Gadis itu tak mengatakan apa-apa. Hanya mendudukkan Ronin lalu mulai mengobati luka pemuda ini.

__ADS_1


Ronin juga tak mengatakan apa-apa. Mungkin masih kesal. Atau mungkin pemuda itu juga marah pada Hanna. Hanna juga tak mengerti.


Tepat saat Hanna telah selesai mengobati luka pemuda ini, bel masuk kelas berbunyi. Padahal mereka juga belum membicarakan apa-apa. 


Hanna memelas. Gadis itu memandang Ronin, seperti ingin menangis. Membuat Ronin sedikit melunak. Mana bisa dia lihat Hanna melas gini? 


“Masuk gih,” katanya seraya mengelus pipi Hanna dengan sayang.


Mendapat perlakuan Ronin yang seperti itu, membuat Hanna jadi tidak bisa menahan air matanya. Entah kenapa Ia selalu lemah jika sudah bersama pemuda ini. Pertahanannya jadi tak sekuat biasanya. 


“Maaf,” Hanna terisak. 


Ronin pun refleks memeluknya. “Jangan nangis…”


Tidak mengindahkan perkataan Ronin, malah tangis gadis itu yang lebih kencang. 


“Hey hey, Hanna Sayang. Udah udah cup, Sayang, udah ya.” 


Ronin menangkup wajah Hanna dengan kedua tangannya. Memperhatikan wajah gadis itu yang tengah memerah dengan matanya yang masih berair. “Mau bolos aja kah?” Ronin menawarkan. “Emang mau masuk kelas dalam keadaan begini?”


Hanna memukul paha Ronin sembari cemberut. “Ya nggak mungkin bolos juga.”


Wah, masih sadar juga ternyata. 


Hanna tak menjawab. Gadis itu mencebikkan bibirnya sambil masih terisak. 


Ronin menghembuskan napas kasar. Tak tega juga. Di satu sisi dia merasa kesal dengan keadaan. Disisi lain dia tak tega melihat gadisnya yang seperti ini. 


"Udah lah bolos aja, anggap reward sama diri sendiri," katanya sembari berdiri. 


Pemuda itu mengajak Hanna ikut berdiri. Menggenggam jemari tangan gadis itu lalu menariknya menuruni tangga. 


Percayalah, Hanna ingin sekali protes, ingin menggunakan akal sehatnya untuk tetap di sekolah. Namun pada akhirnya Ia tetap mengikuti kata hatinya, mengikuti Ronin yang kini mengajaknya entah kemana. 



Ujung-ujungnya di rumah Ronin lagi. Luar biasa sekali memang pemuda bucin nan mesum satu ini. 


Hanna jadi was-was sendiri. Kemarin aja, mereka sampai berciuman panas gitu, untung nggak kebablasan. Gimana nanti kalau berduaan lagi? 


"Kok kesini?" Hanna protes. Meskipun dalam hatinya nyaman-nyaman saja disini, malah enak tidak perlu berhadapan dengan orang lain. 

__ADS_1


"Lah aku pikir kamu lagi males kemana-mana, ya aku ajak kesini. Lumayan bisa santai, rebahan." Ronin membaringkan tubuhnya sendiri. Lalu menepuk kasur di sebelahnya, meminta Hanna mendekat.


“Rebahan mulu.” Hanna mengatakan ini sambil meraih remote televisi di meja. Ujung-ujungnya ikut rebahan juga. Membuat Ronin menarik sudut bibirnya, tersenyum tertahan. 


“Good girl,” katanya sembari menepuk puncak kepala Hanna. 


Hanna semakin menyandarkan tubuhnya pada Ronin. Nyaman sekali. Sepertinya, Ronin kini akan menjadi rumah ternyaman bagi Hanna. Lebih nyaman dari siapapun.


“Kamu nggak marah?” tanya gadis itu sambil menyentuh dada hingga perut Ronin dengan jarinya. Membentuk pola-pola abstrak tanpa sadar. 


Dahi Ronin berkerut. Bingung juga. Marah pasti. Tapi dia juga bingung marah pada siapa. Mana bisa dia marah pada gadis ini, apalagi setelah melihat dia menangis begitu? Tapi rasa kesal melihat gadisnya bersentuhan dengan pemuda lain, benar-benar membuatnya mendidih. 


“Kesel aja, siapa yang suka ceweknya deket-deket sama cowok lain? Gandengan tangan lagi.” Ronin memeluk Hanna sepenuhnya, menciumi rambutnya. Aroma gadisnya selalu menenangkan. Serupa seorang putri yang elegan. 


“Maaf.”


“Emang temenan harus gandengan tangan juga, hmm?” tanyanya kini beralih menangkup wajah gadis itu, mengelus pipinya yang selembut bayi. Gadisnya ini benar-benar seperti dewi. Bagaimana Ronin tak jatuh cinta?


“Nggak.” Hanna terdiam sejenak. “Ada segerombolan cewek yang tiba-tiba gangguin aku, perkara aku deket sama Ken. Ngeselin banget. Terus Ken dateng, yaudah, aku kerjain aja mereka, sok-sokan manja-manja sama Ken biar mereka panas.”


“Dih, pasti tuh cowok tambah seneng tuh, tambah cari-cari kesempatan.”


“Hehehe, nggak gitu sayang ih.”


Waduh, dipanggil sayang begini, Ronin jadi lemah dong. 


“Coba ngomong sekali lagi,” pintanya mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Hanna. Membuat Hanna makin memundurkan wajahnya. 


“Nggak mau!”


“Kok gitu? Sayaaaang, gitu loh.” Ronin malah seperti sedang melatih anaknya belajar bicara. 


Hanna mengibaskan tangannya, tak lagi memeluk Ronin. Kini kembali menatap channel televisi yang masih saja menayangkan anak kembar yang lucu. Heran juga, emang mereka tayang 24 jam ya?


Ronin memperhatikannya. Tak ingin mencari masalah, lagipula, terlalu dekat dengan Hanna juga berbahaya buat jantungnya. Maka pemuda ini pun menurut, ikut memperhatikan rangkaian adegan yang sudah dilihat lebih dari 10 kali. 


Menghembuskan napas kasar, pemuda itu kembali bersuara. “Yaudah, tapi lain kali, kalau ada yang ganggu lagi, nggak usah minta bantuan Ken atau siapa pun. Langsung telepon aku aja. Manja-manja ke aku kan bisa.”


Hanna tersenyum tertahan. Ingin tertawa tapi takut pemuda di sampingnya ini malah tersinggung. Gadis itu pun mengangkat jempolnya, setuju. “Siap, Bosku!” 


Ronin tersenyum. Kembali menepuk puncak kepala Hanna dengan sayang. “Good girl.” ucapnya gemas.

__ADS_1


---


__ADS_2