Musuhku Kekasihku

Musuhku Kekasihku
Chapter 17


__ADS_3

Rachel X-3: Kakak, pengumuman, ketentuan dan daftar kelompok sudah kita tempel di mading ya, nanti perwakilan bisa ambil form & guidebook ke ruang F1.7, infonya ada di situ juga. Semangat!


Hanna menghela napas membaca pesan adik kelasnya ini. Dia menoleh ke teman sebangkunya yang sedang asyik memainkan handphone. Akhir-akhir ini gadis ini agak pendiam, tidak seramah waktu mereka pertama kali dekat. Apa dia mulai terpengaruh dengan gosip yang ada? Atau dia memang sudah tahu perasaan Ken yang sebenarnya? Ingin sekali Hanna bertanya tapi sepertinya ini bukan ranah Hanna untuk ikut campur - dan Hanna juga bukan tipe yang seperhatian dan sekepo itu - jadi ya sudah gadis itu diam saja.


“Eh, lihat daftar kelompok buat acara minggu ini yuk.” Hanna mencoba membuka obrolan. Gadis di sebelahnya menoleh, terlihat tertarik.


“Emang sudah ada?” tanyanya. 


Hanna tersenyum, merapikan buku-bukunya. “Sudah, yuk!” ajaknya seraya berdiri. Felline mengikutinya dari belakang. 


Mereka berdua berjalan beriringan melewati kelas-kelas yang lumayan ramai. Sekarang memang sedang jam istirahat jadi tentu ada banyak siswa yang asyik nongkrong atau sekedar duduk-duduk di pagar bangku depan kelas mereka. 


“Gue dulu pernah dilabrak kakak kelas waktu jadi panitia acara ini.” Hanna bercerita. Gadis itu hanya mencoba sedikit lebih ramah dari biasanya. Hanna baru-baru ini punya teman jadi entah kenapa gadis itu takut kalau harus kehilangan temannya ini. 


“Kenapa gitu?”


“Gara-gara dia nggak sekelompok sama cowoknya. Sedangkan cowoknya malah sekelompok sama cewek yang dia bilang mau merebut cowoknya ini.”


Felline mengerutkan keningnya, merasa tertarik dengan cerita Hanna. “Terus?”


Hanna menerawang, gadis itu tertawa geli. “Dia jambak gue. Ya gue jambak balik lah. Apaan sih, gue mana tahu urusan cinta mereka.” Hanna mendecak. 


Felline ikut tertawa geli mendengar cerita Hanna. “Untung kamu berani ya, coba kalau aku yang disitu, gimana nasibku dijambak kakak kelas,” balasnya sambil bergidik ngeri. 


“Harus berani kalau kita nggak salah.” Hanna tersenyum.


Pembicaraan mereka terhenti saat mereka sampai di depan mading dan papan pengumuman. Rupanya disitu telah ramai oleh siswa yang juga melihat daftar kelompok. Hanna menyeruak di antara mereka. Tak butuh waktu lama, dia telah menemukan namanya disitu.


Hanna Reina Adidjaja


Ichiro Kenzo Pradana


Ryuu Jun Aditya Ilham


Mayleen Dewi Danica


Ryota Ronin Andromeda

__ADS_1


Felline Iva Kiarra


Astaga.


Ini seperti konspirasi.


Hanna membaca nama itu berkali-kali. Gadis itu masih fokus membacanya sampai Felline menepuk lengannya. “Kita sekelompok?” tanya gadis itu polos, yang dibalas anggukan pelan oleh Hanna.


Bagaimana bisa mereka satu kelompok? Apa Hanna harus melabrak adik-adik kelasnya juga karena mereka seperti menjebaknya?


Hanna sekelompok sama Ken saja sudah terasa seperti konspirasi, ini malah ditambah dengan Felline dan Ronin. Hanna harus bagaimana menghadapi mereka dalam satu waktu?


Felline menarik gadis yang masih bingung ini menjauh dari kerumunan. “Ada apa, Hanna?” tanyanya pada gadis itu. 


Hanna hanya tersenyum. Tangannya meraih handphonenya karena sedari tadi bergetar. Ada beberapa pesan masuk dari grupnya.


Kenzo: Ini siapa yang bikin daftar kelompoknya?


Rama X-7: Kita pakai aplikasi random kak, seperti biasa.


Hanna mendengus, aplikasi random seperti apa yang bisa memasukkan mereka semua ke dalam satu kelompok yang sama?


Rachel X-3: Siap kak


“Hanna.” Felline memanggil lagi. Membuat Hanna kembali mengalihkan perhatiannya pada gadis itu. Felline memberi kode agar Hanna menoleh ke sebelah kiri, demi mendapati Ken yang tengah berjalan ke arah mereka. 


Ken tersenyum pada gadisnya. Menoleh pada Hanna singkat, lalu kembali pada gadisnya. “Aku udah ambil formnya. Nanti kita kumpul pulang sekolah, bisa?”


Felline mengangguk. “Aku bisa. Hanna bisa?” tanyanya sambil menoleh pada Hanna yang diam-diam masih memperhatikan Ken.


“Mmm bisa,” jawab Hanna seraya mengangguk.


“Oke, gue kabarin May.” Ken menoleh pada Hanna. “Lo kabarin Jun sama cowok lo itu.” Kalimat itu terdengar sangat dingin bagi Hanna. Tapi gadis itu juga tak berkomentar.


Ken kini menoleh pada Felline, mengelus kepala gadis itu singkat. “See you,” pamitnya seraya tersenyum yang juga dibalas senyuman oleh Felline. Ken lalu berbalik, meninggalkan mereka berdua.


Hanna masih menatap punggung itu yang menjauh. Tapi dalam hati, ada rasa syukur karena hubungan pasangan ini sepertinya baik-baik saja. Semoga saja begitu.

__ADS_1



“Harus banget nih gue ikut acara beginian?” Ronin menggerutu saat keenam anak itu telah berkumpul di salah satu ruang kosong di sekolah mereka. Jangan ditanya bagaimana mereka bisa mengakses ruangan ini. Hanna dan Ken jelas punya kuasa untuk itu.


“Ya kalau lo nggak ikut, berarti Hanna nggak ada pasangannya.” Mayleen mengerling. Menyadari pemuda ini pasti akan melakukan apa saja kalau itu berkaitan dengan gadis kesayangannya itu. Memang cowok bucin.


Ronin mendecak. Benar juga. Mau tak mau dia harus tetap ikut. Bagaimana dia bisa menjaga Hanna kalau dia sendiri tak ikut? Bagaimana kalau nanti Ken atau cowok lain berani menggoda Hanna? Belum lagi adik kelas yang nggak bisa lihat kakak kelas agak cakep sedikit. Bisa kalap mereka lihat bidadari seperti Hanna. 


“Hmm ya so.. semuanya mungkin sadar kalau ini pasti konspirasi.” Ken mengalihkan topik pembicaraan. Pemuda itu bersandar di tembok, tepat di hadapan teman-temannya. “Entah siapa oknumnya, pasti ada yang sengaja memasukkan kita dalam satu kelompok.”


“Which..is, mereka berharap kelompok kita gagal, begitu?” Kali ini May, gadis itu menyentuh pundak Felline seraya tersenyum, meminta guidebook yang kebetulan berada di tangan gadis itu. 


Felline menyerahkannya juga sambil tersenyum, lalu pandangannya kembali tertuju pada Ken. “Tapi bukannya bagus ya, kayaknya kalian sudah lumayan kenal?” Gadis ini berkomentar.


Hanna mengangguk. “Ya, asal kalian sedikit… lebih akur.” Hanna menoleh pada Ronin juga Ken secara bergantian. Yang ditoleh hanya melengos tak peduli. “Tapi gue bersyukur.. seenggaknya yang sekelompok sama gue bukan dari golongan mereka yang benci gue.”


Jun menepuk-nepuk meja di depannya. “Udahlah nggak usah dibawa beban. Santai aja. Kan kita mau party,” katanya sambil mengibaskan tangannya. Yang segera dibalas dengusan oleh Mayleen.


“Emang iya party? Bukannya lomba-lomba gak jelas gitu ya?” tanya Ronin polos. Dan semuanya pun melengos menyadari kepolosan pemuda ini. 


“Oke, jadi siapa ketuanya? Gue?” tanya Ken kembali to the point. 


Ronin langsung menolak. “Nggak nggak, apaan, lo lagi lo lagi,” tolaknya juga terus terang. “Jun, elo lah sekali-kali.”


Jun menggeleng. “Ih males gue. Eh Queen, lo aja.” Jun menunjuk Hanna dengan dagunya. 


Hanna yang merasa terpanggil, menunjuk dirinya sendiri. “Gue?”


“Iya, lo, queen of late game. Tunjukin kalo lo masih op!” Jun mengepalkan tangannya, memberi semangat. May mencibir, tapi tersenyum pada Hanna ikut menyemangati. Begitu juga Felline mengangguk setuju.


Hanna menoleh pada Ken. Pemuda itu memandangnya tenang seraya mengangguk. 


“Oke. Gue take over sekarang.” Hanna yang sedari tadi duduk, kini berdiri, maju ke depan. Kini ganti Ken yang duduk.


Ronin terpana. Pemuda itu melihat transformasi singkat Hanna dari gadis cuek yang santuy, menjadi pemimpin yang berkharisma. Benar-benar wanita favoritnya.


Hanna menerima selebaran yang diberikan Mayleen padanya. Gadis itu membacanya singkat, "lomba cerdas cermat, perwakilan per kelompok 2 orang. Gue sama Ken yang ikut, ada yang keberatan?" Hanna bertanya tepat sasaran. Benar-benar seperti pasangan emasnya, tanpa basa-basi. 

__ADS_1


"Why harus kalian berdua?" Ronin lagi-lagi bertanya. Hanna hanya meliriknya tajam membuat Ronin mengangkat tangannya. "Oke oke, kalian aja," ujarnya pasrah. 


Hanna beralih menatap Ken. "Ken? Oke?" 


__ADS_2