Musuhku Kekasihku

Musuhku Kekasihku
Chapter 26


__ADS_3

Hanna dan Ronin tiba di rumah sakit saat dokter baru saja keluar dari ruang rawat Jun. Untungnya, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Jun baik-baik saja. Hanya perlu pemulihan selama beberapa hari. Semuanya bernapas lega. Lalu menghampiri Jun yang kini duduk di tempat tidur. 


"Lo beneran nggak papa kan? Aman kan?" Ronin bertanya khawatir. 


Jun mengangguk. “Sorry ya, bikin kalian semua khawatir.”


Ronin mendecak. “Aldo brengsek emang!” ujarnya dengan wajah sebalnya. Pemuda itu menoleh pada Hanna, memintanya duduk di sofa bergabung dengan Felline dan May. 


“Gue udah bikin laporan, harusnya dia kena hukuman." Ken memberikan laporan. 


May mengangguk. "Besok gue cek lagi, kalau sampai belum diproses, gue lapor langsung ke kepsek."


"Gila, maen lo langsung tembus ke kepsek." Jun berkomentar. Masih bisa bercanda ya teman-teman. Membuat May melayangkan pandangan mematikan ke arahnya. Tentu saja, Jun langsung kicep. Tak lagi bercanda. 


Hanna yang semula duduk, kini kembali berdiri. Gadis itu menghampiri Jun yang duduk bersandar di ranjang pasien. Gadis itu memperhatikan Jun dari atas ke bawah. Terutama memperhatikan kakinya yang kini telah diperban. "Tapi lo beneran nggak papa kan? Ada lagi yang sakit?" tanyanya sambil menyentuh kaki Jun perlahan. 


Kalau begini, bukan cuma kaki Jun yang sakit, hati Ronin juga. Pemuda itu segera menghampiri gadisnya, menyentuh jemari gadis itu dan menariknya menjauh. "Princess, lo ngapain?" tanyanya lembut.


"Cuma ngecek." Hanna menjawab dengan polosnya. 


"Jangan Hanna, nanti ada yang jeles." May berkomentar. 


"Elo?" Hanna masih terlihat polos saat mengatakan ini.


May mendecak. Menyerah saja. Wakil osisnya ini tetap saja tidak peka.


Padahal kalau kata Hanna, sudah peka banget. Ya kan?



Hari berlalu begitu cepat. Apalagi, akhir-akhir ini Hanna disibukkan dengan persiapannya mengikuti lomba di salah satu kampus ternama di Jakarta. Rencananya besok Hanna akan pergi bersama Ken. Memang benar-benar pasangan emas.


Kalau perasaannya seperti sebelumnya - kalau belum ada Felline dan Ronin - dia pasti sudah sangat antusias. Tapi sekarang berbeda. Kehadiran mereka berdua membuat Hanna harus lebih berhati-hati. Dirinya tidak mau ada yang merasa sedih hanya karena kegiatannya dengan Ken. 


Btw, bagaimana cara ngomongnya sama Ronin ya?


Sebenarnya, tidak ada yang aneh. Ini kan mau lomba, bukannya mau kencan. Bukan juga mau liburan. Tapi mengingat bagaimana perasaan pemuda itu yang sepertinya mudah sekali cemburu, sepertinya rumit juga kalau tahu. 


Tapi masak iya nggak dikasih tahu?


“Ya ampun, ngelamun aja sayangku.”


Suara itu mengejutkan Hanna. Astaga. Apa pemuda ini memang terkoneksi dengan Hanna?


“Mikirin apa?”


Hanna menoleh hanya demi mendapati Ronin yang menatapnya dengan lembut. Kalau sudah begini, bagaimana Hanna bisa tidak cerita?


Ronin duduk tepat di depan Hanna. Di meja yang sama saat Ronin pertama kali menyapa gadis itu. “Kenapa sih?” tanyanya lembut saat Hanna tak juga membuka suara. 

__ADS_1


Hanna berdehem. Kembali menatap bukunya seakan membaca sesuatu. 


“Btw gue besok mau lomba,” gumamnya sambil masih terus pura-pura membaca. 


“Oh ya? Dimana? Mau gue anterin nggak?” Ronin langsung antusias.


“Di UI, nggak usah, gue sama Ken kok.” Hanna berkata pelan sambil memandang Ronin. 


Ekspresi Ronin seketika berubah. Ya ampun Ken lagi. 


“Berdua aja?”


“Iya, emang harus banyak orang?”


“Ya nggak gitu.” Ronin menghela napas sejenak. “Tapi langsung pulang kan? Mau gue jemput nggak?” 


“Dua hari. Sabtu siang baru pulang.”


Jawaban Hanna kembali membuat Ronin syok. 


“Dua hari ngapain aja? Mau tinggal dimana? Gue ikut ya?”


Kini ganti Hanna yang menghela napas. Sebenarnya tidak tega juga. Tapi masak iya Ronin ikut? Ini kan bukannya mereka lagi liburan. 


“Tinggal di asrama kampus. Nggak mungkin ajak teman.”


“Kalo gitu gue anterin.”


Ronin mengerucutkan bibirnya. Menyadari bahwa gadis ini tidak akan mudah saja dibantah. Apalagi ini perkara kegiatan akademik. Tentu dia tidak bisa segampang itu menyela. Yang ada nanti Hanna malah ilfil.


Hmm apa nanti Ronin menyusul mereka diam-diam aja?


“Dan jangan coba nyusul diem-diem.”


Hanna kembali bersuara. 


Ampun. Sepertinya Hanna pun sudah berubah jadi cenayang sekarang. 


Ronin tak lagi berkomentar membuat Hanna merasa bersalah. Gadis itu kembali memandang Ronin yang tampak sibuk memainkan ponselnya. Sepertinya mencoba menyibukkan diri dengan bermain game sembari menemani Hanna belajar. 


"Sebagai gantinya, lo sama yang lain bisa dateng ke ulang tahun gue pas malemnya. Gimana?" tanya Hanna sembari memegang lengan Ronin, menarik perhatian pemuda itu. 


"Eh, sapa nih yang mau ultah?"


Belum sampai Ronin mencerna omongan Hanna, tiba-tiba suasana menjadi ramai. Geng barunya itu - anggap saja begitu - tau-tau sudah berada di situ lalu mulai menduduki bangku yang ada. 


"Oh iya ya kan Hanna sabtu ulang tahun, nggak sih, Han?" tanya May memastikan. 


Dahi Hanna berkerut. Kok May bisa tahu semuanya tentang Hanna? 

__ADS_1


"Emang mau dirayain? Tumben?" Ken yang sudah tau, terlihat santai saja mengatakan ini. Dirinya ikut duduk sembari menikmati cemilan yang kebetulan dibawa oleh Felline yang memang sengaja dibagikan untuk mereka. 


"Bentar deh, ngapain kalian pada kesini semua?" Ronin yang merasa momen berduaannya terganggu, jadi protes. 


"Dih ini kan masih area sekolahan, siapapun boleh kesini. Napa lu yang marah? Mau mesum ya?" tanya Jun sembari mengejek. Ini hari pertamanya kembali ke sekolah setelah kecelakaan waktu lomba lari marathon itu. 


"Eh? Gimana kondisi lo? Udah baikan?" Hanna yang salah fokus, malah jadi menanyakan ini kepada Jun. 


"Udah, gini doang hehe." Sebenarnya Jun salting sih. 


Ronin pun menggeplak kepalanya. "Gausah salting lo ditanyain gitu doang."


"Kalo cemburu bilang bos."


Astaga. Pusing juga. Hanna heran kenapa bestie ini kalo ketemu selalu meributkan hal yang tidak penting. Apa bestie memang harus begitu ya? Maklum kan Hanna sebelumnya nggak punya bestie. 


"Jadi hari Sabtu Hanna ultah?" Felline yang dari tadi hanya diam, ikut menimpali ke topik pembahasan. 


Semuanya menatap Hanna. Malah jadi Hanna yang salting. 


"Mmm iya, kalian mau dateng nggak? Nggak rame-rame sih."


"Woh iya pasti lah, masak nggak dateng." Jun yang paling bersemangat. 


"Di rumah lo, Han?" tanya Ken. 


Hanna menggeleng pelan. "Nggak. Kebetulan Papa lagi pembukaan resto cabang, jadi mau sekalian disitu aja, makan-makan doang. Nanti gue sediakan tempat khusus biar nggak riweuh campur sama orang dewasa. Gimana? Berenam aja tapi ya gue nggak ada temen lain."


"Ya udah nggak papa, Hanna." Mayleen mengatakan ini sambil merangkul Hanna. Meskipun dia tidak terlihat dekat dengan Hanna sebelumnya. Tapi dia sudah mengamati gadis itu yang memang terlihat kesulitan berteman. 


"Ada dresscode nggak?" tanya Felline. 


Hanna kembali menggeleng. "Nggak usah, makan santai aja. Nanti gue kirim alamatnya."


"Ih makan santai tau-tau tempatnya nggak santai." Jun mencomot cemilan pemberian Felline yang diletakkan di meja. 


"Ish, udah dateng aja."


"Okelah. Eh lo sama Ken besok berangkat, kan?"


Kalau ada yang tanya siapa yang paling cenayang di antara mereka, sudah pasti jawabannya adalah Mayleen. May terlihat tidak dekat dengan Hanna, tapi dia selalu tahu tentang gadis itu seperti kekasihnya. 


Hanna mengangguk. Lama-lama dia jadi tidak heran lagi kenapa May ini sangat serba tahu. Kemampuan FBI nya memang boleh diadu. 


"Semangat ya. Jangan jadi beban. Menang kalah itu biasa. Yang penting tetap sportif." May menyemangati. Felline ikut mengangguk setuju. Dia memang sudah tahu kalau kekasihnya itu akan pergi bersama Hanna. 


"May May, lo ngomong gitu ke dua orang yang nggak kenal apa itu kekalahan." Ronin mencibir. Dirinya ikut melahap cemilan di meja setelah melihat Jun yang tanpa henti memakannya. "Eh May coba bikinin si naga kayak ginian, biar makin dicinta lo," lanjutnya iseng membuat kepalanya segera digeplak oleh yang bersangkutan. 


Setelahnya tak ada lagi yang membahas Hanna, justru asik menertawakan Ronin dan Jun yang masih sibuk menyerang dan meledek satu sama lain. 

__ADS_1



__ADS_2