Musuhku Kekasihku

Musuhku Kekasihku
Chapter 29


__ADS_3

Meskipun hanya dihadiri oleh kelima orang temannya, namun Hanna sangat bahagia hari ini. Untuk seorang gadis yang tidak pernah merayakan ulang tahunnya, ini adalah momen yang sangat membahagiakan. 


Acaranya terlihat sederhana, mereka hanya makan-makan seperti biasa, lalu mulai bercerita, bercanda hingga tiba-tiba Mayleen memiliki ide yang sangat konyol menurut Hanna. 


"Biasanya kalau kayak gini, ToD asik nih," celetuk May. Felline antusias. Begitu juga dengan Jun yang selalu mendukung sahabat masa kecilnya ini. 


"Darenya contohnya ngapain? Misal nyium pasangan masing-masing juga termasuk dare kan?" celetuk Ronin ikut berpartisipasi. Yang langsung dibalas jitakan oleh May.


"Mesum banget lo."


"Ya mending kan daripada nyium pasangan orang." Ronin masih membela diri. 


"Pertanyaannya atau darenya nggak boleh porno, nggak boleh mesum, nggak boleh berbau ***, nggak boleh yang bakal bikin malu banget. Yang standar aja." Hanna ikut menyumbangkan suara. 


"Banyak banget aturannya, Sayang. Kan yang bikin seru yang kayak gitu."


Rewel sekali Ronin pemirsa. Lihat saja, Hanna sudah gemas sekali melihat pemuda ini. Meliriknya dengan tajam membuat Ronin tak lagi berniat membantah. 


"Yaudah, karena hari ini Hanna yang ultah. Hanna yang mulai duluan." Ken menawarkan. Pemuda itu mengambil botol lalu menaruhnya di tengah. Mempersilakan Hanna untuk memutarnya. 


Hanna mengambil ancang-ancang. Gadis ini memutar botol tersebut. Sang botol berputar membuat semua mata fokus melihatnya. Sepertinya, kesialan pertama langsung menimpa pada Jun. Botol itu mengarah tepat ke arahnya. 


"Truth langsung aja." Hanna menawarkan. Mau tak mau Jun pun mengangguk. 


"Lo suka nggak sama May?“ Hanna bertanya tepat sasaran. 


"Anjir langsung ulti." Ken terkekeh. "Minimal skill 1 dulu bisa kali, Han," lanjutnya sambil masih terbahak. 


"Ih padahal pertanyaan gue simpel dan nggak butuh effort buat jawabnya." Hanna mencibir. Gadis ini memang suka sekali menggoda perihal May-Jun ini, dua sahabat karib yang sepertinya kena friendzone seperti dirinya dulu. 


Jun mengerucutkan bibirnya, lalu mulai membuka mulut. "Ya suka lah. Emang disini ada yang nggak suka sama May?" tanyanya balik, merasa bangga dengan jawabannya. 


Keempat anak lain hanya mencibir seraya tersenyum penuh arti. Berbeda dengan May yang meskipun dia mencoba tertawa, tapi pipinya bersemu merah juga. 


"Sekarang giliran gue." Jun mengambil alih, mulai memutar botol yang sepertinya nanti akan terus menjadi biang masalah. 


Kali ini, Hanna menjadi sasaran. Hanna jadi merasa kena karma sekarang. Apa seharusnya dia nggak boleh terlalu jail ya? 

__ADS_1


"Lo udah jadian sama Ronin belum sih?" tanya Jun langsung. 


Effortless sekali pemuda satu ini. Apalagi dengan hubungan mereka yang terang-terangan, harusnya mudah sekali kan untuk Hanna menjawab? 


Tapi gadis ini malah bingung. 


Sudah jadian belum sih mereka? 



Hanna terbangun dengan mata yang masih sangat mengantuk. Semalam, Ia bersama teman-temannya sampai jam 10 malam. Dari yang awalnya bercanda, saling mengejek, menggosipkan orang lain, hingga curhat permasalahan masing-masing. Terkecuali urusan hati sih karena masing-masing sedang ada pawangnya jadi kan nggak enak kalau bahas, sedangkan orangnya juga ada disitu. 


Hanna merasa bahagia. Hanya saja, efeknya jadi seperti ini. Mengantuk sekali. Untung sekarang hari minggu jadi Ia tak perlu buru-buru ke sekolah. 


Gadis itu turun ke bawah, berniat akan sarapan karena perutnya sudah mulai melilit. Maklum, terbiasa sarapan pagi jadi jam 8 belum sarapan aja rasanya sudah lapar banget. 


Di bawah, tak ada orang sama sekali. Sepi sekali hari ini ya. Padahal biasanya kalau hari minggu papanya sudah terlihat entah sedang menonton TV, bercanda dengan mamanya, atau aktivitas yang lain yang seru. 


Papanya ini memang meskipun sibuknya setengah mati, tapi tetap treat her mom like a queen. Idaman Hanna banget. 


Akhirnya setelah mengitari rumah, gadis itu menemukan mamanya tengah berkebun di taman belakang. Jangan salah juga ya, queen satu ini tetap serba bisa. Panutan Hanna banget. 


"Lagi mau nanam ini, Sayang. Udah makan?" Lisa balik bertanya seraya memandang putrinya dengan sayang. 


"Ini mau makan. Sepi banget tumben. Papa kemana, Ma?" Hanna bertanya sambil ikut mengambilkan keperluan mamanya yang berada tak jauh darinya. 


"Papa kan pagi ini ke Jogja, Sayang. Hanna lupa?"


Seperti ada lampu yang berpendar menyala dalam bayangan Hanna. 


Mohon tunggu sebentar. Hanna akan memproses informasi ini. 


Jadi papanya sedang tidak ada di rumah ya kan. Berarti bisa nih Hanna pergi sama Ronin hari ini? 


"Anak mama nggak ada rencana hari ini? Nggak kencan, hmm?" Lisa mengatakan ini sambil menyenggol pelan lengan Hanna. Sepertinya ibu dan anak ini memang terkoneksi. 


"Boleh, Ma?" tanya Hanna antusias. Gadis itu terlihat langsung cerah. 

__ADS_1


Lisa jadi tersenyum. Anak gadisnya sudah dewasa ternyata. Sudah tau cinta-cintaan. "Boleh. Tapi pulangnya nggak boleh malem-malem."


"Beneran boleh?"


Lisa menahan senyumnya. Wanita ini meletakkan perlengkapannya, kini fokus memandang Hanna. "Mau kemana emang anak mama? Sama Ronin?"


"Umm nggak tau juga." Hanna menerawang. Kemana ya? Sepertinya kemarin memang belum menentukan karena Hanna pikir papanya pasti di rumah dan tidak mungkin mengijinkan Hanna pergi apalagi bersama Ronin. "Jalan-jalan aja paling, Ma." 


Lisa mengangguk. "Yaudah, Hanna makan dulu gih. Nanti abis itu kalau mau jalan ya dia suruh kesini biar ijin sama mama. Ok?"


Hanna tersenyum riang. "Ok. Makasih, Mamaku sayang," serunya sembari mencium pipi kiri mamanya. Lalu gadis itu pun segera melesat masuk kembali ke dalam rumah. 


Lisa tersenyum. Tapi dalam hati khawatir juga. Semoga putri kecilnya itu, tidak sampai tersakiti. 



Ronin terpana melihat gadis di hadapannya. Dia tau, Hanna memang secantik itu. Dari sebelum mereka dekat, hingga ia jatuh cinta dengan Hanna, hingga sekarang. Gadis itu selalu terlihat semakin cantik. Namun kali ini berbeda. 


Kalau ada yang bilang, orang itu akan terpancar auranya saat dia melakukan apa yang dia sukai, sepertinya memang benar. Lihat saja Hanna. Gadis itu tengah membaca berbagai buku sekarang. Dan auranya benar-benar terpancar secerah itu. 


Saat ini, mereka berdua tengah berada di toko buku di salah satu mall terbesar di Jakarta. Ronin sepertinya memang sebucin itu. Bahkan dia rela mengantarkan gadis itu ke tempat yang menurutnya nggak banget. 


Padahal baru selesai lomba. Ya meskipun tidak menang, tapi dua-duanya masuk dalam nominasi juara. Eh sekarang sudah mau belajar lagi. 


Tapi poin plusnya, gadis itu sangat bersemangat saat kesini sehingga Ronin pun jadi senang jadi malah semakin jatuh cinta. 


"Lo nggak beli sesuatu?" tanya Hanna membuat Ronin kembali masuk ke dunia nyata. Jadi selama bermenit-menit, pemuda ini memang hanya memandangi gadisnya ini tanpa bersuara. 


"Beli apa gue di tempat ginian, Princess?" tanya Ronin sarkas. Membuat Hanna jadi tertawa menggemaskan. 


Aduh makin cinta saja pria bucin satu ini. 


"Yaudah gue bayar ini dulu." 


Hanna berjalan ke arah kasir. Mengantri untuk membayar beberapa bukunya yang sudah Ia pilih. Beberapa diantaranya adalah novel fiksi, buku self improvement, selain itu juga ada soal-soal masuk perguruan tinggi. Mau nyicil gitu kayaknya cuma nggak terlalu effort juga niatnya. 


Nggak terlalu effort tapi sudah beli waktu kelas 11 ya bun. 

__ADS_1


Hari sudah menginjak siang saat Hanna selesai berbelanja. Rencananya setelah ini mereka akan pergi makan siang ke salah satu cafe jual ayam terkenal tak jauh dari mall tersebut. Sengaja keluar area mall karena tempat makan di situ sudah sangat ramai. Maklum, hari minggu. 


Hanna bersiap mengantri bersama Ronin. Gadis itu berdiri sambil melihat-lihat sekitar. Hingga seorang anak kecil laki-laki berumur sekitar 5 tahun menghampiri mereka berdua. 


__ADS_2