Musuhku Kekasihku

Musuhku Kekasihku
Chapter 40 End


__ADS_3

Hanna mengetuk-ngetuk bolpoin nya. Gadis itu sebenarnya tengah belajar. Tapi entah kenapa Ia tak bisa fokus. 


Padahal tahun ajaran baru sudah dimulai. Ini adalah penentuan keberhasilannya semasa SMA. Ini juga penting jika ingin melanjutkan ke Perguruan tinggi. Dan tentunya, Hanna pasti sudah ada rencana untuk itu. 


Tapi jika mengingat perkataan Laras, membuat Ia kehilangan fokus. Apalagi Ronin yang malah bertanya apakah pernikahannya bisa ditunda. 


Apa Ronin nggak mau menikahi Hanna? 


Padahal kalau Hanna pikir, jika ada hal seperti itu, Ronin akan sangat antusias dan berharap mereka segera menikah. Tapi kenapa malah sebaliknya? Kini malah jadi Hanna yang berharap. 


Jadi Hanna aja nih yang ingin mereka bisa bersama selamanya? 


Hanna masih menatap bukunya dengan pandangan kosong, saat tiba-tiba handphonenya bergetar. Ada nama Ronin disana. Hanna mencebikkan bibir melihat nama itu. Entah kenapa, pemuda satu ini selalu membuatnya emosional. 


"Sayang…" sapa suara dari seberang. 


"Hmm." Hanna semakin mencebikkan bibirnya. 


"Kok lemes gitu?"


"Nggak tau lah." Hanna memberengut. Gadis itu membereskan buku-bukunya. Lalu mulai beranjak dari meja belajarnya. 


Terdengar helaan napas dari seberang. "Kenapa? Masih kepikiran yang tadi ya?"


Hanna tak menjawab. Gadis itu tetap berjalan keluar ruangan. Menuju kamarnya sendiri yang terletak di lantai dua. Perlahan. Merebahkan tubuhnya di atas kasur. Lelah juga hari ini. 


"Ada apa, Sayang? Ngomong dong." Panggilan kini berubah menjadi panggilan video. 


Hanna menggerutu. Namun tetap diterimanya panggilan tersebut sambil masih mengerucutkan bibirnya. 


"Dih, itu kenapa kok ada bebek?" goda Ronin pada Hanna. 


"Ronin!“ Hanna memberengut. Gadis itu melirik tajam pada Ronin. 


"Hehehe, yaudah ada apa?"


Hanna menunduk. Melempar handphonenya ke sembarang arah namun segera diraihnya lagi. 


"Kamu emang nggak mau nikah sama aku ya?" tanyanya tiba-tiba. Membuat Ronin mengerutkan keningnya. 


"Mau lah. Kenapa nggak mau?"


"Itu tadi katanya minta ditunda."


Loh, sebentar. 

__ADS_1


Hening beberapa saat. Tak lama terlihat Ronin yang kini tertawa renyah di seberang telepon. 


"Ya iyalah, Sayang. Emang kamu mau nikah sekarang?" tanya Ronin sembari tersenyum geli. Ini toh penyebab princess satu ini jadi ngambek begini? Gemas banget Ronin rasanya. 


"Tapi nanti kita jadi jauh-jauhan loh. Aku nggak mau."


Bucin juga ya Princess Hanna yang cantik satu ini.


"Iya juga sih." Ronin manggut-manggut. "Tapi aku nggak mau, Sayang, gara-gara kita nikah buru-buru, rencana masa depan kamu jadi berantakan. Aku juga nggak mau kamu kena masalah, jadi dihujat temen-temen, diomongin yang aneh-aneh." Ronin menatap Hanna dalam. "Ya meskipun bisa aja nih status nikah kita disembunyikan. Tapi aku pengennya, nikahin kamu dengan bangga, semua orang tau kalau kamu udah jadi milik aku. Bukannya sembunyi-sembunyi."


Hanna masih memberengut. Tapi ekspresinya tidak seketus tadi. Gadis itu hanya terlihat sedikit merengek, seperti bersedih. 


"Maaf, Sayang. Tapi aku serius loh sama kamu. Gak mungkin aku ngelepasin kamu, Hanna cintaku." Ronin berkata lagi. Pemuda itu memegang handphonenya, seperti tengah mengelus pipi Hanna dengan sayang. "Sabar ya. Setelah urusan masuk kuliah selesai, kita nikah ya? Aku janji sebelum itu aku udah dapat pekerjaan, atau minim-minim ada pendapatan lah meskipun sedikit. Kamu bisa nunggu aku kan?"


"Tapi kita nggak ketemu dong berarti selama setahun?"


Ronin mengerutkan alisnya. Pemuda itu tampak berpikir. "Ketemu kan kalau di sekolah? Telepon juga bisa. Nggak ada yang ngelarang kita telepon kan? Nanti aku vc tiap malem kayak gini, mau? Sama nanti kalau pas mama lagi santai di rumah, aku jemput ya? Kamu ke rumah, ngobrol sama mama."


Hanna mengangguk membuat Ronin tersenyum. "Udah jangan sedih, ya?"


Hanna kembali mengangguk. "Maaf ya, aku kelihatan kekanakan banget ya?"


Ronin tertawa. "Nggak lah, Sayang. Itu tandanya kamu sayang sama aku. Berarti aku nggak berjuang sendirian." Pemuda itu kembali tersenyum dan memandang Hanna dengan sayang. 


Padahal dalam hati, Ronin ketar-ketir juga. Bisa tidak ya kalau jarang bertemu Hanna? Biasanya sehari tidak bertemu aja sudah nggak karuan rasanya, ya kan? 



Gadis itu mengejar ketertinggalannya karena sebelumnya dia sibuk mengurus Ronin. Selain itu, Hanna juga harus mempersiapkan ujian masuk Perguruan tinggi dengan baik karena yang dia kejar bukan main-main, jurusan kedokteran. Gadis itu tidak akan mengikuti jejak orang tuanya menjadi seorang pebisnis, dan malah berpikir untuk menjadi dokter. Untungnya, tidak ada yang menentang Hanna, semua mendukung pilihan Hanna ini. Ronin pun begitu. 


Kalau Ronin jangan ditanya, pemuda itu yang sebelumnya sibuk tawuran kesana kemarin, kini sibuk mencari apa yang disukainya. Dari mulai berbisnis, menggambar, jadi konten kreator, semua dilakoni. Ia baru merasa nyaman dan meyakini apa yang disukainya setelah mencoba berbisnis pada bidang yang disukainya, action figure dan mainan serta aksesoris para lelaki. Terlihat remeh tapi itu ternyata mendatangkan cuan bagi Ronin. Ronin bahkan sedang mengusahakan agar bisa masuk jurusan bisnis di kampus yang sama dengan yang akan dimasuki Hanna, selain agar bisa dekat dengan kekasihnya itu, juga agar bisa semakin memahami bagaimana cara berbisnis. 


Yang jelas, di usianya yang cukup muda ini, Ronin malah sudah berpenghasilan. Entah karena keinginannya untuk menikah setelah lulus SMA ini benar-benar didengar, atau ya karena dia memang beruntung. Pemuda itu kini jadi punya tabungan yang lumayan. 


Waktu berjalan begitu cepat. Meskipun Hanna dan Ronin sangat jarang untuk bertemu, tapi keduanya berkomunikasi dengan baik. Bahkan sampai lulus sekolah pun, keduanya tetap saling memberi kabar. Tidak ada yang lebih tau tentang Hanna selain Ronin, begitu juga sebaliknya. 


Ronin ingin segera menemui Hanna. Kerinduannya sudah sangat memuncak. Tapi Ia harus bersabar sedikit lagi. Sebentar lagi pengumuman masuk Perguruan tinggi negeri. Ia benar-benar memilih kampus yang sama dengan Hanna. 


Hanna mengejar UGM. Berat memang, tapi apapun akan dilakukan oleh Ronin. Ronin bahkan belajar keras untuk ini. Untungnya Ronin punya sahabat yang meskipun sama-sama doyan tawuran sepertinya, tapi kemampuan otaknya juga boleh diadu, siapa lagi kalau bukan Jun, pemuda tukang tawuran yang malah masuk IPA 1.


Hari ini adalah hari pengumuman. Rencananya, setelah pengumuman, Ronin akan menjemput Hanna, lalu mengajak gadis itu berjalan-jalan. Rencana selanjutnya, Eonin akan melamar Hanna, sehingga ketika mereka sudah mulai kuliah, status mereka sudah menikah jadi bebas tinggal bersama, apalagi kan jauh dari rumah. Lebih aman rasanya kalau Hanna tinggal dengannya. 


May: eh gimana? 


Pesan chat dari May di grup kelompoknya mengganggu fokus Ronin. 

__ADS_1


Ken: jadi nih pilihan 1. Ugm. Felline ugm juga. Lo gimana May sama Jun? Hanna Ronin? 


Eh sebentar. Sudah ada pengumumannya ya? 


Ronin segera membuka situs yang sedari tadi ditunggunya. Pemuda itu mengetikkan beberapa angka. 


Loading. Terasa sangat lama sekali. 


Selanjutnya muncullah namanya beserta jurusannya. 


S1 Manajemen. Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta. 


Ini pilihan kedua Ronin. 


Eh? Serius? Beneran jogja nih? 


Ronin keterima ya? 


Belum sampai Ronin benar-benar memastikan informasinya, handphonenya kembali bergetar. Ada nama Hanna disana. 


"Ronin!!!“ Hanna berteriak. Ronin sampai harus menjauhkan handphonenya karena suara teriakan gadisnya ini. "Aku keterima ih. Ya ampun ini beneran?" Terdengar suara Hanna yang mulai terisak. Terharu sepertinya. 


"Dimana, Sayang?"


"UGM. Kedokteran."


Gotcha. Ini benar-benar seperti yang diharapkan Ronin. Tidak apa-apa beda kampus, yang penting masih sekota. 


"Eh kamu gimana, Sayang? Ini temen-temen pada heboh keterima di Jogja semua. Gila banget gak sih? Kita kumpul lagi, seneng banget."


"Hmm.." Ronin mengulum senyum. Membayangkan senyum Hanna yang sebahagia itu, membuatnya ikut tersenyum juga. 


"Kamu gimana ih?" Hanna gemas. Gadis itu mendecak menyadari Ronin yang tampak slowrespon. 


"Hehehe. UPN Jogja, Sayang. Beda kampus, tapi tetap tinggal bareng kan?"


"Ehhh? Ya ampun senang bangeeet. Ya iyalah kan kamu janji mau nikahin aku."


Ronin tertawa. Bahagia sekali Ia hari ini. "Yaudah, jalan yuk? Abis ini aku jemput."


Hanna mencibir. "Buru-buru banget."


Tawa Ronin semakin kencang. "Ya iya lah. Ngerayain kelulusan sama keterima. Sama kangen-kangenan. Kangen banget aku sayang. Setahun kita cuma ketemu papasan doang loh di sekolah."


__ADS_1


masih ada epilog ya. tunggu..


btw, Terima kasih sudah mengikuti ceritaku sampai detik ini, makasih bangeeeet ❤


__ADS_2