Musuhku Kekasihku

Musuhku Kekasihku
Chapter 23


__ADS_3

Ronin menghentikan aktivitasnya. Pemuda itu menatap manik mata Hanna dengan lembut. “Kenapa, sayang?” tanyanya mengusap pipi gadis itu.


“Gue mens.” 


Ronin tertawa pelan. “Terus kenapa? Gue bukannya mau gituin elo.” Ronin begitu lembut saat mengatakan ini.


Hanna membelalak. “Terus? Kenapa lo godain gue sampai segitunya? Gue hampir mikir lo bakal–”


Ronin menghentikan Hanna dengan ciumannya. Pemuda itu lalu berbaring di sebelah gadis itu, menarik gadis itu dalam pelukannya. “Maaf ya gue kelewatan. Tapi gue bakal jagain lo. Gue nggak bakal ngelakuin itu sebelum lo benar-benar jadi milik gue.” Ronin mengusap rambut Hanna dengan sayang. Pemuda itu mencium aroma rambut Hanna yang khas, begitu menenangkan. Segala hal dalam diri gadis ini memang sangat berkelas.


“Emang lo bisa tahan?” Hanna mengatakan ini sambil mengusap dada hingga perut Ronin. Ronin terkesiap. Astaga, berani sekali Hanna menggodanya di situasi seperti ini.


“Emang lo mau gue lakuin itu sekarang?” Ronin mengerling. 


“Enggak lah!” Wajah Hanna berubah merah. Gadis itu memberengut, kini berbalik arah, jadi memunggungi pemuda itu. 


Ronin terkekeh pelan. Menggemaskan sekali gadisnya ini. Perlahan dia kembali memeluk Hanna. Kali ini dari belakang. Dirinya diam sejenak. Berkali-kali mencium rambut Hanna yang wangi.


“Hanna,” panggil Ronin sambil masih memeluk gadis ini. 


“Hmm?” Hanna hanya menjawab seadanya. Gadis itu terpejam, nyaman sekali disini. Sepertinya benar yang kebanyakan orang bilang, lebih baik memilih lelaki yang mencintai kita, dibanding lelaki yang kita cintai. Ternyata rasanya memang semenyenangkan ini.


“Lo nggak ngijinin sembarangan orang buat nyium lo kan?”


Gadis itu memukul tangan Ronin yang bertaut di tangannya. “Nggak lah! Emang gue cewek apaan?” jawabnya jadi sewot.


Sepertinya Hanna harus menarik apa yang dia pikirkan barusan. Apa-apaan itu?


“Terus kenapa lo ngijinin gue nyium lo?”


Hanna berbalik. Gadis itu memutar bola matanya, lalu memandang ke atas seperti tengah berpikir. ‘Karena gue mau?” jawabnya yang lebih terdengar seperti pertanyaan.


“Jadi gue spesial kan makanya lo mau?”


Ronin masih berusaha pemirsa.


Hanna mendecak. “Haruskah gue jawab?” Gadis itu lalu kembali memunggungi Ronin. Membuat Ronin terkekeh. Namun tak menimpali apapun. Pemuda itu melanjutkan aktivitasnya untuk menciumi rambut Hanna yang terasa bagai candu baginya. 


“Lo sering bawa cewek lo kesini?” Hanna bertanya di tengah keheningan. Gadis itu masih membelakangi Ronin. Tapi membiarkan Ronin menyentuh dan mencium rambutnya.


“Nggak pernah.” 

__ADS_1


Hanna menoleh, menatap penuh selidik. “Bohong banget, cowok mesum kayak elo,” katanya sambil mencebikkan bibirnya.


“Gue nggak pernah pacaran.” Ronin mengganti posisinya menjadi telentang sepenuhnya, tak lagi menatap gadis itu. “Nggak ada yang menarik perhatian gue.”


Hah? Gimana?


“Emang ada ya preman pasar yang nggak pernah pacaran?” Hanna bertanya polos.


Ronin mengerutkan keningnya, merasa ada yang aneh. “Gue kan preman, Hanna, bukan playboy.” Ronin mencubit pipi gadis itu gemas. Lagian ada-ada saja. 


“Tapi elo kan mesum.” Hanna masih tak menyerah. Gadis itu masih menatap penuh selidik pada pemuda yang berbaring di sebelahnya ini.


“Setiap cowok pasti ada mesum-mesumnya kalau itu berkaitan dengan cewek yang dia sayang, Princess. Itu nggak membuktikan kalau dia mesum ke semua cewek.”


Entah kenapa, kalimat Ronin terasa menyenangkan di telinga Hanna. Gadis itu tak lagi menginterogasi. Kembali membelakangi Ronin sambil berusaha menahan senyumnya.


“Jadi gimana? Sudah ada rencana mau terima gue?” Ronin bertanya sambil kembali memeluk gadis itu dari belakang. Mengusap pelan rambut hitam Hanna yang berkilauan.


“Belum, gue masih takut, lo mesum sih.” Hanna berkata asal. 


“Tapi kan lo juga mau sayang ihhh.” Untuk pertama kalinya, Hanna mendengar Ronin merengek padanya. 


“Hei, Princess, nggak gitu maksud gue.” 


Belum sampai Hanna memakai pakaiannya, Ronin sudah menarik tubuhnya dan menguncinya di bawah tubuhnya sendiri. Kini kembali pada posisi awal, dengan Ronin yang menindih tubuh gadis itu.


“Lo bisaan banget godain gue hmm.” Ronin menaikkan sebelah alisnya. Tangannya memeluk erat pinggang Hanna. Membuat dada mereka berbenturan, tak terpisah sehelai kain pun. 


Bisa dibayangkan reaksi Hanna sekarang. Ada sensasi geli yang begitu menggelitik yang harus dia tahan. “Gue–”


“Ronin.” Keduanya terdiam. Ada suara yang memanggil Ronin membuat keduanya sama-sama membeku.


“Ronin, kamu di dalam, Nak?”


Dan Hanna seketika mendorong Ronin menjauh. Mereka melompat pelan. 


“Mama kayaknya,” bisik Ronin lebih pelan. Pemuda itu beranjak, menarik Hanna agar ikut berdiri.


“Gimana ini, mama lo pasti mikir yang enggak-enggak kalau tau gue keluar dari kamar lo.” Hanna panik.


Ronin menenangkan gadis itu, meraih baju juga bra Hanna yang berserakan. “Lo pake baju lo dulu. Gue keluar dulu, nanti lo nyusul ya. Gue bilang lo numpang kamar mandi, abis dari rumahnya Mela.” Kini Roni tergesa memakai kaosnya.

__ADS_1


“Kenapa gue numpang di kamar lo hih.” Hanna masih panik. Tak mendapat jawaban dari Ronin, malah pemuda itu bergerak menuju pintu, Hanna langsung berlari ke kamar mandi.


Sementara itu, Ronin membuka pintu saat dipastikannya Hanna sudah masuk ke kamar mandinya. Pemuda itu mendapati Laras, mamanya yang masih memakai baju resmi, sepertinya baru saja pulang.


“Mama kok udah pulang?” Ronin bertanya basa-basi. Pemuda itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sedikit salah tingkah.


Laras melirik ke dalam kamar Ronin. “Kamu sama siapa? Ada sepatu cewek di depan.”


Astaga benar juga. Semoga mamanya tak mendengar pembicaraan mereka sedari tadi.


Bertepatan dengan itu, Hanna keluar dari kamar Ronin malu-malu. Gadis itu sudah memperbaiki penampilannya, kini kembali mengikat rambutnya ke atas. Ronin berdehem sekilas. “Oh, ini Hanna, Ma. Tadi numpang kamar mandi, abis dari rumahnya Kak Mela. Mama tau kalau mamanya Kak Mela—”


“Oh iya sayang, Mama juga mau kesana. Kasian banget sayang, Mama benar-benar nggak nyangka.” Laras terdiam sejenak. Wanita itu mengamati Hanna dari ujung kepala hingga ujung kaki. tersenyum pada gadis itu. “Oh ya, kamu siapa tadi namanya Hanna ya? Sudah makan?” tanyanya seraya meraih tangan Hanna. Menggandeng dan membawa gadis itu.


Hanna salah tingkah. Gadis itu menatap Ronin bingung tapi tetap bergerak mengikuti Mama Ronin yang menuntunnya. “Iya, Tante. Belum, Tante. Nanti aja.”


Laras menoleh pada Ronin. “Nggak kamu tawarin makan?” tanyanya, kini berbelok tak lagi ke ruang tamu, malah jadi ke dapur sambil masih menggandeng tangan Hanna.


Ronin nyengir. Gimana mau kepikiran makan. Sedari tadi mereka malah asik bergumul, berpelukan dan sayang-sayangan seperti sepasang kekasih.


Belum sampai mereka tiba di dapur, seorang pria keluar dari kamar Laras. Mendadak ada hawa dingin menyergap di antara mereka. 


Ronin menatap pria itu dengan tatapan marah. “Mama bawa pria ini kesini?” tanyanya pada Laras. “Membiarkannya masuk ke kamar Mama?” Tangan pemuda itu mengepal.


“Jangan salah paham, sayang. Om Bastian hanya numpang kamar mandi.” Laras memegang tangan anaknya, berusaha menenangkan. 


Tapi pemuda itu menghindarinya. “Jangan panggilkan dia om ke aku. Dia atasan Mama.” Kini beralih menarik tangan Hanna agar mendekat padanya. “Dan jangan pakai alasan yang sama.” Mata elangnya berkilat tajam. Pemuda itu menatap Bastian begitu marah. “Sebaiknya Pak Bastian segera meninggalkan rumah ini. Jangan dekati mama saya lagi. Atau saya bisa meminta mama saya untuk keluar dari perusahaan Bapak.”


“Ronin.”


“Nggak papa, Laras.” Lelaki yang dipanggil Bastian itu menghentikan Laras. “Saya langsung pamit kalau gitu.” Lelaki itu lalu pergi begitu saja. Laras hanya mampu menatapnya, tak berani mengatakan apa-apa. 


Setelah memastikan Bastian benar-benar pergi. Ronin kembali menggandeng Hanna. “Aku sama Hanna makan di luar aja.”


“Ronin, Mama kan sudah masak buat kamu.”


“Masakan Mama pasti sudah dicicipi pria itu.” Hanna membelalak mendengar Ronin mengatakan ini. 


"Ronin…." Laras memelas. 


Melihat mamanya yang tampak sedih, ekspresi Ronin melunak. "Mama istirahat aja, Ronin nggak lama kok, nanti sore pulang." Pemuda itu melirik Hanna yang masih terdiam. "Ayo, Hanna," ajaknya. 

__ADS_1


__ADS_2