Musuhku Kekasihku

Musuhku Kekasihku
Chapter 30


__ADS_3

Hanna bersiap mengantri bersama Ronin. Gadis itu berdiri sambil melihat-lihat sekitar. Hingga seorang anak kecil laki-laki berumur sekitar 5 tahun menghampiri mereka berdua. 


Anak itu menarik rok Hanna, menarik perhatian gadis itu. Membuat Hanna mendekat seraya berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan anak itu. 


"Ada apa?" tanya Hanna mencoba untuk tersenyum. Hanna bukan gadis yang ramah. Namun kalau untuk anak kecil itu pengecualian. Ya meskipun Ia juga berusaha keras untuk ini. 


"Kakak cantik banget, kayak kakakku yang sekarang lagi kuliah jauh," kata anak itu, terus terang. 


"Eh?" Hanna melongo. Gadis itu memandang sekitar. Menemukan sepasang wanita dan pria paruh baya yang tengah memandangnya sembari tersenyum. Mungkin orang tua anak ini. "Nama kamu siapa?" tanyanya. 


"Reyhan."


"Oh, Reyhan? Kakaknya kuliah dimana? Reyhan kangen, ya?"


Belum sampai anak kecil yang bernama Reyhan itu menjawab, seorang anak lagi tampak berlari-larian di sekitar mereka. Maklum, tempat makan ini memang family friendly. 


Namun bukan itu masalahnya. Anak itu berlari tak tentu arah, tanpa sengaja menyenggol Reyhan yang kebetulan sedang membawa minuman dingin, menumpahkan minumannya tepat mengenai Hanna. Minuman di gelas penuh itu benar-benar tumpah membasahi baju Hanna. 


Hanna syok. Anak-anak itu apalagi. Membuat para orang tuanya segera mendatangi mereka, bingung sendiri. 


Ronin yang sedari tadi mengamati, segera mengambil tindakan. Menyembunyikan Hanna di belakang tubuhnya. Dia jadi menyesal kenapa meninggalkan jaketnya di motornya, coba kalau tidak, kan Hanna bisa ditutupi pakai jaket itu. 


"Mbak aduh, kami minta maaf." Ibu anak yang tadi berlarian itu meminta maaf. 


"Salah anak kami juga bawa-bawa minuman gitu. Maaf banget mbak. Aduh gimana ya." Kini mamanya Reyhan yang bicara. 


Ronin hanya memandang mereka tajam. Ingin sekali mengumpati mereka semua, kalau saja Hanna tak menarik tangannya agar menahan diri. 


"Ok, tapi tolong lain kali hati-hati." 


Pemuda itu menarik Hanna keluar. Tak mengijinkan Hanna berkata sedikitpun. Sebisa mungkin, Ia menyembunyikan Hanna di balik tubuhnya. Begitu sampai parkiran pun Ia tergesa menyerahkan jaketnya pada Hanna. 


Sekilas, Ia melihat pemandangan yang sedari tadi menjadi kekhawatirannya. Kondisi baju bagian depan Hanna benar-benar basah. Apalagi gadis itu menggunakan baju putih sehingga bagian dalamnya pun tercetak dengan jelas. 


Itulah yang membuat Ronin emosi. Pemuda itu tak mungkin membiarkan orang lain melihat lekuk tubuh gadisnya ini. 


Lagipula kalau boleh jujur, ada sisi lain dalam dirinya yang berdesir melihat pemandangan itu. Sesuatu yang membuat Ronin jadi tergesa sendiri. 


"Ke rumah gue aja ya, mumpung deket. Nanti makan di rumah gue." Ronin berbicara setelah mereka menaiki motor. 


"Tapi ini basah banget loh." 


"Iya makanya itu ke rumah gue. Nanti pake kaos gue kan banyak, pasti muat."


"Iya tapi ini beneran basah banget merembes sampai ke kulit. Apa gue copot bra gue sekalian aja ya nanti?"


Astaga. Iya Ronin tau. Tau banget. Nggak usah diperjelas juga dong si Hanna mah. 

__ADS_1


Ronin menghembuskan napas kasar, berusaha fokus dengan jalanan. Perjalanan terasa sangat jauh bagi Ronin. Padahal paling hanya maksimal 10 menit. 


Pemuda itu menarik tangan Hanna agar segera mengikutinya. Tak lupa menyembunyikan Hanna di balik tubuhnya. Padahal gadis itu juga telah memakai jaketnya sehingga bajunya yang basah juga tak mungkin terlihat, tapi tetap saja Ronin melakukan ini hingga mereka sampai di dalam rumah. 


Ronin segera membawa Hanna masuk ke kamar, melepaskan gadis itu, menuju lemarinya. Tak lama, menyerahkan sebuah kaos berwarna putih pada Hanna.


"Pake ini aja, gue siapin makan dulu." Lalu Ia pun segera melesat, menghilang di balik pintu. 



Tak lama, Hanna muncul di depan mata Ronin saat pemuda itu tengah merebus mie untuk mereka berdua. Gadis itu memakai kaos kebesaran yang Ronin berikan. Terlihat tak memakai bawahan, atau mungkin pakai tetapi tertutupi kaos yang memang agak panjang. Jangan lupakan juga puncak dada Hanna yang sangat kentara. 


Astaga, seksi sekali. 


Pemuda itu menelan ludah. Entah Hanna yang tidak peka atau gadis itu yang memang sengaja menggoda Ronin, membuat Ronin panas dingin tak menentu. 


"Sepi banget, tante kemana?" tanya Hanna menoleh kanan kiri. Kini ganti menggeser posisi Ronin, memastikan mienya telah matang, mematikan kompornya lalu menuangkannya pada piring mereka berdua. Tidak mempedulikan Ronin yang kini kepanasan. 


Ronin berdehem. "Mama dinas luar," jawabnya singkat. Mengambil alih kedua piring mereka berdua, lalu meletakkannya di meja. 


"Oh." Hanna duduk dengan nyaman saat mengatakan ini. "Btw makasih ya udah dibikinin mie. Gue laper banget soalnya. Selamat makan." Hanna tersenyum begitu cerah. Gadis itu segera menyantap sepiring mie goreng yang Ronin buat. 


Astaga tolong banget. Kenapa gadis itu jadi berkali-kali lipat lebih menggemaskan begitu saat makan? 


Ronin menahan diri. Sangat menahan diri. Hingga Hanna merasakan keanehan itu namun dirinya juga tak bertanya. 


"Habis ini mau ngapain?" Akhirnya Ronin berbicara. 


Hanna berpikir sejenak. "Nonton TV asik kali ya?" Dalam bayangannya sudah ada aksi anak gundul kembar bersama teman-temannya yang akan mengundang tawanya. 


"Oh, yaudah, nonton di kamar aja sambil rebahan. Capek gue," kata Ronin sambil mengajak Hanna kembali ke kamarnya. 


Nonton TV sambil mesra-mesraan tipis-tipis boleh kali? Begitu pikirnya. 


Dan seperti semesta bahkan Hanna yang menyetujui isi pikirannya. Karena gadis itu pun saat menonton TV, langsung menyandarkan tubuhnya pada Ronin yang setengah rebahan di ranjang. Gadis itu masih fokus mencari channel yang disukainya. 


Ronin entah kenapa sudah tak lagi menahan diri. Pemuda itu perlahan melingkarkan tangannya di perut Hanna. Melihat Hanna yang masih tampak nyaman dan semakin menyadarkan tubuhnya, Ia melingkarkan tangan satunya, hingga gadis itu benar-benar menempel dengan dirinya. Dengan kedua tangannya yang terpaut. 


"Princess." Suara pemuda itu menjadi serak. 


"Hmm?"


Entah kenapa, suara Hanna menjadi sangat seksi di telinga Ronin. 


"Kok lo nggak pake bh?" tanya Ronin sedikit berbisik. Tepat di telinga gadis itu. 


"Kan gue udah bilang, baju gue basah. Termasuk daleman gue."

__ADS_1


"Ya sih." Ronin menghirup aroma tubuh Hanna yang begitu menenangkan. "Tapi itu efeknya bikin gue nggak karuan." 


Semakin lama, Hanna hilang fokus merasakan Ronin yang terus mendekatinya. Dirinya tak lagi menonton TV. Kini malah melingkarkan tangannya memeluk Ronin, sedikit menghadap samping, menghadap pemuda ini. 


"Nggak karuan gimana?" tanyanya pelan, sedikit berbisik. Dirinya ikut mencari-cari, berusaha menghirup aroma maskulin pemuda ini. 


"Pengen *****." Ronin menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Hanna. 


Gadis itu meremang. Tapi tiba-tiba kesadarannya kembali. Ingat ada yang harus ditanyakannya. 


"Tapi jawab dulu pertanyaan gue."


"Apa?" Ronin tak sabar, tangannya mulai bergerilya, menelusup di balik kaos gadis ini, menyentuh perutnya yang ramping. 


Hanna berusaha menahan diri. Gadis itu menahan tangan Ronin agar tak berbuat lebih jauh. 


"Pertanyaan Jun kemarin, sebenarnya kita sudah jadian belum sih?" tanyanya out of the box. Membuat Ronin mengerutkan keningnya. 


"Ya lo maunya gimana?" Ronin menaikkan alisnya. Tak lagi bergerilya seperti tadi. Kini kembali fokus pada channel kartun anak kembar yang sibuk mengejar ayam. 


"Ih, lah emang lo pernah nembak gue secara resmi?" Hanna protes. Gadis itu ikut memalingkan pandangan. Beralih menatap layar televisi juga. 


Ronin jadi kembali menatap Hanna. "Lah sebelum-sebelumnya emang nggak? Kalo mau resmi banget mah kita ke KUA aja, Sayang." Ronin mengatakan ini sambil menjentikkan jarinya di dahi Hanna. 


"Ih, nggak tau lah." Hanna mengerucutkan bibir. 


Eh kok jadi ngambek? 


Ronin panik. Pemuda itu menangkupkan wajah Hanna dengan kedua tangannya. "Jadi maunya gimana?"


"Gak tau."


Masih ngambek pemirsa. 


Ronin berpikir sejenak. Pemuda itu jadi punya ide cemerlang. "Yaudah, aku tembak tapi pake aksi. Kamu jawabnya juga pake aksi."


Eh gimana? 


Hanna tertarik. Gadis itu menaikkan alisnya bingung. Namun belum sampai Ia bertanya, Ronin sudah terlebih dahulu menciumnya.


Hanna syok. Gadis itu menegang selama beberapa detik. Berusaha memproses apa yang terjadi. Setelah paham apa maksud Ronin yang sebenarnya, gadis itu mengulum senyum di sela-sela ciuman Ronin. 


Jadi ceritanya 2 3 pulau terlampaui ygy. 


Hanna membalas ciuman Ronin. Gadis itu membiarkan pemuda yang katanya sedang menembaknya ini, mengeksplorasi serta mencecap rasa Hanna. Keduanya terhanyut dalam permainan cinta yang memabukkan. 


__ADS_1


__ADS_2