Musuhku Kekasihku

Musuhku Kekasihku
Chapter 31


__ADS_3

Pagi ini, Hanna sudah bersiap ke sekolah. Gadis ini dengan semangat memasukkan bekal makan cantiknya ke dalam tas ransel yang akan dibawanya. Tak lupa juga membawa sebotol air minum. 


Semangat sekali. Padahal biasanya boro-boro bawa bekal, makan juga jarang. 


Tapi kali ini, gadis ini akan mencoba berbaik hati kepada lovernya yang kemarin nembak dia itu, atau sebut saja pacarnya. 


Eh sudah boleh sebut pacar belum?


Aduh, Hanna malu sendiri kalau memikirkan ini. 


“Sayang, bawa ini ya buat temen-temen Hanna.” Lisa memasukkan kotak berisi kue ke dalam tas Hanna. Wanita itu tersenyum, mengelus pelan rambut putrinya.


Hanna tersenyum. “Makasih, Ma. Hanna berangkat dulu,” pamitnya sembari mencium tangan Lisa. Gadis itu segera masuk ke mobil Adra yang telah menunggu sedari tadi. 


Hanna sangat bersemangat hari ini. Ia melihat jalanan sambil terus saja tersenyum. Hingga getar handphonenya mengalihkan perhatiannya. 


Ada satu chat masuk di grup angkatannya. 


Selfi Aulia: sent a photo.


Selfi Aulia: Congratulation buat pasangan emas kita. Prestasinya keren bgt.


Dio Putra: Prestasi apa nih?


Selfi Aulia: Prestasi udah berani senderan ke pacar orang hahaha


Hanna segera membuka foto yang dikirimkan oleh teman satu angkatannya, foto itu tampak buram karena tak banyak cahaya yang masuk dan diambil di malam hari. Namun tetap jelas memperlihatkan Hanna dengan Ken yang bergandengan tangan, bahkan gadis itu tampak memeluk lengan Ken dengan nyaman. 


Hanna menipiskan bibir. Gadis itu tak lagi memperlihatkan senyumnya. 


Astaga, baru juga Hanna senang, ada saja yang mengganggu.


Hanna tak menampik foto itu. Itu terjadi karena ada segerombolan anak yang mengganggunya sewaktu lomba kemarin. Masalahnya, kalau jadi orang lain, Hanna juga akan curiga kalau mendapati foto yang seperti itu. Lalu bagaimana perasaan Felline jika melihat ini? Belum juga Ronin. Hanna jadi menyesal sudah bertindak yang aneh-aneh kemarin. Harusnya Ia biasa saja dan tidak sampai berlebihan begitu.


Sampai di sekolah, sudah ada banyak pasang mata yang menatapnya. Ya ampun, cepat sekali berita itu tersebar. Padahal kenyataannya juga belum tentu benar tapi semuanya melihat Hanna seperti penjahat. 


Tapi Hanna salah juga.


Hanna mengakui bahwa dirinya salah tapi bagaimana menjelaskannya ya?


Sampai di kelas, sudah ada Felline yang tampak duduk, tak bergerak sedikitpun saat Hanna datang. Sepertinya gadis itu juga tak ada rencana menyapa Hanna sama sekali. 


“Felline?”

__ADS_1


Bahkan Ia juga tak berniat menjawab Hanna. 


Hanna menipiskan bibir. Bagaimana cara menjelaskannya?


“Felline, gue mau ngomong.”


“Nanti aja, aku lagi nggak pengen ngobrol.” Felline meraih earphonenya, memasangnya pada kedua telinganya. 


Belum sampai Hanna membuka mulutnya lagi, bel masuk telah berbunyi, membuat suasana menjadi semakin ramai.


Sepertinya, kesalahpahaman ini akan terus berlanjut. 



Bel istirahat berbunyi. Ronin dengan tergesa menuju ke kelas XI IPA 2. Pemuda itu masuk menyeruak ke ruangan. Untungnya guru sudah keluar sedari tadi, kelas juga tidak seberapa ramai. Dalam sekejap, Ronin sudah menemukan seseorang yang dicarinya. 


Begitu sampai di hadapan Ken, pemuda itu memegang kerah baju Ken, hingga membuat beberapa anak berteriak kaget. 


"Mau lo apa, hah?"


Mata elangnya berkilat emosi. Sementara yang diserang tampak santai, namun tatapannya juga sama menusuknya seperti Ronin. 


"Ada niat apa lo sama Hanna, hah?" Ronin berteriak. 


Satu pukulan melayang ke wajah tampan Ken. Ken terhuyung sebentar, memegangi sudut bibirnya yang memar. 


"Kalo lo terus-terusan pakai cara ini buat menyelesaikan masalah, maka selamanya gue nggak akan ngebiarin lo dapetin Hanna." Ken masih bisa santai saat mengatakan ini. 


"Siapa lo? Lo bahkan gak punya hak atas Hanna." Ronin tersenyum meremehkan. 


Mendengar itu, entah kenapa Ken mulai tersulut emosi. Dirinya segera melayangkan pukulan pada Ronin. Meskipun dia bukan anak yang doyan tawuran, pukulannya juga tak bisa diremehkan. 


"Diem lo. Gue nggak bakal biarin lo ngedapetin Hanna."


Kini, satu pukulan kembali melayang pada Ken. "Gue juga nggak bakal biarin ada orang yang ngerebut Hanna dari gue. Apalagi kalau itu lo." Ronin juga tidak mau kalah. 


Mayleen yang semula hanya duduk di mejanya memperhatikan, kini bangkit dengan malas melihat kedua pemuda ini yang sudah mulai adu otot. 


"Stop!" serunya. Meskipun sepertinya tak ada yang peduli karena kedua pemuda ini tetap saja saling memukul sambil adu mulut. 


"Jangan berani-berani lo deketin Hanna."


"Elo yang jangan coba deketin Hanna. Hanna punya gue."

__ADS_1


"Bisa berhenti nggak kalian?"


Masih tetap saling memukul pemirsa. 


Mayleen frustasi. Teman-temannya ini benar-benar seperti bocil. Untungnya mereka bisa dibilang sama kuat sehingga belum ada yang terlihat tumbang, meskipun keduanya tampak memar dan berdarah di banyak bagian. 


Tapi masalahnya, kalau seperti ini terus, tetap Hanna juga yang dihujat. Padahal keduanya pasti sayang sama Hanna, tapi ujung-ujungnya malah nyeret Hanna dalam masalah. 


Gimana sih kedua bocil ini? 


Akhirnya dengan berat hati, Mayleen mengarahkan tendangannya ke kedua pemuda itu yang masih terus adu kekuatan, satu persatu. Keduanya langsung berhenti mendapati tendangan dari Mayleen yang memang atlet taekwondo. 


Mayleen melipat tangannya di dada. Memandangi satu persatu ke arah dua pemuda yang kini terdiam. Terlihat seperti emak-emak yang sedang memarahi kedua anaknya. 


Gadis itu meraih handphone di saku roknya. Mengetikkan sesuatu. Lalu kembali menatap kedua pemuda itu. 


"Ikut gue," perintahnya, yang anehnya tak ada yang berniat membantah, karena keduanya pun tampak mengikuti gadis ini tanpa protes. 



Bel istirahat telah lama berbunyi. Begitu guru keluar kelas, Felline sudah lebih dulu ikutan keluar, bahkan sebelum Hanna sempat mempersiapkan diri. 


Hanna menghembuskan napas panjang. Rumit juga sepertinya. 


Kalau biasanya masih ada yang mendukung Hanna, tapi sekarang sepertinya sudah tidak ada lagi. Ronin bahkan juga tidak menghubunginya sama sekali. 


Hanna meringis, menyandarkan kepalanya di meja, agak lelah. Gadis itu mulai memejamkan mata saat ada seseorang yang menepuk punggungnya pelan.


Hanna kembali membuka matanya. Terlihat Jun yang kini duduk di bangku Felline.


“Hmm?” Gadis ini bahkan terlalu malas untuk bertanya.


Jun menyodorkan handphonenya. Tampak chat dari May disertai satu foto yang membuat Hanna mendecak kasar. Pemuda itu memberi kode agar Hanna mengikutinya. 


Hanna segera beranjak. Tak lupa Ia membawa pouch tempat perlengkapan medisnya. Pusing sekali. Sekarang malah Ronin kembali tawuran. Sama Ken juga aduh. Hanna bingung harus membela siapa kali ini. 


Belum sampai mereka keluar kelas, tampak Felline yang kembali masuk namun segera ditarik Hanna agar ikut dengannya. Ya agak dipaksa sedikit karena gadis itu tampak ogah-ogahan mengikuti Hanna.


Hanna ingin menyelesaikan masalah ini. Tapi bingung juga bagaimana membicarakannya. Bahkan jika dia mengatakan yang sebenarnya, tetap terasa tidak benar di telinga Hanna, apalagi di telinga orang lain. 


Tapi walau bagaimanapun, Ia tetap harus menghadapinya, karena kalau tidak, Ia mungkin akan kehilangan teman-temannya.


__ADS_1


__ADS_2