Musuhku Kekasihku

Musuhku Kekasihku
Chapter 36


__ADS_3

Hanna memasuki ruang ICU dengan pandangan nanar. Ia menggigit bibirnya, berusaha untuk tidak menangis. Ia tak ingin membebani Ronin dengan rengekannya. Tidak saat Ronin sedang tak berdaya seperti ini.


Gadis itu menatap pemuda yang kini tak berdaya, dengan berbagai macam peralatan yang tersambung pada tubuhnya. Hati Hanna terasa teriris melihat ini. Ulu hatinya nyeri. Serasa ada sebuah benda yang menghujam dadanya, berkali-kali.


Hanna menggeleng. Memegang kuat ujung sprei menahan sesak di dada. 


"Ronin…" Gadis itu berbisik. Perlahan, dipegangnya tangan pemuda itu yang tengah terkulai lemas. Sangat hati-hati. Seakan tangan itu akan retak jika salah pegang sedikit. 


"Sayang, bangun." 


Ia perlahan terisak. Lirih. 


Ronin jangan dengar. 


Jangan dengar Hanna nangis. 


Gadis itu masih merapal mantera. 


Tapi memang Ia tak sekuat itu. Meskipun sekuat tenaga ditahannya. Tapi isak tangisnya masih terdengar. Sampai Ia menggigit bibirnya sendiri. Gadis itu pun masih tak bisa menahan tangisnya. 


Apalagi jika menyangkut pemuda bermata elang ini. Hanna menjadi semakin lemah dan tak berdaya.


Perlahan tangisnya pun pecah. Gadis itu sesegukan sendiri. Terisak sendiri. 


Ia tak menyadari, dari balik pintu sana, ada seorang pemuda yang juga teriris hatinya, mendengar dia menangis. 



Ini sudah hari kelima semenjak Ronin tak sadarkan diri. Hanna sudah seperti mayat hidup. Gadis itu datang ke rumah sakit setiap hari. Terkadang Ia datang sendiri. Terkadang juga bersama teman-temannya. Terkadang juga Jun yang datang sendirian, lalu Hanna akan melipir ke tempat lain, memberi waktu kedua sahabat ini agar bisa bersama. 


Untungnya, di sekolah sudah tidak ada jam pelajaran, hanya terkadang remedial lalu mulai ada jam kosong persiapan liburan. Dan karena nilai Hanna juga rata-rata hampir sempurna, maka Ia tidak wajib datang ke sekolah. Coba kalau ke sekolah, seperti apa wujud gadis itu yang serupa zombie. 


Hanna bahkan sudah tidak bisa menangis. Gadis itu hanya sering diam, merenung. Terkadang bercerita tentang kegiatannya atau orang lain pada Ronin yang diam membisu. Terkadang juga hanya diam seraya memegangi jemari tangan pemuda itu, membawanya pada pipinya. Memandangi pemuda itu yang tak kunjung bangun dan masih betah tiduran disitu. 

__ADS_1


Gadis itu seperti tidak punya kehidupan. 


Semua sudah merayunya untuk berkegiatan. Tapi nihil. Kegiatannya paling-paling bawa buku ke ruang ICU. Tapi ujung-ujungnya, bukunya hanya ditaruh di meja, dan Ia kembali memandangi pemuda itu. 


Pernah May mengajak Hanna ke sekolah, agar gadis itu bisa menghirup udara bebas. Hanna datang, tapi gadis itu malah menangis sendirian di taman belakang sekolah. Tempat dimana Ronin mengajaknya mengobrol untuk pertama kali. Tempat dimana mereka sering bertemu. 


Mungkin terdengar berlebihan. Tapi sesak sekali bukan jika membayangkan orang yang kita sayangi kini tak berdaya. Terlebih itu karena dia menyelamatkan kita. Seperti ada rasa bersalah juga terluka menjadi satu. Membuat rasa sakit yang teramat dalam. 


"Hanna, nggak makan?" Laras datang saat gadis itu masih saja memandangi Ronin sambil memegang tangannya. 


Hanna menoleh, baru menyadari kehadiran Laras, mama Ronin, sedari tadi dia memang sibuk dengan pemikirannya sendiri. "Oh iya, Tante, belum lapar." Gadis itu mundur, mempersilakan Laras untuk duduk. 


Laras menghela napas, merasa prihatin melihat kekasih dari putra semata wayangnya ini yang terlihat serupa mayat hidup. Ia kira, Ia satu-satunya yang mencintai anaknya tanpa syarat. Tapi ketika melihat Hanna, Ia baru menyadari, ada yang mencintai anaknya, sebesar dirinya. 


"Hanna makan gih, istirahat. Kalau Ronin bangun, terus lihat Hanna yang kayak gini, Tante yang dimarahi." Laras mencoba tersenyum. 


Hanna menundukkan kepalanya, jadi merasa bersalah. "Maaf, Tante, Hanna bikin Tante khawatir ya."


"Nggak gitu, Sayang." Laras mengelus puncak rambut Hanna. "Hanna juga harus jaga kesehatan. Jangan sampai, ketika Ronin sadar, malah Hanna yang gantian sakit."


Laras menggeleng. "Nggak usah, Sayang. Hanna hati-hati ya."


Belum sampai Hanna pergi, Laras kembali menoleh. Memandang gadis itu yang masih berdiri di pintu, tengah memandangi Ronin seperti tak rela untuk pergi. 


"Hanna?" panggil Laras kembali. "Terima kasih ya sudah mencintai Ronin. Ronin anak yang penuh luka. Tante tidak bisa memberikan dia kehidupan yang layak. Tante bersyukur banget ada yang mencintai dia, apalagi itu anak yang tangki cintanya penuh seperti Hanna."


Terlihat sederhana. Tapi lagi-lagi, Hanna merasakan sesak di dadanya. 



Adra tidak mengerti, di usianya yang sudah tidak muda lagi ini, seperti banyak sekali godaan dan angin yang menerpa. Mulai dari anaknya yang jadi bolak balik terluka hanya karena satu pemuda. Lalu lebih anehnya lagi anaknya malah jatuh cinta pada pemuda itu. Lebih memusingkan nya pemuda itu malah yang sudah menyelamatkan anaknya, bahkan putri semata wayangnya ini berhutang budi pada pemuda ini. 


Itu masih belum cukup. Sekarang Adra malah mendengar kabar yang sangat tidak bisa Ia mengerti. 

__ADS_1


"Ini potret Laras dan almarhum suaminya. Mereka menikah, tapi suaminya meninggal, semenjak itu Laras merawat anaknya sendiri. Jadi mereka bisa dibilang dari keluarga baik-baik. Bukan seperti gosip yang beredar." Detektif suruhan Adra memberikan info. 


Adra memang menyerah dan mengijinkan anaknya untuk bertemu dengan Ronin. Tapi dia tetap mencari tahu info pemuda itu. 


"Siapa nama suaminya?"


"Hiro. Hiro dari keluarga Wijaya."


"Hiro?"


Jantung Adra serasa berhenti berdetak. Direbutnya foto usang yang semula tak terlalu Ia perhatikan. 


Hiro. Benar-benar Hiro yang itu. 


Adra sangat mengenal pria ini. Mereka berteman baik semasa sekolah. Bahkan saking akrabnya, mereka sudah membangun rencana akan menikahkan anak mereka nantinya, agar bisa menjadi keluarga besar. 


Sebuah rencana besar, dari sahabat karib yang teramat akrab dan saling mengenal satu sama lain. 


Namun, semasa kuliah, perlahan Hiro menghilang seperti ditelan bumi. Keluarganya pun sangat menutup diri. Kabarnya Ia hilang. Begitu saja. Benar-benar tidak ada yang tahu keberadaannya. Ia tidak menyangka bahwa sahabatnya ini memang telah tiada. 


"Kenapa bisa meninggal?"


"Kecelakaan. Semenjak itu, hidup Laras dan anaknya menjadi sangat menderita. Karena Laras dan Hiro memang tidak direstui. Lalu Hiro meninggal dunia. Itu membuat semuanya menjadi berantakan. 


Untuk kesekian kali, Adra terhenyak. 


Jadi, pemuda yang pernah Ia hujat habis-habisan itu, yang Ia larang untuk bertemu dengan anaknya, adalah anak dari sahabatnya, begitu? 


Jadi, pemuda yang sangat mencintai anaknya itu, yang katanya bukan dari keluarga baik-baik itu, justru dari keluarga yang sangat Ia hargai, begitu? 


Jadi kedua anak yang memang rencananya dijodohkan itu, benar-benar jatuh cinta, begitu? 


Adra benar-benar tidak mengerti. 

__ADS_1



__ADS_2