Musuhku Kekasihku

Musuhku Kekasihku
Chapter 33


__ADS_3

Detik demi detik berdetak. Adegan para bocil itu masih saja menghiasi televisi dan Hanna masih setia menontonnya. Padahal sepertinya, semua itu sudah dilihat berkali-kali oleh mereka. 


Hmm, sepertinya sedikit bermain, seru juga. 


Perlahan, tangan nakal pemuda ini kembali memeluk Hanna, kembali mendekatkan wajahnya pada ceruk leher Hanna yang selalu saja beraroma coklat, benar-benar menggoda. Hanna tak melawan, gadis itu mungkin juga belum sadar karena masih fokus menonton serial kartun kesayangannya. 


Tangan Ronin menelusup di balik baju seragam gadis itu, mengelus perutnya yang ramping. Hanna sedikit berjingkat karena kaget, namun gadis ini malah semakin merapatkan tubuhnya.


Tak ada yang bersuara. Hanya gerakan tangan Ronin yang terus saja bergerilya. Membuat Hanna lama-lama merasa gerah, mulai hilang fokus, kini ganti memandangi Ronin yang juga tengah memandangnya dengan tatapan sayu. 


Gawat, gadis itu sepertinya tahu bahwa ia akan segera diterkam.


Namun sentuhan-sentuhan Ronin membuatnya tak mampu menolak, malah semakin menggerakkan tubuhnya seperti cacing kepanasan.


Bermenit-menit, setelah Ronin bermain dengan perutnya dan berkali-kali menghirup aroma tubuhnya, kini pemuda itu mendekatkan wajah hingga hidung mereka bersentuhan. Saling tersenyum. Saling menginginkan. Seperti itulah sepasang muda mudi yang sepertinya sedang dimabuk cinta ini memulai ciuman mereka. 


Begitu lembut. Begitu tenang. Ronin ingin berlama-lama menciumi gadis ini. Gadis yang sangat dicintainya. Gadis yang membuat dia rela melakukan apapun, demi agar gadisnya bahagia.


Ronin ingin menciumnya dengan begitu lembut, agar Hanna bisa merasakan cintanya. Agar Hanna bisa mengerti, bahwa Ronin tidak sekedar cowok mesum yang selalu Hanna bicarakan, tapi lebih dari ini.


Tapi, pemuda yang tidak mesum pun, akan tetap menjadi sangat mesum jika menyangkut gadis yang disayanginya. Akan menjadi sangat mesum jika bersama gadisnya, apalagi jika seperti ini. 


Ronin pun menyesali apa yang dia lakukan, karena nafsu kini telah menguasainya.


Setelahnya kedua muda mudi yang tengah dimabuk cinta ini, hanya mengikuti naluri mereka.


 


Hanna terbangun saat waktu menunjukkan pukul 12 siang. Saat dimana dia seharusnya pulang. Gadis itu mendesah, menyadari bahwa untuk pertama kalinya dia membolos sekolah.


Gadis itu menoleh pada pemuda yang tertidur pulas di sampingnya. Mengelus lembut rambut pemuda ini. Begitu lembut, tapi ternyata membuat Ronin bergerak. Perlahan pemuda itu pun juga mulai membuka mata. Menoleh pada Hanna yang jadi merasa bersalah. 


“Sorry banget, aku bangunin kamu ya?”


Ronin menggeleng lemah. “Nggak, udah waktunya bangun juga. Kamu kan juga harus pulang,” katanya sembari mencium kening Hanna. “Makan dulu yuk? Go-food aja gimana, mama baru pulang besok jadi nggak ada makanan di rumah.”


Ada lampu berpendar di bayangan Hanna. Tapi lalu redup kembali menyadari sesuatu. Tasnya tertinggal di kelas. Padahal Ia sudah menyiapkan bekal makan untuknya juga Ronin. Bahkan mamanya sudah menitipkan bekal kue untuk teman-temannya. Bibirnya langsung mencebik menyadari itu.


“Kenapa?” tanya Ronin menyadari perubahan ekspresi gadisnya. Ia beranjak, memperhatikan Hanna yang sendu. 


“Tasku ketinggalan. Padahal aku udah bawa bekal buat kita berdua. Bahkan mama juga nitipin kue buat temen-temen.” Hanna memberengut. 


Ronin menarik alisnya. "Kamu masak?"


Hanna mengangguk. 


"Kamu bisa masak?" Ronin bertanya sekali lagi. Seperti tak mungkin gadis putri bangsawan serba bisa ini bahkan bisa masak. Kalau sampai begitu kenyataannya, Ronin akan percaya bahwa Ia kini sedang berpacaran dengan bidadari, bukan manusia. 

__ADS_1


"Nggak lah, ya diajarin Mama dikit-dikit, sambil lihat resep."


Oh ternyata masih manusia ya pemirsa, tapi tetap spek bidadari. 


Ronin tersenyum. Pemuda itu mengusap pipi Hanna. "Yaudah nggak papa, lain kali masakin aku lagi, ya? Hari ini mau gofood atau mau jalan-jalan aja, makan di luar gitu?"


Belum sampai Hanna menjawab, handphone Ronin berdering membuat perhatian keduanya teralihkan. 


Ronin menoleh pada handphonenya yang tergeletak di meja, menampilkan nama Jun disana. "Yaelah naga bonar ganggu aja," decaknya asal. 


"Heh lo dimana?" Suara dari seberang langsung menyapa. 


"Di rumah lah." Ronin memberi kode pada Hanna agar gadis itu duduk sembari menunggu. Hanna pun segera duduk di pinggiran ranjang, sambil ikut mendengarkan. 


"Lah lo bawa Hanna ke rumah?"


Eh? Gimana? 


"Kok lo tau gue lagi sama Hanna?" Ronin bertanya dengan polosnya. Hanna langsung meringis, jadi gemas sendiri. 


"Ya iyalah, kalian semuanya gak ada yang balik abis istirahat. Nih gue sama May jadi bawain tas kalian berempat. Malah jadi kayak pedagang tas gue. Gue jual aja kali yak?"


Terdengar suara geplakan diikuti ocehan dari seberang. Tapi sebentar. Berempat ya? 


"Lah mereka juga bolos?"


Aduh pipi Hanna memerah mendengarnya. Jangankan Hanna, Ronin pun juga salah tingkah. 


"Mesum apaan anjir."


Dan seterusnya hanyalah ejekan dan makian dari masing-masing. 



Setiba di kafe yang dimaksud Jun, tepat saat itu juga, Ken dan Felline juga baru sampai. Keduanya bolos juga ternyata. Tak sempat membawa tas juga. 


Rasanya benar kalau dibilang Jun sama May seperti pedagang tas sekarang. Keduanya tampak duduk dengan beberapa tas yang berjejer rapi. Sudah gitu hampir semuanya tas ransel. Kecuali Ronin yang hanya membawa tas selempang tipis yang entah ada isinya atau tidak. 


Kalau dipikir-pikir, baik juga mereka, setia kawan juga. Hanna juga kaget ada teman yang akan memperlakukannya begini. Kalau dulu mah boro-boro. Siapa juga yang akan peduli pada Hanna kalau bukan Ken seorang. 


Ken lagi bun. 


Sepertinya, sebentar lagi Hanna harus belajar menggantungkan dirinya pada orang lain, jangan Ken lagi. Melihat Felline yang marah besar seperti itu, membuat Hanna tersadar bahwa sudah waktunya Ia menjauh dari pemuda yang pernah setengah mati Ia harapkan ini. 


Tenang ada Ronin kok. 


"Duduk, Han." 

__ADS_1


Seseorang yang disebutkan dalam hati Hanna, menarik sebuah kursi, mempersilakan Hanna untuk duduk disitu. 


"Manis banget preman kita satu ini." May mencibir. Membuat Ronin berniat menggeplaknya namun segera ditepis oleh Jun. 


"Ringan banget tangan lo hah." Malah Jun yang menggeplak Ronin duluan. 


Manis banget preman preman ini ya. 


"Ehm." Ken berdehem. Mengembalikan suasana menjadi normal, setelah sebelumnya terasa tidak normal karena Ronin dan Jun terus saja berdebat. "Gue sama Felline langsung balik ya? Btw makasih banget udah dibawain tasnya."


"Eh eh.." May berdiri. Gadis itu menahan Ken dengan tangannya. "Makan dulu lah. Kalian mah enak seharian asik pacaran. Gue sama Jun belum makan."


"Yaudah langsung makan aja, May, kan ga harus sama kita berdua. Tuh Hanna tuh ajakin makan tuh." Ken menunjuk Hanna membuat Ronin mendelik. 


"Udah lah, May, biarin aja." 


"Felline makan dulu ya ya ya?" May setengah memohon. Gadis itu menepuk nepuk kursi, meminta Felline untuk duduk. 


Akhirnya dengan berat hati, Ken juga Felline kembali duduk dan semuanya mulai memesan makanan.


Hening sejenak. Suasana terasa sangat canggung hingga tiba-tiba Hanna mengeluarkan kotak paling besar dari tas ranselnya. 


"Tadi mama nitip ini buat kalian." Gadis itu berkata malu-malu. 


Semakin hening. 


May dan Jun yang paling pertama sadar. Mereka saling pandang. 


"Wah alhamdulillah rejeki anak sholeh sholehah." May berseru. Mengambil alih kotak kue yang dibawa Hanna, membukanya perlahan. Tampak kue brownies kukus yang sangat menggoda. "Waaah, untung ya, Jun, kita bawain tasnya tadi," katanya sambil mencomot satu. 


"Iya anjir. Kan sayang kue enak gini ditinggal di kelas." Jun juga ikut mengambil bagian. 


Ronin tidak mau kalah, pemuda itu segera ikut mengambilnya. "Makasih, Sayang."


"Sayang sayang. Udah jadian belum?"


Jun masih menanyakan hal yang sama pemirsa. 


"Udah lah." Ronin dengan bangga mengatakan ini. Yang langsung disambut dengan sorakan oleh May-Jun. Teman terkeren emang mereka. 


Hanna tidak terlalu peduli. Gadis itu menyodorkan kotaknya ke arah Felline, berharap Felline akan mengambilnya juga. Ia menanti dengan jantung yang berdebar. 


Tak lama, Felline akhirnya mengambil kue itu. Satu untuknya, satu untuk Ken. "Makasih," katanya mencoba untuk tersenyum. 


Hanna tersenyum. Semoga saja, Ia masih ada harapan berteman dengan gadis ini. 


__ADS_1


__ADS_2