
Baru saja Hanna merebahkan dirinya di kasur, handphonenya tiba-tiba berbunyi. Segera diambilnya dan Ia pun baru menyadari jika sudah ada 10 panggilan tidak terjawab disertai puluhan pesan singkat. Waduh.
Ternyata Ronin, si pria bucin no 1 pecinta Hanna.
"Halo." Hanna mengangkat panggilan telepon dengan hati-hati. Terdengar suara hembusan napas panjang dari seberang telepon. Lalu tak lama panggilan berubah mode menjadi panggilan video.
Tampak wajah tampan Ronin menghiasi layar. Pemuda itu memandang penuh kerinduan sekaligus khawatir pada Hanna. Astaga. Perasaan baru sehari, ya kan?
Hening, tanpa suara. Pemuda itu hanya memandang Hanna. Membuat Hanna jadi gemas sendiri. Niat nelepon tidak, ya?
“Kalo lo mau diem aja mending udahan deh,” cibir Hanna. Namun gadis itu justru meletakkan handphonenya di meja - dengan posisi berdiri. Untung Hanna bawa stand holder dari rumah.
Gadis itu lalu mengeluarkan cerminnya, meletakkannya di meja dengan posisi berdiri juga. Kini beralih mengeluarkan beberapa perlengkapan make-upnya. Tanpa banyak kata, mulai membersihkan wajahnya sambil sesekali melirik pada layar handphonenya.
Ronin yang awalnya mau membuka suara malah jadi menahan napas melihat aksi gadis ini. Dirinya meneguk ludah membuat Hanna tanpa sadar menahan senyumnya. Gemas sekali bapak bucin satu ini.
“Gue mau ke kamar mandi. Ini telponnya dimatiin nggak?”
Selesai membersihkan wajah, Hanna meraih handuknya. Kalau dipikir-pikir gadis ini perlengkapannya banyak juga. Bagaimana dia bawainnya tadi? Padahal hanya pakai motor.
“Eh? Bawa aja hpnya ke kamar mandi.” Ronin berkata seperti itu setelah diam lebih dari 10 detik. Lemot juga dia kena pesona Hanna. Tapi tetap mesum pemirsa.
Hanna mendecak. “Cuci muka doang,” pamitnya lalu menghilang dari tangkapan kamera.
Tak lama berselang. Gadis itu sudah muncul dengan atasan berupa tanktop hitam dipadu dengan celana pendek di atas lutut. Tidak lupa rambutnya yang dicepol acak menampilkan kesan seksi nan mempesona membuat Ronin tak mampu berkedip. Gadis itu sepertinya tahu cara memanjakan mata pemuda yang entah kekasihnya atau bukan ini.
“Kangen banget.”
Akhirnya setelah sekian lama Ronin mampu bersuara kembali. Itu pun setelah Hanna mengoleskan beberapa krim untuk wajahnya. Dan kini gadis ini tengah merebahkan tubuhnya di kasur, karena aktivitas skincare routine nya di malam hari telah selesai. Waktu yang cukup lama untuk menunggu Ronin mengucapkan hanya dua kata itu.
“Minggu sibuk nggak? Jalan yuk.” Pemuda itu akhirnya berbicara kembali. Sepertinya kesadarannya juga sudah kembali.
__ADS_1
“Kemana?” Hanna berbicara seraya memiringkan tubuhnya ke kanan. Menyandarkan handphonenya pada bantal di sebelahnya agar gadis itu tak perlu memegangnya.
“Kemana aja. Lo mau kemana?” tanya Ronin dari seberang telepon.
“Hmm, lihat dulu deh, Papa belum tentu ngijinin juga.” Hanna mengatakan ini sambil mengerutkan bibirnya. Membuat Ronin juga ikut melakukan hal yang sama.
Baru ingat kalau orang tua Hanna melarang anaknya untuk bertemu dengan dirinya. Bukan orang tuanya sih, hanya Papanya, tapi itu sudah cukup horror bagi Ronin.
“Yaudah. Eh gimana tadi? Lancar?”
Untungnya Ronin tidak mau berlama-lama bersedih. Pemuda itu segera mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan kegiatan gadis ini. Akhirnya telepon berlanjut dengan cerita panjang Hanna tentang kegiatannya, juga respon-respon receh yang Ronin lontarkan. Setidaknya itu sedikit mengobati kerinduan pemuda ini.
Oh sepertinya bukan hanya pemuda ini saja, karena gadisnya pun sepertinya tengah merindukannya.
—
Hanna mematut dirinya di depan cermin. Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Sebentar lagi teman-temannya akan datang. Hanna sudah bersiap dengan gaun berwarna gold selutut dengan potongan bahu terbuka. Sangat cantik.
"Sayang, sudah siap? Temennya sudah pada datang." Lisa, mama Hanna, memanggil dari balik pintu. Karena putrinya tak kunjung bergerak, Ia pun tetap masuk menghampiri putri semata wayangnya ini. Lalu memegang bahunya menguatkan.
"Sudah cantik anak mama. Ronin pasti terpesona nanti," komentar Lisa menguatkan.
Hanna malah jadi cemberut mendengarnya. "Ih Mama, malah bercanda."
"Ih ya memang cantik kok anak mama, apalagi yang kurang? Udah yuk."
Akhirnya dengan berat hati, Hanna keluar ruangan diikuti oleh mamanya. Mata Hanna langsung tertuju pada teman-temannya yang sudah menunggu. Mereka langsung tersenyum senang begitu melihat Hanna.
"Hanna cantik banget ih." Mayleen yang pertama kali berkomentar.
"Mamanya aja cantik. Pantes anaknya juga cantik." Jun mengatakan ini sambil tersenyum lebar. "Tante," Pemuda ini mencium tangan Lisa membuat semuanya mendelik.
__ADS_1
Waduh gimana ini konsepnya?
Ronin segera melayangkan pandangan mematikan ke arah Jun.
"Waduh calon mantunya Tante langsung cemburu nih." Mayleen kembali berkomentar sambil ikut mencium tangan Lisa.
"Hanna, selamat ulang tahun ya." Gadis itu menjabat tangan Hanna, lalu memeluknya dengan sayang.
Feline dengan Ken juga bergantian bersalaman dengan mama Hanna, dan mengucapkan selamat ulang tahun pada Hanna. Begitu juga dengan Ronin yang langsung menyapa Lisa dengan sopan. Pemuda itu lalu memeluk Hanna erat membuat Hanna terpaku. Lalu tanpa ada yang mengomando, Lisa menggiring teman-teman Hanna masuk ke dalam ruangan yang disediakan. Meninggalkan Ronin dan Hanna agar punya waktu untuk berdua.
“Cantik banget.” Ronin berbisik masih dalam pelukannya.
Hanna masih tak mampu merespon apa yang Ronin lakukan.
Jeda. Tak ada gerakan. Pemuda itu lalu melepas pelukannya. Kini beralih menatap Hanna dari atas ke bawah.
“Kenapa bajunya kebuka gini?” tanyanya. Ia pun lalu melepas jas yang Ia kenakan, menyampirkannya pada tubuh Hanna. Padahal yang terbuka hanyalah bagian bahu gadis itu.
“Eh? Nggak papa ih, masih sopan ini. Elo pake aja jasnya,” tolak Hanna.
“Dingin nanti.” Ronin tetap mengeratkan jas itu pada Hanna. “Lagian gue nggak suka nanti Ken sama Jun lihat.”
Hanna manggut-manggut. “Terus kalo lo yang lihat emang gapapa?” Gadis itu menahan senyumnya.
“Gapapa.”
Ronin ikut menahan senyumnya. Pemuda itu mengelus puncak kepala Hanna dengan sayang. Namun seketika ekspresinya berubah menyadari Lisa juga Adra menghampiri mereka berdua. Ia lalu menyalami Adra dengan sopan.
Pandangan Adra begitu menusuk. Namun lelaki itu tak mengatakan apa-apa. Demi kebahagiaan putri semata wayangnya di hari ulang tahunnya kini, lelaki ini akan menahan dirinya. Kalau tidak, jangan harap dia akan diam saja melihat putrinya dipeluk pemuda lain. Apalagi kalau orangnya pernah menyakiti Hanna. Ya meskipun lumayan terkaget juga sewaktu pemuda itu melepaskan jasnya demi Hanna.
Sementara Hanna, segera menggandeng tangan Ronin, mengajak pemuda itu masuk. Sebelum papanya nanti berubah jadi serigala. Waduh, sebaiknya diamankan dulu.
__ADS_1
—