Musuhku Kekasihku

Musuhku Kekasihku
Chapter 38


__ADS_3

Ronin menatap tak suka pada Bastian yang datang bersama Laras, mamanya. Ini untuk pertama kalinya Bastian kembali menampakkan dirinya setelah Ronin sadar. Sebelumnya, Bastian tak pernah muncul di depan pemuda itu. Takut Ronin akan syok melihat kondisinya yang lumayan mengkhawatirkan. Kalau sekarang, kata dokter sih sudah banyak perkembangan. 


Ronin sudah bisa berjalan dengan normal. Pemuda itu juga bisa mengobrol dengan lancar. Hanya dia tetap harus sering beristirahat karena jadi cepat lelah. Ini yang mendasari Bastian untuk mulai membangun kedekatan dengan Ronin lagi. 


Bastian harus mendapatkan hati Ronin. Kalau tidak, selamanya Ia tak akan bisa menikahi Laras. Padahal Ia sangat mencintai dan benar-benar serius dengan wanita itu. Jadilah Ia kini akan berjuang, meski berat karena Ronin sepertinya benar-benar tak menyukainya. 


"Pak Bastian ngapain kesini?" tanya Ronin tak suka. 


Hanna menarik lengan pemuda itu. "Jangan gitu," katanya sembari menggenggam tangan Ronin, menenangkan. 


"Kamu sekarang di kubu dia ya?" Mata Ronin memicing memandang Hanna. 


"Bukan." Hanna menghela napas sejenak. "Asal kamu tau. Om Bastian yang menemani dan menjaga Tante Laras saat kamu sakit. Beliau bahkan membiayai semuanya. Mengurus di kantor polisi juga, karena tersangkanya membela diri katanya kamu yang salah. Untung ada Om Bastian." Hanna mengatakan ini dengan sangat meyakinkan. "Udah janji kan gak langsung pake emosi? Coba kamu bicara baik-baik, aku rasa beliau emang beneran sayang sama mama kamu."


Ronin berpikir sejenak. Sebelumnya memang Ia sudah berjanji untuk tak lagi cepat emosi dan tak menggunakan kekerasan dalam segala situasi. Melihat kondisinya yang tak sekuat biasanya, kemungkinan akan buruk jika harus tetap sering tawuran dll maka Hanna benar-benar mewanti-wanti Ronin untuk mengubah sikapnya. 


"Ok." 


Mendengar jawaban Ronin, Hanna beranjak, mengajak Laras ikut serta, membiarkan dua lelaki bucin ini untuk berbicara dari hati ke hati.


Bastian deg-degan setengah mati. Ia seperti akan disidang oleh calon mertua padahal ini calon anak tirinya. Apalagi pandangan pemuda bermata elang begitu menusuk. 


"Ada apa Pak Bastian kemari?" Ronin masih bertanya dengan ketus. Pemuda itu tak melihat Bastian, malah menatap orang yang lalu lalang di lorong. 


"Saya ingin menjenguk kamu." Bastian berkata dengan tenang. 


"Untuk apa Anda menjenguk saya?" Begitu tajam. Kalau mata elangnya bisa membunuh, maka Bastian akan terbelah saat ini. 


Bastian menghela napas. "Tentu, karena saya peduli dengan kamu."


"Peduli dengan saya apa mama saya?"


Kini Bastian ikut menatap lorong. "Dua-duanya, kan kalian sepaket."


Hening sejenak. Keduanya tampak asyik sendiri. Memandangi banyak orang yang tampak sibuk dengan urusan masing-masing. 

__ADS_1


"Anda beneran mencintai mama saya?" Ronin menanyakan ini setelah diam lebih dari 5 menit. 


Bastian menatap Ronin kembali. "Kamu bisa menilainya sendiri," katanya percaya diri membuat Ronin mencibir. Ia kembali menatap lorong. 


"Yaudah lah, saya mau mengobrol dengan Hanna. Pak Bastian ke mama aja."


Bastian tersenyum tertahan. "Jadi kamu mengizinkan saya?"


"Masih saya pantau nih." Ronin memutar bola matanya. Gemas juga lama-lama. 


Bastian tertawa. "Omong-omong, kamu bisa panggil saya om, atau papa."


Dih. Ronin mencibir. Bapak satu ini semakin berani pemirsa. 


Namun Bastian sama sekali tidak tersinggung. Mungkin lebih baik dari pada Ronin melarangnya seperti kemarin-kemarin. 


Ia beranjak. Namun sebelum pergi, pria itu kembali memandang Ronin. "Kamu beruntung Ronin, kamu mendapatkan kartu As untuk langsung memiliki Hanna," katanya seraya menepuk bahu pemuda itu. Lalu setelahnya Ia benar-benar pergi. 


Ronin hanya mencibir. Tapi sebentar. 



Hanna mengajak Ronin bersantai di taman samping rumah sakit. Udara begitu menyejukkan, sangat bagus untuk perkembangan kesehatan Ronin. Gadis itu tengah mengupas mangga, memotong motongnya, hingga Ronin hanya siap menyantapnya saja. 


"Maaf ya." Ronin berkata di sela-sela makannya saat Hanna menyuapi pemuda ini. Hanna menyuapinya karena dia juga tak kunjung memakannya, malah sibuk dengan pemikirannya sendiri. 


"Maaf kenapa?" Hanna ikut menyiapkan mangga itu ke mulutnya. Lalu kini beralih mengupas apel. 


"Aku jadi ngerepotin kamu. Seharusnya aku bikin kamu senang, bukannya bikin kamu repot gini."


Hanna terhenyak. Gadis itu menghentikan aktivitasnya. Menatap Ronin dalam. "Kok gitu? Terus gimana dengan kamu yang berkorban demi aku?"


Ronin berpikir sejenak. Pemuda itu menyandarkan punggungnya. Sedikit mendongak menatap langit-langit. Menyilaukan. Pemuda itu lalu menutup matanya. 


"Anggap aja itu karma baik buat kamu." Lalu Ia kembali menatap Hanna. "Kalau dipikir-pikir, ini juga karma buat aku. Terlalu banyak emosi, main hakim sendiri, tukang pukul. Sekarang aku ngerasain akibatnya."

__ADS_1


"Ih, nggak boleh ngomong gitu."


Ronin tersenyum. Pemuda itu menatap Hanna begitu dalam. Begitu penuh kasih sayang. "Ya pokoknya begitu. Tapi aku makasih banget, kamu selalu ada buat aku. Aku nggak bakal sia-siain kamu, Hanna." Tangannya terulur mengelus pipi Hanna dengan sayang. 


Keduanya terdiam. Saling merasakan cinta yang begitu meluap. Saling melepas rindu yang teramat sangat. Suasana terasa begitu syahdu. Hening dan nyaman. Hingga akhirnya ada suara menyeletuk yang menghancurkan momen syahdu mereka. 


"Dunia serasa milik berdua ya, Bun."


Ronin menoleh jengkel mendapati Jun yang nyengir lebar. Jangan lupakan juga teman-teman Ronin yang lain. 


Astaga entah kenapa naga sialan beserta teman friendzone sejatinya ini selalu saja mengganggu Ronin. Ini lagi ditambah pasangan unyu-unyu yang menempel bak perangko tapi bikin dunia gonjang-ganjing. Ya meskipun gara-gara mereka, Ronin bisa mendapatkan Hanna sih. 


"Sorry ya, Hanna, kita ganggu dulu. Nanti bisa dilanjut lagi romantisannya." Mayleen mengatakan ini sambil duduk di sebelah Jun yang sudah terlebih dahulu duduk. Diikuti oleh Ken dan Felline yang duduk berurutan. 


"Gak pada sekolah apa ya?" Ronin bertanya dengan jengkel. Namun tetap mengarahkan sekeranjang buah yang Hanna bawa, ke tengah meja. 


Ken menerima ini dengan suka cita. Tumben banget. "Lo nggak tau ini hari minggu?" Ia mencibir, mengambil beberapa butir anggur, mencobanya satu, lalu memberikannya pada Felline. 


Felline menerima pemberian Ken, melahap nya perlahan. "Jadi gimana kondisi Ronin?" tanyanya pada Hanna yang memang berada tepat di sebelahnya. 


Hanna tersedak. Tak menyangka tiba-tiba Felline akan mengajaknya bicara. 


Jadi ini maksudnya Felline sudah tidak marah pada Hanna kan? 


"Oh, emm, sudah lumayan." Ia menatap Ronin sejenak. "Kalau nggak ada halangan, lusa sudah boleh pulang."


"Alhamdulillah." Jun berseru seraya menggeser wadah mangkok kecil berisi buah-buahan yang telah dikupas oleh Hanna mendekat ke arahnya. 


Langsung saja May memukul tangan Jun, menyadari ketidak taudirian pemuda ini. Ia beralih mengambil apel yang belum terkupas, mengupasnya sendiri lalu memberikannya pada Jun. 


Hanna tercenung menatap aksi teman-temannya. Ini mereka lagi lomba sosweet-sosweetan apa gimana? 


Tapi dirinya lalu menahan senyum. Manis memang teman-temannya ini. Semoga setelahnya, selamanya begini ya. 


---

__ADS_1


__ADS_2