Musuhku Kekasihku

Musuhku Kekasihku
Chapter 39


__ADS_3

Hari ini, Ronin pulang ke rumah. Hanna yang akan mengantarnya pulang. Sebelumnya Laras sudah berjanji mengantarnya pulang, tapi ada pekerjaan dadakan yang harus dilakukan olehnya. Meskipun dengan berat hati, Laras membatalkan janjinya. Namun Ia berjanji jika pekerjaannya telah selesai, Ia akan pulang sesegera mungkin. 


Ronin sih tidak masalah, toh dengan begitu Ia bisa berduaan dengan Hanna. 


Astaga apa yang dipikirkan pemuda ini ya? 


Setelah keluar dari mobil yang dikendarai Pak Slamet, sopir keluarga Hanna. Dibantu dengan Pak Slamet mereka mulai memindahkan barang. Lalu atas keinginan Hanna, Pak Slamet bisa kembali ke rumah karena Hanna masih ingin menemani Ronin disini. Jadilah hanya ada mereka berdua disini. 


Hanna membuka kulkas. Gadis itu mengambil susu kotak besar yang masih tersegel. Gadis itu berani mengambilnya karena Ia yang membelikannya untuk Ronin beberapa waktu lalu sebelum Ronin kecelakaan. 


"Minum susu dulu." Hanna memberikannya setelah membuka segelnya dan menuangkannya pada gelas. Ia juga menuangkan pada gelas lain untuk dirinya sendiri. 


Ronin menerima ini. Tapi tatapannya jadi berubah menggoda. "Minum susu langsung dari sumbernya gimana?" tanyanya dengan senyuman nakal. 


Satu geplakan mendarat di tangannya. "Mesum aja, orang masih sakit juga."


"Ih sayang kan kangen." Ronin merengek. Bibirnya mengerucut sembari menggoyang-goyangkan lengan Hanna, meminta perhatian. 


Hanna mendecak. Menyadari betapa mesumnya pemuda ini. "Minum dulu pokoknya." Dirinya ikut duduk. Mengabaikan Ronin yang masih saja merengek padanya, gadis itu meneguk susu di gelasnya hingga tak bersisa. 


Gadis itu tak menyadari. Ronin menatapnya tak berkedip. Ronin menatap gadis itu yang tengah meneguk habis susunya, membuat ada sesuatu yang berdesir dalam diri Ronin. Sesuatu yang memang sudah sekian lama Ia rindukan. 


Pemuda itu menatap dalam pada Hanna. Begitu dalam. Begitu menginginkan. Ia memagut bibir manis Hanna sebelum gadis itu mengizinkannya. 


Hanna tersentak. Ia ingin menuruti akal sehatnya untuk menyudahi ini. Berpikir lebih logis agar menghentikan kegilaan ini, bersikap senormal mungkin. 


Namun naluri nya berkata lain. Seperti Ia telah menemukan sesuatu yang sekian lama Ia damba, sesuatu yang Ia rindukan. Ada yang begitu membuncah dalam hatinya. Gadis itu mengabaikan akal sehatnya, mengikuti naluri nya, bergerak menerima cinta yang tak kunjung habis dari Ronin. 


Entah sampai berapa lama mereka berciuman. Seperti yang lalu-lalu, bahkan ciuman itu semakin memabukkan, semakin susah untuk dihentikan. 


Ronin sudah menuntun gadis itu untuk masuk ke dalam kamar. Menaiki ranjang, menindih gadis itu yang bajunya entah dimana. Tangan Ronin, seperti biasa bergerilya begitu menyenangkan hati Hanna. Ditambah dengan kerinduan yang begitu dalam, setiap sentuhannya begitu membuat hati keduanya berdesir. 


"I want you, Hanna." Ronin berusaha untuk menahan ini, tapi dirinya juga tak karuan. 

__ADS_1


Tangannya mulai bergerilya, berusaha menyingkap rok Hanna yang semula tak tersentuh. Namun belum sempat Ronin membukanya, pintu kamarnya terbuka membuat Hanna serta Ronin Refleks menoleh. 


"Loh?" Laras berdiri di ambang pintu. Mematung, melihat pemandangan yang tidak seharusnya. 


Seketika Hanna mendorong Ronin menjauh. Gadis itu menutupi tubuh bagian atas dirinya dengan selimut terdekat.


Tangan Laras mengepal. "Cepat pakai baju. Temui Mama di depan,"  perintahnya dingin lalu menutup pintu. 


Ronin dan Hanna saling pandang. Seketika keduanya lemas. Beranjak dengan langkah gontai. Sudah pasti sebentar lagi mereka akan disidang. 



"Kalian sadar nggak sih apa yang kalian lakukan? Terutama kamu Ronin, kamu benar-benar mengecewakan Mama."


Jujur saja, Laras kecewa. Ia tau, hasrat anak muda seperti apa. Ia pun dulu dengan Hiro juga seperti itu. Almarhum ayah Ronin pun ini dulu juga sering hampir kebablasan. Makanya Hiro ingin cepat-cepat menikah, tak peduli larangan keluarganya karena Ia tak ingin merusak Laras lebih lama lagi. 


Laras tidak pernah menyesal dengan ini. Karena dari pernikahannya ini, Ia mendapatkan Ronin, anak yang sangat dicintainya. 


Hanya saja, Laras tidak mau jika itu terjadi pada Ronin. Meskipun Ronin sepertinya mendapat lampu hijau dari orang tua Hanna. Tapi Ia juga tak bisa membiarkan anaknya merusak Hanna. Terlebih, Laras tak ingin Ronin menyesali perbuatannya nanti. 


Laras menghela napas. "Mama maafkan kalian, tapi kalian nggak bisa gini terus." Laras menatap Ronin dan Hanna bergantian. "Mama akan kasih pilihan. Kalian menjauh, berhubungan sewajarnya, Mama nggak akan bilang siapa-siapa. Tapi Hanna, nggak bisa main kesini kalau lagi nggak ada Mama. Minimal tunggu sampai lulus SMA. Atau, kalau kalian ingin terus begini, Mama akan melaporkan pada orang tua Hanna. Kemungkinan kalian akan menikah secepatnya."


Eh gimana? 


"Menikah, Tante?"


"Emang boleh, Ma?"


Hanna menoleh pada Ronin. Ronin juga, bingung sendiri dengan pertanyaannya. Maksudnya, mau banget lah pasti dia menikah dengan Hanna. Tapi kan nggak dalam waktu dekat ini. 


"Kalau boleh emangnya kamu mau?"


"Tapi kan Hanna sama Ronin masih sekolah, Tante." 

__ADS_1


Laras menerawang, mengingat pembicaraan lanjutannya dengan orang tua Hanna, Adra dan Lisa. 


"Saya rasa, kita harus menikahkan Hanna dengan Ronin secepatnya, atau paling lambat setelah mereka lulus sekolah." Adra membuka pembicaraannya. 


Terus terang, Laras kaget setengah mati mendengar ini. Hanna dengan Ronin masih sekolah. Apalagi Hanna, gadis itu gadis berprestasi, memperjuangkan masa depannya dengan baik. Kenapa harus buru-buru menikah? 


"Mereka kan masih sekolah, Pak Adra."


"Saya tau. Tapi masalahnya, hubungan keduanya sudah terlalu jauh, terlalu dekat. Saya juga pernah muda. Saya tau rasanya. Saya takut mereka melakukan kesalahan yang justru akan merusak masa depan mereka nantinya."


"Tapi dengan menikahkan mereka segera, bukannya justru akan menghambat keduanya dalam meraih cita-cita masing-masing ya? Apalagi Hanna. Saya yakin setelah SMA dia pasti sudah ada rencana kuliah bahkan bisa jadi profesor." Bastian ikut ambil suara. 


"Satu lagi, Pak. Sebagai orang tua anak laki-laki, saya tidak mau anak saya menikah kalau dia belum punya pekerjaan. Mau dikasih makan apa istrinya nanti?" Laras juga berkomentar. 


"Kalau urusan Hanna, Hanna pasti bisa melakukan tugasnya sebagai istri sambil belajar meraih cita-cita nya. Sedangkan kalau Ronin, saya percaya dia pasti bertanggungjawab, mengusahakan yang terbaik untuk menjaga Hanna." Lisa menenangkan. Dipandangnya Laras, ibu dari pemuda yang disayangi anaknya. "Atau sebaiknya mereka yang tentukan sendiri. Hanya jika ada tanda kesalahan itu terjadi, maka saya ingin pernikahan digelar secepatnya."


Laras kembali menatap Hanna dan Ronin bergantian. Tidak salah memang orang tua Hanna. Dua sejoli yang sedang dimabuk cinta ini bahkan hampir melakukan kesalahan. Laras melihat sendiri itu. 


Tapi dirinya juga tidak bisa membiarkan anaknya menikah tanpa pegangan yang jelas. Yang ada nanti Hanna juga yang sengsara. 


"Keputusan ada di tangan kalian. Dan apapun itu, sangat berpengaruh dalam masa depan kalian. Selain itu, apapun pilihannya juga mengandung resiko. Coba kalian pikirkan baik-baik."


Kedua anak itu terdiam. Ini pilihan yang sulit. Ingin bersama, tapi mampukah menghadapi kerasnya dunia? Ingin menunggu, tapi, mampukah berjauhan? 


Laras yang melihat itu mulai mendekati Hanna, menggenggam tangan gadis itu. "Hanna, mulai sekarang panggil Tante dengan sebutan Mama ya. Saya Mama kamu juga," katanya sambil tersenyum. 


Hanna jadi ikut tersenyum meskipun dia sendiri juga bingung harus bagaimana. 


"Ma, apa nggak bisa menunda pernikahan tapi tetap boleh bersama? Kan ujung-ujungnya juga bakalan nikah."


Hanna kaget juga mendengar Ronin menanyakan ini. Hanna pikir Ronin akan langsung setuju untuk mereka segera menikah. Tapi kenapa malah minta ditunda? Apa Ronin tidak ingin menikahi Hanna? 


"Terus kamu bakal tetap cumbuin Hanna sampai kayak gitu?" Seketika muka Hanna seperti kepiting rebus. "Mama nggak setuju ya. Kalau belum mau menikah, pacarannya biasa aja, gak boleh berduaan!“ Laras gemas.

__ADS_1


Ia menghela napas panjang. "Pikirkan dulu. Tapi intinya, selama belum menikah, jangan coba-coba berduaan."



__ADS_2