Musuhku Kekasihku

Musuhku Kekasihku
Chapter 35


__ADS_3

Hanna tidak tahu, dengan kekuatan apa dia menemani Ronin sampai ke rumah sakit. Yang dia ingat, gadis itu hanya mampu meraung-raung menangisi kondisi Ronin yang begitu mengenaskan. Polisi atau ambulan itu terasa lama sekali. Yang ada hanyalah kerumunan warga dan anak sekolahnya yang membicarakan hal yang aneh-aneh, tapi terasa benar di telinga Hanna. 


"Tadi kayaknya tuh mobil mau nabrak mbaknya, eh masnya malah tiba-tiba muncul jadi masnya yang ketabrak."


"Gila, Kak Ronin keren banget, dia ngalangin tuh mobil nabrak Kak Hanna loh, padahal kalau sudah begini bisa aja malah dia sendiri yang mati kan." Ini suara adik kelas Hanna. 


"Itu kayaknya sudah nggak bisa selamat itu, parah banget."


Hanna juga menyadari hal ini tapi mendengarnya sendiri membuat Hanna hancur. 


Maksudnya, bagaimana Ronin bisa begitu bodoh dengan menghalangi mobil itu dengan motornya sendiri? Kenapa bukan Hanna aja yang tertabrak kenapa harus Ronin? 


Kenapa harus Ronin? 


Kenapa bukan Hanna aja yang celaka?


"Adek, ini temannya harus segera dioperasi. Bisa tolong hubungi keluarganya?"


Hanna terhuyung. Gadis itu begitu kehilangan fokus. "Tolong selamatkan dia, Sus. Saya akan tanggung semuanya tapi tolong lakukan apapun biar dia selamat." Hanna terisak. Gadis itu benar-benar putus asa. 


"Iya, pasti kami bantu." Perawat itu mengedarkan pandangan sejenak. "Adek coba menghubungi orang tua adek juga ya, atau temannya, biar nggak sendirian." Lalu perawat itu pun kembali masuk ke ruang operasi. 


Hanya terhenyak, dirinya frustasi. Menggigit bibirnya berusaha untuk tidak menangis terus-terusan. Tangannya bergetar mengambil handphonenya, menggulirkan nama di kontaknya sebentar, ada nama Ken disana. 


Tidak, jangan Ken.


Gadis itu menggeleng, kini kembali menggulirkan nama di kontaknya. Pandangannya mengarah pada nama May. Hanna tidak bisa menelepon mamanya, Ia tidak sanggup melakukan ini. Maka May akan menjadi pilihannya kali ini. 


"Halo?"


Tapi suara May malah membuat Hanna semakin kalut. 

__ADS_1


Tidak. Jangan nangis dulu. 


Hanna menguatkan diri. Gadis itu kembali mendekatkan handphonenya di telinga. "May…"


"Hanna, ada apa?" Ada sarat kecemasan dari nada Mayleen. Bagaimana tidak, suara Hanna terdengar bergetar.


"May, Ronin, May." Hanna kalut, dia tak mampu mengatakan apapun.


"Hanna, tenang dulu. Ada apa?" May yang mendengar Hanna menangis, jadi ikutan panik.


"May, Ronin kecelakaan." Hanna menggigit bibir sesaat. "Gue takut, May."


Hancur sudah pertahanan Hanna. 



Waktu berjalan begitu lambat bagi Hanna. Setiap detik terdengar begitu menyiksa. Bolak balik, gadis itu menatap ruang operasi yang tak kunjung selesai. 


Terdengar suara langkah kaki yang tergesa. Hanna menoleh, mendapati May dan Jun yang setengah berlari ke arahnya. Oh jangan lupakan juga Ken dengan Felline yang turut hadir disini. Sepertinya May sengaja menghubungi mereka juga.


Melihat itu, Hanna semakin tak bisa menahan tangisnya. Bibirnya mencebik, menatap Ken dengan tatapan penuh luka. Tapi Ken juga tak dapat berbuat apa-apa. ingin memeluk gadis itu menenangkan, tapi Ia juga harus memikirkan perasaan Felline. Untungnya May sudah terlebih dahulu memeluk gadis malang ini. Dirinya membiarkan Hanna menangis dalam pelukannya. 


Semuanya terdiam, tak ada yang berani bertanya. Membiarkan Hanna sibuk dengan tangisnya sendiri. 


Sampai Laras dan Bastian datang dengan tergesa. Hanna berdiri. Gadis itu memandang Laras dengan muka memelas. 


"Tante.." Gadis itu memeluk Laras, kembali menangis. "Maafin Hanna, ini gara-gara Hanna." Ia mengatakan ini di sela-sela tangisnya. 


"Tenang dulu, Hanna. Coba dijelaskan dulu apa yang terjadi." Bastian membuka suara. 


"Ada mobil yang lepas kendali, mengarah ke Hanna yang emang lagi di pinggir halte. Lalu Ronin lihat, jadi dia menghalangi mobil itu biar nggak menabrak Hanna - dengan motornya sendiri." Ken bantu menjelaskan. Sebelum kesini Ia memang kembali ke sekolah, ada kabar kalau ada kecelakaan di depan sekolahnya jadi sudah dipastikan kalau itu yang Hanna maksud. Jadi Ken ingin menanyai mereka yang mungkin melihat kejadian. 

__ADS_1


Laras terhenyak. Wanita itu memeluk Hanna erat. "Ini bukan salah kamu, Nak. Lagipula, Ronin pasti akan lebih hancur kalau sampai kamu yang kenapa-kenapa." Ronin memang tidak pernah cerita tentang Hanna, karena Laras terlalu sibuk bekerja. Tapi dari satu cerita ini pun, juga dari waktu Ronin pertama kali mengajak Hanna ke rumah, Laras bisa tahu kalau Hanna segalanya bagi Ronin. 


Suara langkah kaki kembali terdengar, semuanya menoleh, mendapati Lisa bersama Adra yang baru datang. Hanna bingung setengah mati karena gadis itu memang belum mengabari orang tuanya. Ia menoleh pada Ken yang kini juga menatapnya. Sudah pasti Ken yang mengabari mereka. 


"Mama.." Gadis itu pun meringsek ke pelukan mamanya.


"Saya akan bertanggungjawab dan menanggung semua biayanya." Adra dengan suara beratnya, berbicara pada Laras. 


"Tidak perlu dipikirkan, Pak Adra. Ronin melakukan itu dengan kesadaran penuh. Lagipula, yang harus bertanggungjawab adalah sopir yang menabrak mereka." Bastian berbicara mewakili Laras. Kebetulan Adra memang salah satu rekan bisnisnya. Maklum, sesama pebisnis jadi saling mengenal. "Dimana sopirnya? Sudah di polisi?" 


Hanna menoleh pada Ken, gadis itu bahkan tidak tau apa-apa soal ini. Yang dia pikirkan tadi hanya keadaan Ronin. 


"Sudah, Om." Ken menjawab. 


Adra menghela napas. "Saya tetap harus membantu. Ronin sudah menyelamatkan anak saya. Dan… " Adra menoleh pada Hanna sejenak. Putri semata wayangnya ini benar-benar terguncang, seperti dunianya akan berakhir. "Anak saya juga akan hancur kalau Ronin sampai kenapa-kenapa."


Berat mengakui ini. Tapi Adra juga sadar, pemuda itu segalanya bagi Hanna. Sedangkan Hanna segalanya bagi Adra. Lelaki itu tidak mungkin membiarkan putri semata wayangnya terluka. 


Lama menunggu, seorang dokter akhirnya keluar dari ruang operasi dengan wajah lesu. 


"Pasien mengalami benturan yang sangat keras di bagian kepala, juga pendarahan yang cukup parah di organ dalam perutnya. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Kini kita hanya bisa menunggu."


Seperti ada tombak yang menghujam dada Hanna habis-habisan. Dirinya kesulitan bernapas. Seperti tak ada oksigen yang mampu Ia hirup. Bahkan, kakinya terasa seperti jeli. Hingga Felline yang kebetulan memperhatikan gadis itu, menggandengnya menguatkan. 


"Tolong lakukan yang terbaik untuk menolongnya, Dok. Tidak usah dipikirkan masalah biaya." Adra menanggapi. 


"Pasti kami akan melakukan yang terbaik, Pak." Dokter menghela napas sejenak. "Kami akan memindahkan pasien ke ruang ICU. Pasien boleh dijenguk, tapi mohon jangan ramai. Apalagi kondisi pasien saat ini belum sadar."


"Baik, Terima kasih, Dok." Bastian menanggapi lalu dokter itu pun pamit. Meninggalkan mereka yang kini merosot lemas. 


Tangis Laras pecah, begitu juga dengan Hanna dan teman-temannya. Kabar ini benar-benar menghancurkan mereka. 

__ADS_1



__ADS_2