
"Saya baru tau kalau Ronin adalah anak Hiro." Adra mengatakan ini saat dirinya sengaja mengunjungi Ronin, di saat Hanna ada di rumah. Kebetulan Laras yang menjaga Ronin di rumah sakit.
Laras menoleh, mendapati Adra yang baru datang. "Pak Adra? Anda tau tentang Mas Hiro?" Laras jadi teringat Hiro, suaminya yang telah meninggal bertahun-tahun yang lalu.
Adra menerawang. "Hiro adalah sahabat saya semasa sekolah. Bahkan kami sudah punya ide konyol untuk menjodohkan anak kami, saking inginnya kami menjadi keluarga." Lelaki itu duduk di bangku di sebelah Laras.
Laras jadi ikut menerawang. Ingatannya berlabuh pada seseorang yang pernah diceritakan suaminya. "Oh, saya ingat. Mas Hiro pernah cerita. Ada seseorang yang sangat dekat dengan dia. Bahkan dia bilang, jika saya kesusahan, saya bisa datang pada orang itu untuk meminta bantuan. Tapi belum sempat saya tau orangnya, Mas Hiro sudah keburu meninggal." Laras menghela napas. Ada sesak di dadanya. Mengingat betapa kerasnya hidupnya saat itu. Hiro adalah satu-satunya orang yang dia punya - sebelum ada Ronin. Hingga Hiro meninggal, dan meninggalkan Ronin yang masih di dalam perut Laras.
"Ternyata Anda orangnya, Pak Adra." Laras tersenyum. "Ayah dari perempuan yang sangat anak saya cintai."
Miris memang, seperti mereka tengah dipermainkan oleh takdir.
"Ya, lucu sekali. Bahkan tanpa dijodohkan, mereka bertemu dengan sendirinya, lalu jatuh cinta." Adra menghela napas. "Sayang sekali Hiro sudah tidak ada. Kalau ada, dia pasti heboh untuk segera menikahkan mereka."
Laras tak menjawab. Dirinya sibuk dengan masa lalu.
"Saya mohon maaf, saya pernah berpikiran yang tidak-tidak tentang Anda dan sekeluarga. Bahkan saya melarang Hanna untuk berhubungan dengan Ronin." Hening sejenak. "Bagaimana bisa saya tidak menyadari kemiripan antara Ronin dengan ayahnya? Saya terbawa perasaan seorang ayah sehingga tidak memikirkan kemungkinan yang lain."
Laras tersenyum. Wanita itu kembali menatap Adra yang tengah tertunduk.
"Tidak apa-apa, Pak Adra. Saya maklum. Setiap orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Apalagi Hanna anak satu-satunya. Sangat wajar." Wanita itu memalingkan muka, kini menoleh pada pintu ruang dimana anaknya dirawat. "Saya cuma berharap, Pak Adra memberikan kesempatan pada Hanna untuk memberikan keputusannya sendiri, terkait dengan siapa dia bersama. Kita orang tua hanya bisa support dan mengarahkan. Saya tidak ingin nasib mereka sama seperti saya dan Mas Hiro di masa lalu. Berat sekali pernikahan tanpa restu orang tua."
Tepat saat ini, Bastian muncul dari balik lorong, sepertinya baru datang. Lelaki itu menoleh bingung pada Adra, karena aneh sekali pria itu datang sendiri tidak bersama putrinya.
Adra berdiri. Pria itu menyalami Bastian. "Saya pamit dulu. Maaf tadi ada yang perlu saya bicarakan dengan Bu Laras. Mari," pamitnya pada Laras.
Laras hanya mengangguk. Wanita itu tersenyum pada Bastian, lalu menggandeng tangannya. "Ayo, Mas. Nanti aku jelaskan."
—
Tujuh hari sudah semenjak kejadian itu. Hanna masih saja menatap Ronin, berharap pemuda itu akan terbangun dan memanggil namanya.
"Kamu kapan bangun?" Hanna berbisik. Lelah sekali Hanna. Perlahan Ia menyandarkan tubuhnya pada tepian ranjang. Gadis itu memejamkan mata.
__ADS_1
Entah sudah berapa lama gadis itu tertidur. Ia baru terbangun ketika merasakan ada yang menyentuh kepalanya.
Hanna tidak mampu berkata-kata. Menatap Ronin yang kini membuka mata.
1 detik
2 detik
5 detik
Hening sejenak.
"Ronin?" Hanna menutup mulutnya. Tanpa sadar air matanya juga turun begitu saja.
"Kamu bangun, Sayang?" Hanna bertanya lagi seraya memegang jemari tangan Ronin yang perlahan bergerak. Sangat pelan. Tapi itu mampu membuat jantung Hanna berdetak teramat cepat seperti akan meledak.
"Tunggu, tunggu, tunggu dulu aku panggil dokter." Hanna tergopoh mencari tombol yang memang disediakan untuk emergency. Gadis itu memencetnya dengan tangan yang masih bergetar. Berkali-kali.
Lalu Ia kembali menatap Ronin. Menangis bahagia melihat pemuda yang sangat disayanginya kini kembali menatapnya.
Berkali-kali, gadis itu mengucap syukur dalam hati. Kekasihnya telah kembali.
—
Kabar tentang sadarnya Ronin langsung diketahui oleh sahabat-sahabat Ronin juga orang-orang yang menunggunya.
Dokter telah melakukan serangkaian tes. Untungnya, kondisi Ronin bisa dikatakan baik dan pemuda itu telah melewati masa kritis. Hanya saja, masa pemulihan yang diperkirakan agak lama dan pemuda itu juga mungkin tidak akan sekuat sebelumnya.
Tapi Hanna tidak peduli. Baginya, asal Ronin selamat itu sudah lebih dari cukup. Sisanya Ia yang akan menjaga dan merawat pemuda itu nanti, untuk selamanya.
Ronin bisa mengenali Hanna, pemuda itu juga bisa mengucapkan beberapa patah kata sederhana. Kata dokter, butuh waktu untuk penyesuaian. Hanna dengan sabar membantu dan menemani pemuda itu menjalani segala macam terapi yang dibutuhkan.
Ronin memandangi gadis itu yang kini sedang berbicara dengan dokter. Ada kerinduan yang membuncah dalam hatinya. Terlebih saat Ia belum sadarkan diri, Ia seringkali bermimpi melihat Hanna menangis. Itu membuat Ronin semakin tak kuasa dan ingin segera memeluk gadis itu. Tapi jangankan memeluk, bergerak aja sulit.
__ADS_1
Hanna tersenyum begitu menyadari Ronin memandangnya. Kebetulan Ia juga telah selesai berbicara dengan dokter. Gadis itu lalu berjalan ke arah Ronin, duduk di sebelah pemuda ini.
"Capek, ya?" tanya Ronin perlahan. Pemuda ini mengangkat tangannya, berniat menyentuh kepala gadis itu.
Hanna yang menyadarinya segera meraih tangan Ronin, menggenggamnya. "Nggak kok."
"Jangan capek capek." Ronin memandang gadis ini dengan sayang. Ingin memeluk, tapi kenapa badan masih kaku sekali?
"Iya, kamu juga jangan terlalu dipaksain. Kalau capek, bilang. Kita istirahat. Kita nggak lagi marathon." Gadis itu mengelus lalu menciumi jemari Ronin yang terpaut dengan tangannya. Menciumi nya dengan sayang.
"Pengen peluk."
Eh?
Hanna tersenyum geli. Gadis itu memandangi Ronin dengan senyum tertahan. Alisnya tertaut. "Kayak gini maksudnya?" tanyanya seraya memeluk perut Ronin, mendekatkan wajahnya sendiri pada wajah Ronin.
Gadis itu tersenyum lucu, memandangi Ronin yang kini hanya berjarak tak lebih dari 10 cm. Lalu mulai bersandar pada dada bidang pemuda itu, namun tetap menopang tubuhnya dengan kekuatannya sendiri, tidak benar-benar bersandar.
"Mau peluk tinggal bilang, aku bisa peluk kamu kapan aja," bisik Hanna menenangkan.
"Kalau cium?" Ronin menaikkan alisnya. Meski dengan susah payah, pemuda ini mengangkat tangannya demi mengelus puncak kepala Hanna. Begitu rindunya Ia pada gadis ini. Hatinya seperti akan meledak menahan rasa rindu di dada.
"Ih, sembuh dulu." Hanna tanpa sadar memukul lengan pemuda yang kelewat mesum ini.
Ronin langsung meringis. "Aduh."
Hanna yang menyadari kesalahannya, mendadak jadi panik sendiri. "Maaf, Sayang. Aduh. Sakit banget ya?"
Ronin mengangguk sambil meringis. Padahal sebenarnya tidak sesakit itu karena yang dipukul bukan bagian yang terluka. Tapi salah Hanna sendiri menggoda Ronin duluan, ya kan?
Hanna merasa bersalah. Gadis itu menoleh kanan kiri. Sepi juga. Lalu dengan secepat kilat, Ia mencium bibir Ronin yang masih pucat. Benar-benar secepat kilat.
"Biar cepat sembuh." Gadis itu tersenyum begitu manis.
__ADS_1
—