
Alaric meraba wajah Siska dan mencoba untuk membuka mulut Siska dan memasukkan pil haram itu .
"Sudah telan saja sayang ,kamu akan santai aku lukis sambil mengambilkan segelas minuman.
Siska yang terbuai dengan rayuan dan setuhan tangan Alaric yang membuat Siska ketagihan untuk merasakan lebih dan lebih lagi .
Tak terasa seluruh baju itu sudah terlepas semua dari tubuh indahnya Siska.
Alaric menarik tubuh Siska untuk duduk di sofa besar dan merebahkan tubuh Siska dan mengatur posisi tubuh itu.
Siska seperti melayang tak malu - malu lagi untuk berpose .
Alaric mengambil fotonya Siska ,semua posisinya yang membuat orang melihatnya ingin menerkamnya,Siska begitu bergairah ,merasakan kenikmatan obat haram tersebut.
Alaric mencetak foto polaroit itu dengan cepat dan siap untuk di lukis.
Alaric mulai dengan cekatan melukis wajah dan tubuh Siska.
Alaric telah menemukan ke asyikkan dalam lukisannya tanpa memperdulikan tamu undangan di rumahnya.
Melihat Siska yang meraung - raung
disofa di biarkan saja ,Alaric hanya melihat sesekali saja.
"Enak_kan obatnya,mantap jiwa ,sambil terkekeh ,menatap Siska dari ke jauhan.
Wulan kebingungan mencari Siska karena tadi dia sedang tidak bisa konsentrasi,Wulan sendiri mabuk berat karena mencoba beberapa jenis minuman yang ditawarkan teman - temannya.
Dan saat itu Wulan merasa perutnya mual dan coba menggedor kamar mandi yang masih terdapat orang di dalamnya.
Begitu masuk kamar mandi langsung semua cairan muntah keluar dari mulutnya,perasaan lega terasa dan tiba - tiba semua normal kembali ,dan baru bisa mengingat kembali tentang sahabatnya Siska.
Wulan duduk di sofa sambil berpikir dan mengingat apa yang sempat Siska katakan .
"Ampun apa yah ? ,oh ya aku ingat rumah yang ditunjuk ,Wulan coba berjalan ke teras dan melihat apa ada rumah yang di maksud Siska.
Wulan menemukannya dan pelan - pelan menuruni anak tangga menuju pintu belakang dan menyelinap masuk ke gudang itu yang mirip rumah.
Sayup - sayup terdengar alunan lagu slow dan romantis ,Wulan mengintip dari jendela kaca itu dan Wulan kaget melihat Siska sudah tak berbusana dan tergeletak di sofa.
Wulan yang melihat sahabatnya seperti itu langsung mendobrak pintu itu dengan badannya yang cukup besar ,tubuhnya Wulan yang bongsor mampu membuka pintu itu secara paksa.
Alaric kaget ,tak menyangka Wulan tahu tempat persembunyian mereka.
__ADS_1
Wulan langsung memakaikan baju Siska ,dan memapah Siska dan membawanya pulang.
"Hei bajingan kau ,kau harus bertanggung jawab ya,awas kau Alaric kalau kau kabur ,kau minta mati atau apa ?," bentak Wulan.
Wulan buru - buru memapah Siska keluar dari gudang tersebut dengan susah payah melarikan mobilnya keluar dari rumah Alaric .
Ternyata Wulan malah membawanya ke rumah sakit ,karena melihat kondisi Siska yang masih tak sadar- sadar,sehingga sebaiknya mendapatkan pertolongan dokter.
Pak Harry yang sudah tidur
dibangunkan oleh telepon yang masuk dari Wulan yang menggunakan nomer Siska.
"Siska ... mata pak Harry yang sudah rada buram dengan kondisi kamar yang gelap sedikit penerangan ,benar ini tertera nama Siska ,Pak Harry langsung mengangkat telepon tersebut dan kaget mendengar berita Siska sekarang sedang di UGD.
Pak Harry menelepon Asti kebetulan Asti belum tidur masih rebahan saja di kasurnya.
"Hah ... Siska di UGD,tanpa panjang lebar Asti ikut bersama pak Harry ke UGD dan mereka menemukan Siska tak sadarkan diri ,masih mengoceh yang tidak karuan seakan ketakutan dengan sesuatu ,seperti orang yang melihat hantu atau orang berwajah menyeramkan.
Wulan menangis sambil duduk lemas di kursinya ,melihat pak Harry Wulan merasa sangat bersalah karena Wulan yang mengajak ke acara pesta itu.
"Om saya minta maaf saya salah ,sampai Siska seperti itu.
Pak Harry kesal liat Wulan ,sehingga hanya terdiam ,hanya ingin mendengar ceritanya ada apa dengan Siska.
Pak Harry menatap dingin,entah harus berterima kasih sudah membawa Siska ke rumah sakit atau harus marah menegur Wulan.
"Siska ,Siska ... Asti coba menyadarkan Siska ayo kamu harus bisa lewati ini.," ujar Asti.
Walau Siska suka salah mengerti tentang kehadirannya di tengah keluarga ini ,tetap Asti selalu berkelakuan baik terhadap Siska.
Wulan masih terus menangis di luar ruang UGD merasa sangat bersalah atas kejadian ini.
Siska belum pernah minum obat - obat seperti itu walau dia seorang yang masa bodoh dengan sekitarnya.
Asti mendatangi Wulan yang sedang duduk dan tertunduk sedih," kamu bisa kasih alamat orang itu ,sambil menyodorkan handphonenya.
" Bisa kak ," ujar Wulan dengan gemetar mengambil handphone itu dan mengetiknya ,nama juga alamat Alaric sudah di dapatkan Asti.
"Jangan lagi kamu lakukan perbuatan bodoh itu ya,pikir dulu sebelum berangkat ke suatu tempat," ujar Asti.
"Ya kak ,"jawab Wulan dengan suara lemas.
Suara Siska yang perlahan terdengar ,Asti dan Wulan langsung berlari masuk ke ruangan Siska yang sudah mulai sadar .
__ADS_1
"Alhamdulillah Sis kamu sudah sadar, Asti memegang tangan Siska tapi,Siska malah membuang muka dan tak ingin
disentuh Asti.
Pak Harry juga langsung masuk ke ruangan dan mengelus dadanya bersyukur Siska sudah lewati masa sulitnya.
Dokter segera memeriksa Siska ,dan tersenyum ," Ya kamu sudah membaik ,Siska tidak perlu dirawat hanya istirahat yang cukup satu atau dua hari ,supaya bisa fit lagi.
Pak Harry bernapas lega mendengar Siska tak perlu dirawat boleh pulang.
Pak Harry membantu Siska bangun dan duduk di tepian tempat tidur.
"Papa urus administrasinya ya ,baru pulang," ujar Pak Harry.
Sebenarnya Asti ingin membantu Siska pasti di tolaknya ,Asti hanya memandang Siska dan membantu membawakan tasnya yang tergeletak di meja sebelah tempat tidurnya.
Wulan bertanya dan mulai penasaran ,kenapa Alaric menjadikan Siska seperti itu.
Siska menjelaskan karena tertarik
dilukis tampa busana.
"Ya ampun ,apa kamu sudah gila Sis?," tanya Wulan dengan suara berbisik.
Asti yang mendengarkan hanya bisa menahan napas ,mendengar Siska bersedia dilukis tampa busana ,"Orang itu perlu aku patahkan tangannya ,Asti merasa emosinya meledak ,napasnya tertahan.
Asti tak tahan mendengar penjelasan Siska .
Setelah sampai di rumah Wulan masih menemani Siska di kamar,sedang Asti berusaha menguping pembicaraan mereka dari luar.
"Alaric ,awas ya! ... kau harus berurusan denganku ,sudah berani mengusik keluarga ini ,sambil mengepalkan tangannya.
Rasanya geram sekali Asti mendengar Alaric berkelakuan seperti itu terhadap Siska.
Kasian pak Harry pasti kepikiran kalau mendengar cerita itu.
Asti turun ke bawah ,tapi ternyata pak Harry tahu kalau Asti sedang menguping pembicaraan antara Wulan dan Siska.
"Eh bapak ,mau naik juga pak istirahat pak ini sudah malam banget," ujar Asti.
"As ... Aku hafal apa yang ada di pikiran kamu ,tapi lebih baik kamu tidak usah ikutan ,biar polisi yang menanganinya,besok rencananya aku akan mendatangi rumah orang itu bersama polisi ,kamu bisa ikut temani saya ," ujar pak Harry.
Asti hanya mengangguk saja .
__ADS_1
\_\_\_\_\_\_\_\_-------\_\_\_\_\_\_\_\_\_
Bersambung