
Waktu seperti cepat berlalu, Lewis melihat jam yan melingkar ditangannya. Sudah pukul 3 sore dan itu artinya Caitlin sudah akan pulang dari sekolahnya. “Halo, Caitlin?” ucap Lewis dengan jemari yang diketukan pada atas meja, disaat keadaan mereka yang memburuk Lewis malah justru tak bisa menjemputnya.
“Ya, Paman? Kau sudah di gerbang? Sebentar lagi aku akan keluar.”
“Tidak, maaf aku tidak bisa menjemput mu hari ini, aku akan memesankan taxi untuk mu.”
Terjeda beberapa saat sebelum Caitlin menjawab tawaran Lewis. “Um, tidak perlu Paman, kalau begitu aku akan pulang bersama temanku, tidak apa-apa bukan?”
Lewis mengerutkan keningnya samar, dari cara bicara Caitlin yang sudah normal sepertinya gadis itu sudah tidak marah padanya. “Oh, ya sudah tidak apa-apa. Kalau begitu hati-hati dijalan, aku akan membawakan makanan kesukaanmu,” jawab Lewis dengan cepat. Jika sudah seperti ini ia akan jauh lebih tenang dalam pekerjaannya.
Setelah selesai menelfon Caitlin, Lewis kembali melanjutkan pekerjaannya mengenai proses iklan yang tak kunjung selesai, ia ingin semuanya berjalan dengan sempurna dengan waktu yang dimilikinya dari Mr. Kim. “Oke, apa semuanya sudah berkumpul kembali?”
__ADS_1
“Sudah Sir, semuanya sudah berkumpul diruangan rapat,” jawab Adele dengan sopan. Lewis menganggukkan kepalanya dan berdiri dari duduknya, bahkan saat jam istirahat pun ia memutuskan untuk menyendiri di sebuah mini café yang tersedia di Kantor iklan ini, coffee yang mereka sediakan rupanya cukup ampuh menghilangkan rasa kantuknya. Wajar saja, semalam Lewis kekurangan tidur, perayaan ulangtahun Caitlin semalam berakhir pukul 3 pagi dan ia harus bangun pukul 6 untuk bersiap mengantarkan Caitlin.
---
Selesai rapat, Lewis mengucapkan banyak terima kasih pada semua orang yang terlibat, ia keluar dari dalam ruangan dan baru saja ia akan berbelok menuju pintu keluar, terdengar suara seorang wanita memanggilnya. “Lewis!”
“Ya, sudah lama kita tak berjumpa.”
Amara berjalan mendekati Lewis, rasanya kini ada sebuah jarak yang sangat memisahkan mereka. “Bagaimana jika kita berdua berbincang sebentar?” tawar Amara.
Lewis menarik nafasnya dalam, ia menatap Amara sambil tersenyum kecil. “Maaf sekali Amara, tapi aku harus segera pulang, Caitlin pasti sedang menungguku,” jawab Lewis, ia tidak bisa membiarkan Amara mengetahui jika dirinya sangat berpengaruh dalam hidup Lewis dan membuat wanita itu kembali membodohinya.
__ADS_1
“Caitlin? Apa dia kekasihmu? Atau kau sudah menikah?” tanya Amara sedikit terkejut mendengar nama wanita lain yang keluar dari mulut Lewis. Bukankah Adele mengatakan jika Lewis tak memiliki hubungan dengan siapapun? Amara sangat yakin jika Lewis tak berani berhubungan dengan siapapun lagi setelah ia memutuskan hubungan mereka.
Lewis menggelengkan kepalanya pelan. “Bukan, Caitlin adalah adikku,” jawab Lewis.
Wajah kebingungan Amara semakin terlihat jelas, ia tahu betul jika Lewis adalah anak tunggal dari keluarga kaya raya itu, tapi mengapa sekarang ia justru memiliki adik? “Ah, rupanya ibumu baru saja melahirkan,” ucap Amara sedikit tenang dengan sesuatu yang melintas dipikirannya.
“Tidak, Caitlin sudah berusia 17 tahun, ceritanya panjang dan aku benar-benar sedang buru-buru, maaf aku harus pergi sekarang Amara,” sahut Lewis dengan cepat, ia harus segera pergi sebelum Amara mendapatkan celah untuk mengusik hidupnya kembali. Tanpa menunggu jawaban Amara, Lewis pun langsung pergi meninggalkan wanita itu begitu saja, tak ada lagi yang harus mereka perbincangkan.
Sementara Amara yang masih dilanda kebingungan hanya bisa menatap sosok Lewis yang mulai menjauh, ia berdecak pelan sambil menggelengkan kepalanya. “Aku harus mendapatkan mu kembali Lewis, aku tidak ingin hidup seperti ini selamanya,” gumam Amara, ia akan mencari tahu lebih banyak lagi mengenai Lewis selama 3 tahun ini, apa ada sesuatu yang tidak ia ketahui?
__
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen ya biar author tambah semangattt