
Amara yang mulai merasa canggung dengan keadaan di ruangan ini pun langsung keluar dari dalam ruangan Lewis, sepertinya wanita tadi adalah keponakan yang paling dekat dengan Lewis, jika Amara bisa mendekati wanita itu ia pasti akan semakin mudah untuk mendapatkan Lewis. "Sepertinya tidak akan mudah mendekatinya, tapi aku akan mencoba!" gumam Amara dengan penuh semangat, walaupun tatapan wanita tadi sangat tidak bersahabat pada Amara, namun lambat lain jika Amara terus berusaha mengambil hatinya pasti akan ada celah untuk Amara bisa diterima baik oleh semua keluarga Lewis.
"Kau sudah mendapatkan tanda tangannya?" tanya asisten Lewis yang akan resign, ia cukup baik dan sabar mengajarkan Amara, ia pun selalu memberikan kesempatan untuk Amara bisa menemui Lewis.
"Sudah, tentu saja. Oh ya, apa kau mengenal dua wanita tadi yang masuk?" tanya Amara mulai mencari tahu tentang keponakan Lewis terlebih dahulu.
"Oh, mereka adalah Caitlin dan Clara. Kau akan sering melihat Caitlin datang, dia adalah adik kesayangan boss."
__ADS_1
Kening Amara mengerut seketika, rasanya nama Caitlin tidak asing. "Adik? Tapi aku mendengarnya memanggil Lewis, paman. Bukankah itu keponakannya?" tanya Amara bingung.
"Tidak, memang panggilan yang unik, tapi mereka adalah kakak beradik." Seketika Amara mulai kembali ingat, 6 tahun yang lalu, saat Amara bertemu dengan Lewis di kantor iklannya, Lewis pernah membicarakan tentang adiknya yang sudah besar, rupanya kini Amara bisa melihat secara langsung.
**
Caitlin mulai membuka kotak makan yang ia bawa, ada berbagai menu pilihan yang pastinya membuat Lewis akan lahap makan siang kali ini. "Ayo paman, kau harus makan yang banyak," ucap Caitlin dengan semangat tinggi. Matanya menatap wajah Lewis yang tak pernah membuatnya bosan, wajah serius yang sedang memperhatikan makanan di atas meja membuat Caitlin semakin merasa ingin memiliki pria itu.
__ADS_1
"Semalam dia sangat pucat dan mengkhawatirkan, tapi karena aku sangat teliti merawatnya, lihatlah, sekarang paman terlihat sangat segar bukan?" tanya Caitlin dengan penuh kebanggaan pada dirinya sendiri. Semalaman merawat Lewis membuat Caitlin berpikir dan bertekad jika ia akan menyimpan perasaannya sendiri saja, ia akan mengagumi Lewis seorang diri agar mereka bisa tetap dekat seperti ini. Caitlin tidak siap jika nantinya semua pendekatan mereka akan hilang dan digantikan dengan kecanggungan yang tak nyaman.
Lewis menoleh, kedua alisnya berkerut samar. "Benarkah? Wajahku segar? Aku pikir pucat," jawab Lewis, yang membuatnya bingung adalah ucapan Amara yang mengatakannya pucat namun sekarang Caitlin justru mengatakan jika ia sudah terlihat segar.
"Apa kau tidak memiliki cermin paman? Kau bisa melihatnya langsung," balas Caitlin sambil berdecak pelan. "Sudahlah, ayo cepat makan paman."
Caitlin dan Clara pun mulai menyantap makan siang mereka dengan lahap, mereka lalu membuat rencana tentang kegiatan mereka sore ini. "Baiklah, itu ide bagus," gumam Clara saat mendengar usulan dari Caitlin untuk menghabiskan sore mereka di mall.
__ADS_1
Ketika keduanya sudah memutuskan untuk pergi dari kantor Lewis, Caitlin yang baru keluar dari ruangan Lewis cukup terkejut dengan hadir nya Amara yang tiba-tiba saja sudah ada di depan pintu ruangan yang baru terbuka. "Hai Caitlin, semoga hari mu menyenangkan dan hati-hati diperjalanan," ucapnya dengan senyuman menyebalkan yang membuat Caitlin dan Clara hanya menatap sinis pada Amara.
"Astaga, yang benar saja dia mengenakan pakaian yang seperti itu, aku yang melihatnya saja merasa sesak," bisik Clara yang mengomentari penampilan Amara dengan kemeja potongan rendah di bagian leher dan rok yang begitu ketat.