
Keesokan paginya Lewis membuka matanya saat mendengar sebuah tekutan dari luar pintu kamar yang begitu tak sabaran, siapa lagi jika bukan Brian. Keterkejutan Lewis tidak sampai disana, ponselnya berdering dengan nama Mommynya yang menghubunginya. Ada apa ini? Ada perasaan tak enak yang tiba-tiba saja dirasakan oleh Lewis.
“Lewis bangun! Kau harus ke rumah sakit sekarang!”
Karena tak sempat mengangkat panggilan dari Selena, Lewis pun langsung berdiri dari tidurnya, dia membuka pintu kamar dan melihat wajah Brian yang begitu panik. “Apa ada? Mommy menghubungi ku sebanyak 7 kali,” ujar Lewis yang kebingungan sambil melihat ponselnya.
“Maria dalam keadaan kristis, detak jantungnya melemah, ayo cepat kita ke sana.”
Deg! Jantung Lewis seketika merasa terhenti, tidak menyangka jika keadaan akan kembali darurat seperti kemarin. Tanpa bisa berpikir lagi Lewis pun dengan cepat bersiap-siap dan pergi bersama Brian.
Selama di perjalanan, Lewis hanya bisa mengepalkan tangannya dengan kuat, kakinya tak berhenti bergerak dengan gelisah. “Apa ini artinya aku akan di penjara? Oh astaga, aku juga sudah membunuh seseorang dan menghancurkan hati anaknya,” gumam Lewis.
__ADS_1
“Tidak, tenanglah sedikit, semoga Maria baik-baik saja. Berpikir positif!” ujar Brian yang tanpa disadari jika dirinya pun ikut panik dan tak bisa berpikir positif. Namun, sebisa mungkin Brian harus menjadi penenang Daniel, bukan membuat keadaan ini menjadi semakin runyam.
Brian menarik nafasnya dalam saat melihat rumah sakit yang mereka tuju akhirnya berada di depan mata. “Sebentar lagi kita sampai, ingat untuk tidak berpikir buruk.” Brian memperingati Lewis yang tampak semakin gelisah dengan ponsel di tangannya.
“Mom tidak membalas pesanku sama sekali, setidaknya dia memberikan kabar perkembangan tentang Maria!” desis Lewis yang gemas karena tak bisa menghentikan kegelisahan dalam dirinya.
Setibanya mereka di dalam rumah sakit, keduanya bergegas turun dan masuk ke dalam lift, Brian menekan tombol lantai dimana Maria berada. Sembari menunggu, Brian kembali menoleh kearah Lewis, dia memperhatikan kembali sahabat terbaiknya dalam keadaan tak menentu. Lewis orang yang baik, ia selalu membantu Brian sedari dulu, tak pernah mempersulit keadaan, namun mengapa kehidupan pria ini bisa menjadi sekacau ini sekarang. “Kau sudah tidak berhubungan dengan Amara bukan?” tanya Brian pelan.
“Sumpah? Apa maksudmu?” tanya Brian bingung.
__ADS_1
Terlihat jelas kepasrahan dalam raut wajah Lewis. “Aku bersumpah jika ada satu kesempatan lagi dalam hidupku, aku akan bersungguh-sunggu mengejar impianku dan tidak akan mencintai satu wanita pun sampai nanti aku berhasil mencapai impianku. Tapi, jika kali ini aku langsung berakhir di penjara, aku akan mengakhiri hi-“
“Hentikan ucapanmu itu sekarang juga! Fokus saja pada keadaan sekarang, kau tidak bisa memprediksikan dimasa depan akan seperti apa,” jawab Brian, senyum sinis yang tampak mengejek kesal pun ia tunjukkan.
“Ha? Tidak akan mencintai satu wanita pun, benar-benar konyol,” ejek Brian.
Pintu lift terbuka, Lewis terlebih dahulu keluar dari dalam lift, ia berjalan dengan tergesa namun ragu dan cemas dalam setiap langkahnya. Tubuh Lewis seketika terdiam saat melihat di dalam ruangan yang sudah tak ada Maria di atas ranjang, Caitlin yang menangis di pelukan Selena dan Tommy yang entah ada di mana. “Mom,” panggil Lewis pelan.
Selena yang tengah mengusap kepala Caitlin hanya menoleh tanpa ekspresi, ia menggelengkan kepalanya dan seketika itu juga tubuh Lewis menjadi lemas, tak ada lagi yang bisa diharapkan dari hidupnya, ia akan mendekam di dalam penjara dan akan dipenuhi oleh rasa bersalah yang selalu menghantuinya. “Malam tadi Maria sempat tersadar sebentar, dia hanya mengatakan ingin melihat putri kesayangannya dan juga menitipkan pesan untuk menjaga Caitin dengan baik,” ucap Tommy yang entah sedari kapan berada di belakang tubuh Lewis.
“Lalu di mana Maria sekarang?” tanya Lewis dengan suara yang bergetar.
__ADS_1
Tommy hanya bisa membuat nafasnya dengan perlahan, ia pun sama seperti Selena, hanya menggelengkan kepalanya pelan dengan wajah yang tanpa ada harapan bagi Lewis. “Beberapa menit yang lalu Maria menghembuskan nafas terakhirnya, aku harus mengurus pemakamannya karena tak ada satu pun keluarga Maria yang aku kenal, bahkan semua orang di Pasar tak ada yang tahu mengenai keluarga Maria selain putri satu-satunya, Caitlin, gadis yang malang.”