My Adopted Princess

My Adopted Princess
Bab 21


__ADS_3

Selena menatap semua makanan untuk sarapan yang terhidang di atas meja makan, ia lalu menolah pada Caitlin yang sedang sibuk mengetik di ponselnya. “Sayang, boleh bantu aku panggilkan Lewis di kamarnya? Hari ini dia ada rapat bukan?” tanya Selena.



Caitlin langsung menghentikan kegiatannya, ia menoleh pada Selena sambil mengangguk patuh. “Baik Mom, aku akan panggilkan Paman Lewis dulu,” jawab Caitlin yang langsung bersemangat naik ke lantai atas meninggalkan Selena yang tengah menggelengkan kepalanya.



“Sampai kapan dia akan memanggil Lewis Paman?” gumam Selena sambil tersenyum kecil, rasanya memang terlalu aneh jika Caitlin terus memanggil kakak angkatnya dengan sebutan Paman.


Sesampainya di depan pintu kamar Lewis, Caitlin langsung mengetuk pintu itu dengan cukup kencang. “Paman! Ayo turun, kita harus sarapan, pagi ini kau ada rapat bukan?” teriak Caitlin.


Menunggu hampir 3 menit tak ada juga jawaban yang diberikan Lewis, hal itu membuat Caitlin cukup kebingungan, karena tidak biasanya Lewis tidak mendengar teriakan Caitlin bahkan saat sedang berada di toilet pun Lewis selalu menjawab Caitlin dengan teriakan juga. “Paman?” teriak Caitlin sekali lagi. Karena kesabaran Caitlin pagi ini cukup tupis, ia mencoba untuk membuka pintu kamar Lewis yang rupanya tidak di kunci. “Astaga,” ucap Caitlin sambil menggelengkan kepalanya saat melihat Lewis yang masih dengan nyenyaknya tertidur di atas ranjang nya. Pria itu cukup tenang dengan nafas teratur.

__ADS_1


Caitlin berjalan menuju ranjang Lewis, ia menarik selimut Lewis dan membuat pria itu bergumam protes tak jelas. “Ayo paman, bangun!” ucap Caitlin yang kali ini dengan guncangan di bahu pria itu. “Bangun, kau terlambat!” teriak Caitlin sambil mendekatkan wajahnya pada telinga Lewis. Namun sungguh kejadian yang cepat, tangan Lewis menarik tangan Caitlin yang masih berada di bahu pria itu dan membuat Caitlin terjatuh pada bantal Lewis.


Tubuh Caitlin seakan membatu, dalam jarak yang sedekat ini Caitlin bisa melihat wajah tampan Lewis dengan seksama, tak ada celah sedikitpun pada wajah itu, sangat tampan dan membuat tangannya ingin mengusap rahang kokoh juga alis tebal milik Lewis.


Deg,, Deg,, Deg,,


Jantung Caitlin berdebar dengan sangat kencang, perasaan yang 6 tahun lalu pernah ia rasakan kini mulai terasa kembali. Wajah Caitlin mulai bersemu merah, ia tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. “Tidak, dia pamanku,” batin Caitlin mulai membantah, Caitlin pun dengan cepat menggelengkan kepalanya, ia langsung bangun menjauhi ranjang Lewis.


“Paman!” teriak Caitlin sambil melemparkan bantal dari sofa yang ada di Kamar Lewis, ia melemparkan bantal itu dengan kencang seraya menepuk jantungnya yang masih berdebar. Tidak, ini salah, sangat salah, tidak seharusnya Caitlin merasakan hal itu pada Lewis.


Caitlin terlihat menoleh lalu membuang wajahnya kearah lain, ia tampak marah sedangkan Lewis tak tahu apa salah yang sudah ia berbuat. “Cepat bangun, bukankah kau ada rapat pagi ini?”


Mendengar itu Lewis langsung melihat kearah jam yang ada di atas nakasnya, seketika itu juga Lewis langsung sadar jika ia terlambat. Baru saja Lewis akan berbicara pada Caitlin, wanita itu sudah melangkah pergi keluar kamarnya dengan langkah kaki yang tergesa. “Ada apa?” gumam Lewis bingung. Namun tak ingin memikirkan hal yang membuatnya pusing, Lewis lebih memilih untuk segera membersihkan dirinya, ia harus datang ke Kantor dengan cepat sebelum klien pentingnya yang terlebih dahulu datang.

__ADS_1


__


Seorang wanita mulai menginjakkan kakinya di Chicago, senyum puas terlihat di wajah cantiknya. Setelah sekian lama kehilangan kabar mengenai Lewis, akhirnya Amara dapat menemukan di mana Lewis berada. Sekarang Amara bukanlah seperti Amara yang dulu, hanya seorang karyawan biasa, kini Amara adalah seorang model yang berhasil lolos berkat mendekati seorang manajer di kantor iklannya dulu. Dengan koneksi yang dimiliki Amara sekarang, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan Lewis kembali, pria itu kini sudah bertumbuh dengan hebat dan cukup terkenal di kalangan pembisnis. “Kau sudah menyiapkan lamaran yang aku minta?” tanya Amara pada asisten pribadinya. Dave.



“Sudah Nona, tapi apakah ini serius? Kau melamar sebagai asisten? Lebih baik kita menandatangani kontrak yang menunggu anda Nona,” ucap Dave sedikit kebingungan.



Amara hanya menghembuskan nafasnya pelan. Senyuman dengan perlahan menghilang digantikan dengan wajah ketus. “Ikuti saja perintahku, aku tidak aku bayar untuk menentang atau memberikan masukan padaku,” desis Amara yang langsung membuat Dave bungkam dan menundukkan wajahnya tak berani lagi membuka suara.


---

__ADS_1


Guys jangan lupa like dan komen yaa


__ADS_2