
Amara masuk ke dalam ruangan Lewis, dengan mempersiapkan senyuman ramah untuk ia tunjukkan. "Selamat pagi," ujar Amara, namun, tak ada siapapun di ruangan itu, hanya ada laptop yang sudah terbuka namun Lewis yang ia cari tak ada. Benar-benar menyebalkan, mengapa semua rencana hari ini sangat terhambat?
Amara pun menyimpan kopi dengan cepat, wajahnya mendadak jadi tak bersemangat. "Sudahlah, siang nanti aku pasti akan bertemu dengannya," gerutu Amara pelan.
Terdengar suara pintu terbuka dari arah belakang, Amara pun langsung menoleh dan melihat Lewis yang baru saja keluar dari kamar mandi khusus yang ada di ruangan ini. "Amara?" tanya Lewis dengan wajah terkejut.
Seketika senyum Amara kembali mengembang, ia merapikan rambutnya ke belakang. "Oh, hai, Lewis? Kau CEO di perusahaan ini?" tanya Amara memulai acting yang sudah ia pikirkan sejak awal.
"Ya, ini perusahaan Daddy. Kau sekertaris baru itu?" tanya Lewis bingung.
__ADS_1
Amara menganggukkan kepalanya. "Aku mendapatkan iklan pekerjaan ini, dan saat melamar ternyata langsung diterima," jawab Amara dengan bersemangat. "Ah ya, aku datang untuk memberikan coffee, semangat untuk rapat pagi mu," lanjut Amara.
Lewis mengusap tekuknya pelan, rasanya cukup canggung mengingat Amara yang akan menjadi sekertaris barunya. "Ya, terima kasih Amara," jawab Lewis. Ketika Amara berlalu pergi, ada sedikit kebingungan dalam hatinya. Apakah ada kebetulan yang seperti ini?
--
Caitlin meneguk jemarinya diatas meja, malam ini ia merasa tak bersemangat karena mengurung diri sendirian setelah pulang dari Kampus. "Dia tidak mencari ku?" gumam Caitlin pelan sambil kembali melirik ponselnya. Sore tadi ia mendengar suara Lewis, namun tak ada ketukan di pintu Caitlin seperti biasanya, bahkan pesan pun tak ada yang masuk dari Lewis.
Ketukan pintu baru saja terdengar, jantung Caitlin kembali berdegup kencang dalam seketika, ia harus menahan diri untuk tidak bertemu dengan Lewis beberapa hari ini. "Sayang, kau belum tidur bukan? Ayo makan malam dulu." Suara Selena membuat Caitlin menghembuskan nafasnya dengan sedikit kecewa, tidak seperti yang ia harapkan, dengan tak bersemangat Caitlin pun berdiri dari duduknya, ia membuka pintu dengan perlahan dan melihat wajah Selena yang tampak tersenyum padanya.
__ADS_1
"Aku tidak akan makan malam Mom, sedang ada tugas yang harus aku selesaikan hari ini Mom," tolak Caitlin dengan wajah menyesal. Ia benar-benar sedang tidak ingin melihat Lewis, ia tidak ingin merasakan perasaan aneh itu lagi.
Senyum Selena pun mulai pudar, ia tampak kecewa sambil menghembuskan nafasnya pelan. "Ada apa dengan hari ini? Lewis pun tidak ingin makan malam, apa kalian sedang bertengkar?" tanya Selena.
Caitlin dengan cepat menggelengkan kepalanya, keningnya berkerut samar mendengar ucapan Selena. "Apa Paman sakit Mom?" tanya Caitlin cemas. Pantas saja tadi ia hanya mendengar suara Lewis yang singkat, langkah kakinya pun terdengar lemah.
"Entahlah, Lewis selalu tidak pernah mengeluh jika sedang sakit," jawab Selena, ia lalu menggenggam tangan Caitlin. "Coba kau bujuk Lewis, sayang. Siapa tahu jika kau yang membujuknya dia akan mau makan."
Caitlin dilanda kegalauan kali ini, haruskan ia melanjutkan rencananya untuk menghindari Lewis? Atau justru ia harus melihat kondisi Lewis yang membuatnya cemas? "Baiklah Mom, aku akan mencoba untuk membujuk Paman," jawab Caitlin pada akhirnya.
__ADS_1
Selena kembali tersenyum lega, ia mengangguk pelan. "Terima kasih sayang."