
Caitlin mengerutkan keningnya samar sama Lewis tak lagi mengucapkan apapun, namun itu jauh lebih baik dari pada harus menceritakan tentang masa lalu Lewis bersama wanita itu. "Paman," gumam Caitlin sambil menoleh pada Lewis yang rupanya sudah menutup matanya dan bernafas mulai tenang. "Tidurlah, aku memberimu waktu 3 jam sebelum makan malam," bisik Caitlin. Bagaimana pun, Lewis tidak boleh tidur dalam keadaan perut kosong, Caitlin pun sangat yakin jika Lewis melewatkan makan siangnya seperti biasa jika tidak ia ingatkan.
Mata Caitlin memandang wajah Lewis dengan leluasa, alis tebal membuat Caitlin tanpa sadar mengeluarkan tangannya dan mengusap pelan. "Apa kau tidak bisa melupakannya sampai tak pernah membuka hatimu pada siapapun?" lirih Caitlin dalam hatinya. Apakah kedatangan Amara di kantor Lewis akan membuat pria di samping Caitlin kembali mencintainya? Apa itu artinya Lewis akan semakin jauh dengannya dan tak ada kesempatan lagi untuk Caitlin bersama dengan Lewis.
Caitlin dengan cepat menggelengkan kepalanya. Memang tidak akan pernah mereka memiliki kesempatan untuk bersama dalam artian yang sebenarnya, bukan sebagai keluarga namun pasangan.
--
Keesokan harinya, Caitlin tidak terlalu sibuk di kampus, ia sudah selesai menyusun tugasnya dan hanya menunggu untuk di periksa. "Kau ada acara?" tanya Clara.
__ADS_1
Caitlin berpikir sejenak, apakah ia harus mendatangi kantor Lewis dan melihat seperti apa sosok Amara sekarang? "Um, sepertinya aku akan datang ke kantor Paman ku, aku harus membawakannya makan siang," jawab Caitlin.
Seketika, wajah Clara terlihat sangat bersemangat. "Benarkah? Apa aku boleh ikut?" tanya Clara. Caitlin yang mengetahui ketertarikan temannya itu pada Lewis hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan, ia pun menganggukkan kepalanya dan tidak ada salahnya juga Clara ikut, ia tidak perlu repot-repot memesan taxi online dan mungkin saja ia tidak akan terlalu gugup bertemu Lewis jika berdua dengan Clara yang selalu mencairkan suasana.
"Ayo kalau begitu, dia semalam demam, tapi pagi tadi sudah membaik. Menurut mu makan siang apa yang cocok?" tanya Caitlin. Dengan cepat Clara pun menyebutkan beberapa makanan yang cocok untuk Lewis, ia bahkan menanyakan juga apa benar Lewis sudah membaik dan tidak perlu di rawat oleh dokter.
"Oh ayolah Clara, dia sudah baik-baik saja, aku yang merawatnya semalaman." Mereka pun dengan segera merapikan barang-barang mereka ke dalam tas dan bangun dari duduk nya.
--
__ADS_1
Dengan langkah yang dibuat seanggun mungkin, Amara masuk dan memberikan sebuah dokumen yang harus di tandatangani Lewis. Lewis yang sudah mengerti pun langsung membacanya terlebih dahulu dan membubuhkan tanda tangannya. "Kau ingin aku pesankan makan siang?" ujar Amara.
Lewis hanya menggelengkan kepalanya. "Tidak, nanti saja, aku akan makan siang di depan," tolak Lewis.
Amara yang tak kehabisan akal, memasang jawab sedikit khawatir. "Tapi wajah mu kembali pucat Lewis," balas Amara sambil mengulurkan tangannya hendak memeriksa suhu tubuh Lewis. Namun, sebelum tangan itu sampai, sebuah teriakan dan pukulan keras pada pintu membuat Amara dengan cepat memundurkan tubuhnya.
"Paman! Aku dan Clara membawakan makan siang, kami boleh makan siang di ruangan mu bukan?" tanya Caitlin dengan nada setengah berteriak membuat Lewis pun tersentak karena Caitlin tidak pernah seperti itu sebelumnya. Namun yang terpenting sekarang adalah Lewis bisa terbebas dari Amara. Melihat tingkah laku Amara yang semakin berani membuat Lewis pun menjadi semakin yakin untuk tidak meloloskan masa percobaan Amara dan menggantikan kandidat baru selanjutnya.
"Tentu saja boleh, ayo masuk," ujar Lewis pada Caitlin dan Clara.
__ADS_1
Amara memperhatikan kedua wanita yang berjalan melewatinya, satu diantaranya menatap Amara dengan raut tak suka, beberapa pertanyaan mulai menghampiri Amara dan membuatnya yakin jika wanita itu tak suka kepadanya. Siapa dia? Apakah keponakan Lewis? Namun tatapannya seolah menunjukkan peringatan pada Amara.