My Adopted Princess

My Adopted Princess
28 B


__ADS_3

Caitlin mengetuk pintu kamar Lewis dengan perlahan, namun saat tak mendapatkan jawaban sedikitpun, Caitlin mengubah ketukannya semakin kuat. "Paman, kau baik-baik saja kan?" teriak Caitlin.


Caitlin mulai mendapatkan telinganya pada pintu kamar Lewis. Lagi-lagi ia tidak mendengar apapun dari dalam kamar tersebut. "Paman!" pekik Caitlin yang mulai merasa cemas sekaligus kesal karena perasaannya semakin tidak merasa tenang.


Sedikit terdengar suara batuk dari dalam kamar lalu jawaban yang dinanti Caitlin pun mulai terdengar. "Ya, aku baik-baik saja," jawab Lewis dengan sedikit serak lalu diakhiri dengan batuk kecil.

__ADS_1


Catlin yang merasa gemas atas jawaban Lewis hanya bisa menggelengkan kepalanya, apanya yang baik-baik saja? Terdengar jelas jika pria itu sedang sakit. Tanpa pikir panjang lagi, Caitlin membuka pintu kamar Lewis dengan perlahan, syukurnya pria itu tidak pernah mengunci pintunya karena jika itu sampai terjadi Caitlin bisa menebak jika Lewis akan mengurung dirinya di dalam kamar tanpa memanggil dokter untuk memeriksa kondisinya. "Kau sakit Paman?" tanya Caitlin yang kini merasa kesal dengan pertanyaannya sendiri, sudah jelas-jelas Lewis menggulung tubuhnya dengan selimut tebal.


Langkah Caitlin semakin mendekat ke arah ranjang di mana Lewis berbaring. "Astaga kau sangat pucat," ucap Caitlin dengan begitu khawatir. "Aku akan panggilkan dokter untukmu." Caitlin mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana dan mulai mencari kontak dokter pribadi keluarga mereka.


Namun sebelum Caitlin menemukan kontak dokter yang ia cari, tangan Lewis terulur menggapai tangan Caitlin. "Tidak perlu, aku hanya butuh istirahat saja," lirih Lewis dengan pelan.

__ADS_1


Lewis menarik nafasnya panjang, ia setengah bangkit dari tidurnya dan menatap Caitlin dengan tatapan lemah. "Temani saja aku di sini," ujar Lewis sambil menepuk bagian ranjang yang kosong disampingnya.


Dengan ragu dan tak yakin Caitlin pun duduk di samping Lewis, jantungnya mulai kembali berdebar saat Lewis menyandarkan kepalanya di bahu Caitlin. "Sebentar saja," lirih Lewis. "Dulu, saat aku berusia 18 tahun dan seorang diri di Florida, Amara datang dan aku hanya bersandar di bahunya seperti ini, besoknya aku akan sembuh dengan sendirinya," gumam Lewis pelan.


Seketika ada perasaan sakit yang Caitlin rasakan, dia selalu ingat dengan nama wanita itu. Wanita yang bertengkar dengan Lewis saat mengantarkan Caitlin dan Mommy-nya ke rumah sakit. "Lalu? Kau ingin aku mencari wanita bernama Amara yang sudah lama menghilang itu untuk bisa kau sandari bahunya?" desis Caitlin sedikit cemburu.

__ADS_1


"Amara mulai hari ini bekerja di Kantor ku, aku ingin menghindarinya, bagaimana caranya menurut mu?" tanya Lewis tiba-tiba. Awalnya Lewis berpikir akan bisa bersikap biasa saja pada mantan kekasihnya itu, namun rupanya saat sore hari tiba, kepala Lewis merasa pening dan seperti ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya. Saat itu juga, entah mengapa Amara tiba-tiba saja masuk dan menanyakan keadaan Lewis yang lemas, Amara berjalan mendekat dan hendak mengulurkan tangan untuk memeriksa kondisi Lewis. Namun, Lewis dengan cepat menepis tangan Amara, ia lebih memilih untuk menghubungi seseorang membawakan minuman yang dapat melegakan tenggorokannya. Sikap Amara tadi entah mengapa membuat Lewis teringat akan kenangan saat mereka masih berpacaran, wanita itu yang selalu mengurusnya walau dengan gerutuan kecil yang seperti tak ikhlas namun menurut Lewis yang saat itu mencintai Amara dengan sepenuh hati justru melihatnya cukup menggemaskan.


"Pecat saja," jawab Caitlin dengan ketus, menghilangkan pikiran Lewis yang sedang mengingat kembali kejadian di kantornya tadi tentang Amara.


__ADS_2