
Kini Selena sudah tiba di Florida, ia melihat seorang gadis tengah duduk disamping wanita yang terbaring lemah, Selena menoleh kearah anak tunggalnya yang tampak begitu kelelahan di temani oleh Brian. “Apa suami Maria sudah dihubungi?” tanya Selena pada Tommy. Setibanya di rumah sakit Selena memang sudah berbincang dengan Tommy mengenai kecelakaan yang dibuat Lewis, hatinya merasa ikut bersalah saat tahu Maria sedang berjalan menghampiri putrinya yang baru saja pulang dari perlombaan.
“Ah, aku lupa memberitahumu. Maria sudah tak memiliki suami, dia datang 10 tahun yang lalu hanya bersama Caitlin, suaminya meninggalkan Maria dan tidak pernah memberikan kabar sama sekali,” jelas Tommy. Selena mengangguk mengerti, ia kembali menoleh pada Caitlin yang malang, membayangkan betapa hancurnya hati gadis itu sekarang.
Saat jarum jam menunjuk kearah 9 malam, Selena beranjak pergi dan mendekati Lewis dan Brian, dia mengusap bahu keduanya dengan lembut. “Kalian pulanglah, biar Mommy yang menjaga di sini.”
“Tidak Mom, aku tidak akan kemana-mana sampai—“
Selena memberikan intruksi agar Lewis tak melanjutkan ucapannya, “lihatlah dirimu sayang, kau sangat kacau, setidaknya kau membersihkan tubuh mu dulu dan beristirahat, besok pagi kembalilah kemari.”
__ADS_1
Terjadi beberapa perdebatan antara Lewis dengan Selena, Lewis masih meresa belum tenang jika Maria belum sadarkan diri ditambah lagi Lewis pun belum siap mengendarai mobil. Kejadian tadi sore masih terekam jelas dan membuatnya sedikit trauma. Akhirnya, Brian lah yang akan mengantarkan Lewis menuju Apartemen, ia juga akan menginap disana karena masih mengkhawatirkan Lewis yang pastinya tidak bisa tenang jika hanya seorang diri.
__
Sesampainya di Apartemen, Lewis langsung masuk ke dalam kamarnya sedangkan Brian duduk di ruang tengah, ia sudah biasa tidur di Apartemen Lewis sebenarnya, karena di Apartemen ini memiliki dua kamar. Brian mengeluarkan ponselnya sambil bersandar di samping jendela yang menampilkan keindahan kota Florida di dalam hari. “Sayang, maaf aku tidak memberi kabar,” ucap Brian sambil mengusap dahinya dengan perlahan. “Lewis masih terlihat sangat syok.”
“Pria lain?”
__ADS_1
“Ya, pria seperti paman ku, gila bukan?”
Brian yang mendengar itu sampai membuka mulutnya tanpa sadar, pagi tadi ia melihat sebuah foto dan surat tentang Amara dengan seorang pria dewasa, apa pria yang dimaksud Gabby adalah pria di foto itu? Alih-laih menenangkan Lewis, wanita licik itu malah kembali pada pria yang sudah memberikan ancaman padanya? “Astaga, Lewis kau benar-benar buta bisa mencintai Amara,” gumam Brian kesal. Lewis mengabaikan kuliahnya hari ini hanya untuk menyelesaikan permasalahan hubungannya besama Amara, lalu mendapatkan kejadian buruk dan Amara malah meninggalkannya.
“Sudahlah sayang, kita sudah memperingati Lewis tentang Amara beberapa kali, tapi dia tetap menginginkan wanita itu, anggap saja ini hasil dari kekeras kepalaannya,” jawab Gebby yang tampak muak dengan semua ini. “Aku tutup dulu panggilan ini, aku sudah bosan dan ingin pulang.”
Brian menghembuskan nafasnya pelan, ia menganggukkan kepalanya padahal tahu jika Gebby tidak akan melihatnya. “Ya, hati-hati di jalan, jangan terlalu mengebut.”
... ✨✨✨...
__ADS_1
Lewis sudah mulai sedikit tenang, ia membaringkan tubuhnya dengan perlahan sambil menarik nafasnya panjang lalu menghembuskannya kembali. Tubuhnya sudah jauh lebih segar sekarang, ia berharap besok ada kabar baik yang ia dengar, sebuah kabar di mana Maria mulai sadar dan perlahan mulai pulih sehingga Caitlin bisa tersenyum dan memaafkan Lewis.