
Di pagi hari yang cerah ini, entah mendapat mimpi apa semalam. Shanum memutuskan untuk mengunjungi pasar minggu di Stadion kota sekaligus olahraga.
Shanum memakai kaos lengan pendek adidas serta celana training dan sepatu adidas putih. Tak ketinggalan juga memakai topi.
Dengan mengendarai sepeda ofo berwarna kuningnya, Shanum dengan semangat keluar gerbang kos nya di jam setengah enam pagi. Dia mengayuh sambil mendengarkan musik favoritnya dijalan.
Setelah mengayuh selama kurang lebih tiga puluh lima menit, akhirnya sampai juga di tempat tujuan. Shanum memarkirkan sepedanya dan mulai berkeliling santai.
Banyak sekali orang berjualan masakan, jajanan atau minuman disana. Shanum tidak akan melintasi area itu sekarang. Nanti dia bisa-bisa malah jajan bukannya olahraga.
Shanum melihat banyak sekali orang melakukan senam di dalam stadion. Dengan cepat dan tanpa pikir panjang Shanum pun mengikuti senam tersebut.
Setelah dirasa keringatnya mulai keluar, Shanum menghentikan senamnya dan berencana membeli minum.
Kali ini Shanum akan membeli air putih terlebih dahulu.
Setelah puas minum dan beristirahat sebentar, sekarang tenaganya sudah kembali terisi penuh untuk hunting jajanan disana.
Shanum berencana membeli banyak jajanan dan akan dia makan di kos nanti setelah pulang.
Telur gulung, burger ala kaki lima, kebab, crepe mille, sosis bakar, dan siomay. Shanum juga membeli tiga macam minuman.
Sekarang di tangan kirinya membawa kantong plastik berisi jajanannya sementara tangan kirinya membawa kantong minumannya.
Saat menuju arah parkiran dimana sepedanya berada, Shanum tak sengaja melihat Ardha yang sedang duduk santai. Rupanya lelaki itu juga sedang berolahraga disana.
Shanum mendekatinya, "Mas Ardha."
Hari ini Ardha tampak sangat tampan memakai topi hitam yang dipadukan dengan kaos putih dan celana pendek nya.
Ardha menoleh, "Faresa, ngapain kamu?"
Shanum mengangkat kedua tangannya yang penuh belanjaannya. "Habis borong jajan mas.hehehe."
"Boleh duduk ga mas?" kata Shanum meminta ijin.
Dia duduk disebelah Ardha setelah melihat Ardha mengangguk mengiyakan.
"Mas habis olahraga juga?" shanum berbasa-basi.
Ardha hanya berdehem menjawab pertanyaan Shanum.
"Mas, mas udah tau yang berita kemaren ngga?yang bilang kita punya hubungan itu loh mas."
Ardha menoleh kearah Shanum. Dia penasaran apa yang akan dibicarakan oleh gadis itu tentang berita yang lalu.
"Aku minta maaf yah mas, aku gaada maksud mau jelekin nama kamu."
"Aku juga ga nyuruh Dena buat up video begitu, itu dia sendiri yang upload. Beneran deh mas." Shanum mengangkat tangan kanannya menunjukkan pose V.
__ADS_1
Melihat Ardha yang tetap diam menatap kearahnya, Shanum semakin ketakutan. Dia merasa Ardha marah saat ini.
"Aku gaada niatan buat pansos kok mas, ga kepikiran dan gaada niat punya hubungan yang begitu sama mas Ardha kok. Aku juga makasih banyak udah dibayarin liburan kemaren." Shanum menundukkan kepalanya.
Tak berani menatap Ardha yang sepertinya marah padanya. Tapi dia merasa ada yang mengusap kepalanya.
Shanum mendongak. "Gapapa, mas tau kok. Mas ga marah." ucap Ardha.
"Beneran mas?" Ardha mengangguk.
Shanum tersenyum, "Aku gaenak banget loh mas."
Ardha mengerutkan dahi, " Kenapa?"
"Yah masa abis dibayarin liburan, trus mas kena skandal sama aku. apa lagi itu videonya dari youtube aku sama dena. Kan kesannya aku yang buat berita itu ada. Aku jadi gaenak banget." jelas shanum.
Ardha mengangguk paham.
"Gimana kalo sekarang aku traktir mas, buat yang waktu itu udah nganter aku ke kantor juga. Jadi traktirannya double dehh. Buat permintaan maaf aku juga." ucap Shanum.
Ardha tampak berpikir, "Sekarang gabisa. Mas ada rapat." Shanum yang mendengar itu langsung menurunkan senyumannya.
"Nanti malem." ucap Ardha.
Shanum mengerutkan dahi tak mengerti. "Traktir nanti malem." Ardha yang melihatnya bingung memberi penjelasan.
"Yaudah kalo gitu aku pulang dulu yah mas."
"Mau mas anter?"
"Gausah , aku bawa sepeda." ucap Shanum.
Ardha lagi-lagi mengangguk.
Shanum pun melangkah pergi. Tapi tak lama kemudian, saat Ardha akan beranjak dari duduknya Shanum tampak berlari kembali ketempat Ardha.
"Ada apa Faresa! Ngagetin aja kamu."
Shanum tertawa melihat ekspresi kaget Ardha.
"Lucu banget sih mas kalo kaget. Itu tadi aku lupa, nih simpen nomer ku. Ntar kalo mau jalan chat aku, biar aku siap-siap." Shanum menyodorkan handphonenya.
Dengan ekspresi kesal, Ardha mengambil handphone disakunya dan mulai mengetik nomor shanum.
🕊🕊🕊
Setelah tadi mereka bertukar pesan, sekarang Shanum sudah berada di mobil dengan Ardha.
Mereka duduk di belakang sementara didepan ada asisten Ardha yang menyetir. Suasana dalam mobil sunyi, tak ada yang memulai pembicaraan.
__ADS_1
Melihat Ardha sibuk dengan ipad nya, Shanum tak berani mengganggunya. Sedangkan sekarang dia bosan. Dia tak bisa berada dalam keadaan sunyi begini. Biasanya kan dia dan Dena selalu meramaikan suasana.
"Mas Dimas, mas udah punya pacar belom?" shanum mencoba mengajak ngobrol asisten Ardha.
"Belum. Kenapa?"
"Yahh siapa tau lagi nyari gandengan, aku yang cantik dan imut ini bisa dong mendaftarkan diri."
Mendengar hal itu, Dimas sebenarnya ingin tertawa dan membalas Shanum. Tapi Ardha mendahuluinya dan Dimas tak berani bersuara lagi.
"Gausah genit!" ucap Ardha.
"Ga genit mas, siapa tau dia emang jodohku. Bisa aja kita memang ditakdirkan bertemu lewat mas Ardha." jawab Shanum.
Hati Ardha langsung dongkol. Ingin sekali dia memecat asisten sok tampan didepannya itu. Berani sekali dia mencoba menyaingi dirinya. Ardha yakin dia lebih tampan dari pada Dimas, apa Shanum tak bisa melihatnya?.
Setelah itu, mobil berhenti di depan sebuah restoran bintang empat.
"Loh mas kok ke sini sih. Bisa-bisa dompetku nangis mas kalo kamu minta traktir disini. Yang lain ajalah yaa...aku jamin rasanya juga enak kok." Shanum memegang lengan Ardha membujuknya.
"Saya udah reservasi." ucap Ardha.
Shanum melotot, lalu memelaskan wajahnya. "Mas, kamu tega banget sih. Kalo makan disini sekarang. Besok aku gabakal makan selama sebulan mas."
Ardha menarik tangan Shanum memasuki restoran.
Shanum memberontak, "Mas buruan pindah aja, jangan disini."
Shanum hampir menangis disana. "Atas nama Ardha Dewangga." ucap Ardha pada pelayan yang menghampiri mereka.
Mereka diantar ketempat yang sudah dipesan. Shanum lemas dan pasrah. Setelah ini sudah dipastikan dia akan makan mie instan selama sebulan penuh.
Setelah duduk, Shanum melihat sekeliling. Pemandangannya sangat bagus dan memanjakan matanya.
Banyak spot foto yang cantik tapi sekarang Shanum tak memiliki minat berfoto mengingat nasib dompetnya sebentar lagi akan diraup habis oleh tempat ini.
"Pesan apa Faresa?" tanya Ardha.
Shanum menatap tak bersemangat buku menu ditangannya.
Matanya membola kaget melihat harga yang tertulis disana. "Gila mas, kamu mau bunuh aku?es teh doang harganya 93 ribu. Mending beli diwarung aja mas." bisik Shanum pada Ardha.
"Mas aku ga makan deh. Ntar dikos aku makan mie instan aja." ucap Shanum.
Ardha geleng-geleng kepala melihat tingkah Shanum. "Mas yang bayar."
Shanum menatap Ardha semangat, "Beneran mas?"
Ardha mengangguk. Yess! Uangnya tak akan habis malam ini. Dan dia tidak akan makan mie instan selama sebulan kedepan.
__ADS_1