
Dua minggu telah berlalu.
Kali ini Shanum sedang duduk di balkon apartment nya. Termenung. Shanum masih terus memikirkan ucapan Ardha waktu itu.
Ardha bilang akan mengejar dan berusaha mendapatkan hatinya. Tapi sekarang malah lelaki itu yang menghilang.
Tak ada kabar apapun yang Shanum terima.
Ingin bertanya pada Dena, tapi Shanum tak enak hati.
Untuk apa dia berucap hal seperti itu kalau akhirnya begini. Apa dia hanya ingin Shanum memikirkannya terus. Kalau memang seperti itu, maka Shanum harus memberinya selamat. Karena sudah berhasil membuatnya tak bisa tidur tenang selama dua minggu terakhir.
"Bisa aja dia sibuk kan."
"Tapi masa iyaa sih ga pegang handphone sama sekali."
"Apa dia punya cewe lain yang disuka juga."
"Jangan-jangan dia php in gue."
"Bego banget gue kalo sampe bener di php in dia doang."
"Tapi waktu ngomong kek serius banget dia."
"Masa iya boongan."
"Haishh!Udahlah, gue mandiri gaperlu cowo juga bisa seneng hidup gue."
"Kalo dia serius, gue mesti bales dia karena bikin gue kepikiran. Kalo engga...yaudah gapapa. Cowo bukan dia doang di dunia."
Shanum ingin tak peduli, tapi hatinya terus saja tak tenang. Pikirannya terus saja tertuju pada lelaki itu.
Shanum melihat jam, sudah pukul lima sore.
Sebentar lagi, matahari akan tenggelam. Shanum berharap, matahari membawa segala keresahannya menghilang.
Shanum berjalan masuk menutup pintu balkon saat matahari sudah sepenuhnya menghilang.
Setelah beribadah, Shanum keluar dengan pakaian rapi dan mengetuk unit Velia. Hari ini mereka bertiga ada temu janji di cafe.
Dena memang sudah membeli unit di sebelah Shanum. Tapi Dena tak pernah menempati unit itu untuk waktu yang lama. Hanya saat mereka bertemu dan pulang terlalu malam, Dena akan menempati unitnya. Selebihnya dia tetap kembali ke rumah.
Kalau begitu untuk apa membeli, Dena bisa menginap saja di unit Shanum atau Velia. Pikir Shanum.
Tapi Dena tak pernah mendengarnya. Dena bilang, dia kan kelebihan uang, Jadi beli satu unit apartment tidak akan membuatnya jadi miskin.
Shanum dan Velia sampai di cafe lebih dulu.
"Ehh Num, katanya waktu itu lo mau ke bogor sama temen kantor. Kok lo gaada buat story sama temen lo sih. Cuma story jajanan doang."
"Ehmm...sebenernya gue ga pergi sama temen gue."
"Lah trus?"
"Sebenernya pergi beneran sama temen gue...cuma di tengah jalan gue di culik."
"Hah! Yang bener aja lo. Masa di culik dibeliin jajan."
"Iyaa diculik mas Ardha." Shanum mengucap nama Ardha dengan malas.
"Kok bisa?"
Mengalirlah cerita Shanum di hari itu dengan Ardha. Shanum juga menceritakan apa yang Ardha katakan padanya.
"Trus...dia udah lakuin apa aja?"
"Boro-boro lakuin apa aja. Dia ngilang dari hari itu."
"Hah?"
"Gue gatau, gamau tau juga."
Velia tersenyum jahil, "Jadi ceritanya lo kecewa nih, dia ngilang?"
__ADS_1
"Ngga, cuma gue ngerasa di php aja."
"Siapa tau emang dia lagi sibuk aja tsay, ntar kalo udah beres pasti nemuin lo."
"Dia kan bukan pengangguran besti kuhhh, dia itu menteri. Menteri. Lo kira jadi menteri ga sibuk apa."
"Yaudah sih. Ngapa lo belain dia. Sahabat lo kan gue." Shanum melengos.
"Iyaa...iyaa...gitu aja ngambek."
"Mana sih Dena. Lama amat itu anak." alih Shanum.
"Katanya udah otw kok, tunggu bentar lagi."
Sekitar lima belas menit mereka menunggu kedatangan Dena.
"Nah tuh anaknya." tunjuk Velia yang memang duduk menghadap pintu.
Shanum juga menoleh ke arah Dena.
"Nih." Dena mengeluarkan dua kertas persegi panjang dari tas nya.
"Yaelah belum juga duduk. Apaan sih ini."
"Thailand?"
"Lo mau pergi ke thailand? Kok tiketnya ada dua?"
Dena menunjukkan dua tiket pesawat tujuan Thailand pada mereka berdua.
"Ngga, itu buat kalian. Temenin gue ke Thailand." ucap Dena.
Shanum dan Velia langsung melotot ke arah Dena.
"Penerbangan malam ini? Gila lo Denaa."
"Ini tinggal beberapa jam, lo baru ngasih tau?"
"Apaan sih, ga bisa besok gue kerja." kata Velia.
"Iyaa lo apaan sih Den. Mendadak banget, gue hampir gagal jantung nyet."
"Pokoknya gue gamau tau, lo berdua mesti ikut gue ke Thailand."
"Gabisaa, gue gabisa ijin."
"Bolos aja udah gausah ribet deh Num, bolos sekali gaakan dipecat. Lo kan usaha sendiri Vel, gausah ijin juga gapapa."
"Enak aja lo ngomong."
"Gue udah beliin itu tiket buat kalian ya, hotel juga udah gue booking. Jadi gaada alesan buat batal. Titik."
Itulah sifat Dena. Shanum memang harus bersyukur memiliki teman seperti Dena yang asik dan royal. Tapi yaa nggak gini jugaa dong.
Shanum melirik jam tangan yang melingkar di tangan kanannya. Sudah jam tujuh malam.
"Sekarang udah jam setengah tujuh Denadaa, mana sempet." ucap Shanum.
"Pesawatnya jam dua Nyet, ga sempet gimana?"
"Udahlahh gue nyerah, ngelawan dia gaakan menang."Pasrah Velia.
"Nih yaa, sekarang kita gausah nongkrong. Lo berdua balik apart langsung siapin koper. Gausah bawa banyak baju. Beli aja disana. Trus ntar ke rumah gue."
Jelas Dena.
"Enak banget lo ngomong."
"Tau."
Shanum dan Velia pasrah saja lah. Kasian juga Dena kalau sampai batal, apalagi sudah ada tiket dan hotel yang dia siapkan.
"Gue gatau mesti bersyukur atau ngamuk-ngamuk sekarang." kata Shanum.
__ADS_1
"Gue mau nangis aja lahh." saut Velia.
"Bersyukur mesti nya lo berdua. Punya temen baik, cantik dan pastinya kaya. Kek gue."
"Sombong amat lo."
Dena tertawa mendengar jawaban itu.
Akhirnya mereka tak jadi nongkrong cantik untuk menghabiskan malam itu.
Shanum dan Velia langsung pulang ke unit masing-masing dan menyiapkan koper mereka.
Setelah itu menaiki taksi untuk pergi ke rumah Dena.
Setelah sampai, Velia langsung masuk ke dalam. Sementara Shanum memilih duduk di ayunan taman dan menelfon Nadia untuk ijin besok.
"Halo."
"Ada apa Hanummm." balas Nadia.
"Gapapa Onad. Gue cuma minta tolong ijinin gue yaa besok."
"Lohh kenapa?"
"Ituu...ehmmm.." Shanum lupa belum memikirkan alasan.
"Kenapa?"
"Gue ga enak badan."
"Lo sakit?yaudah deh lo istirahat aja. Besok gue ajak yang lain jenguk lo."
"Ehhh jangann..."
"Guee...gue belom beresin apart. Berantakan banget, gue malu." kilah Shanum.
"Yaudah dehh, cepet sembuh yaaa."
"Hemm...makasihhh." Shanum memutus sambungan telfon mereka.
Saat akan beranjak masuk, Shanum melihat ada mobil yang masuk. Shanum kenal mobil itu, itu adalah mobil Ardha.
Shanum kembali duduk, dia mau lihat apakah Ardha akan menjelaskan sesuatu saat melihatnya.
Shanum membuka handphonenya. Dia tak mau terlihat seperti menunggu Ardha. Shanum hanya melirik dengan ekor matanya.
Ardha turun diikuti seseorang. Saat Ardha berjalan mendekat, "Faresa." sapa Ardha.
Shanum mendongak, dilihatnya Ardha bersama seorang wanita. Shanum tak mengenal wanita itu.
"Maybe dia salah satu pilihan tante Diana yang mau dijodohin sama mas Ardha."pikir Shanum.
Tersenyum kaku, "Iyaa mas."
"Kamu ngapain duduk disini, bawa koper juga?"
"Iyaa ada penerbangan pagi, jadi nginep."
"Ohh, mau pergi sama Dena?"
"Ngapain nanya segala, urusin aja tuh cewe lo." gerutu Shanum dalam hati.
"Ngga, mau pulang kampung." jawab Shanum asal.
"Kenapa tiba-tiba."
"Di jodoh-in sama juragan tanah sama mama saya."
Shanum melenggang masuk dengan menyeret kopernya.
Sementara, Ardha melotot terkejut.
"Di jodoh-in?"
__ADS_1