
Pagi hari yang cerah sudah datang. Mau tak mau, para kaum rebahan harus menyiapkan diri pergi mencari uang.
Begitu juga dengan Shanum. Dengan semangat melangkah memasuki kantor. Mengingat ini hari kerja terakhir di minggu ini, semakin menambah rasa semangatnya.
"Hanuummm..." Seseorang teriak memanggilnya.
Shanum menoleh ke belakang. Terlihat rekan nya berlari menyusulnya.
"Kenapa sih Onad?" tanya Shanum setelah mereka berjalan bersebelahan.
"Lo udah baca grup kita blom?" tanya Nadia. Nadia ini teman satu tim nya. Mereka cukup dekat dan akrab. Tapi jarang menghabiskan waktu di luar kantor bersama. Tapi bukan berarti tidak pernah, pernah, hanya saja jarang dilakukan mereka.
Mereka punya kesibukan masing-masing di luar kantor. Shanum dengan Dena dan Velia. Sementara Nadia ini dengan kekasihnya.
"Blom tuh, emang kenapa?" geleng Shanum.
"Kebiasaan deh lo, rencananya kita mau pergi ke bogor besok. Liburan singkat gituu." ucap Nadia.
"Rencananya mau ke Taman Safari Bogor, trus lanjut kulineran sampe malem." lanjutnya.
"Wihh seruu tuh."
"Trus rencananya nginep di villa keluarganya Bia. Lumayan...gratis. Besok paginya balik sekalian istirahat dehh." Ucap Nadia.
"Gue diajakin ga?" tanya Shanum.
"Lah babi! Ngapain gue jelasin ke lo, kalo lo gak diajak."
"Yaaa siapa tau lo cuma pamer doang."
"Pamer mata lo tuhh. Kesel gue lama-lama."
Shanum menyengir seakan tak berdosa.
"Peace."
🕊🕊🕊
Shanum sudah siap dengan kaos putih dilapisi outer cardigan rajut putihnya. Memakai slingbag kecil berbentuk keju berwarna kuning ke orange-an dan ditambah bando berwarna senada dengan tas nya. Membuat penampilannya kali ini bak anak remaja.
Tak perlu repot membawa banyak barang. Shanum hanya membawa paperbag berukuran sedang. Untuk menampung baju ganti serta pouch make up nya.
Sekarang Shanum hanya duduk manis menunggu rombongan teman-teman timnya untuk datang menjemput.
Terdengar handphone Shanum berbunyi.
"Halo, lo udah sampe?" tanya Shanum pada Nadia yang menelfon nya.
"Iyaa udah nih, didepan lo cepetan keluar!." balas Nadia di seberang sana.
Shanum bergegas turun, "Lo pake mobil apa Nyet!"
Shanum menelfon Nadia lagi, sambil celingukan mencari mobil.
"Disini gaada mobil lain yahh Num, mata lo buta?pake nanya mobil yang mana. Makanya lo tuh keluar dulu kek, diliat."
Shanum bingung, lah memang disini banyak mobil kok.
"Banyak mobil yah disini, lo pikir mobil cuma itu doang."
"Lahh si babi, ngeyel. Ini di depan, di belakang, kiri, kanan. Gaada tuh gue liat ada mobil."
__ADS_1
Shanum menepuk dahinya. Dia lupa kalau sudah pindah ke Apartment.
Shanum langsung memutuskan sambungan telfonnya dan segera mengirim lokasinya pada Nadia. Menambahkan pesan bertuliskan 'Sorry hehehe' pada Nadia.
Tak beberapa lama kemudian, terlihat sebuah mobil berhenti di depan Shanum. Jendela belakang mobil turun, "Babi lo, pindah ga bilang-bilang!" Serang nadia.
"Hehehe lagian lo-lo pada ga nanya."
Shanum pun duduk di bagian penumpang tengah dengan Nadia dan Feny.
"Gaya lo sekarang tinggal di apart."
"Iyaaa dong."
"Maap yaa teman-teman sekalian, adek yang manis dan imut ini lupa kalau sudah pindah rumah." ucap Shanum.
"Serahh lo dah num." Di dalam tim nya, memang Shanum lah yang berusia paling muda.
Di dalam mobil ada delapan orang. Rendi yang mengemudi dan Pandu duduk disebelahnya.
Lalu ada Shanum, Nadia, dan Feny di bagian tengah.
Ada Salsa, Bia, dan Faruk dibelakang.
Mereka menempuh perjalanan sekitar kurang lebih dua jam untuk sampai di gerbang Taman Safari Indonesia itu.
"Ren..berhenti di depan dulu bentar." kata Feny.
"Kenapa? Lo mabuk?" tanya Pandu menoleh ke belakang.
Feny menjawab dengan anggukan.
"Lahh si Feny mabukan yaa?" kata Shanum.
Mobil pun berhenti beberapa meter dari tempat petugas tiket.
"Istirahat bentar dulu disini, mumpung belum masuk." ucap Rendi.
Salsa dan Bia memilih tetap di dalam mobil, Rendi dan Faruk memilih merokok di belakang mobil. Feny yang di bantu Nadia memijat tengkuknya, berjongkok di sebelah mobil.
Shanum merogoh tas nya, "Nih gue bawa freshcare, lo olesin dah." kata nya pada Nadia.
Shanum lalu berjalan ke arah belakang mobil, "Lo sih Ren, bawa mobil ugal-ugalan. Noh si Feny jadi mabuk kan."
"Enak aja lo, dia nya aja yang mabukan. Orang gue nyetir nya alus parah kok." bela Rendi.
"Ndu, lo ga ngerokok kayak mereka?" tanya Shanum pada Pandu yang terlihat fokus dengan Handphonenya.
Pandu mengangkat kepala dan menggeleng ke arah Shanum. "Nggak boleh sama nyokap gue dulu, trus keterusan deh sampe sekarang."
"Alahh emang dasarnya dia anak mama aja." kata Faruk menimpali.
"Lahh kalo bukan anak mama masa anak gerandong. Lo yang bener aja dong."
"Yee lahh serah lo."
Setelah itu, Shanum dikagetkan dengan seorang laki-laki yang menghampirinya.
"Mbak Shanum."
"Hah? Iyaa?" kagetnya.
__ADS_1
Shanum mengenali nya, lelaki ini adalah salah satu ajudan Ardha yang pernah dia lihat sebelumnya.
"Mbak Shanum, dipanggil bapak sebentar." ucapnya.
Shanum menoleh ke arah belakang yang ditunjuk oleh si lelaki itu. Terdapat satu mobil semacam mini bus mewah disana.
Mau tak mau, Shanum berjalan mendekat. Pintu penumpang terbuka. Terlihatlah sosok Ardha yang duduk disana.
Semakin mendekat, semakin terlihat pula isi mobil itu. Ternyata bukan hanya Ardha disana, tapi juga si selebgram itu. Juga ada beberapa orang yang tak dikenal Shanum.
Shanum berdiri tepat disamping mobil, enggan untuk masuk. Toh buat apa juga dia masuk ke mobil itu.
"Faresa." panggil Ardha.
"Ada apa mas?" tanya Shanum. Shanum melirik ke arah belakang Ardha. Bertemu tatap dengan wanita bernama Gianida itu. Shanum tersenyum singkat padanya juga dibalas hal yang sama.
"Kenapa kamu disana?"
"Ohh itu temenku ada yang mabuk, jadi berhenti sebentar." jelas Shanum.
"Mereka, siapa?"
"Mereka itu temen satu tim aku di kantor. Emang kenapa sih mas?" tanya Shanum.
"Gapapa, kamu ikut saya aja."
"Hah?"
"Kamu sama saya aja, sama saya lebih seru." ucap Ardha.
Bukannya seru, yang ada Shanum bakalan kaku berada satu mobil dengan Ardha dan Gia.
"Ehmm, gaenak dong mas. Masa aku ninggalin temen-temenku. Lagian juga masa aku gangguin rencana kencan kalian."
Ardha mengerutkan dahi, "Siapa yang kencan? Saya ada acara dengan anak panti di sini. Jangan berpikir aneh-aneh Faresa." jelasnya.
"Oohh, ya tapikan tetep gaenak sama temen ku."
Shanum masih terus mencari alasan.
"Biar saya yang bicara." Ardha bergegas turun dari mobil dan menghampiri teman-teman Shanum.
Shanum yang melihat hal itu, langsung mengikuti Ardha.
Pandu, Rendi, dan Faruk yang sedari tadi memperhatikan Shanum dan Ardha, langsung menyapa dan berjabat tangan begitu melihat Ardha mendekat.
"Selamat pagi pak." sapa Faruk yang pertama kali menyalami Ardha.
"Yaa selamat pagi, kalian temannya Faresa?"
"Iyaa pak betul."
"Boleh kalau Faresa bersama saya?" tanya Ardha yang membuat ketiga temannya menoleh kearah Shanum. Shanum menggeleng di belakang Ardha. Mencoba memberi tanda pada temannya.
Shanum hanya diam, "Kalian keberatan?" ucap Ardha lagi.
"Ohh engga kok pak, sama sekali tidak keberatan." "Bawa aja gapapa pak, saya ikhlas."
Shanum menghela nafas mendengar jawaban mereka. Dasar tak setia kawan mereka ini.
"Faresa, sudah dengar?" kata Ardha beralih menatap Shanum. Shanum mengangguk pelan.
__ADS_1
"Yaudah dehh." Mau bagaimana lagi. Kalau sudah begini, Shanum tak bisa berkilah lagi.
Temannya tak mau menolong, Shanum harus rela di culik Ardha.