
Rencana Shanum untuk bergabung semula dengan teman-temannya, tak di setujui oleh Ardha. Lelaki itu menolak keras usulan Shanum tanpa mengulas alasannya.
Maka berakhirlah mereka di satu jalanan yang terlihat ramai orang berjualan. Semacam streetfood nya bogor.
Setelah membeli banyak macam jajanan, mereka beralih mencari tempat duduk.
Dengan semangat empat lima, Shanum menata jajanannya diatas meja. "Selamat makan." ucap Shanum bersiap menyantap jajanannya.
"Mas, gamau nyobain?" tanya Shanum saat dilihatnya Ardha diam saja.
"Apakah enak?" bukannya menjawab malah balik tanya.
"Heemm enak." Mulut Shanum terisi penuh.
Ardha terkekeh lucu, saat ini di matanya Shanum seperti Ikan Buntal. Lucu sekali.
"Nih cobain, enak lohh." Shanum menyodorkan mika plastik berisi seafood bakar. Jajanan bogor ala korea.
Ardha mengambil garpu plastik yang tersedia, dan mencobanya.
"Gimana?" Shanum menatap Ardha dengan rasa penasaran yang tinggi.
"Lumayan." Shanum yang sudah bersemangat, cemberut mendengar jawaban itu.
Ardha ini tidak ada semangat-semangatnya.
"Mas ga ikhlas yaa nganterin aku jajan?"
"Nggak kok."
"Jadi gak ikhlas beneran?" Shanum melotot.
"Tau gitu aku sama temen-temenku aja tadi."
"Maksud saya bukan begitu. Saya ikhlas."
Shanum diam.
"Faresa. Saya ikhlas."
"Kamu marah??"
"Faresa, saya minta maaf."
"Jangan marah begitu, saya benar-benar ikhlas menemani kamu."
"Faresa, bicara sesuatu. Jangan diam saja."
Shanum tetap diam memakan jajanannya tanpa menjawab Ardha.
Ardha pun memilih untuk diam beberapa saat. Dia merasa Shanum tak akan membuka suara.
"Faresa."
"Saya minta maaf." Tak peduli apa dan siapa yang salah. Pokoknya minta maaf saja dulu, pikir Ardha.
"Hemmm, dimaafin." Shanum merasa kasian pada lelaki itu.
Ardha tersenyum mendengar itu.
"Seberapa suka kamu dengan jajanan ini?"
Ardha mencoba membuka topik baru.
"Ini, nilainya tujuh. Ini enak. Tapi aku pernah nyoba yang lebih enak rasanya dari pada ini." Tunjuk Shanum pada satu jajanan yang dia beli.
"Kalo ini 9, walaupun banyak coklatnya tapi ga buat enek." tunjuknya pada jajan yang lain lagi.
"Kalo menurut mas, gimana?" tanya Shanum.
Ardha tampak berpikir, "Sebelumnya saya ga pernah coba jajanan seperti ini. Jadi ini pertama kali."
Shanum membulatkan bibirnya. "Ooh jadi otomatis ini masih yang terenak yaa. Ntar aku ajakin hunting streetfood lagi ya mas. Biar ada perbandingan rasa."
Ardha tersenyum kecil, bukankah itu tandanya Shanum mengajaknya untuk bertemu lagi ke depannya.
__ADS_1
Ardha mengangguk menjawab Shanum.
Tiba-tiba handphone Ardha berdenting. Sepertinya ada yang mengirimkan pesan.
Shanum tak sengaja melirik, itu pesan dari ibunya. Alias tante Diana.
Rupanya tante Diana berniat mengenalkan Ardha pada beberapa gadis. Terbukti dari tante Diana yang mengirimkan sebuah file pdf berisi foto-foto dan identitas gadis tersebut.
Tak lama kemudian, Ardha menerima panggilan telfon dari Ibunya. Ardha beranjak menjauh dari tempat duduk Shanum saat menerima telfon.
Saat kembali, Shanum pura-pura tak tau dan bertanya. "Siapa mas?apa urusan pekerjaan?"
"Bukan, dari mami." Ardha menggeleng.
"Ooh."
"Faresa, boleh saya bertanya?"
Kenapa tiba-tiba minta ijin begitu, bukankah dari tadi dia udah banyak nanya. Pikir Shanum.
"Haa, iyaa boleh-boleh aja."
"Kamu pernah bilang, mau menikah di usia 23."
"Iyaa, itu kan dreams concept aja mas. Kalau tuhan ngasih yahh alhamdulillah. Kalau ngga yah gapapa."
Ardha tampak mengangguk, "Lalu, laki-laki seperti apa yang kamu suka?"
Shanum mendadak jadi kaku, kenapa tiba-tiba pembicaraannya kearah situ?.
"Aku ga terlalu mematok tipe. Kalo dia bisa buat aku klik, cocok sama dia. Yah oke oke aja aku mah."
"Apa ada spesifikasi khusus lainnya?"
Sebenernya dia nih mau ngapain sih nanya tipe segala, masa iya mau nyariin gue cowo. gerutu Shanum.
"Ehmm tampan, mapan, kaya. Maybe." jawab Shanum asal.
Shanum sudah tak bisa berpikir jernih saat tiba-tiba ditodong pertanyaan seperti itu.
"Kenapa sih mas? Kamu mau nyariin aku cowo?"
Ardha menggeleng, "Bukan. Dari tipe yang kamu sebutkan tadi, saya rasa saya bisa memenuhi semua."
Shanum terkejut, "Hah?"
"Saya tampan, mapan, juga kaya."
Shanum tak bisa bicara. Suaranya hilang begitu saja. Mulutnya terbuka seakan mau membalas, tapi tak ada suara yang keluar.
"Hanya tinggal membuat hatimu cocok pada saya. Benar kan Faresa?"
"Haa??"
Ga lucu banget kalo dia mau ngelawak sekarang.
Di pikiran Shanum sekarang sudah banyak kalimat yang mau dia ucapkan. Tapi yang keluar dari mulutnya hanya sekedar kata 'haa'.
Ardha menatap Shanum intens.
"Bolehkan saya berusaha mengejarmu, Faresa?"
"Haa?"
Ardha tertawa, sekian banyak kata yang dia ucapkan. Shanum hanya menhawab dengan kata 'Hah?'. Padahal dia sangat gugup dan rasanya tangan nya berkeringat sekarang. Tapi melihat ekspresi gadis di depannya, Ardha tak bisa menahan tawanya.
"Kamu pasti terkejut kan?"
Yaiyalah bambang, gue udah otw gagal jantung ini. Teriak Shanum dalam hati.
Shanum hanya mengangguk, tak bisa menyuarakan isi hati dan pikirannya. Ini terlalu mendadak.
Ardha menarik jemari Shanum untuk di genggamnya.
Shanum menatap genggaman tangan mereka.
__ADS_1
"Saya tau ini mendadak, tapi saya sudah memikirkan semuanya. Kamu ingin menikah di usiamu yang 23 ini, saya juga sudah dikejar perintah mami untuk menikah."
Cuma karna itu?bukan karna dia suka gue?. Pikir shanum.
"Saya sudah lama menunggu kamu siap. Saya senang kebetulan kamu juga punya keinginan menikah sekarang."
Hah?gimana-gimana?.
"Bolehkan saya berusaha mendapatkan hati kamu?"
"Ehmm, ini...aku...aku rasa ini terlalu mendadak. Aku ga bisa mikir."
Ardha mengusap perlahan punggung tangan Shanum yang ia gengam.
"Gapapa, kamu hanya perlu diam melihat usaha saya mendapatkan kamu."
"Saya akan berusaha mewujudkan keinginan kamu, untuk menikah tahun ini."
🕊🕊🕊
Saat di mobil, mereka berdua sama-sama terdiam.
Shanum masih bergelut dengan pikirannya. Sementara Ardha memberikan waktu untuk Shanum menenangkan diri.
Shanum melihat, mobil sudah memasuki wilayah jakarta.
"Apa alesanmu mas?" Shanum memberanikan diri bertanya setelah pertimbangan seribu kali.
"Apa Faresa?"
"Apa alasanmu berkata begitu?"
Rupanya Shanum tak percaya Ardha melakukan itu karena perasaan suka. Dia melihat file berisi foto yang dikirim Diana tadi. Berpikir bahwa Ardha sudah kesal pada ibunya dikenalkan pada gadis-gadis itu dan disuruh menikah terus. Berakhirlah dia mengajak Shanum menikah. Tanpa rasa suka sedikitpun.
Memang perasaan dan pikiran wanita yang menyusahkan.
"Karena saya suka kamu."
"Saya menyukaimu dan menunggumu siap untuk menikah. Mendengar rencana menikahmu, saya senang kamu sudah siap sekarang."
"Jangan berpikir saya melakukan ini karna menghindari perjodohan mami. Yang perlu kamu ketahui, saya menunggu dan menyukaimu dari jauh-jauh hari sebelum ini."
"Kamu mengerti, Faresa?"
Shanum mengangguk, "Kalau begitu, akan aku pikirkan."
Ardha tersenyum dan mengangguk.
"Tak perlu buru-buru."
Setelah itu, keadaan kembali hening.
"Terimakasih, hati-hati di jalan. Bye byee." pamit Shanum saat keluar dari mobil.
Menunggu mobil Ardha meninggalkan area apartmentnya, barulah Shanum berjalan masuk.
Begitu masuk ke dalam lift,
"Gilaaa! abis mimpi apa gue semalemm..." Shanum menghentakkan kakinya di dalam lift.
"Bisa-bisanya dia nyatain perasaan sama gue."
"Mendadak banget anjirr."
"Berarti yang dibilang Velia sama Dena selama ini bener?"
"Aaaaa oh my god, gue ga percaya ini."
"Trus gue mesti ngapain?"
"Dia kan ga nembak gue. Dia cuma bilang mau usaha buat ngambil hati gue."
"Kalo gue langsung iya in, kayaknya terlalu gampang."
"Pokoknya gue jual mahal aja dulu, ntar dia kira gue juga naksir dia."
__ADS_1
"Gue ga boleh keliatan cepet luluh dan gampangan."