My Dreamless Wedding

My Dreamless Wedding
Kamu Pacar Saya


__ADS_3

"Lama banget lo, ngapain aja diluar?" todong Dena saat melihat Shanum masuk.


"Nyapu halaman, puas lo." Shanum yang memang sedang kesal bertambah semakin kesal karena Dena.


Dena dan Velia duduk berdampingan di sofa ruang tamu. Shanum pun ikut mendudukan diri di single sofa.


"Kenapa sih lo cemberut aja. Kayaknya tadi gapapa deh." ucap Velia.


"Ketemu setan di depan." Shanum asal menjawab.


Velia dan Dena menatap Shanum aneh.


"Masa sih ada setan di rumah ini." pikir Dena.


Tak lama kemudian datang lah Ardha, diikuti wanita yang dilihat Shanum di depan sebelumnya.


Velia menatap Shanum paham, rupanya temannya ini tak senang saat melihat ada wanita yang bersama Ardha.


"Jadi dia setannya?" bisik Velia.


Dena melotot, "Maksud lo?"


Velia hanya menggerakkan alisnya jahil dan tersenyum ke arah Shanum.


Dena beralih menatap Shanum juga.


"Apa lo liat-liat." sentak Shanum pada teman-temannya.


Mereka bertiga menatap Ardha dan wanita itu yang semakin mendekat, dan akhirnya bergabung dengan mereka di ruang tamu.


"Tumben pulang." ucap Dena.


Ardha tak mengacuhkan pertanyaan adiknya. Dia terus menatap Shanum.


Sementara Shanum mengalihkan padangannya, tak mau melihat Ardha.


"Papi mami, kemana?" Ardha bertanya tanpa mengalihkan tatapannya.


Dena mengernyitkan dahi bingung, kakaknya ini bertanya pada siapa sebenarnya.


"Ada."


Ardha memerintahkan Dena untuk memanggil orangtuanya.


Dena lantas menelfon Diana. Mana mau Dena berjalan menghampiri mereka. Dena saja tak tau orangtuanya berada di ruangan mana sekarang.


Beberapa menit kemudian, Diana dan Fero tampak keluar dari lift. Setelah mereka duduk, barulah obrolan dimulai.


"Ada apa?" tanya Fero.


"Tau tuh." tunjuk Dena pada Ardha.


"Ada apa Dewa?" tanya Diana.


"Mami selama ini menyuruh aku menikah kan?" Diana mengangguk menanggapi.


"Sekarang, aku mau menikah." Semua orang nampak kaget. Dena bahkan menyemburkan sirup yang dia minum.


Uhukk!


Uhukk!


"Apa?" kaget Dena.


Ardha yang melihat reaksi mereka semua, hanya diam tenang.


"Diaa..." tunjuk Diana pada wanita disebelah Ardha.


Masih dengan ekspresi kagetnya.


"Bukan."


"Aa...ooh...saya..."Kikuk wanita itu. Dia langsung berdiri, "Saya Risa, sekretaris asisten pak Dewa."


"Trus...kamu mau menikah dengan siapa? Kenapa mendadak sekali." ucap Fero.


"Gak kakak ga adek sama aja, suka nya dadakan bikin orang jantungan." pikir Velia dan Shanum.


Shanum sudah memperkirakan bahwa orang yang mau di nikahi Ardha adalah si sekretaris itu. Tapi Ardha bilang bukan, lalu siapa?.


"Faresa. Saya mau menikah dengan Faresa."


"Hah?" Diana sangat terkejut.


"What??" Dena pun tak kalah terkejut.


Sementara Velia sudah bisa memperkirakan hal ini, mendengar cerita Shanum di cafe tadi.

__ADS_1


Sekarang, semua orang beralih menatap Shanum.


"Apa? Aku gatau apa-apa. Sumpahh." Shanum menunjukkan dua jarinya.


"Faresa siapa?dia? Faresa Shanum, sahabat gue?"


"Saya yang memutuskan ini tiba-tiba tanpa pemberitahuan. Bukan salah Faresa." bela Ardha.


"Trus alasannya kenapa?" tanya Diana.


"Saya dengar, Faresa dijodohkan."


"Hah?" lagi-lagi Dena terkejut. Velia juga sama.


Sejak kapan temannya ini dijodohkan?.


Melihat tatapan tanda tanya temannya, badannya kaku tiba-tiba.


"Gue...gue cuma becanda aja, Hahaha. Becanda doang kok mas." Shanum tertawa canggung.


Ardha menghela nafas lega saat mengetahui, itu hanya candaan saja.


"Ngapain lo bilang dijodohin segala?" tanya Dena.


"Ehmm...gue kepikirannya itu. Gimana dong?" jawab Shanum.


"Jadi?"


"Jadi saya akan tetap menikahi Faresa."


"Kamu yakin?" tanya Fero.


Ardha mengangguk yakin, "Sangat yakin. Lagi pula saya sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi."


🕊🕊🕊


"Cerita ga lo!"


Dena langsung menyeret Shanum duduk dan menginterogasinya. Dena rasa ada sesuatu yang tidak diaketahui telah terjadi.


"Apa?" Shanum menunjukkan wajah polos.


"Gausah sok gatau, gausah sok polos. Apa yang lo tutupin dari kita." lanjut Dena.


"Ehmm gue...gue udah cerita ke Velia. Lo tanya aja sama dia. Gue capek, ngantuk banget gue..." kilah Shanum. Shanum langsung menarik selimut sampai menutupi kepalanya.


Tak mendapat jawaban dari Shanum, Dena langsung menyerang Velia.


"Apaan."


"Berdosa banget lo berdua, gue ga dikasih tau apa-apa."


"Gue aja baru tau tadi di cafe."


"Apaan, cepet ceritain."


"Jadi kata Shanum tuh...."


Mengalirlah cerita itu untuk kedua kalinya. Dena tak bisa menutupi keterkejutannya.


"Dia beneran abang gue?"


Velia mengendikkan bahunya.


"Ngelamar anak orang pake gayanya yang kaku begitu, gue yakin bukannya bikin suasana seneng sweet romantis, malah bikin suasana tegang."


"Emang udah sifatnya begitu, mana bisa diubah."


Dena mengangguk membenarkan.


🕊🕊🕊


Ketiga gadis itu sudah bangun dari tidurnya dan bersiap pergi ke bandara.


"Udah belom, gue keluar duluan dehh. Gue tunggu di bawah." ucap Shanum.


Saat membuka pintu kamar Dena, Shanum terkejut karna Ardha berdiri di depannya.


Ardha langsung mengambil alih koper Shanum dan menggenggam tangan Shanum. Mereka berjalan bersisian.


Sampai mereka berhenti di teras.


"Faresa. Apa kamu sangat terkejut?"


Shanum mengangguk, "Aku cuma becanda aja tadi, ga kepikiran kalau mas Ardha sampe kayak tadi."


"Tidak apa-apa." Ardha mengusap kepala Shanum.

__ADS_1


"Saya minta maaf." Shanum mendongak menatap Ardha, saat mendengar permintaan maaf lelaki itu.


"Saya merasa bersalah karena sangat sibuk belakangan ini, padahal saya sudah berjanji akan mengusahakan hati kamu."


Shanum diam.


"Iyalah, gue sampe ga bisa tidur tenang." ucap Shanum dalam hati.


"Saya benar-benar serius, tapi saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan saya begitu saja."


"Saya minta maaf kalau perbuatan saya membuat kamu berpikiran bahwa saya tidak benar-benar serius menyukaimu."


"Saya benar-benar sangat menyukaimu Faresa."


Shanum mendengar semua penjelasan Ardha dengan tenang.


Shanum mengangguk, "Hemm iya, aku ngerti kok."


Apanya yang mengerti. Nyatanya Shanum selalu menggerutu di dalam hatinya.


"Saya akan menemui orang tuamu, bisakah kamu memberikan alamatmu?"


"Hah?"


"Saya berencana menikahimu, bukankah harus menemui orangtuamu lebih dulu?"


"Ahhh Ohh iyaa." Shanum tergugu.


"Tapi...ini...bukankah terlalu cepat."


Ardha tersenyum kecil, "Saya sudah menunggu hari ini sangat lama, tolong sedikit pengertianmu."


Shanum lagi-lagi mengangguk.


Dena dan Velia datang dengan menyeret koper masing-masing.


"Hadehh pagi-pagi buta udah bucin aja." sindir Dena.


"Biarin aja lah, lagi kasmaran mereka." jawab Velia.


"Apasih lo berdua."


"Saya antar kalian ke bandara." ucap Ardha.


Jadilah mereka diantar oleh Ardha. Ardha menyetir dan ditemani Shanum di sampingnya. Lalu Dena dan Velia di belakang.


"Kapan rencana nikahnya?" tanya Dena.


"Apaan sih Den." jawab Shanum.


"Secepatnya." jawab Ardha.


Dena dan Velia tersenyum.


"Ciee, bentar lagi udah jadi istri." jahil Velia pada Shanum.


"Haishh mimpi apa gue punya ipar kayak Shanum." goda Dena.


Shanum menoleh ke belakang, "Awas lo berdua yaa."


Ardha mendorong dagu Shanum untuk kembali melihat kedepan, lalu mengelus tangan Shanum menenangkan, "Sudahh jangan bertengkar."


Dena dan Velia terus berdehem untuk menggoda.


Sampai di bandara, Velia dan Dena masuk lebih dulu memberikan waktu kepada Shanum dan Ardha.


Ardha menarik tangan kanan Shanum, "Tolong trus hubungi saya."


"Kenapa?kemarin-kemarin kita ga pernah berhubungan."


"Itu kan kemarin, saya mau mulai sekarang kita bisa lebih dekat. Bisa kan Faresa?"


Shanum mengangguk, "Iyaa, kalau ingat."


Ardha mengerutkan dahi tak senang mendengar jawaban Shanum.


"Kenapa begitu?"


"Kamu ga bisa ngatur-ngatur aku mas."


"Kenapa? Sekarang kamu pacar saya. Wajar kalau saya minta kamu menghubungi saya."


"Pacar?"


"Iyaa, kita akan segera menikah, jadi mulai saat ini kamu pacar saya."


Hah??memangnya kapan Shanum setuju untuk menikah dengan Ardha?kenapa tiba-tiba dia menganggap Shanum sebagai pacarnya?.

__ADS_1


Ini semua terlalu mendadak. Setelah dua minggu menghilang tak ada kabar, lalu saat bertemu kembali bukannya mengejarnya. Ardha malah langsung melamarnya.


__ADS_2