My Dreamless Wedding

My Dreamless Wedding
Apartment


__ADS_3

Shanum sekarang sudah baik-baik saja. Pikiran dan perasaan pada Ardha sudah dia tutup rapat-rapat. Menganggap kemarin dia hanya cinta monyet sekejap saja.


Belakangan ini, berita tentang Ardha dan si cewe selebgram yang dia lihat di resto tempo lalu semakin panas.


Mereka kerap kali terfoto bersama sedang bertemu. Entah itu hanya berdua maupun dengan adanya asisten dan ajudan Ardha.


Rupanya mereka sedang menjalankan kerja sama. Selebgram yang Shanum tau bernama Gianida itu, menjadi semacam BA untuk proyek sosial panti Ardha.


Gia kerap kali terlihat mempromosikan kegiatan tersebut di akun media sosialnya. Untuk menarik para penggemarnya berdonasi di kegiatan itu.


Tapi dari sana lah, banyak warganet percaya mereka terlibat cinta lokasi. Mereka juga terlihat nyaman satu sama lain. Padahal mereka hanya lihat foto atau cuplikan video di internet.


Untuk sekarang, Shanum sudah tak mau tau dan tak mau memikirkan Ardha. Saat ini ia akan fokus pada rencana hidup nya sendiri.


Shanum tak menyalahkan Ardha, tentu saja dia sadar kalau dia juga terlalu melibatkan perasaan pada lelaki itu.


Jadi, kalau seandainya bertemu nanti. Shanum akan bersikap biasa saja padanya. Dia tidak akan mau menunjukkan kalau dia pernah menyukai lelaki itu walau hanya sebentar.


🕊🕊🕊


Setelah satu bulan berlalu, Shanum sudah memikirkan untuk keputusan pindah apartment. Sepertinya itu bukan hal buruk. Toh Shanum memiliki cukup uang sekarang. Juga siapa tau dengan pindah, Shanum bisa lebih melupakan Ardha lagi. Apalagi nantinya dia akan fokus pada lingkungan baru. Tak punya waktu lagi untuk mengurusi kehidupan Ardha.


Dalam satu lantai, terdapat empat unit apartment. Mereka bertiga alias Shanum, Dena, Velia membeli unit di lantai yang sama.


Unit Dena dan Shanum berdampingan. Sementara Velia berada persis di depan Shanum. Satu unit lainnya milik seorang laki-laki, tapi sejak sebulan lalu udah tak ditempati lagi.


Shanum sudah membereskan dan memindahkan barangnya minggu lalu. Sekarang giliran Velia yang sedang boyong dari luar kota.


Dena saat ini sedang on the way menuju unit Shanum sambil menunggu Velia datang.


🕊🕊🕊


Setelah dua jam berlalu, Akhirnya Velia datang juga. Dengan cepat Shanum dan Dena pun membantu memindahkan barang-barang Velia.


"Ini kardus taro mana woy!" ucap Dena yang sedang mengankat sebuah kardus.


Ada orang yang membantu Velia memindahkan barangnya dari mobil sampai depan lift. Setelah itu mereka bertiga akan membawa masuk barangnya ke dalam unit Velia.


"Taro aja di dalem kamar, itu baju gue." jawab Velia.


"Lo ga punya koper nyet!?pake kerdus segala. Capek gue ngangkatin nya."


"Gaada. Koper gue cuma dua doang." jawab Velia.


Shanum baru masuk dari luar setelah mengambil satu kardus lainnya. "Kalo ini, taro di mana Vel?"


"Taro di depan aja. Itu sepatu gue."


"Giliran dia lo suruh taro depan. Giliran gue disuruh taro kamar. Gaadil banget lo!." seru Dena.


"Lah lo ngambil kerdus isinya baju gue babi! Masa iya baju gue gantung depan pintu!." jawab Velia tak mau kalah.


Shanum tak ambil pusing, memang selalu begitu kalau ada Dena. "Aus cuy gaada telaga zam-zam apa disini?"

__ADS_1


Dena menghempaskan tubuhnya di sofa, begitu juga dengan Shanum. "Iyaa gue juga. Lo masih punya uang buat beliin kita minum kan Vel?"


Velia berkacak pinggang di depan mereka, "Uang gue abis buat bayar nih unit. Sekarang gue miskin, puas lo?! Lagian gaada telaga zam-zam disini. Adanya danau toba!mau lo berdua?!"


"Jahat banget lo Vel." lirih Shanum.


"Tau nih." ucap Dena.


"Ini udah semua apa blom?" tanya Shanum.


"Udah kek nya. Gue udah pesen makan buat kita. Ntar juga dianter. Lo berdua sabar dulu lah." jelas Velia.


Shanum berdiri, "Gue mau beli ice cream dulu lah di bawah."


"Ehh ikuttt." seru Dena.


Akhirnya mereka bertiga semua turun beralih ke mini market membeli minuman.


"Kasirnya ganteng cuy." bisik Dena.


"Stt...ntar kedengeran. Malu njirr." ucap Shanum.


"Sikat cepet Den." dukung Velia.


Mereka bertiga jalan kearah kasir. "Sekalian pulsa nya kak?" tawar kasir cowo itu.


Dena yang berada paling depan menjawab, "Sekalian nomor kamu aja boleh?"


Kasir cewe di sebelah menatap sinis pada mereka, lalu menarik cowo itu ke sebelah. Sementara belanjaan mereka diurus oleh si kasir cewe tadi.


"Jangan genit yah mbak, dia pacar saya!" katanya sinis.


"Yee nyolot lo, kenapa takut kesaing ya. Secara gue lebih cantik dari lo." kata Dena.


"Kalo dia kegoda sama gue yahh bukan gue yang salah. Dasarnya cowo lo aja lemah iman.!" tambahnya lagi.


Shanum dan Velia tertawa pelan di belakang Dena. "Ganas abiss." kata Velia diangguki Shanum.


Setelah keluar, Dena menggerutu. "Anjing! Malu banget gue." Katanya sengah berlari kedalam gedung apartment.


"Lagian lo sih." kata Shanum.


"Mana gue tau cewenya di sebelah njing!"


Velia masih tertawa sampai memegangi perutnya.


"Cemburuan amat tuh cewe. Gue ga minat juga kali ama tuh cowo. Udah jelek, buluk lagi."


Lahh siapa juga tadi yang bilang cowo itu tampan. Lupa ingatan rupanya.


"Untung lo ga di cakar ama tuh cewe. Udah kaya di sinetron aja." ucap Velia.


"Tapi tuh cewe pas dandan liat kaca ga yaa?" tanya Shanum melenceng dari topik.

__ADS_1


"Emang kenapa?"


"Soalnya alisnya beda sebelah, waktu lo adu bacot sama dia. Gue salah fokus ke alisnya." kata Shanum mengundang tawa Velia dan Dena.


"Haduhh buat alis aja masih ga simetris mau nyaingin Denada yang cetar membahana ini. Ga level tsayy!" ucap Dena seraya mengibaskan rambut nya.


"Anjing kena muka gue!."


🕊🕊🕊


Mereka bertiga sudah berada dalam unit Velia. Mereka duduk di meja makan, menunggu makanan yang di pesan Velia datang.


"Lama amat sih nyet!keburu gue kenyang nih." protes Dena.


"Sabar elahh, ini udah nyampe perempatan sebelah." jelas Velia sambil melihat aplikasi hijau di handphonenya.


"Lo mau nginep apa pulang Den?" tanya Shanum.


"Liat ntar aja lah, kalo gue males turun yah nginep. Gausah ribet." jawabnya.


"Lusa temenin gue belanja buat isi unit." kata Dena.


"Gue juga dehh sekalian buat isi Dapur." kata Velia.


Ting tong!


Ting tong!


Terdengar bunyi bel, mereka bertiga kompak menoleh kearah pintu.


"Gue aja yang buka, udah lo bayar kan." Ucap Dena melangkah ke arah pintu.


"Dengan mbak Velia?" tanya cowo pengantar makanan tersebut.


"Iyaa bener, Kenalin saya Denada." Dena mengulurkan tangan pada cowo itu. Tidak bisa lihat cowo yang tampan sedikit langsung digodain. Ga ada kapoknya emang si Dena ini.


Katanya tadi bener dengan mbak velia, lah kok jadi Denada? Pikir cowo itu.


Cowo itu tertawa kaku, "Iyaa mbak."


Bukannya membalas uluran tangan Dena, cowo itu malah menggantungkan kresek isi makanan itu di jari Dena.


"Saya permisi dulu, Terimakasih mbak." cowo itu langsung kabur.


"Dasar cowo kampret! Diajakin kenalan malah kabur. Dikira gue setan apa?!." omel Dena.


"Kenapa sih Den?" tanya Shanum yang melihat Dena masuk sambil mengomel.


"Diem lo! Ngapain lo nanya-nanya." sewot nya.


"Yee si anjing. Gue nanya baek-baek juga. Nyolot amat tuh mulut."


Tak tau saja Shanum, Dena sedang kesal karna di tinggal kabur si pengantar makanan.

__ADS_1


__ADS_2