My Dreamless Wedding

My Dreamless Wedding
Fitnah atau Fakta


__ADS_3

Hari ini sepulang kerja, Shanum berencana mengunjungi rumah Dena. Dia juga harus meminta maaf pada om Fero dan tante Diana. Karena sudah membuat rusak nama baik anaknya walaupun Shanum tak ada niat melakukan hal itu.


Setelah sampai, Bi Mar selaku kepala art dirumah Dena mengatakan bahwa om Fero dan tante Diana pergi ke Jepang kemarin lusa.


Dena sendiri belum kembali dari butiknya. Jadi Shanum memutuskan akan menunggu Dena kembali saja.


Menunggu hampir satu jam lamanya akhirnya suara mobil Dena terdengar memasuki garasi. Beberapa saat kemudian muncul lah Dena di depan pintu utama.


"Ngapain lo di situ?" Denaa...Denaa...minimal salam dulu kek.


"Mau minta sumbangan. Puas lo!" sarkas Shanum.


Dena terbahak mendengar jawaban Shanum. Haruskah Dena masih menanyakan maksud kedatangannya yang jelas-jelas mau meminta penjelasan atas perbuatannya.


"Lo ribet banget sih, orang bang Dewa sellow aja kenapa jadi lo yang kesetanan. Lo beneran ngarep sama abang gue?" kata Dena.


"Dih apaan, gue tuh takut diserang fans abang lo tau! Ntar dibilang gue pansos doang."


"Yaudah sih cuekin aja, ngapain ngurusin orang ga jelas gitu. Buang-buang waktu aja lo."


Benar juga sih apa yang dibilang Dena ini. Kalau Ardha saja tak mempermasalahkan berita itu, berarti Shanum juga tak perlu pusing memikirkannya.


"Btw bokap sama nyokap lo tau ga?" tanya Shanum.


"Kaga, mereka lanjut liburan ke jepang kemaren. Ga bakal ngurusin berita begituan. Udahlah lo nyante aja, itu buat seneng-seneng aja gausah dibawa pusing." tenang Dena pada sahabatnya itu.


"Trus emang lo ga ditanyain apa-apa gitu sama mas Ardha?" tanya Shanum lagi.


Dena mengangguk, "Kemaren sempet telfon gue, trus gue bilang aja cuma konten doang buat happy-happy gitu, trus dia ga masalah ga marah juga tuh. Biasa aja dia." jelas Dena.


Shanum menggangguk paham mendengar jawaban Dena. Kalau begitu sekarang dia sudah bisa tenang.


🕊🕊🕊


Setelah pulang dari rumah Dena kemarin, Shanum merasa beban pikiran di otaknya langsung hilang seketika.


Hanya saja ocehan dan godaan teman sekantornya masih terus berlanjut dan Shanum rasa itu tak masalah. Mereka hanya sekedar menggoda saja tidak sampai tahap yang mengganggu aktivitasnya di kantor.


Juga orang tuanya. Dari dua hari yang lalu, mamanya sudah mengirim pesan bertanya tentang berita itu. Shanum hanya menjawab sekedarnya saja.


Saat dimintai jawaban lagi, shanum mengatakan sedang lelah karna pulang kerja dan butuh istirahat. Keesokan paginya dia beralasan sibuk bekerja.

__ADS_1


Baru malam ini dia berniat menuntaskan masalah berita itu dengan orangtuanya.


Shanum akan membersihkan tubuhnya terlebih dulu sebelum menghubungi orangtuanya. Setelah selesai membersihkan diri, Shanum mulai membuka handphone.


Sebelum menelfon ibunya, Shanum memutuskan memesan makanan untuk makan malamnya. Shanum memutuskan menbeli nasi ayam bakar plus es teh manis dan toast spicy chicken mentai untuk camilan malamnya.


Shanum menekan tombol panggil pada nomor ibunya. Setelah deringan ke tujuh, panggilan tersebut berubah menjadi wajah ibunya yang rupanya sedang diruang tengah.


"Assalamualaikum, ma."


"Waalaikumsalam, baru sekarang kamu telfon?"


"Maaf maa, lagi sibuk kemaren tuhh."


"Alahh alesan kamu." emang namanya orang tua, mau bilang gimana pun pasti dibilang cuma alasan.


"Trus gimana berita yang kemaren, kok bisa masuk berita gitu sih kamu?"


"Ya gak gimana-gimana, itu berita cuma ngelebih-lebihin aja ma aslinya mah ga gitu banget."


"Dia tuh kakaknya Dena temenku, kemaren liburan ke bajo tuh dia yang bayarin semua loh, gratis tau." lanjut shanum.


"Kok bisa?"


"Halah ga peduli banyak uang atau nggak. Uang tuh bukan yang terpenting sekarang Shanum."


"Iya-iyaa ma, mama mau tanya apa? Mama nanya terserah deh , ntar aku jawab."


Mamanya mengangguk dan mulai memikirkan pertanyaan yang akan dia tanyakan pada anaknya.


"Kamu sama dia ada hubungan?"


"Fitnah, udah kubilang dia itu kakaknya Dena. Yah cuma sebatas itu mah." shanum melihat ibunya mengangguk disana.


"Kamu liburan sama keluarganya?"


"Fakta, sama ayah ibunya Dena, Velia temen aku satu lagi juga ikut kok aku ga sendirian. Mama kan bisa liat tuh di videonya."


"Kamu gaada hubungan sama dia bukan karna mau langsung nikah kan?"


"Fitnah, aku ga ada hubungan dan ga kepikiran bakal punya hubungan sama dia apalagi nikah mah."

__ADS_1


"Tapi di video itu kamu nyender-nyender gitu ke dia, gimana sih kamu!"


"Fakta. Yah cuma nyender doang, namanya orang ngantuk yah ga sadar ma."


"Tapi dia suka sama kamu?"


"Gatau, aku bukan dukun yang tau segalanya."


"Kamu ini kalau ditanya sama orang tua selalu gabener jawabnya."


"Lagian tanya nya aneh-aneh."


"Orang tuanya marah ga anaknya masuk berita sama kamu?"


"Engga tau, orang tuanya masih di jepang sekarang. Kayaknya masih gatau beritanya juga."


"Tapi mama sih yaa setuju-setuju aja kalau dia jadi mantu mama. Udahlah ganteng, mapan, menteri lagi. Kapan lagi mama punya mantu menteri num."


"Jangan gitu maa, ntar dikira aku yang ngarep sama dia. Dia tuh orang nya cuek banget jarang ngomong. Aku udah kenal lama sebelum dia jadi menteri. Tapi jarang banget ngobrol padahal aku sering main sama Dena."


"Yah gapapa, kalau di tiktok, cowo cuek lebih menggoda tau." Shanum melotot tak percaya, mamanya yang sudah bukan anak muda lagi ini masih mengikuti trend tik tok?.


Shanum saja jarang buka aplikasi itu, ini malah mamanya yang lebih gaul dibanding anaknya.


"Udah lah ma, sekarang clear ya aku gaada hubungan sama dia, soal berita juga udah aku jelasin kan. Jadi sekarang bisa dong, Shanum kerja dengan tenang?"


"Iyaaa, tapi tetep aja num, kamu mesti pilih-pilih kalau mau bergaul, jaman sekarang pergaulan di kota makin ga bener bikin mama was-was terus."


"Yaaa mamah ku sayang. Shanum yakin temen-temen shanum ini baik-baik semua. Shanum juga ga bergaul sama banyak cowo kok. Mainnya sama Dena doang kebanyakan." Kata Shanun menenangkan ibunya.


"Mah udah dulu yaa, pesenan makananku udah dateng. Ntar kasian bapak gojeknya nunggu. Dadah mama assalamualaikum." pamitnya.


Setelah salamnya dijawab oleh mamanya, Shanum mematikan panggilannya.


Shanum berjalan keluar dari gerbang kos nya. Menebgok kanan dan kiri melihat dimana kiranya bapak gojeknya.


Setelah lima menit menunggu di pinggir jalan, datanglah bapak gojek yang membawa pesanannya berhenti didepan Shanum.


Menyerahkan uang lima puluh ribu kepada si bapak dan mengambil kantung makanannya. Segera Shanum masuk dan membuka nasi ayam bakar favoritnya.


Dari yang Shanum tau dari Dena, Ardha sedang ada dinas keluar kota tak tau berapa lama. Itulah sebabnya Shanum masih belum bisa menemui laki-laki itu untuk menyampaikan kata maaf nya.

__ADS_1


Biarlah dia akan fokus bekerja dulu untuk sekarang ini, nanti setelah Ardha kembali Shanum akan membuat janji dengannya untuk ngobrol masalah berita itu. Walau nantinya berita itu sudah berlalu, Shanum tetap saja merasa tak enak hati pada Ardha.


__ADS_2