
"Yang! Dasi ku mana?" teriak Ardha.
Shanum yang baru keluar dari kamar mandi berdecak kesal. Pasalnya kebiasaan Ardha yang baru dia ketahui setelah seminggu menikah ini, cukup membuatnya kesal setiap pagi.
"Ada di laci dasi!" jawab Shanum balik berteriak juga. Padahal jarak Shanum dengan Ardha bukan seperti Jakarta Papua.
Ardha muncul dari balik pintu wardrobe, "Gaada yang."
"Ishh kamu mah."
Seminggu mereka menikah, Shanum setiap hari dibuat terkejut dengan kebiasaan suaminya yang baru ia ketahui.
Ardha yang dia kira lelaki mandiri, macho, cool, gentle ini ternyata punya sikap seperti bapak-bapak pada umumnya.
Handuk yang tergeletak di lantai atau menyampir di sofa kamar. Suka lupa taruh barangnya. Di sore hari suka nongkrong di teras sambil pake sarung. Yang paling parah, suaminya ini kalau tidur sekarang harus di peluk kalau tidak dia akan susah tidur.
"Sebelum nikah, dia tidur dipeluk siapa?" batin Shanum.
Ardha yang dulunya kaku, sekarang sudah mulai membiasakan diri dengan panggilan-panggilan manis.
Pokoknya banyak perubahan dan hal baru yang shanum temukan setelah seminggu menikah. Kita tunggu saja hal baru apa lagi kedepannya.
Shanum menghentakkan kakinya berjalan menuju wardrobe room.
"Ini apa namanya kalo bukan dasi? Tali tambang?" kesalnya.
Ardha hanya menyengir mendengar nada kesal istrinya. "Maaf, tadi ga keliatan."
Shanum melengos pergi, "makanya cari pake mata bukan mulut."
Ardha menggaruk kepalanya yang tak gatal. Entah kenapa setelah menikah, dia tak semandiri sebelumnya. Apa-apa harus dengan istrinya.
"Yang, lupa pasangin juga!"
🕊🕊🕊
Shanum sudah siap dengan outfit hangout nya. Kali ini dia memakai kaos putih yang dipadukan celana biru muda 10cm diatas mata kaki. Juga sepatu putih dan tas chanel nya.
Siang ini dia akan mengantarkan makan siang untuk suami tercintanya, lalu sorenya akan pergi dengan Dena dan Velia.
"Sudah sampe bu."
"Ohh iya. Makasih ya pak nanti kesini lagi jam empat deh ya. Sekarang terserah bapak mau kemana."
"Iyaa siap bu."
Sekarang masih pukul dua siang, jadi dia ada waktu dua jam untuk menemani suaminya.
"Bu Faresa Shanum." panggil seseorang.
Shanum menoleh, "iyaa?"
"Bapak sudah menunggu, silahkan lewat sini bu."
Perempuan yang Shanum tebak adalah staff Ardha, mengarahkannya keruangan suaminya.
Tok
Tok
Tok
"Permisi pak, ini ibu sudah datang."
"Ya."
Staff itu pun langsung pergi setelahnya.
"Sini yang."
Bukannya mendekat kearah suaminya, Shanum malah menghampiri sofa dan duduk disana.
Ardha yang melihat itu, langsung berdiri dan duduk disamping istrinya.
"Nih aku bawain katsu."
Ardha mengambil kotak bekal yang sudah disiapkan istrinya dan mulai mencicipinya.
"Gimana?"
Shanum sudah mencobanya di rumah, dan menurutnya rasanya enak. Tidak mungkin dia berani memberikan pada suaminya kalau belum memastikan rasa masakannya.
"Heemm enak."
__ADS_1
"Bagus deh. Yaudah kamu makan dulu aja."
Sementara Ardha makan, Shanum sibuk scroll akun tiktok. Terkadang dia tertawa saat melihat video lucu juga kadang meniru gerakan di video.
Ardha yang melihat kelakuan istrinya hanya geleng-geleng kepala, "Dasar anak tik-tok."
Shanum membereskan kotak bekal bekas suaminya makan dan memasukkannya kedalam tas kecil.
"Kamu habis ini ada rapat diluar mas?"
Ardha menggeleng, "Kenapa emang nya?"
"Aku berencana ngungsi dulu disini. Ntar jam empat aku langsung otw ke mall."
"Ngapain?"
"Main sama Dena."
"Yaudah temenin aku dulu disini."
"Okee."
Ardha kembali sibuk dengan laptopnya, sementara Shanum memilih sibuk membuat video jogetan viral di tiktok.
Saat sudah bosan, dia memilih berkeliling di ruangan suaminya.
Shanum baru menyadari ada pigura besar yang berisi foto preweddingnya dengan Ardha.
Memang berlawanan dari tempat duduk Ardha.
"Kok ada foto ini mas?" Shanum menunjuk foto yang terpajang.
"Biar inget kamu terus."
"Kok disini? Ga disana?" Shanum menunjuk tembok di belakang suaminya duduk.
"Yah ga bisa liat dong kalo disini, kalau disana kan aku bisa liat."
"Ooh."
Shanum beranjak mendekat ke arah suaminya. Di meja Ardha juga ada pigura kecil berisi foto pernikahan mereka.
"So sweet banget sihh." Shanum mengambil pigura kecil itu.
"Kamu taruh disini bukan karna banyak cewe yang dateng kesini kan?"
"Hah?gimana yang?" bingung Ardha.
"Aku pernah baca di novel, kalo suaminya kayak kamu gini banyak cewe yang godain. Banyak yang nyamperin kamu kesini. Trus biar mereka tau kamu udah nikah kamu pajang foto ini." jelas Shanum.
Ardha tertawa, ada-ada aja pemikiran istrinya ini.
"Yaa nggak lah yang. Ini kantor Menteri bukan perusahan pribadi. Mana boleh sembarangan masuk ke sini."
"Iyaa juga sih."
"Belom masuk, udah kena mental mereka di usir sama ajudan aku."
"Iyaaa yah."
"Tapi kok bisa sih cowo seganteng mereka cuma jadi ajudan. Padahal udah bisa jadi idol korea mereka tuh." kata Shanum berlebihan.
Ardha mendengus, "Masih gantengan juga aku.".
"Sejak kapan kamu narsis begitu mas."
Ardha memutar bola matanya malas, "Kenyataan."
Shanum malas menanggapi suaminya lagi. Dia memilih kembali ke sofa dan sibuk dengan handphonnya.
Diliriknya jam tangan di tangan kanannya. Sudah menunjukkan jam tiga lebih empat puluh menit. Shanum berdiri.
"Mas aku berangkat dulu yaa." pamit Shaanum.
"Pulang jam berapa?"
"Emm jam delapan? Gimana?"
Ardha reflek langsung berdiri mendengar itu, "Hah?lama banget. Aku ikut aja."
"Ehhh ya ga boleh dong. Ini tuh girls time mas."
Ardha menghela nafas lesu, "Trus aku gimana yang?"
__ADS_1
Shanum maju memeluk suaminya.
"Sebentar doang kok."
Ardha merengek, ini adalah salah satu hal yang membuat Shanum kaget setengah mampus. Ardha yang biasanya dia lihat cool dan kaku nyatanya bisa merengek seperti bayi.
"Gimana kalau kamu tunggu di rumah mama Diana. Ntar aku balik nya sama Dena kesana."
"sekali ini aja." Shanum masih mencoba membujuk.
Ardha menarik badannya mundur tetapi tetap memeluk pinggang istrinya.
"Bener yaa. Jam tujuh."
"Ehh kok jam tujuh. Jam delapan dong."
"Engga."
"Kok gitu?"
"Yaudah gajadi."
"Yaa jangan dong. Masa ga jadi."
"Yaudah setengah delapan."
"Yaudah dehh setengah delapan."
Akhirnya drama pamitan pun mendapat penerangan dan penyelesaian.
🕊🕊🕊
"Hai guys, maap yee telat dikit."
"Mentang-mentang pengantin baru, telat lo!." sindir Dena.
"Iya nih, si paling on time akhirnya bisa telat juga."
"Hehehe maap yaak. Mas Ardha rada rewel dikit tadi."
"Bisa rewel juga dia?" kepo Dena.
"Rewel lo kira bayi." jawab Velia.
"Ehh tapi iya tau kek bayi. Gue syok banget, gue yang biasanya liat Ardha Dewangga yang cool, macho, mandiri gitu trus liat dia kek manja-manja tuh aneh."
"Masa sih Num?"
"Iyaaa benerann."
"Masa abang gue begitu."
"Ish ga percayaan. Besok gue rekam dehh."
"Ehh dua bulan lagi kan udah lebaran yah. Kita mau liburan kemana?" tanya Velia.
"Cepet banget, perasaan kemaren baru aja lebaran udah mau lebaran lagi."
"Gue gimana?" tanya Shanum.
"Gimana apannya?"
"Yahh kan gue udah ga kerja tapi mesti ijin mas Ardha dulu. Boleh ga yaa kira-kira?"
Shanum memang memutuskan untuk berhenti bekerja walau dulu dia punya niat tetap bekerja setelah menikah. Ardha juga mengijinkan seandainya dia tetap bekerja, tapi Shanum memilih untuk berhenti bekerja saja.
"Yaudah liburan bareng kek kemaren aja." usul Velia.
"Masalahnya jadwal dia padet begete."
"Iyaa kemaren aja untung-untungan jadwalnya kosong." tambah Dena.
"Trus gimana dong yaa."
Mereka bertiga berpikir, "Yaudahlah ntar kita kabur aja Num." usul Dena.
"Kenapa sih dari sekian banyak cara lo milih cara sesat." kesal Shanum.
"Ntar kalo gue jadi istri durhaka trus dikutuk jadi batu gimana?"
"Itu malin kundang tsay." kata velia.
"Yaudah sihh ntar gue pajang di museum batunya." jawab Dena.
__ADS_1
Shanum melotot, dia berdiri dan memukul lengan Dena yang memang duduk bersebrangan dengan dia.