My Dreamless Wedding

My Dreamless Wedding
Nyai Gerandong


__ADS_3

"Lo kemana, Gue tinggal ngurusin Feny bentar langsung ngilang aja lo." terdengar suara lantang Nadia di seberang telfon.


"Gue di culik."


"Jangan ngadi-ngadi ya lo, Shanum."


"Pandu bilang lo di bawa pak Dewa."


"Di bawa-di bawa, lo pikir gue barang."


"Yahh itulah... trus, lo sekarang dimana?"


"Gue masih di toilet. Gatau abis ini mau kemana. Pasrah ajalah gue."


"Halahh, gausah sok terpaksa gitu. Ini tuh kesempatan tau, tuhan ngasih lo kesempatan buat pepet, babat abis tuh pak menteri kesayangan kita."


"Kesayangan kita mata lo. Sekarang kalian di mana?"


"Kita ini mencar sih, cari jajan sendiri-sendiri. Rame banget disini. Gue lagi sama bia ini."


"Haishh seru banget kek nya lo."


Shanum pun menutup telfonnya. Saat akan keluar, Gia datang masuk toilet.


"Kamu punya rencana mendekati pak Dewa?"


"Hah?" Shanum kaget ditodong pertanyaan tiba-tiba dari Gia.


"Kalau benar begitu, perkenalkan saya adalah saingan beratmu." kata Gia.


"Maaf yaa, saya ga tertarik bersaing sama kamu."


"Jangan terlalu sombong. Pada akhirnya, saya yang akan memenangkan hatinya."


"Saya ga mendekati dia asal anda tau."


"Dia yang mendekati saya." bisik Shanum.


Sombong dulu, perkara jadi apa ga belakangan aja. Gatau malu dikit ga ngaruh. Pikir Shanum.


Shanum malas menanggapi Gia. Dia berlalu dari toilet dengan cepat.


Saat ini Shanum dan Ardha sudah kembali bersatu dengan rombongan anak-anak. Mereka berada di salah satu restoran untuk makan siang.


Sudah tersaji banyak macam lauk prasmanan di meja panjang bagian kiri ruangan. Shanum pun ikut mengantri setelah semua anak-anak sudah mendapat jatah makannya.


"Mas, ga makan?" tanya Shanum yang melihat Ardha duduk saja.


"Iyaa, nanti. Kamu duluan saja." Mana bisa begitu. Shanum merasa tak tau diri kalau orang yang mengajaknya tak ikut makan bersama.


"Mas mau lauk apa, biar aku ambilin." tawar Shanum.


Ardha menoleh, tersenyum padanya. "Sama kan saja dengan punyamu."


Shanum mengangguk dan berlalu mengambilkan Ardha makan siang.


Saat kembali, Shanum melihat Gia sudah duduk di seberang Ardha. Shanum mendengus, "Diaa lagi dia lagi."


"Nih mas makannya." Shanum menaruh piring di depan Ardha. Sekalian juga dengan air putih dua botol di dekapan tangan kirinya.


"Terima kasih."


Shanum makan dengan tenang, sementara Ardha dan Gia terlibat pembicaraan. Sepertinya mereka membicarakan masalah pekerjaan.


Shanum menangkap dengar pembicaraan mereka. Gia bertanya hal-hal apa saja yang harus dia lakukan untuk proyek kerja Ardha kedepannya.


Gia melirik ke arah Shanum sambil tersenyum sinis. Seakan mengatakan, 'kamu terasingkan dan dia lebih memperhatikan saya'

__ADS_1


Cihh! Shanum tidak merasa begitu. Dia biasa saja. Toh kalau tentang pekerjaan bukankah itu sudah wajar.


Asisten Gia datang membawakan makanan untuk gadis itu.


"Pak Dewa tidak makan? Mari kita makan dulu."


Kalau mau makan yaudah makan aja. Caper banget sih, Gerutu Shanum dalam hati.


Ardha menoleh pada Shanum, "Sudah selesai makan?"


Pake nanya lagi, ga liat nih piring udah bersih. Masa mau gue babat sampe piringnya juga, ocehnya dalam hati.


Shanum tersenyum mengangguk, "Iyaa udah."


Lain di mulut lain lagi di hati.


"Saya masih sibuk kerja."


"Trus?"


"Suapin saya."


"Hah?"


"Hah??" bukan hanya Shanum yang kaget, Gia juga melotot sampai matanya mau melompat keluar.


"Kenapa, ada masalah?"


"Mas kan punya tangan dua, aku juga biasanya makan sambil main hp. Bisa kok."


"Kamu ga mau menolong saya, Faresa."


"Yaa ga gitu, tapi kan malu mas." cicit Shanum.


"Kenapa malu, menyuapi saya bukan dosa."


"Yang ikhlas."


"Iyaa iyaa ikhlas." Kata Shanum sambil menarik piring Ardha.


Shanum akhirnya menyuapi Ardha yang terus fokus pada layar ipad nya. Sepertinya pekerjaan lelaki itu banyak sekali, sampai-sampai dari pagi tak lepas dari ipad.


Gia terlihat sangat kesal, dia menyuap makanannya dengan malas. Apalagi melihat Shanum yang menyuapi lelaki pujaannya di depan mata. Di mata Gia, Shanum sekarang seperti penyihir yang sedang tertawa jahat kearahnya.


Panas dalam dah tu mak gerandong, pikir shanum.


Sudah selesai menyuapi Ardha, Shanum berdiri bermaksud mengambil ice cream yang memang disediakan untuk anak-anak. Tak sungkan-sungkan, Shanum mengambil dua cup ice cream.


"Itu kan untuk anak-anak." serang Gia.


Gia ini apa tidak bisa diam dengan tenang. Selalu mengomentari apa yang dia suka. Kalau tidak suka yasudah jangan pedulikan.


"Saya kan masih anak-anak tante." ejek Shanum.


"Kamuu!"


"Ehh jangan marah tante, tante kan umurnya memang lebih tua dari saya."


"Sudah, jangan gaduh." ucap Ardha mengelus rambut shanum.


Shanum melirik Gia lagi, dia tertawa dalam hati.


Lo pernah ga di usap gini, ga pernah kan. Gue aja udah di ajak gandengan. Lo mana pernah.


Darah di dalam tubuh Gia seakan mendidih. Rasanya dia mau menghampiri Shanum dan mencakarnya habis-habisan. Tapi sayang, ini masih di tempat umum. Juga masih di depan lelaki pujaannya. Dia tak mau image nya terlihat buruk.


"Habis ini kemana lagi mas?"

__ADS_1


"Sudah selesai kok."


"Ooh." Padahal awalnya Shanum bersemangat akan kuliner malam dengan teman-temannya. Ehh siapa yang tau kalau dia bakal di seret oleh Ardha bertemu Nyai Gerandong di depannya ini.


"Memangnya kamu mau kemana lagi?"


"Tadinya sih mau kulineran malam trus nginep di villa temen aku mas."


"Ehmm gimana kalau aku minta jemput mereka aja kesini. Mas langsung pulang aja gapapa." Usul Shanum.


"Engga."


"Lah kenapa?"


"Kamu tetep sama saya."


"Tapi kan aku masih pengen disini."


"Ya sudah nanti kulineran sama saya."


Gia tiba-tiba memotong pembicaraan, "Tapi saya masih ada kerjaan malam ini."


Gia tadi berangkat bersama dengan Ardha, mobilnya ada di gedung agensi.


"Tuhh kan mas, udah aku minta jemput aja."


"Ngga."


"Saya minta asisten saya cari mobil untuk kamu kembali ke jakarta."


Yahh, gagal dehh seru-seruan bareng temen-temen.


Tapi gapapa, seenggaknya sekarang ga perlu liat nyai gerandong itu. Pikir Shanum.


Sementara Gia terlihat kecewa dengan ucapan Ardha. Ardha memanggil Dimas.


"Dim, kamu cari mobil untuk dia kembali ke jakarta."


"Loh kita ga balik ke jakarta pak?" tanya Dimas.


"Ngga, Faresa mau njajan."


Dimas beralih menatap Shanum, "Hehehe ntar kita jajan yang banyak yah mas Dimas."


"Ngga." ucap Ardha.


Shanum dan Dimas juga Gia langsung menatap Ardha bingung.


"Kamu njajan sama saya, mereka biar jajan sendiri."


Haishhh!


Setelah itu, Shanum melihat Ardha tampak berpamitan kepada pengurus dan rekan-rekannya.


Gia juga dengan enggan menaiki mobil yang disewa Dimas untuk mengantarnya kembali ke jakarta.


Setelah bis dan mobil-mobil itu berlalu, Ardha mengajak Shanum menaiki mobil mereka juga.


"Kamu mau kulineran kemana?"


"Gatau, aku kan tadinya ngikut temenku."


"Dimas, kamu gatau tempat disini untuk kulineran?"


"Maaf, saya gatau pak. Saya kan bukan orang sini."


"Ehmm gimana kalau tanya temenku aja. Kita nyusulin mereka aja."

__ADS_1


"Lebih seru kalau rame-rame mas." usul Shanum.


__ADS_2