My Dreamless Wedding

My Dreamless Wedding
Apa-apaan ini miskah!


__ADS_3

"Babi lo! Dicariin kemana-mana ternyata lagi nge gembel sama koceng." seru Dena di seberang telfon.


"Ya maap, habisnya gue bosen di sana."


"Maap-maap, minimal chat kek kalo mau pergi!."


"Yaa Dena, maaf yaa." Shanum dengan sabar menanggapi Dena yang sedang emosi. Padahal aslinya Shanum ingin balik nyolot.


Karena Shanum menanggapi dengan halus, Dena pun akhirnya mengganti nada bicaranya.


"Lo nemu dimana tuh kucing?"


"Nemu di jalan deket taman. Di deketnya pohon mangga."


"Bukan punya orang kan lo ambil?"


"Ya nggak lah. Tuh kucing udah lah jelek, kucel, gembel, gaada tanda pengenal. Jadi udah bisa di pastiin kucing jalanan."


"Trus napa lo kasih nama koala. Yang bagus dikit kek, orang kucing kok namanya koala."


"Ihh bagus itu Denaa. Bulunya kan abu-abu kayak koala."


"Halahh yaudahlah serah lo."


"Awas yaa besok-besok begitu lagi."


"Yaa Denada cantik."


"Gausah kesana sama Dena lagi aja." batin Shanum.


Setelah itu Shanum menutup obrolan telfon mereka. Dena tadi menelfon karena melihat berita viral di sosial media. Terdapat foto Shanum disana, mulai dari jongkok melihat koala pertama kali. Lalu berjalan sambil menggendong dan berbicara pada koala.


Dena yang semula khawatir karna Shanum tak kembali dari toilet bar, langsung kesal melihat berita itu dan berakhir menelfon Shanum.


"Susahnya jadi orang cantik. Nge gembel aja jadi viral." monolog Shanum saat menggulir foto-foto paparazzi di sosial media.


Saat asik menggulir laman web beritanya yang viral, muncul notifikasi panggilan video dari suaminya.


"Waduhh alamat nih." gerutu Shanum.


Buru-buru dia geser tombol hijau untuk menjawab panggilan suaminya.


"Halo."


"Iyaa mas." Shanum menjawab sambil tersenyum lebar menunjukkan giginya.


Di seberang sana, Ardha meengerutlan dahinya.


"Gausah senyum begitu."


"Loh kenapa? Masa gaboleh senyum." Shanum cemberut.


"Aneh. Senyummu itu kayak orang kebelet pup. Tau!."


"Ishh jahat banget." ucap Shanum pelan.


"Faresa." panggil Ardha.


"Hemm?"


"Kemarin saya pesan apa sebelum berangkat?"


Shanum mencoba mengingat, "Pesan apa mas?kamu ada paket cod yaa. Trus nyuruh aku bayarin cod-an nya."


Ardha memicingkan mata, istrinya ini sedang lupa atau pura-pura lupa.

__ADS_1


"Jangan pura-pura lupa, Faresa!." geram Ardha.


Shanum menggaruk keningnya yang tak gatal, "Iyaa maaf."


"Apa salahnya?" Ardha berbicara dengan datar.


"Pergi ke Bar. Janji deh ga gitu lagi." Shanum menunduk tak berani menatap Ardha yang sepertinya marah padanya.


"Kamu tau gak disana itu bahaya. Gimana kalau terjadi apa-apa, tapi saya ga bisa nolongin karna jauh begini."


Shanum tetap menunduk mendengarkan.


"Kemarin kan kamu sudah janji tidak nakal. Trus apa ini? Belum 24 jam saya tinggal, kamu sudah main ke Bar."


"Kalau saya tinggal Dinas seminggu, apa kamu bakal pergi dari rumah?!"


Shanum menggeleng.


"Sudah pergi hanya bertiga, perempuan semua. Pulang jalan kaki, sendirian. Kalau ada orang jahat di jalan bagaimana?"


"Saya itu khawatir kalau kamu kenapa-napa Faresa. Kamu istri saya sekarang. Kamu sudah tanggung jawab saya."


"Kalau ga viral karna mungut kucing, saya ga bakal tau kamu pergi malem-malem sendirian."


"Maaf mas." cicit Shanum.


Ardha menghela nafas. Melihat Shanum yang terus menunduk, dia jadi luluh.


Ardha mulai berbicara halus, "Jangan begitu lagi yaa."


Shanum mengangguk tanpa melihat Ardha, "Iyaa, maaf yaa."


Ardha mengangguk, "Iyaa dimaafin."


Shanum mulai mengangkat pandangannya, "Janji deh besok ga gitu lagi."


Shanum melongo.


"Atau kalau nggak, kemana-mana sama ajudan. Nanti aku cari asisten cewe buat kamu."


"Apa-apaan ini miskahh!" batin Shanum menjerit.


🕊🕊🕊


Di pagi hari yang cerah, Shanum melangkah memasuki mobilnya dengan suasana hati yang senang. Di buktikan dengan senyuman lebar nya turut mengiringi setiap langkah kakinya.


Shanum berencana untuk mengunjungi klinik hewan. Koala si kucing pungutnya juga sudah lebih dulu dimasukan ke mobil.


"Aigoo, gemoy banget sihh koala." Shanum mengelus bulu koala.


Miauww


"Iyaa kita ke dokter dulu, nanti abis itu baru beli mainan. Deal?"


Miauww


"Okee deal." Shanum menjabat kaki koala seakan membuat kesepakatan.


"Sudah sampai bu." ucap sopir Shanum memberi tau.


Shanum mengangguk, lalu turun dari mobil sambil menggendong koala. Dia berjalan masuk memasuki klinik.


"Selamat pagi, selamat datang." sambut karyawan disana.


"Silahkan sebelah sini."

__ADS_1


Shanum mengikutinya. "Silahkan daftarkan kucing anda."


Shanum tersenyum sambil mengangguk, "Terimakasih."


Shanum mengisi kertas formulir yang diberikan.


"Nama, Koala."


"Umur," Shanum melihat koala, lalu menggaruk dahinya. "Umur berapa dia yaa?"


"Alahh udahlah tulis 3 bulan aja."


"Jenis,"


"Jenis apaan, yahh jenisnya kucing lah masak burung."


"Ini formulir isinya ga bermutu banget dah."


Setelah selesai mengisi formulir asal-asalan, tibalah giliran Koala untuk masuk ruangan.


Seorang dokter laki-laki dan dua orang asistennya berada di dalam ruangan. Koala diperiksa beberapa saat dengan teliti oleh mereka.


Shanum hanya diam mengamati apa yang dilakukan oleh ketiga orang itu kepada kucingnya.


"Sudah di vaksin apa saja ini mbak?" tanya dokter itu tiba-tiba.


Shanum mengedipkan matanya beberapa kali, bingung mau menjawab apa. Dia kan tak tau Koala sudah di vaksin apa orang baru dipungut semalam.


"Gatau dok. Itu baru saya adopt kemarin malam."


"Ohh, tapi biasanya ada di surat adoptnya mbak keterangan vaksin apa saja yang sudah di berikan." jelas dokter itu.


Shanum menggaruk rambutnya yang tak gatal, "Ehmm masalahnya saya adopt dari jalan bukan pet shop." cicitnya.


"Oalahh mbak saya kira adopt di petshop. Itumah mungut namanya." dokter itu geleng-geleng kepala.


🕊🕊🕊


Keesokan harinya Shanum bersiap untuk menjemput suaminya di bandara.


Dengan diantar supirnya, Shanum berangkat menuju bandara jam sepuluh pagi. Pesawat Ardha akan landing jam sepuluh lebih lima belas menit.


Sambil menunggu, Shanum antri membeli minuman untuk menghilangkan dahaga di cuaca yang panas hari ini. Padahal saat ini masih pagi tapi sudah panas sekali sampai menembus jaringan kulit terdalam rasanya.


Mendengar pengumuman pesawat yang membawa suaminya di dalamnya akan segera landing, Shanum beranjak berjalan menuju gate kedatangan.


Disana terdapat banyak orang yang juga sedang menunggu sama sepertinya. Tak lama kemudian, rombongan suaminya dengan asisten juga ajudannya berjalan keluar menuju kearahnya.


Shanum melambaikan tangannya sambil melompat kecil agar suaminya menotice keberadaannya.


"Mass!mas Ardha!"


Ardha yang mendengar suara istrinya langsung menoleh dan menemukan istrinya yang melompat-lompat riang seperti anak kecil.


Ardha terkekeh sambil merentangkan tangannya memeluk Shanum. "Kayak anak kecil."


Shanum mendongak dalam pelukan Ardha sambil mengerucutkan bibirnya.


"Kangen gak?" tanya Ardha.


Shanum memperagakan jari telunjuk dan jempol yang menempel, "Sedikit."


"Masa sih?"


Shanum mengangguk mencoba meyakinkan.

__ADS_1


Ardha langsung melepaskan pelukannya dan berjalan meninggalkan Shanum. Dia yang sudah merasakan rindu yang menggebu-gebu dan tertahan beberapa hari kemarin kesal karena istrinya tak merasakan hal yang sama.


Shanum yang melihat suaminya ngambek pun tertawa tertahan. Berlari mengejar dan menggenggam tangan suaminya.


__ADS_2