My Dreamless Wedding

My Dreamless Wedding
Panti Asuhan


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam, akhirnya sampailah mereka di suatu bangunan tiga lantai.


Disana sudah banyak sekali mobil yang terparkir di halaman panti.


"Banyak banget orangnya mas."


"Kalo sepi ya di kuburan." Shanum mengalihkan tatapannya pada Ardha. Ternyata lelaki itu bisa melucu juga. Walaupun tak sampai membuat Shanum tertawa, malah ia heran mendengarnya.


Setelah memarkirkan mobil, mereka pun turun. Ardha berjalan kearah Shanum. Tiba-tiba saja Ardha menarik jemari Shanum untuk di genggamnya.


"Biar ga ilang." ucap Ardha.


Shanum mendengus. Dikiranya dia masih anak kecil yang harus digandeng biar ngga hilang. Dia ini sudah dewasa, sudab berusia dua puluh tiga tahun asal Ardha tau saja.


Di depan sana sudah banyak orang yang menyambut kedatangan mereka. Ardha menyalami mereka satu per satu. Tentu saja Shanum mengikuti juga. Banyak juga orangnya sampai tangan nya pegal.


Mereka diarahkan ke sebuah aula yang tidak terlalu besar. Di dalamnya sudah tertata banyak kursi dan juga panggung kecil.


Rupanya ini adalah acara penyerahan bantuan dari pemerintah kepada beberapa panti. Kebetulan hari ini jadwal panti ini menerima bantuan.


Ardha dan Shanum duduk di barisan paling depan. Shanum juga melihat ada pak gubernur beserta istrinya, pak wali kota beserta istrinya juga. Beberapa orang yang Shanum yakini juga orang penting di acara ini duduk dalam barisan yang sama sepertinya.


Beberapa menit kemudian, acara pun dimulai dengan pembukaan oleh seorang pembawa acara.


Ardha diberikan kesempatan untuk mengucapkan beberapa kata diatas panggung. Dilanjut dengan pemimpin daerah lainnya.


Saat Ardha kembali ke tempat duduknya, Shanum yang sudah mulai merasa bosan pun bertanya.


"Mas, masih lama gak ini?" bisiknya.


"Kenapa?"


"Bosen mas, lama-lama ngantuk juga nih."


Ardha menepuk bahu nya, "Sini!"


Shanum menatap Ardha bingung. Ardha langsung mendorong kepala Shanum untuk menyender ke bahu nya.


"Malu mas." bisik shanum lagi.


"Sudah diam. Tidur aja kalau ngantuk." kata Ardha.

__ADS_1


Shanum yang dasarnya memang bosan mendengar kata-kata sambutan yang sudah seperti ceramah pun akhirnya tertidur.


Ardha yang melihat Shanum sudah menutup mata tertidur lelap, tersenyum kecil. Betapa cantiknya gadis ini. Apa dia tak menyadari perasaan Ardha padanya.


Setelah beberapa saat, kata sambutan susah selesai. Ardha pun membangunkan Shanum. Dia menepuk pelan pipi Shanum.


"Faresa." Shanum membuka mata, masih diam mengumpulkan nyawanya.


Ardha tertawa kecil sambil mengelus kepala Shanum. Menunggu nyawa gadis itu terkumpul sepenuhnya.


"Habis ini saya maju buat penyerahan. Kamu bangun dulu sebentar." ucap Ardha.


Shanum mengangguk, menaikkan kepalanya. Dia mengamati pembawa acara. Sudah sampai mana acara ini berjalan. Ternyata sudah akan penutupan.


Acara ditutup dengan doa dan penyerahan beberapa bantuan seperti sembako, pakaian, buku, juga uang tunai.


Setelah itu tentu saja dilanjut dengan sesi foto bersama. Ardha dan Shanum di arahkan untuk berdampingan ditengah podium.


Selepas foto, orang-orang langsung berpencar. Ada yang keluar ruangan, ada juga yang masih betah di dalam ruangan berbasa-basi dengan rekan kerja mereka.


Ardha adalah salah satu orang yang masih berada di dalam aula. Dilihatnya Ardha yang masih sibuk berbincang dengan rekannya, Shanum memutuskan untuk keluar.


Shanum melihat banyak sekali anak-anak. Mereka berusia sekitar enam sampai sepuluh tahun.


Berjalan lagi, Shanum melihat anak-anak yang sudah remaja membantu pengurus panti menyiapkan makanan untuk tamu-tamu didepan.


Ada juga ruangan balita. Betapa malangnya nasib mereka. Kehilangan orang tua mereka diusia muda. Bahkan mereka masih belum mengenal banyak hal di dunia.


Shanum merasa sangat bersyukur dirinya masih memiliki keluarga dan orang tua. Bersyukur bisa menikmati segala fasilitas mewah dari orangtuanya.


Melihat anak-anak ini hidup sendiri disini, membuat hati Shanum berdenyut sakit. Dia tak bisa membayangkan bagaimana menjadi mereka.


Shanum mendoakan mereka semua dalam hati, Semoga tuhan memberikan kebahagiaan lain kepada mereka semua. Mereka anak-anak hebat yang bisa bertahan hidup sampai di tahap ini.


Shanum merasa bangga, sedih, kasian, bahagia. Entahlah perasaannya campur aduk sekarang. Dia ingin menangis rasanya tapi juga ingin tersenyum.


Melangkah lebih jauh lagi, Shanum melihat beberapa bayi di satu ruangan tertutup. Shanum mendekat ke jendela, melihat bayi-bayi itu disana.


Apa orang tua mereka meninggal dunia? Atau mereka dibuang oleh orang tua mereka?. Kalau benar begitu, betapa jahatnya mereka. Tega sekali mereka membuang bayi tak berdosa ini.


Bahu Shanum ditepuk seseorang, ternyata itu seorang perempuan. Sepertinya pengurus tempat ini.

__ADS_1


"Anda mau melihat mereka?" tawar wanita itu pada Shanum. "Bolehkan?" tanya shanum balik.


Wanita pengurus itu menjawab, "Tentu saja boleh."


Lalu dia membuka pintu dan menyilahkan Shanum masuk kedalam.


"Dia Siena berusia empat bulan, sebelahnya Nesha berusia lima bulan setengah, dan yang paling pojok itu berusia satu bulan. Dia ditemukan di taman depan panti dua minggu lalu." jelas nya.


Disana terdapat tiga bayi. Dua bayi perempuan yang katanya berusia empat dan lima bulan. Lalu ada satu bayi laki-laki berusia satu bulan. Sungguh sangat malang nasib bayi-bayi ini.


"Dia belum memiliki nama." kata wanita itu menunjuk bayi laki-laki di pojok ruangan.


Shanum berjalan mendekati bayi itu. "Sangat lucu dan tampan. Tega sekali orang tua nya." sedih shanum.


"Anda mau mencoba menggendongnya?"


Shanum mengangguk, "Boleh kah?"


Wanita itu meraih bayi itu kegendongannya lalu menyerahkannya ke gendongan Shanum.


Bayi itu tertidur tenang, "Bolehkah aku memberinya nama?" ucap Shanum tiba-tiba.


"Anda mau memberinya nama?" tanya petugas wanita itu. Shanum mengangguk, "Kairav, aku memberikannya nama Kairav. Sangat indah seperti wajah bayi ini." jelas Shanum.


Petugas wanita itu tersenyum. Gadis didepannya ini terlihat sangat tulus dan baik.


"Baiklah mulai sekarang, namanya adalah Kairav."


"Kenapa Kairav bisa ada disini?" tanya Shanum lagi.


"Dua minggu lalu, ibu kepala bagian dapur menemukan Kairav di taman depan saat akan pergi ke pasar. Kami sudah melaporkan ke polisi untuk mencari orang tuanya. Sekarang masih dalam proses pencarian." jelasnya.


"Lalu kalau orang tuanya tidak bisa ditemukan, bagaimana nasib nya nanti." tanya Shanum lagi.


"Kami dengan senang hati akan mengurus dan membesarkan nya bersama." jelas pengurus wanita itu dengan tersenyum.


Shanum terharu, tak sangka masih banyak orang-orang tulus seperti pengurus panti di seluruh dunia yang mau membesarkan anak-anak tanpa orang tua ini.


"Dengan bantuan kalian, kami bisa membesarkan mereka semua dengan baik. Ini juga berkat kalian." Pegawai wanita itu berpikir dia juga salah satu penyumbang di acara ini. Padahal nyatanya dia hanya menemani Ardha saja.


Ahh Ardha. Shanum lupa sudan meninggalkan pria itu tadi. Apa Ardha mencarinya?.

__ADS_1


__ADS_2