My Dreamless Wedding

My Dreamless Wedding
'Kita' yang Membuat Kacau


__ADS_3

Setelah adegan penculikan beberapa saat lalu, disinilah Shanum. Di dalam mobil, duduk bersebelahan dengan Ardha.


Shanum diam sembari mendengar musik lewat Headphone warna lilac yang ia bawa. Sementara Ardha sedang sibuk dengan ipad nya.


Di mobil ini bisa diperkirakan ada sepuluh orang di dalamnya. Satu supir dengan asisten Dimas disebelahnya. Shanum yang bersebelahan dengan Ardha tentunya. Ada si cantik selebgram, Gianida beserta asistennya. Juga ada empat orang ajudan yang duduk di bagian belakang.


Ardha mencolek lengan Shanum. "Kita turun sebentar." ucap Ardha setelah Shanum menurunkan headset nya.


"Ada acara apa sih mas, kok ke kebun binatang?" tanya Shanum.


"Kita ada acara sama anak panti." bukan Ardha yang menjawab, tapi Gia yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelah Ardha.


"Ooh." Shanum tak bertanya lagi.


Ardha hanya diam, tak menyauti atau berusaha berbicara apapun. Lelaki itu hanya fokus pada ipad di tangannya.


Beberapa saat kemudian, datanglah dua bis yang berisi anak-anak. Rupanya bis tersebut yang membawa anak-anak panti.


Ada juga beberapa mobil pribadi yang mengikuti.


Mereka semua pun masuk ke mobil, dan lanjut memasuki area hewan taman safari.


Walaupun sudah berusia dua puluh tiga, tapi Shanum masih senang dan semangat kalau berkunjung ke area taman bermain anak-anak. Seperti saat ini contohnya.


Mereka sudah diberi peta oleh petugas di loket, agar bisa mengetahui rute perjalanan mereka. Dengan semangat Shanum memperhatikan peta dan jalanan.


Pertama, mereka melewati area Herbivora. Shanum tak bisa diam. Dia melihat ke jendela kanan-kiri. Karna hewannya tidak selalu ada di jendela arahnya duduk.


Ardha yang melihat tingkah shanum pun, terkekeh.


"Kamu kayak anak kecil aja." Tangannya mengusap kepala Shanum.


Kacau!! Kacau! Usaha nya melupakan dan membuang perasaannya pada Ardha yang rasanya sudah berhasil, sekarang amburadul hanya karna usapan.


"Abis nya ga pernah bosen mas, liat mereka."


Shanum gugup, jantungnya berdetak kencang. Dia berusaha terlihat biasa saja.


Mobil memasuki area Karnivora.


"Wahh seru banget kayaknya ngasih makan." Kata Shanum melihat ada orang yang menaiki mobil semacam jeruji untuk bisa memberi makan.


"Apanya yang seru, kalo mereka ngamuk kita bisa habis dimakan balik." saut Gia dibelakangnya.


"Nggak dong, masa udah di dalem besi gitu. Masih ga aman aja?"


"Terserah lah."


Rasa-rasanya Shanum sedikit tak suka dengan Gia. Bukannya apa-apa. Dia sedikit risih dengan cara bicara Gia. Dan sepertinya Gia juga tak suka pada Shanum.


Mungkin Shanum memang belum mengenal Gia, tapi first impresentnya pada gadis itu sudah tidak bagus.


"Di dalam pasti ada tempat untuk memberi makan." ucap Ardha.


Shanum mengagguk, kenapa tidak kepikiran yaa. Pikirnya.


Selesai berkeliling area hewan, mobil pun menuju ke arah parkiran. Dari sana nanti, mereka akan berkeliling dengan jalan kaki.


"Mas." panggil Shanum pada Ardha.


"Aku boleh keliling sendiri?" Shanum ingin menjejah tempat ini dengan leluasa. Lagi pun dia sedikit sungkan.

__ADS_1


"Kenapa begitu?"


"Ehmm...pengen aja." Ardha tak menjawab pertanyaan Shanum. Tapi malah menarik tangan nya untuk di gandeng.


"Kamu sama saya aja."


Ardha tampak berbicara pada Dimas, lalu menarik Shanum berjalan mendahului yang lain.


Ajudan tampak mengikuti beberapa meter di belakang mereka berdua.


"Emang gapapa gitu mas, ditinggalin gitu aja mereka?"


"Gapapa."


Shanum sempat melihat kebelakang, kearah rombongan para anak-anak, pengurus, dan beberapa rekan Ardha. Juga terlihat Gia yang sedang melihat ke arahnya dengan tatapan yang...sedikit tak suka?.


"Kamu mau kemana dulu?"


"Hah?"


"Kamu mau pergi kemana dulu?"


"Ohh, ehmm...kita ke sana aja, nanti lewat area baby zoo." tunjuk Shanum setelah melihat ke peta.


Shanum memang sudah berencana akan berfoto dengan hewan di area baby zoo. Mana berani dia berfoto dengan hewan dewasa.


Shanum memilih berfoto dengan anak singa. Anak singa itu terlihat jalan-jalan di pojok.


"Mbaknya duduk aja, jangan tegang yaa." ucap keeper.


"Okee." Shanum menunjukkan jempolnya ke arah keeper itu.


Keeper yang lain tampak menggendong bayi singa itu dan meletakkannya ke pangkuan Shanum.


"Sudah."


Keeper pun mengangkat singa kecil itu lagi.


"Saya belum foto, Faresa. Mau kemana kamu." kata Ardha saat melihat Shanum akan beranjak.


"Loh ya, foto sendiri lah mas."


Ardha menekan bahu Shanum agar kembali duduk. Ardha berdiri di belakangnya sambil sedikit menunduk.


Sekarang kepalanya berada di sebelah kepala Shanum. Keeper mengarahkan Shanum untuk mengangkat singa kecil itu sejajar dengan kepala nya.


Shanum melihat hasil foto mereka. "Ihh jelek banget yang ini. Mas Dimas ga ikhlas banget nge fotoin."


Shanum melihat fotonya saat berpose mengangkat bayi singa tadi. Di foto itu matanya sedang tertutup.


Itu aib! Ardha tertawa melihat foto itu.


"Aku kan belum siap. Kenapa keburu di foto sihh!" kesal Shanum.


"Ada yang lain kok, bagus." tenang Ardha.


"Maaf mbak." ucap Dimas.


Lalu mereka beralih ke tempat pertunjukkan Harimau. Beruntung mereka tiba tepat waktu.


Dimas yang melihat atasannya menggandeng Shanum sepanjang jalan, berinisiatif untuk memotret mereka diam-diam.

__ADS_1


Dimas yakin atasannya akan memberinya banyak bonus untuk pekerjaan dadakan ini.


"Beli minum dulu deh mas." Shanum melihat banyak stand jajan dan minuman.


Ardha mengangguk.


Mereka duduk di kursi sambil minum es yang mereka beli.


"Saya dengar, kalian pindah ke apartment yaa." Ucap Ardha tiba-tiba.


Shanum mengangguk, "Sekarang tetanggaan bertiga mas."


"Memangnya kamu ga bosen sama Denada terus?"


"Yaa engga lah mas, Dena tuh seru walau kadang nyebelin. Tapi kalau gaada dia sepi."


"Hemm."


Mereka lanjut berkeliling.


Shanum mencoba banyak permainan. Walaupun usia nya sudah bukan anak-anak, tapi kalau kata petugasnya boleh, kenapa harus malu. Shanum akan mencoba semua nya.


"Kamu mau mencoba itu?" kata Ardha menunjuk ke arah tempat gajah.


Banyak orang mengantre untuk menunggangi gajah disana.


"Hah?takut ahh, ntar jatoh gimana."


"Ga akan. Saya pegangin. Ayokk!." Ardha langsung menarik Shanum.


Kata petugasnya, untuk orang dewasa maksimal dua orang.


"Mas, janganlah udah gausah."


"Gapapa Faresa. Kamu ga sendiri. Kita naik bareng."


"Kita?" Otaknya langsung kosong memikirkan 'kata' kita yang diucapkan Ardha.


Padahal kata itu tak bermakna yang bagaimana, hanya otak Shanum saja yang tiba-tiba load.


Terlalu lama memikirkan kata 'kita', Shanum tak sadar Ardha sudah menariknya menaiki punggung gajah.


Ardha duduk dibelakang Shanum. Kedua tangannya mengulur kedepan, memegang kedua tangan Shanum.


"Gausah takut. Saya jagain."


Shanum masih diam, Ardha berpikir Shanum masih ketakutan. Nyatanya gadis itu berperang dengan pikiran dan perasaannya sendiri.


"Faresa, lihat pemandangan di depan. Tenang, kita gaakan jatuh."


Kata kita yang keluar dari mulut Ardha seakan menghipnotis Shanum.


Kata kita itu membuat kacau pikiran dan hati nya.


Kenapa? Kenapa Ardha begini?


Kalau perlakuannya begini, perempuan mana yang tidak baper?


Tak tau kah Ardha, bahwa selama ini Shanum sudah berusaha melupakannya?


Lalu dengan seenaknya, Ardha datang dan membuat semua usahanya sia-sia.

__ADS_1


Kalau begini, apa Shanum yang salah mengartikan? Atau memang Ardha sengaja membuatnya jatuh cinta?.


__ADS_2