
Kegiatan pertama dihari ketiga ini adalah Snorkeling. Shanum sangat tak bersemangat pagi ini. Dikarenakan dia adalah satu-satunya jiwa yang tidak punya bakat berenang disini.
Didalam mobil menuju ke tempat mereka snorkeling membutuhkan waktu tiga jam lebih dua puluh menit. Cukup jauh mengingat hotel mereka dipusat kota.
Lagi-lagi hanya para anak muda yang bersnorkeling, sementara kedua orang tua Dena memutuskan pergi kepasar dan berbelanja seafood.
"Udahlah Num, ntar dicoba aja dulu. Kalo gabisa yaa gausah lanjut. Lo diem aja di kapal." Kata Dena.
"Ga bisa apa ganti jadwal?"
"Gabisa-gabisa apaan lo, masak lo doang yang ga bisa renang mesti ngorbanin banyak orang." kata Velia. Shanum memejamkan mata berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup kencang.
Shanum berharap perjalanan kali ini bisa diperlambat kalau bisa semoga saja macet disepanjang jalan. Tapi harapannya sama sekali tak terkabul. Malah jalanan yang mereka lalui terlihat sangat lenggang.
Setelah sampai, dengan semangat Dena dan Velia langsung menuju pusat snorkeling dan menyewa peralatan.
Sementara Shanum berjalan lambat dengan lesu menundukkan kepalanya.
"Udah gapapa, kalo takut tunggu aja dikapal. Kalo kamu mau saya bisa jagain kamu Faresa."
Yahh siapa lagi kalau buka Ardha yang lagi-lagi membuatnya terkejut. Apa katanya tadi?mau menjaganya?demi apa?tolong katakan padanya kalau Ardha hanya bercanda.
Setelah mengganti baju renang dan memakai peralatan, mereka semua menaiki kapal untuk menuju ketengah laut.
Selama kapal bergerak, Shanum merasa jantungnya semakin berdegup kencang. Perutnya terasa mual saking gugupnya. Kedua temannya malah tak terlihat seujung rambut pun saat dibutukan.
Malah Ardha yang datang menghampirinya, "Masih takut?" tanyanya sambil mengambil tangan kiri Shanum untuk digenggam.
Anehnya bukannya tenang malah jantungnya semakin tak karuan, "Mas udah mas, bukannya bikin aku tenang, mas malah bikin aku makin deg degan." kata Shanum sambil menarik tangannya.
Ardha terbahak mendengar Shanum. Niatnya yang menenangkan gadis itu, malah dibuat ngakak oleh pernyataannya. Shanum memang tak bisa bersikap malu-malu didepannya. Selalu saja ceplas ceplos dan apa adanya. Tak apa, Ardha suka Faresa-nya yang seperti itu.
"Kata guide tadi, nanti kita bisa lihat penyu disana. Kalo kamu udah turun nanti fokusin pikiran kamu kepemandangan bawah lautnya, liat ikan atau lenyu disana. Jangan fokus sama ketakutanmu yang ga bisa renang itu." Shanum mengangguk mengerti mendengar Ardha.
Tapi walaupun begitu hatinya tak bisa langsung tenang. Memang selalu teori lebih mudah dari pada prakteknya.
Tak beberapa lama, Kapal pun berhenti. Itu menandakan mereka sudah sampai di lokasi snorkeling.
Terdengar bunyi air disamping kapal. Shanum menengok kebawah, ternyata teman-temannya sudah lebih dulu turun.
__ADS_1
"Yukk, kamu bisa faresa!" Ardha menyemangatinya.
Menarik nafas dalam-dalam, Shanum akhirnya berani menceburka diri kebawah. Saat dia panik naik keatas permukaan, terasa ada tangan yang memegang pinggangnya menarik keatas.
Ternyata Ardha yang melakukan itu, "Udah mas, kayaknya aku gabisa deh."
"Faresa, liat itu ada penyu disana." tunjuk Ardha kesebalah kiri nya.
"Fokus menikmati keindahannya, aku pegang kamu disini." Ardha berusaha menenangkan.
Akhirnya siang itu, Shanum berenang dengan Ardha yang memegang tangannya. Mengajaknya keliling sekitar kapal.
Disana dia bisa melihat ikan, kerang, terumbu karang, penyu, ikan pari dan lainnya. Sungguh memang rugi kalau tadi dia memilih diam menunggu diatas kapal.
Ingatkan Shanum untuk berterimakasih kepada Ardha nanti. Sementara Dena dan Velia yang sengaja membiarkan Shanum bersama Ardha hanya melihat dari kejauhan bagaimana sepasang manusia itu berinteraksi.
Setelah empat puluh menit snorkeling. Mereka akhirnya naik ke kapal dan bersiap kembali ke pantai.
Malamnya semua orang berkumpul ditaman outdoor hotel. Mereka menyewa peralatan barbeque. Malam ini mereka berencana makan Seafood yang dibeli oleh Diana dan Fero tadi siang.
Mereka membeli lima kilo masing-masing udang dan kerang. Sepuluh ekor kepiting dan lima belas ekor lobster. Malam ini mereka benar-benar akan pesta seafood.
Setelah matang semua, mereka duduk bersama untuk memulai pesta seafood malam ini.
Ardha yang duduk disamping Shanum, membantu mengupas kulit udang untuknya. Dia juga mengupas kepiting dan lobster untuk shanum.
Bagaimana Shanum bisa tenang dan tak salah sangka pada Ardha kalau kelakuannya sangat manis begini.
Lama-lama Shanum bisa diabetes kalau begini.
Dena berdehem, "Kalo suka yaa bilang lah, masih jaman apa diem-diem begitu?"
Yang lain hanya melirik, Shanum merasa malu walaupun kalimat itu bukan ditujukan untuknya. Sementara Ardha, sasaran kalimat yang diucapkan Dena malah tak acuh sama sekali dan terus fokus mengupas lobster.
"Mas, aku bisa sendiri kok." bisik Shanum.
"Yaudah." jawab Ardha.
Ardha pun berhenti mengupas untuk Shanum. Shanum akan mengambil udang, tapi tatapannya membelalak kaget melihat piringnya yang sudah penuh.
__ADS_1
Pantas saja Ardha berhenti mengupas, piringnya saja sudah penuh. Kemana saja pikiran Shanum sedari tadi sampai tak sadar piringnya sudah terisi penuh.
🕊🕊🕊
Saat ini di kamar, lagi-lagi para gadis duduk melingkar.
"Gimana, lo udah percaya?" tanya Velia.
"Gue emang notice perlakuan dia ke gue yang beda akhir-akhir ini." terang Shanum.
"Bukan akhir-akhir ini doang, cuma akhir-akhir ini yang lo perhatiin, sebenernya dia udah begitu dari lama. Cuma lo nya aja yang ga sadar." tambah Dena.
"Masa sih gaes?emang gue notice tapi gue rasa dia begitu ga ada rasa suka ke gue. Yah kaya ke adek nya aja maybe."
"Mana ada ke adeknya begitu, lo pernah liat ga dia begitu ke Dena?" tanya velia lagi.
Shanum menggeleng, Dena juga menggelengkan kepala.
"Boro-boro begitu, gue minta anter ke kampus aja dulu kaga mau, ehh malah nganterin lo ke kantor."
"Tapi gue gamau kepedean anjing, ntar gue kek kesannya ngarepin dia banget dah."
"Engga lah Shanum tolol, lo ini yaa susah amat sih dibilangin." kesal velia.
"Ahh udahlahh terserah, mau ama dia alhamdulillah ga sama dia juga it's okee no problem. Gausah ribet udahh." putus Shanum.
Pada akhirnya mereka menonton drama korea tentang perselingkuhan didalam pernikahan.
"Gila tuh laki gaada rasa sukurnya sama sekali sah, bininya udah cantik masih aja selingkuh."
"Bininya juga kenapa ga langsung labrak aja sih."
"Ga seru lah kalo langsung labrak, mesti nunggu momen biar seluruh bumi bergetar liat pembalasan istri sah."
"Murahan banget itu *****, gaada cowo laen apa suami orang dikekepin. Mana udah tua lagi tuh laki. Sok ganteng banget dah."
"Itu namanya sugar daddy."
Setelah jam menunjukkan pukul satu dini hari waktu setempat, akhirnya mereka pun tidur.
__ADS_1