
Fareshanum_
1.490.352 suka 599.320 komentar
Fareshanum_ Aku siapa?
NaDenadaa Gajelas bat lo
Fareshanum_ Apasih lo!
NadhiaFi Aaa beneran nikah ternyata
Veveliaa Cie mau merried
Fareshanum_ 🥲
GeeWaa Kapal Arsha kita berlayar guys!
CeceRea Selamat yaa kak
Ardhewangga_ Calon istri saya🤍
Fareshanum_ 😭
FirmanZa Aduhhh Aduhhh
Vivi Pelan-pelan pak Dewa
Shanum menatap tak percaya, melihat balasan Ardha di komentar postingannya.
Shanum menatap foto prewed nya berulang kali. Dia masih tak percaya, sebentar lagi mereka akan menikah.
Dia akan menikah dengan laki-laki yang membuatnya tak bisa tidur selama berminggu-minggu. Laki-laki yang sudah membuat perasaannya campur aduk tak menentu.
Dia adalah laki-laki yang ia kenal lima tahun lalu saat masih tahun pertama kuliah. Laki-laki yang ia kenal sebagai kakak dari sahabatnya, Dena. Shanum tak menyangka bahwa laki-laki itulah yang kelak menjadi suaminya. Orang yang akan terus menemaninya sampai seterusnya.
Shanum berharap, Ardha adalah laki-laki yang memang ditakdirkan tuhan untuknya. Dia mau menikah sekali untuk seumur hidupnya.
Keesokan harinya, berita di internet semakin menjadi-jadi. Banyak wartawan berada di depan gedung apartmentnya. Alhasil Shanum tak bisa pergi keluar.
Rekan dan atasan kantornya, yang mengerti situasinya saat ini. Memberikan Shanum kesempatan cuti selama tiga hari. Nanti selama tiga hari itu, Shanum akan memikirkan cara pergi kerja tanpa harus meladeni para wartawan dibawah.
Shanum pergi ke unit velia sekarang, dia sangat bosan berada di dalam unitnya sendirian.
"Lemes amat lo."
"Bosen gueeee..." Shanum merengek sambil menghentakan kakinya.
"Ehh...jangan ngamuk disini dong."
Shanum menghelas nafas, sahabatnya ini tidak ada rasa simpati sama sekali padanya.
"Nikmatin aja lahh, bentar lagi lo merried kan. Ntar lo juga mesti ngadepin kamera. Mau gamau yah mesti terbiasa lah."
"Iyaa juga ya. Gak sekarang pun ntar gue pasti di kejar-kejar wartawan."
Velia mengangguk.
"Haishh, kenapa mesti nikah sama menteri sih. Males banget deh."
"Lagian lo udah sering nge-youtube masih aja panik kalo ada kamera."
"Ya beda lah nyet! Kamera buat nge-youtube kecil. Kamera berita tv tuhh gede. Gue ngeri!"
"Lah gimana sih lo."
"Pokoknya beda. Gue gamau masuk tv."
"Yaudahh ngapa lo marah nya ke gue."
"Kita bikin konten aja lah, berdua."
"Konten apaan?"
"Mukbang samyang yukk." ajak Shanum.
"Boleh bolehh, sambil nonton yaa."
"Tapi gue gaada kamera, mau pake hp?"
"Ada gue, kamera kecil gatau gue namanya. Bentar gue ambil dulu." Shanum berlari menuju unitnya untuk mengambil kamera yang dia maksud.
"Lo ada bahan apa aja?"
"Gue kemaren baru belanja, jadi lengkap deh. Telor ada, sayur juga ada. Ohh kemaren gue beli gurita juga sama sosis."
"Wihh mantep tuh."
Shanum mengatur kamera menghadap ke dapur.
__ADS_1
"Haii everyone, it's me Shanum. Aku disini bersama..."
"Veliaaa..."
"Kali ini kita cuma berdua, gaada Dena. Karna dia lagi kerja yahh. Ntar kita buat konten bertiga di lain waktu."
"Kita sekarang ada di unitnya velia nih, karna aku gabisa kemana-kemana jadi kita mau bikin konten mukbang ajah."
"Mengusir kebosanan, juga melampiaskan rasa jengkel gue yahh guys."
"Okee sekarang kita berdua bakal bagi tugas, gue mau buat samyangnya. Shanum bakal olah sosis, telur, sama guritanya."
Mereka melakukan tugas masing-masing sambil mengobrol ringan. Setelah itu, mereka menata semua makanan di meja depan televisi.
"Pilih film apaan yaa?"
"Film horor aja lahh."
"Apa judulnya."
"Ada film baru, judulnya sewu dino. Coba cari ada gak."
"Ntar."
Setelah beberapa saat mencari, ternyata film yang mereka inginkan ada dan siap untuk di tonton.
"Kita bakal makan sambil nonton yaa guys. Lampunya bakal kita matiin yang sebelah sini."
Shanum mematikan lampu bagian depan tv. Juga menutup tirai. Tapi masih terdapat cahaya dari arah dapur.
Mereka berdua memulai acara mukbang plus nonton film horor.
"Ngeri banget eyy."
"Gilak gue jijik banget Num. Lo milih film apaan sih."
"Ya mana gue tau ada begituannya."
"Duh ga selera makan gue."
Mereka sampai pada scene seorang gadis bernama Sri yang membasuh tubuh wanita tua dengan penuh luka di tubuhnya.
"Huekk!"
"Duhh gajadi makan dah gue." sewot Velia.
"Skip dulu lah." ucap Shanum.
"Makan dulu, Lanjut ntar film nya. Seru sih, tapi ga cocok buat tontonan orang makan." tambah Velia.
"Kasian banget sih tu cewe."
"Mana ga bisa kabur lagi."
"Aaaa..."
"Anjing!" kaget mereka berdua.
"Tiba-tiba bangun aja sihh. Putus ga tangannya?"
"Ngga kayaknya."
Shanum menonton sambil menutup wajahnya dengan bantal sofa, sementara Velia memilih berlindung di belakang guling dalam pelukannya.
Mereka berdua terus menikmati film sampai hari menjelang malam.
"Kasian, ngeri, jijik juga gue."
"Tapi bagus banget sih. Ga banyak jumpscarenya. Tapi bikin greget."
"Ngeri ya kalo masalah santet begitu."
"Heeum. Tapi akhirnya si Dela selamat juga."
"Yaa kan film nyet! Pasti endingnya dibikin selamat orang dia pemeran utama nya."
Shanum menyengir, "Hehehe iya juga yaa."
"Ehh Num, lo nginep dong disini."
"Hah?"
"Gue bosen gaada temennya."
Shanum memicing curiga, "Lo takut yaaa..."
"Engga yaa."
"Takut kan lo...Ngaku!" tunjuk shanum pada Velia.
"Ngga!mana ada gue takut. Cuma gue tuh bosen sendiri."
__ADS_1
"Sejak kapan lo bosen sendiri, biasanya lo happy-happy aja."
"Yaaa pokoknya lo temenin gue."
"Ehmm..." Shanum berpose seperti berpikir.
Saat Velia akan berucap lagi, terdengar bunyi dari handphone Shanum.
"Yaa halo."
"Haa?ohh aku lagi di unitnya Velia. Bentar otw pulang." ucap Shanum.
"Siapa?" tanya Velia.
"Mas Ardha."
"Ishh lo mahh." Velia menahan Shanum yang beranjak berdiri.
"Hahaha lo penakut banget sih."
"Temenin guee dong."
"Apa kata ntar lah."
"Lo mahh gituuu." rengek Velia.
"Iyaa iyaaa ntar balik lagi gue." putus Shanum.
Shanum berlari keluar sambil tertawa.
Ardha sudah menunggu di depan pintu unitnya.
"Kenapa?" tanya Ardha saat melihat Shanum yang tertawa.
"Gapapa. Kok tiba-tiba kesini?"
"Ngecek keadaanmu."
Shanum mengangguk membulatkan mulutnya. "Ooh."
"Kamu ga nyuruh saya masuk?"
"Oh aa iyaa. Silahkan." Shanum membuka pintu unitnya.
"Mas mau minum apa?"
"Gausah. Sini duduk sama saya."
Shanum bergerak ragu kearah sofa yang di duduki Ardha.
"Kenapa mas?"
Ardha mengulurkan tangannya kearah belakang Shanum. Jemarinya bergerak mengelus kepala belakang Shanum.
"Kamu baik-baik aja?"
Shanum tertegun dan mengangguk kaku, "Ehm iyaa."
"Saya sudah buat pengumuman untuk mengonfirmasi berita itu. Jadi kemungkinan besok mereka sudah tidak mengejarmu."
"Syukur dehh kalo gitu, aku bisa kerja besok."
"Maaf yaa."
Shanum menggeleng, "Engga, bukan salah mas kok."
Ardha tersenyum menatap Shanum intens, "Setelah menikah nanti, kamu tetap mau kerja?"
"Aku emang mau nya kerja, bosen juga kalo diem di rumah."
"Saya bisa kasih kamu kesibukan di rumah."
Shanum menatap Ardha bingung, "Kesibukan?apa?"
Masa gue di suruh bersihin rumah tiap hari, bisa-bisa gue jadi emak-emak berdaster ntar. Batin Shanum.
"Mengurus anak, maybe." bisik Ardha.
Shanum memukul dada Ardha, "Mas!"
"Apa? Memangnya ada yang salah?"
"Masih terlalu jauh buat bahas anak."
"Kenapa terlalu jauh? Kita kan bakalan nikah bulan depan."
"Yaa tapi kan...pelan-pelan dong mas. Aku aja masih syok, rasanya ga percaya bakal nikah bulan depan. Kamu malah udah ngomongin anak."
Ardha menarik Shanum kedalam pelukannya.
"Okee kita bicarakan pelan-pelan. Tapi nanti saya ga mau menunda karna alasan kerja."
__ADS_1
"Saya ijinkan kamu bekerja setelah menikah. Begitu kamu hamil nanti, saya mau kamu sadar diri dan berhenti kerja sendiri tanpa harus ada perdebatan."
Shanum mengangguk, "Deal."