My Dreamless Wedding

My Dreamless Wedding
Demam BerCyanDaaa


__ADS_3

"Mass!mas Ardha!"


Ardha yang mendengar suara istrinya langsung menoleh dan menemukan istrinya yang melompat-lompat riang seperti anak kecil.


Ardha terkekeh sambil merentangkan tangannya memeluk Shanum. "Kayak anak kecil."


Shanum mendongak dalam pelukan Ardha sambil mengerucutkan bibirnya.


"Kangen gak?" tanya Ardha.


Shanum memperagakan jari telunjuk dan jempol yang menempel, "Sedikit."


"Masa sih?"


Shanum mengangguk mencoba meyakinkan.


Ardha langsung melepaskan pelukannya dan berjalan meninggalkan Shanum. Dia yang sudah merasakan rindu menggebu-gebu dan tertahan beberapa hari kemarin kesal karena istrinya tak merasakan hal yang sama.


Shanum yang melihat suaminya ngambek pun tertawa tertahan. Berlari mengejar dan menggenggam tangan suaminya.


"BerCyandaa BerCyandaaa."


Ardha cengo melihat istrinya. Pasalnya dia tak paham konsep guyonan yang sedang istrinya lakukan.


🕊🕊🕊


Di sore harinya Dena dan ibu mertua Shanum datang berkunjung. Para wanita itu duduk santai di sofa ruang tengah yang langsung menghadap ke kolam di samping rumah. Sambil menikmati pemandangan senja, mereka berbincang ringan.


"Gimana Num sama Dewa?" tanya Diana.


"Alhamdulillah lancar mi."


Shanum masih sedikit canggung karena perubahan status hubungan mereka. Semulanya yang hanya berteman dengan anaknya sekarang malah jadi menantu.


"Kamu ga ada keluhan atau mau nanya-nanya gitu?"


"Ehm buat sekarang kayaknya gaada."


"Yasudah kalo begitu. Tapi kalo ada jangan sungkan-sungkan yaa."


Shanum mengangguk mengiyakan. Shanum kira pertanyaan akan selesai sampai disitu. Tapi ternyata...


"Setiap hari masak?" tanya Diana lagi.


"Ndak mi."


'Masa iya tante Diana berubah jadi mertua jahat kayak di tiktok abis gue nikahin anaknya.' batin Shanum.


"Trus kamu bersih-bersih rumah?"


Shanum menggeleng.


"Nyuci?setrika?"


Shanum menggeleng lagi. Dalam hatinya sudah takut kalau sebentar lagi akan terkena omelan khas mertua pada menantu yang enak-enakan santai sementara anaknya kerja keras banting tulang bagai unicorn.


"Trus kamu ngapain aja biasanya?"


"Ehm...cuma nyiapin keperluan mas Ardha aja sih mi."


Diana mengangguk kecil, "Bagus."

__ADS_1


"Ha?" Shanum kira ia akan diterjang omelan.


"Kamu cuma perlu ngelakuin hal-hal spesifik yang menyangkut suamimu. Untuk pekerjaan rumah biar art aja." ucap Diana.


Shanum mengangguk paham.


Diana lantas melirik kearah anak perempuannya, Denada. Sedari tadi anaknya itu sibuk melihat handphonenya.


"Ada apa sih di hp mu ituu?" kata Diana sembari memukul kecil paha anaknya.


"Aduhh mami ganggu aja. Orang lagi enak-enaknya."


"Sibuk sendiri trus kamu ituu, yaa syukur kalo kesibukannya jelas. Lah kamu ini sibuk scroll tiktok terus."


"Namanya juga anak muda mi." sanggah Dena.


"Shanum udah nikah, kamu kapan?"


"Ntar dulu lah mi."


"Kamu tuh kan udah banyak keliling daerah. Masa gaada yang nyantol sih?"


"Kan niatnya liburan bukan nyari cowo." ucap Denada.


"Gausah buru-buru napa mi. Nih liat Shanum, udah nikah semedi trus di rumah. Gamau ahh aku ntar kalo nikah ga bisa travelling lagi."


"Nikmati masa muda ini, sebelum jadi istri orang!" jawab Denada dengan nada seperti sound tiktok. Denada sengaja mengatakan hal itu untuk menyindir Shanum yang sudah menikah.


"Kamu belanja pake uang sendiri?mana paten. Pake uang suami lahhh. BerSyandaa BersYandaaa." balas Shanum.


Diana yang melihat keduanya hanya geleng-geleng kepala. Tidak anak tidak menantu sama-sama demam tiktok. Diana berdiri dan berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.


"Gapapa pake uang sendiri yang penting bebas dugem. BercYandaaa BerCyandaaa." balas Denada lagi.


Selama sepuluh menit kedepan mereka berdua terus saling membalas sampai Diana kembali dengan membawa camilan dan minuman bersama dengan Ardha.


Ardha mendudukan dirinya di samping sang istri yang masih sibuk membalas adiknya, Denada.


Walaupun mereka saling membalas, tapi Ardha tau bahwa mereka berdua ini hanya saling bercanda saja. Selama kenal lebih dari lima tahun, Ardha belum pernah mendengar atau melihat mereka berdua bertengkar.


Denada mengambil hp nya dan mulai membuat konten tiktok.


"Kalian pengantin baru langsung honeymoon?mana paten. Nih kakak-kakak ipar gue. Pengantin baru di tinggal dinas. Cuaksss!" kata Diana.


"Masih mending gue ditinggal dinas buat kerjaan, lah dia ditinggal dinas buat liburan sama selingkuhan. Cuakssss." balas Shanum.


Pernah waktu masih ditahun awal kuliah, Denada masih menjadi anak polos yang gampang jatuh cinta dan mau-mau saja diajak pacaran.


Denada menjalin hubungan dengan laki-laki yang baru lulus kuliah dan baru diterima kerja saat itu. Beberapa bulan setelah menjalin hubungan, laki-laki tersebut berkata pamit pergi dinas keluar kota karena tugas dari kantornya.


Saat itu, Dena dan Shanum sedang berlibur ke bali. Ehh kok ternyata malah mereka bertemu di gerbang hotel daerah Seminyak waktu itu. Si cowo ini bergandengan tangan dan bersikap seperti suami istri yang tinggal di satu kamar yang sama dengan seorang cewe yang Denada tidak kenal.


"Ahh lu mah, suka buka kartu." ambek Dena.


"Lahh elu juga anjir."


"Yang!" saut Ardha. Shanum lupa kalau sekarang ini bukan hanya ada dirinya dan Dena tapi juga ada suami dan menrtuanya.


"Maap mas, keceplosan."


"Udah-udah buat lagi, sekarang yang bercyanda itu yaa."

__ADS_1


"Okee, ngomong apaan gue?"


"Terserah, pikir dulu deh boleh."


Shanum berpikir, kata-kata apa yang bagus untuk dibuat konten mereka. Sebenarnya banyak ide yang muncul di otaknya. Masalahnya adalah didepan dan sampingnya ada mertua dan suami yang memantau. Jadi Shanum harus memilah sekiranya konten yang mereka buat tidak terkesan urakan dan masih pantas.


"Udah blom, kelamaan lu."


"Sabarr napa, lu mikir juga lahhh."


"Iyaa gue udah kok."


"Yaudahh sini gua videoin lu dulu ayok!"


"okehh." Denada langsung merapikan baju dan rambutnya agar tidak terlihat jelek di hasil videonya.


"Ada timbangan ga sih disini?ambilin napa." tanya Dena.


"Buat apaan?"


"Udah bawa sini aja dulu."


Shanum mendengus, kurang ajar sekali Denada ini menyuruh-nyuruh dirinya.


Setelah mendapat apa yang diinginkan yaitu sebuah timbangan, Denada lantas mengambil sebungkus jajan dan membukanya.


"Alahh lo mau buat konten yang janji ga makan camilan itu?" tebak Shanum.


Denada mengangguk, "Udah ayok jangan banyak bacod. Shoot timbangannya dulu baru naik."


Shanum memberikan jempol untuk menyauti Dena.


Dena berpose cemberut sambil melihat angka yang ada di timbangan. "Besok gausah makan jajan lagi!" ucapnya sambil membanting bungkus jajan keatas meja.


Tapi dia malah berbelok ke dapur dan mengambil piring berisi steak yang sudah disiapkan sebelumnya. "BerCyandaaa BercYandaaa."


"Ribet amat lo." ucap Shanum.


"Biarin."


"Lo mau buat dimana?" tanya Dena.


"Sambil duduk aja, gue ga ribet kaya lo."


"Nyenyenye."


Sekarang Shanum sudah duduk manis disebelah Ardha bersiap-siap memulai aksinya.


"Mau ngapain?" tanya Ardha.


"Buat konten mas bentar, kamu ga perlu ngapa-ngapain cuma diem aja kok. Bisaa yaa jangan rewel, bentarr ajaa."


"Yukk Den."


"Okeee 1...2...3."


"Sok cantik sok cantik, Lahh emang gue cantik. Buktinya, gue bisa dapet sugar daddy!" Shanum berpose sandaran pada dada Ardha dan mengelusnya sedikit.


Ardha yang mendengar kalimat istrinya langsung melotot, dia dibilang sugar daddy.


"BercYandaaa BerCyandaaa." Shanum tidak bisa menahan tawanya melihat ekspresi suaminya.

__ADS_1


🕊🕊🕊


__ADS_2