My Dreamless Wedding

My Dreamless Wedding
Faresa Hilang


__ADS_3

Karena sibuk menanggapi para rekan nya, Ardha sampai lupa kalau dia membawa Shanum bersamanya.


Saat melirik kearah tempat duduknya tadi, Shanum sudah tidak ada.


Ardha terkejut, melihat kesana-kemari mencari keberadaan Shanum. Tapi tampaknya gadis itu sudah tidak ada di dalam ruangan.


Ardha pamit pada rekannya, keluar ruangan.


"Pak." Dimas menghampiri atasannya yang terlihat kebingungan dan gelisah.


"Mana Faresa?" tanya Ardha.


"Bukannya mbak Faresa sama bapak tadi di dalam?"


Ardha kesal, "Kalau dia sama saya, saya ga tanya kamu!"


Dimas menggaruk leher belakangnya yang tak gatal. Sepertinya atasannya ini dalam mode senggol bacok. Tak bisa diajak santai sedikit, maunya serius 103%.


"Kenapa kamu panggil Faresa?" tanya Ardha.


Dimas bingung, apa maksud Ardha ini.


"Panggil dia Shanum, bukan Faresa!"


Ohh itu ternyata maksudnya. Dia harus memanggil gadis itu Shanum seperti nama panggilan seharusnya. Hanya atasan nya saja yang boleh memanggil gadis itu Faresa. Bilang dong pak! Jangan marah mulu, jerit Dimas di dalam hati. Mana berani dia berteriak di depan Ardha.


"Mungkin mbak Shanum lagi keliling pak." kata Dimas mencoba menenangkan Ardha.


Ardha masih melihat seluruh sudut halaman panti mencari Shanum dari tempat dia berdiri sekarang. Lalu menatap Dimas.


"Trus kenapa kamu disini? Cepat cari sana!" perintah Ardha.


"Kalau dia ga ketemu, jangan harap kamu bisa dapat bonus bulan ini!" ancamnya pada Dimas.


Wahh, tidak bisa dibiarkan. Dia harus segera menemukan Shanum demi kelancaran bonus nya bulan ini. Rencana membeli ****** ***** limited edition dari kolaborasi artis idolanya tidak boleh gagal, Pikir Dimas.


Mereka berpencar, Dimas juga memerintahkan ajudan yang lain untuk ikut mencari Shanum.


🕊🕊🕊


Lima belas menit sudah berlalu, Ardha sudah mencoba berbagai cara untuk menemukan Shanum. Mulai dari menelfonnya, mengirimkan pesan, bahkan sampai mencari ke mobil. Siapa tau gadis itu bosan dan memilih tidur di mobil. Tapi ternyata sampai sekarang gadis itu masih tidak diketahui keberadaannya.


Salah satu ajudannya menghampiri Ardha, "Pak, mbak Shanum ada di ruang bayi gedung sebelah barat."


Ardha yang mendengar itu, langsung saja mengambil langkah lebar dan cepat menghampiri Shanum.


Pantas saja gadis itu tidak bisa dihubungi, ternyata sedang menjalani peran sebagai pengasuh bayi.

__ADS_1


Ardha menghela nafas lega setelah melihat gadis itu ada di dalam sana.


Dilihatnya Shanum yang sedang menggendong bayi membelakanginya dari jendela.


Badannya bergerak kekanan-kekiri menimang bayi di dekapannya. Shanum sudah seperti ibu betulan. Ardha yakin gadis itu bisa merawat anaknya dengan baik nanti.


Nanti, bukan sekarang. Kalau sekarang biar dulu dia menikmati masa senang-senang nya terlebih dulu.


Ardha mengetuk jendela, Shanum menoleh kaget. Dia meletakkan bayi itu ke tempat tidur dengan hati-hati. Meraih tas nya di sofa dan keluar dari ruangan.


"Faresa, bisa-bisanya kamu tenang bersembunyi di dalam sana. Sementara saya kalang kabut mencarimu kemana-mana!" ucap Ardha.


Shanum tersenyum menunjukkan gigi nya, "Maaf yah mas, lupa."


Ardha menarik tangan Shanum berjalan menjauh dari ruangan. "Kita basa-basi dulu, habis itu langsung pulang."


Ardha mengarahkan tangan Shanum untuk melingkari lengan kirinya. "Biar kamu bisa salaman kalau ada yang nyapa, jadi kamu gandeng saya begini. Awas kalau kamu hilang lagi!"


"Iyaaa."


Ardha menyapa beberapa kenalannya. Sementara Shanum didekati istri dari kenalan Ardha. Mereka sedikit menjaga jarak dari para lelaki.


"Ini mbak-mbak yang di berita kemarin itu kan?" tanya salah seorang istri kenalan Ardha.


Shanum tersenyum kaku.


"Nggak juga kok Bu." jawab Shanum dengan senyum terpaksa.


'Dasar ibu-ibu tukang gosip' kata shanum didalam hati.


"Katanya mau nikah yaa, wahh jangan ditunda lama-lama nanti keburu direbut cewe lain!"


"Sekarang kan banyak pelakor-pelakor genit." lanjut ibu-ibu lainnya.


"Hehehe iyaa bu." jawab shanum ramah.


'Banyak bacot amat sih lo' Lain di hati lain di mulut.


"Trus pas sudah nikah jangan nunda punya anak, ntar suami nya selingkuh kalo kelamaan gapunya anak." ajar ibu itu pada Shanum.


"Masih belum terfikir kearah sana bu. Masih fokus kerja." jawab Shanum.


'Lo pikir punya anak gampang apa!'


🕊🕊🕊


Setelah pembicaraan dengan ibu-ibu tukang gosip tadi yang menguras tenaga, Ardha mengajaknya untuk pulang.

__ADS_1


Senang sekali rasanya terbebas dari para wanita penggosip yang bisanya nyinyir aja. Shanum juga suka menggosip dengan Dena tapi tidak mereka tidak sampai di level seperti ibu-ibu tadi.


Omong-omong tentang Dena, Shanum tak memberi tau gadis itu kalau sekarang dia sedang pergi dengan Ardha.


Kira-kira kalau nanti Dena tau, bagaimana responnya ya. Apa Shanum akan diejek olehnya, atau responnya biasa saja.


Tapi yang pasti Dena akan menceritakan kelada Dena pengalamannya hari ini. Mereka selalu berbagi cerita apapun tanpa merasa malu atau sungkan. Jadi walau nanti dia menerima godaan atau ejekan tak apalah. Shanum ikhlas.


Mobil berhenti didepan restoran jepang. Ardha mengajaknya makan siang menjelang sore.


Ardha memesan berbagai menu sushi. Shanum sebagai rakyat yang di traktir diam menurut. Dia akan memakan apa yang dipesan oleh Ardha saja.


"Kenapa?" tanya Ardha melihat Shanum.


"Hah?emang aku kenapa?" tanya Shanum balik.


"Tadi wajahmu terlihat kesal, apa ada yang mengganggumu di acara tadi?"


"Ohh nggak, cuma ibu-ibu rempong yang sok ceramahin hidup orang aja." kata Shanum.


"Memangnya apa yang dilakukan?"


Shanum menghela nafas, "Awalnya dia nanya berita kemarin, trus katanya kita mesti cepet nikah. Kalo ngga ntar keburu direbut pelakor."


"Sibuk banget ngurusin hidup orang, mending jagain aja suaminya sendiri. Sibuk nyinyirin suami orang ehh malah suaminya yang kecantol pelakor." oceh Shanum.


"Trus katanya lagi, habis nikah disuruh cepet-cepet punya anak, kalo nggak ntar suaminya bisa selingkuh. Apaan coba, dikira dia cari suami trus ngurus anak gampang apa. Nyebelin banget."


"Yaudah gausah di dengerin." kata Ardha.


"Mas pikir aku budeg, ya jelas ga bisa lah." emosi Shanum.


"Sudah-sudah, kesalnya ke siapa kok marahnya ke saya."


"Hehehe maaf mas, ga sengaja." ucap Shanum. Bisa gawat kalau Ardha marah, nanti bisa-bisa dia ditinggalkan disini sendiri. Bagaimana kalau ada orang jahat yang menculik gadis cantik nan imut sepertinya. Ihhh seram.


"Kamu berencana menikah di usia berapa Faresa?" tanya Ardha tiba-tiba.


"Ehmm sebenernya dari SMA aku pengen nikah pas umur 23." jawab Shanum.


Ardha mengerutkan dahi, "Bukannya sekarang ini kamu sudah 23?"


Shanum mengangguk, "Baru desember kemarin sih aku 23, tahun ini kan masih panjang mas, hilal jodohku juga belom keliatan tuh dimana. Bisa jadi ntar diakhir tahun kan gaada yang tau."


Ardha terdiam, bukankah itu artinya gadis didepannya ini mengkodenya kalau dia sudah siap menikah?.


Setelah itu datanglah makanan-makanan yang dipesannya. Mereka makan dengan tenang dan damai.

__ADS_1


__ADS_2