
Sudah dua minggu berlalu dari acara panti asuhan yang lalu.
Di akhir pekan ini Shanum berkeliling mall, dia akan berbelanja. Self Reward nya bulan ini.
Shanum memilih belanja beberapa make up di store KKV. Di sana terdapat banyak sekali jajaran barang-barang dan make up lucu.
Shanum adalah salah satu kaum yang bisa kalap membeli banyak barang lucu. Padahal yang dibelinya belum tentu berguna bagi kehidupan bangsa dan dompetnya.
Total belanjanya kali ini mencapai lebih dari satu juta. Shanum menahan nafas melihat panjang nota di tangannya. Cukup membuang uang. Tapi tak apa, ini adalah hadiah untuk dirinya karna sudah bekerja keras bulan ini.
Menenteng paperbag berwarna kuning khas store itu ditangan kirinya melangkah menjauhi store.
Handphonenya berdering.
Terpampang nama Denada di layarnya.
"Halo!" sapa Shanum saat menjawab panggilan Dena.
"Lo dimana, gue udah di resto nya." ucap Dena.
"Yaa iyaa gue otw nih."
Hari ini memang Shanum memiliki janji dengan Dena dan Velia. Kebetulan Velia sedang berada di Jakarta, jadi mereka menyempatkan waktu untuk berkumpul.
Memasuki restoran western di mall, Shanum bisa melihat kedua temannya sudah menempati tempat duduk di pojok. Tempat favorite mereka.
"Lama banget sih lo!"
"Yaelah Den, gue belom juga duduk. Tawarin minum dulu kek." ucap Shanum.
"Lo abis belanja apaan tuh?" Velia penasaran dengan isi paperbag di tangannya.
"Gue abis dari KKV, biasalahh hunting make up." jawab Shanum.
Pelayan resto menghampiri mereka, menyerahkan buku menu.
Setelah memesan, mereka mulai mengobrol ringan.
"Katanya lo mau pindah ke Jakarta lagi Vel?" tanya Dena pada Velia.
"Hah?emang iya?kok gue gatau?" kaget Shanum.
Dena berdecak, "Apasih yang lo tau! Kalo ga kumpul lo tuh gatau berita apa-apa."
Shanum memang hanya aktif bertanya dan bercerita saat mereka sudah bertemu. Dia jarang bercerita masalah hidupnya di chat. Kurang pas dan gaada Feel nya.
Velia tertawa melihat Shanum yang dimarahi Dena, "Iya bulan depan gue udah mulai pindahan."
"Wihh asik dong, bisa main bertiga nih kita." ucap Shanum dan diangguki Dena dan Velia.
__ADS_1
"Gue gamau tau yah ntar abis lo pindahan kita harus liburan." ucap Dena.
"Mana bisa, gaada hari libur." ucap Shanum diangguki Velia.
"Lo ijin lah, hari jumat nya lo ijin, berangkat kamis malam balik minggu. Beres kan?"
"Capek dong tsay." kata Velia.
"Alahh capek yah pijet nyet."
Dena ini kalau sudah ada maunya tidak bisa di ganggu gugat.
Shanum berdehem singkat berusaha mengambil perhatian temannya.
"Gue mau cerita sesuatu ke kalian. Mumpung kita lagi kumpul."
Dena dan Velia saling menatap, lalu beralih ke Shanum yang bersiap untuk berbicara.
"Dua minggu lalu, gue diajakin mas Ardha ke acara sosial." ucap Shanum dengan suara sedikit berbisik.
"Apaa!?" ucap Dena dan Velia serempak. Walau berbisik, mereka masih bisa mendengar dengan jelas. Memang telinga mereka sudah update ke versi telinga gosip. Bisa mendengar walau hanya bisikan.
"Gue gaada hubungan apa-apa, cuma yah, dia ajakin gue dateng ke acara itu. Yaudah deh gue temenin. Gue nemenin dia doang kok ga lebih."
"Gue cerita ke kalian, ya karena lo berdua selalu cerita ke gue. Jadi gue gamau berat sebelah." jelas Shanum.
"Ya ga gimana-gimana. Habis itu dia anterin gue pulang. Gue pulang ke kos, dia pulang kerumah dia."
"Ya iyalah, yakali pulang ke kos lo. Emak gue bisa ngamuk kalo gitu!" Sentak Dena.
"Maksud nya perasaan lo gimana?" tanya Velia lagi.
Shanum menghela nafas, "Boong kalo gue bilang gue ga baper."
Shanum menyanggah kepala nya diatas meja. Tak ada yang menyela, menunggu shanum melanjutkan.
"Tapi gue ragu, bisa aja itu cuma sikap friendly dia ke semua orang. Gue juga nyadar beberapa kode dia. Cuma gue kan cewe, gue ga mau bilang suka duluan."
Memang, Shanum menyadari perlakuan Ardha padanya. Dari saat di labuan bajo sampai kemarin di panti asuhan. Mustahil dia tak merasa salah tingkah dan baper atas perlakuan Ardha yang manis.Tapi Shanum ini cewe seperti pada umumnya. Selalu meraba-raba perasaan Ardha padanya. Selalu ragu akan perasaannya sendiri.
"Gue juga bilang apa, dia tuh suka sama lo." kata Velia.
"Tapi kalo ngga gimana?" tanya Shanum gamang.
"Yaelah banyak bacot lo num, tinggal ngaku suka doang ribet." kata Dena.
"Bukannya ribet Dena, iya kalo dia beneran suka, kalo engga?selama ini kan dia ga pernah bilang suka ke gue. Gue gamau kepedean duluan." sanggah Shanum.
Dena menghela nafas kesal, selalu begitu sesi curhat ala Shanum..
__ADS_1
Saat curhat, Shanum selalu menyanggah saat diberi saran oleh kedua temannya. Tak tinggal diam mendengarkan, dia merasa perlu memberi alasan tentang sikapnya. Itu dilakukan karna rasa egonya yang tinggi dan tak mau disalahkan.
Setelah itu, makanan pesanan mereka datang. Melihat Shanum yang terlihat malas melanjutkan obrolan tentang Ardha, dia pun segera mengalihkan pembicaraan.
"Ehh kalian bisa kan bantuin gue pindahan ntar dia apartment baru?"
"Bisa lah."
"Bisaa dong."
"Num, lo ga mau pindah ke apartment aja?kita tetangaan gitu?" tawar Velia.
Shanum diam berpikir, "Kayak nya seru sih, tapi gue sayang ama kamar kos gue. Gimana dong?"
Dena memutar mata malas, "Kalo lo pindah apartment bareng si Velia, gue juga mau beli Apartment ajalah sekalian bareng kalian.
"Wahh asikk bangett tuh. Tapi ntar dulu deh, gue pikirin dulu." ucap Shanum.
Setelah selesai makan dan berniat pergi dari restoran, Velia tak sengaja melihat Ardha yang keluar dari privat room restoran.
Ardha yang keluar diikuti oleh seorang wanita membuat Velia mengerutkan dahi.
"Itu bukannya abang lo Den." kata Velia menunjuk ke arah Ardha.
"Lah sapa siapa tuh dia?" kata Dena. Shanum juga
melihatnya.
"Itu selebgram yang lagi viral itu loh, Gianeda. Lo berdua gatau?" ucap Velia.
Dena dan Shanum kompak menggeleng tanda tak tau.
"Ngapain mereka berdua disini?" tanya Dena berbisik.
"Ya makan lah Dena, masak mau masak?" saut Shanum.
"Tau gue!" saut Dena kesal. Kalau tau kenapa masih bertanya, pikir Shanum.
Tuh kan, benar dugaannya. Ardha itu bukan suka padanya. Melainkan hanya menganggap Shanum teman Dena, adiknya.
Perempuan itu mungkin pacarnya. Beruntung Shanum tak mengutarakan perasaannya pada lelaki itu. Untung lah dia tidak menuruti saran kedua temannya yang membawa kesesatan.
"Tuh kan gue bilang juga apa, dia ga suka sama gue. Untung gue ga kepedean duluan, masih bisa ngontrol. Kalo gue ngikutin saran kalian, bisa malu tujuh turunan gue." kesal Shanum.
Dena tak yakin perempuan itu adalah kekasih Dewa. Sebab Dena yakin bisa melihat tatapan suka Dewa pada Shanum.
Velia hanya diam tak berkata apa-apa.
Sedangkan Shanum, mulai saat ini meyakinkan dirinya untuk melupakan Ardha. Rasa sukanya masih belum terlalu jauh. Dia hanya ditahap baper sedikit pada lelaki itu, jadi masih mudah untuk menghapusnya.
__ADS_1