
Shanum berencana pergi ke salon hari ini. Dia ingin mengubah gaya rambut juga berencana mengecat rambutnya.
Shanum sudah mencari banyak referensi gaya warna rambut yang sedang ngetrend sekarang.
Dia juga sudah membuat janji dengan pihak salon supaya tak perlu antri lagi.
Shanum tiba di sana jam sembilan pagi sesuai janji. Dia sudah duduk dengan tenang didepan kaca. Ada seorang gadis yang akan merapikan rambutnya.
"Mau di potong model apa mbak?"
"Saya mau layer cut aja."
"Panjangnya mau seberapa?"
"Segini aja mbak." Shanum memilih sebatas dengan ketiaknya. Ardha sudah mewanti-wanti untuk tidak memotong rambutnya pendek.
Tapi Shanum juga gerah kalau harus tetap panjang seperti sekarang. Jadilah mengambil jalan tengah tak terlalu panjang juga tak terlalu pendek.
Setelah selesai dengan memotong rambutnya, Shanun menunjukkan foto referensi yang ia dapat tadi malam.
"Mbak saya mau cat rambut gini yaa."
"Okee siap."
Pertama-tama Shanum akan di bleach terlebih dulu. Karna warna yang dia mau sedikit terang jadi perlu beberapa kali bleaching sampai keterangan rambutnya sesuai.
Saat di proses bleaching an ke dua. Ada seorang perempuan yang duduk di kursi sebelah Shanum. Awalnya Shanum tak terlalu memerhatikan sampai perempuan itu menyapanya.
"Hai nyonya Menteri."
Shanum menoleh,"Gia?"
"Iyaa masa udah lupa aja sih."
"Kenapa?" Shanum sedikit heran, mengapa Gia menyapanya. Bukankah seharusnya Gia marah padanya karna sudah menikah dengan Ardha. Seharusnya ada adegan jambak-jambakan disini.
"Gue akuin lo menang karna udah nikah sama dia. Walaupun gue kesel dan ga terima tapi gue anti jadi pelakor." jelas nya.
Shanum mengangguk, "Bagus lah, lo cantik dan terkenal pastinya banyak cowo yang bakal mau sama lo."
Gia mengibaskan rambut panjangnya, "Yaiyalahh."
"Jadi bisa kan kita temenan aja, lumayan lah gue bisa pansos temenan sama istri menteri sosial."
"Bisa aja lo." jawab Shanum.
Shanum pikir setelah pernikahannya, dia akan trus bermusuhan dengan Gia. Ternyata Gia cukup pintar dan bijak dalam mengambil keputusan. Tentunya tidak bertindak bodoh dengan melakukan cara apapun untuk merebut suaminya seperti sinetron di televisi.
Memang benar kata orang, Jangan menilai orang dari penampilannya saja. Siapa tau sifat dan hatinya sangat baik.
Gia lebih dulu pergi karna dia hanya memangkas rambutnya sedikit. Sementara Shanum masih dalam proses pemberian warna.
πππ
Shanum kembali ke rumah pada pukul tiga lebih tujuh menit. Saat mobilnya memasuki garasi, dia melihat mobil suaminya sudah terparkir rapi di dalamnya.
Biasanya Ardha akan pulang pada jam empat sore dari kantor dinasnya. Shanum sedikit terkejut suaminya pulang lebih awal hari ini.
Shanum memasuki rumah dan langsung bisa melihat Ardha yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Mas, kok tumben udah pulang?"
Ardha menepuk sofa sampingnya memberi isyarat pada istrinya.
Shanum duduk disebelah suaminya, " Maaf ya yang, hari ini mas harus flight ke Medan. Ada sedikit kerjaan disana. Cuma sebentar kok dua hari aja."
"Emm trus aku sendirian?" Shanum cemberut.
"Yes bisa maen sama Dena." batin Shanum berbeda.
Ardha mengusap kepalanya lalu mencium punggung tangannya juga, "Maaf yaa sayang."
"Atau kamu mau ikut aja?"
"Haa, engga dehh aku di rumah aja." Shanum menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Beneran ga mau ikut? Kalo ikut juga boleh kok yang."
__ADS_1
"Engga deh gapapa di rumah aja, nanti kan pasti kamu sibuk. Kalo aku ikut malah kamu ntar tambah repot."
"Engga, gaada yang repot kalau itu buat kamu."
"Hehe sayang banget dehh sama kamu, tapi beneran aku di rumah aja."
Ardha mengela nafas, "Yaudah kalau gitu aku tinggal dua hari ga boleh nakal, okee?"
Shanum mengacungkan jempolnya, "Okeee."
"Kamu flight jam berapa?aku siapin dulu bajunya."
Shanum yang akan beranjak ditahan oleh Ardha, "Aku udah siapin, kamu duduk aja disini."
Ardha memeluk Shanum, "Aku mau nyimpen pelukannya dulu buat dua hari kedepan."
"Uuu sini sini peluk duluu." Shanum memeluk balik suaminya.
Tak beberapa lama kemudian, Dimas datang dan memberi tau bahwa mereka harus bergegas ke bandara.
Shanum mengantarkan suaminya ke sampai ke mobil dan menunggu sampai mobil Ardha menghilang dari pandangannya.
Shanum merentangkan tangannya, "Berasa kembali menjadi gadis tanpa suami."
Mencari handphonnya lalu mengirim pesan suara ke obrolan grup bertiga mereka.
"Woy maenn yokkk!."
"Maen apaan sih nyet!" balas Dena.
"Mas Ardha dinas dua hari, gue bebas. Ajakin maen dong."
"Beneran?let's go party bestiee." teriak Dena.
Shanum terkikik setelah mendengar jawaban semangat Dena. Beberapa menit kemudian Velia juga ikut muncul di dalam obrolan.
"Ada apaan nih."
"Nyonya Ardha Dewangga ngajak party coy."
"Widihh."
"Yaa pokoknya gitu lahh. Ntar jam delapan otw yakk."
πππ
Sekarang sudah jam delapan lebih tujuh belas menit, Shanum sudah bersiap dengan dress hitam cantik diatas lutut nya.
Shanum juga menenteng cardigan untuk menutupi bahunya nanti kalau-kalau dia kedinginan.
Drtt!
Drtt!
Handphone nya bergetar, Dena mengirim pesan bahwa dia sudah ada di depan rumah Shanum.
Di dalamnya pun sudah ada Velia.
Mereka bertiga langsung menuju bar langganan mereka. Menunjukkan kartu member saat di pintu agar tak perlu mengantri untuk memasuki bar tersebut.
Mereka langsung menuju lantai dua, duduk menyantai sambil menikmati dance floor dari atas.
"Ngapain suami lo ke Medan?!" tanya Velia.
"Gatau gue!." jawab Shanum. Mereka saling teriak karna sangat bising di dalam sana.
"Ya nyari duit lah goblok." saut Dena.
"Kasar ih Dena."
"Iyaa kasar begete."
Dena memutar bola matanya malas melihat kealay-an kedua temannya.
Setelah saling bercerita, Shanum pamit ke toilet.
Keluar dari toilet, bukannya kembali ke tempat teman-temannya. Shanum malah keluar dan berjalan kaki santai.
__ADS_1
Langkahnya berhenti karena menemukan seekor kucing kecil. Kucing itu berwarna hitam sedikit putih sepertinya. Entah warna asli atau karna kotor, Shanum tak tau.
Shanum berjongkok di depan kucing itu, "Kamu tersesat apa terlantar cing?"
Miauww
"Ohh terlantar."
"Emak nya kemana?"
Miauww
"Oh gatau."
Shanum berbicara seolah kucing itu mengerti dan menjawab perkataannya.
Shanum berdiri dan melangkah pergi.
Miauww
Miauww
Shanum menoleh kebelakang, kucing itu mengikutinya. "Mau ikut aku?" Shanum menunjuk dirinya sendiri.
Miauww
"Em gimana yaa."
"Kira-kira boleh ga yaa sama mas Ardha."batin Shanum.
"Ahh itu pikir ntar lahh. Yukk let's go home."
Shanum membungkus kucing kecil itu dengan cardigannya lalu menggendongnya.
Shanum mencari taxi untuk pulang. Ga mungkin dia membawa kucing sambil jalan kaki ke rumahnya yang jaraknya naudzubillah. Apalagi cardigan yang awalnya dia pakai untuk menghalau angin sudah dia donasikan untuk si kucing, bisa jadi beku dia nanti.
Di sepanjang jalan didalam taxi, Shanum berbicara pada kucing kecil itu. Entah membicarakan Ardha, Dena, Velia, sampai tetangganya dulu di Surabaya pun ikut diceritakannya.
Setelah sampai rumahnya, Shanum melihat keadaan rumah yang sudah sepi. Para art nya sudah tidur di kamar belakang.
Shanum memilih masuk kamarnya dan menempatkan kucing itu diatas sofa. Setelah membersihkan diri kurang lebih dua puluh menit. Shanum melihat kucing itu sudah tertidur.
"Yaudahlah besok aja mandiinnya." pikir Shanum.
Keesokan paginya, Shanum menyuruh seorang art nya untuk memandikan kucing kecil temuannya.
Shanum juga dengan semangat membeli perlengkapan kucing di toko online orange kesayangannya. Shanum sudah memutuskan untuk mengadopsi kucing itu. Kucing itu ada di jalanan, sepertinya bukan punya orang. Jadi tidak akan ada yang memprotesnya kan.
Shanum kaget saat art nya membawa kucing itu kembali. Ternyata kucing itu bukan berwarna hitam melainkan berwarna Abu putih.
"Kok jadi cantik."
"Kan sudah di mandiin bu." jawab art nya.
"Owh iyaa." art itu geleng-geleng kepala atas kelakuan majikannya.
Shanum pun menggendong dan mengelus kucing itu, "Kamu kan belum ada nama, bagusnya kasih nama apa yaa buat kamu."
Miauww
"Iyaa ntar dulu masih dipikirin."
"Gimana kalau koala aja. Bulumu kan abu-abu kaya koala."
Miauww
"Okee deal." Shanum menjawab seakan paham yang kucing itu katakan.
Fareshanum_
973.508 suka 108.261 komentar
Fareshanum_ Hallo guys it's Koalaπ¨
NaDenada Itu kocengg loh!!!
__ADS_1
and more comments....