My Dreamless Wedding

My Dreamless Wedding
Tidur Yang


__ADS_3

"Sedang apa?" Shanum menoleh kearah pintu kamarnya.


"Ga ngapa-ngapain, cuma sedikit nostalgia aja."


Shanum saat ini sedang melihat isi satu kotak kecil berisi benda-benda masa kecilnya. Ada sebuah bolpoin, ada juga slayer paskibra, surat, dan foto-foto nya.


"Kenapa kamu simpan ini?"


Shanum tersenyum menerawang, "Bolpoin ini dari cowo yang aku suka dulu, dia kasih aku ini. Waktu smp dulu."


"Kalo ini, ini dari mantanku yang anak paskibra. Setelah menang lomba, dia kasih ini."


"Surat ini dari sahabat ku waktu SMA, surat ucapan ulang tahunku."


"Menurutku, benda-benda kecil ini yang tidak mahal tapi sangat berharga. Makanya aku simpen trus walaupun udah ga ada hubungan."


Ardha beranjak duduk di kasur.


"Ehh, mas udah mau mandi?"


"Nanti dulu."


Tadi pagi, mereka sudah melangsungkan ijab qobul. Dilanjut dengan resepsi sederhana di rumah orang tua Shanum sedari tadi sore sampai malam.


Shanum kembali ke kamar lebih dulu. Saat duduk di meja riasnya, dia tak sengaja menemukan kotak masa kecilnya.


Tok Tok


Tok Tok


Shanum beranjak berdiri membuka pintu. Ternyata Dena yang membawa sebuah koper.


"Nih punya abang gue."


Shanum mengangguk, "Okee makasih ya."


"Sama-sama kakak ipar."


Shanum berdecak dan akan memukul Dena. Tapi Dena lebih dulu menghindar dan melarikan diri.


Shanum menyeret koper milik suaminya masuk.


Suami?


Sekarang dia sudah memiliki seorang suami dan sudah menjadi seorang istri.


Bisakah dia menjadi istri yang baik.


"Mas, Dena nganter koper punya kamu. Mau mandi sekarang?"


"Yaa saya mandi dulu." Ardha berdiri dan berlalu ke kamar mandi.


Shanum memilih membuka koper dan menyiapkan baju Ardha.


Setelah itu, Shanum keluar kamar dan turun kebawah. Dia bisa melihat semua orang sedang berkumpul di ruang tamu.


Ruang tamu ini lah yang menjadi saksi bisu pengucapan janji suci mereka berdua tadi pagi. Shanum sedikit salah tingkah mengingat hal itu.


"Dena, lo tidur dimana ntar?" Shanum bertanya.


Pasalnya rumahnya ini adalah rumah sederhana 2 lantai.


Di lantai bawah, terdapat ruang tamu, ruang tengah, kamar orangtuanya, kamar tamu, gudang, dapur bersih, dapur kotor dan musholla kecil.


Ada juga garasi tepat di samping rumah. Sementara lantai 2 hanya terdapat kamar Shanum, teras dan ruang tamu kecil.


Kamar tamu akan di gunakan oleh mertuanya, lalu Dena akan tidur dimana malam ini.

__ADS_1


"Gue tidur di dapur. Puas lo."


Shanum tertawa kecil, "Di belakang ada kasur, gue bawain ke atas deh ntar. Lo tidur di kamar gue aja."


"Hah, ogah gue."


Masa iya Dena bersedia menjadi penonton momen romantis pengantin baru itu. Mana mau dia.


"Udahh nanti di bawain ke ruang tengah aja. Gapapa kan Denada?" tanya mama Shanum.


"Nahh itu lebih baik tante."


Shanum mencebikkan bibir nya.


Mengobrol banyak hal, membuat mereka lupa waktu. Sekarang jam sudah menunjukkan angka sebelas. Shanum pamit undur diri dan lekas kembali ke kamar. Dia lupa saat ini sudah memiliki suami. Bisa-bisanya dia keasikan ngobrol dengan Dena sementara suaminya terlupakan.


Shanum membuka pintu kamarnya perlahan. Dilihatnya Ardha yang bersandar diatas kasur sambil fokus melihat ipad nya.


Ardha mendongak saat mendengar pintu terbuka dan melihat Shanum sekilas.


Shanum melenggang ke kamar mandi.


Shanum dengan kikuk berjalan ke arah kasur.


Ardha masih tetap fokus pada pekerjaannya. Shanum menarik selimut sampai keatas dadanya. Mencoba menutup matanya membelakangi Ardha.


Tak beberapa lama kemudian Shanum yang masih terpejam merasakan pergerakan kasurnya.


Dia merasakan ada tangan yang memeluknya dari belakang. Ardha semakin mendekat sampai Shanum bisa merasakan nafas hangat nya.


Shanum mencoba abai dan terus berusaha tidur. Tapi setelah setengah jam, dia belum bisa tidur juga. Padahal matanya sangat berat dan mengantuk.


Mungkin karena kali ini, dia tidak tidur sendiri lagi. Belum terbiasa dengan pelukan seseorang yang sudah jadi suaminya.


Shanum bergerak kecil mencari posisi nyaman nya.


Ardha yang merasakan pergerakan istrinya. Menepuk pelan pantat Shanum.


Shanum tertegun dengan panggilan dari Ardha. Tapi hal itu tidak penting sekarang.


Dikira gue bayi kali ditepukin pantatnya. Batin Shanum.


Tetapi nyatanya, Shanum merasa nyaman dan matanya semakin memberat. Shanum membalikkan badannya menghadap Ardha.


Ardha beralih mengusap punggung istrinya. Sementara Shanum memilih menyembunyikan wajah di leher suaminya.


Semakin di usap, semakin Shanum merasa nyaman.


Akhirnya dia bisa tertidur nyaman setelahnya.


🕊🕊🕊


Tak terasa pagi pun menjelang sangat cepat.


Ardha dan Shanum sudah bersiap untuk pulang kembali ke Jakarta siang ini.


Usai berpamitan dengan kata-kata dramatis dan penuh petuah pernikahan, akhirnya mereka sudah berada di bandara Juanda.


Setelah menempuh waktu beberapa jam, Akhirnya mereka sudah tiba di Jakarta.


"Kalian langsung pisah atau pulang dulu ke rumah?" tanya papa mertua Shanum.


Shanum menoleh ke arah suaminya.


"Pulang, aku sudah hubungi Dimas." jawab Ardha.


Mama dan Papa nya mengangguk paham mendengar jawaban Ardha.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu."


"Namanya juga pengantin baru pah, ya mau berduaan terus lah." celetuk Dena.


Shanum memukul lengan Dena. Kebetulan mereka berdiri bersebelahan.


"Shanum, nanti kalau kamu sendirian dan bosan datang ke rumah yaa." ucap ibu mertuanya.


Shanum mengangguk, "Siap mah."


Dimas datang beberapa menit kemudian. Ardha dan Shanum langsung pamit kepada orangtua mereka juga Dena.


Shanum melihat Ardha yang langsung sibuk dengan ipadnya begitu memasuki mobil. Kali ini Shanum memilih diam, dia sudah capek untuk sekedar berbasa-basi mencari topik.


Beberapa waktu kemudian, mobil masih berjalan.


Shanum yang merasa mereka masih jauh dari tujuan, memilih memejamkan matanya sejenak.


Ardha melirik istrinya, ternyata gadis itu sudah tertidur.


Ardha mengusap pelan rambut istrinya, pasti capek banget batinnya.


Ardha menepuk pelan lengan istrinya yang tertidur.


"Faresa, sudah sampai."


"Ayo bangun sebentar, lanjut tidur di dalam."


Shanum mengerjapkan matanya pelan. Melihat ke luar jendela. Terlihat sebuah rumah dengan dominan warna putih di temboknya.


"Udah sampe ya?"


Ardha mengangguk mengiyakan.


Membuka pintu dan berjalan beriringan masuk ke dalam rumah.


"Ini rumah kita."


"Di lantai satu, ada ruang tamu, dapur, taman dan kolam di belakang, ada ruang gym juga disini."


Shanum mengangguk, dia masih mengantuk sekarang. Yang penting mengangguk dulu paham nya belakangan aja.


Beralih ke lantai dua, "Disini ada kamar utama, tiga kamar kosong, ruang kerjaku, juga ada ruang playground."


Shanum mengangguk lagi.


"Kalo kamarku dimana mas?"


"Ayo."


Ardha menarik Shanum menuju kamar mereka.


Shanum tak terlalu memerhatikan detail kamar karna masih mengantuk.


Ntar ajalah gue home tour, tidur dulu aja sekarang. pikirnya.


"Aku boleh tidur lagi gak."


Ardha mendekat dan memeluk istrinya.


"Masih ngantuk ya?"


Shanum mengangguk didalam pelukan Ardha.


"Yasudah kamu tidur dulu, aku mau ke ruang kerja."


Shanum mengangguk, setelah itu Ardha berlalu pergi.

__ADS_1


Shanum berjalan ke kamar mandi untuk ganti pakaian. Dia memilih memakai hot pants dan kaos oversize.


Setelah itu, Shanum langsung pergi tidur lagi.


__ADS_2