
Keesokan harinya dirumah sakit Cinta Bunda
"Besok kemungkinan besar kakek anda sudah bisa pulang" ujar Dokter yang selama ini menangani Kakek Darmo kepada Juna.
"Terimakasih Dok atas penanganannya" jawab Juna. Dokter tersebut tersenyum dan mengangguk, "Saya permisi untuk mengecek pasien yang lain".
"Oh..iya Dok, sekali lagi terimakasih" jawab Juna. Setelah Dokter itu pergi, Ayra yang sedari tadi berada diluar langsung masuk dan menyapa Juna. "Kamu ngapain kesini?"ujar Juna setengah berbisik kepada Ayra agar tidak membangunkan kakeknya yang terlihat tidur.
Ayra tidak menjawab perkataan Juna, dia hanya menyerahkan sebuah bungkusan plastik berisi makanan pisang goreng. "Kamu tau nggak kalau gorengan nggak baik buat tenggorokan kakek bisa membuatnya batuk?!" Juna terlihat protes." Kamu tuh memang nyebelin" ujar Ayra. Dia lalu mengambil kembali gorengan yang dibawanya dengan wajah manyun.
"Non Ayra" ujar Kakek Darmo yang terbangun dengan suara Juna dan Ayra yang terlihat berdebat. "Eh..maaf kek, jadi ngebangunin.Aku hanya mampir sebentar untuk melihat kakek" ujar Ayra yang tidak jadi pergi keluar kamar dan langsung mendekat ketempat tidur dimana kakek Darmo terbaring.
"Terimakasih" ujar Kakek Darmo.
Seorang suster masuk kedalam kamar untuk mengantar makan siang kakek.
"Kakek harus makan yang banyak ya, jangan disisain seperti kemarin-kemarin biar cepat sembuh dan pulang kerumah". Ujar suster itu membujuk Kakek Darmo yang tidak pernah menghabiskan makanannya.
Kakek Darmo hanya diam dan sepertinya tidak berselera untuk makan. "Tolong dibantu ya, mas biar kakeknya mau makan yang banyak" ujar Suster itu kepada Juna. Ayra yang mendengarkan masalah itu, tiba-tiba mempunyai ide cemerlang agar kakek Darmo mau makan yang banyak.
---------------------------------------------------------------------------
Beberapa saat kemudian
__ADS_1
"Sudah kakek bilang kakek nggak mau makan" ujar kakek Darmo yang merasakan seseorang menyodorkan makanan kearahnya.
"Kalau nggak mau makan bagaimana bisa cepat sembuh?" Terdengar suara lembut dari seseorang.
Kakek Darmo membuka matanya, dari pura-pura tidurnya agar terhindar dari menghabiskan makanan yang sedari tadi dicoba Juna supaya kakeknya mau menghabiskan makanannya.
"Ratih?? Kok kamu bisa disini??" Kakek Darmo terkejut namun juga senang melihat sahabat dekatnya berada didepannya.
"Tadi teman cucumu datang ke panti, dan mengatakan kalau kamu sedang sakit dan dirawat disini. Jadi akhirnya aku kemari" jawab nenek Ratih. Juna menjadi terbangun dari tidurnya dikursi sofa didekat tempat tidur kakeknya, dia merasa sedikit bingung dengan kedatangan nenek Ratih. Namun akhirnya Juna menjadi mengerti setelah melihat kearah pintu dimana Ayra dan Tania melambaikan tangan kearahnya.Rupanya Ayra dan Tania yang dimaksud Nenek Ratih. Orang yang menjemputnya untuk datang kerumah sakit.
Juna hanya tersenyum dan merasa senang karena akhirnya kakeknya pasti mau menghabiskan makanan dengan disuapi nenek Ratih,Pujaan hati kakeknya.
----------------------------------------------------------------------------
"Selamat malam..." jawab Bimbim yang menjawab telfon karena Juna yang seharusnya mengangkat telfon itu terlihat melamun.
"Eh semprul, telfon untukmu" ujar Bimbim ke Juna. "Selamat malam" ujar Juna setelah dia mengambil telfonnya. "Kamu sibuk nggal Ga?" Ujar Ayra. "Sedikit" jawab Juna.
"Bagaimana keadaan tanganmu sekarang sudah baikkan?" Tanya Juna
"Loh? Kok kamu tau kalau tanganku patah?" Tanya Ayra yang merasa heran dengan pertanyaan Auriga(Juna) padahal dia tidak datang kerumah sakit untuk menjenguknya.
Juna yang merasa keceplosan dengan cepat berfikir untuk menjawab pertanyaan Tania (Ayra), " eee...anu, dua hari yang lalu aku sempat nelfon kerumah sakit dan bertanya tentang keadaanmu".
__ADS_1
"Oohh..gitu toh". Ayra menjadi tersenyum dan senang dengan jawaban Auriga (Juna),Rasa herannya menjadi hilang.
"Sudah larut malam nih Tania, lagipula aku mau ngerjain sesuatu dari bos nih" ujar Juna beralasan agar bisa menutup telfon Ayra.
"Iya Ga..nggak apa-apa besok disambung lagi ngobrolnya" jawab Ayra yang kembali heran dengan sikap Auriga (Juna) yang lain dari biasanya.
"Bye Tania".
"Bye Ga".
Setelah menutup telfon Juna merasa bimbang dengan dirinya, apakah dia harus jujur kepada Ayra kalau dia mengetahui siapa sebenarnya Tania?
---------------------------------------------------------------------------
Hari ini karena menginap distudio Juna pulang pagi kerumahnya, Dia turun dari mobil untuk mendorong mobil Ayra yang terparkir didepan pagar rumahnya. Sehingga menghalanginya untuk memasukkan mobilnya.
Untungnya mobil Ayra tidak direm tangan dengan posisi gigi netral tidak seperti sebelumnya sehingga dia bisa mendorong mobil itu. Tiba-tiba Ayra menghampiri Juna dan ikut mendorong mobilnya dengan punggungnya karena tangannya yang masih digips. "Aduh, maaf ya Juna, semalan teman ku lupa mindahin jadi ngalangngin kamu masukin mobil".ujar Ayra sembari ikut membantu mendorong.
"Nggak apa-apa kok Ay" jawab Juna kalem. Tidak ada raut dan nada emosi darinya.
Tidak seperti hari-hari sebelumnya, yang ada pasti Ayra dimaki-maki dengan Juna.
"Tumben nih cowok jinak?" Guman Ayra dalam hati. Tapi perubahan Juna yang kalem kali ini membuat Ayra merasa nyaman.
__ADS_1