My Enemy My Sweet Heart

My Enemy My Sweet Heart
"My Enemy My Sweet Heart" Chapter 2 ( Elok ) Page : 14


__ADS_3

"Didekatmu kotak bagai nirwana, tapi saling sentuhpun kita tak berdaya"


(Alegi sepasang sepatu)


Aula Hotel acara pagelaran busana Tania


"Maaf Na, kalau kamu nggak nyaman menemani ku". Ujar Ayra yang merasa tidak enak melihat Juna masih terlihat tidak nyaman walaupun matanya terlihat serius kearah panggung dimana para pragawati melenggak-lenggok dengan busana rancangan Tania.


"Nggak apa-apa Ay, aku sudah mengerti kenapa kamu bersikeras agar aku menemanimu".


"Maksudnya?"


"Karena pria itu kan?" Tanya Juna sambil melihat kearah pria dengan pasangannya. Pria yang membuat Ayra menjadi salah tingkah dan menutupi wajahnya ketika melihatnya ditempat parkir.


Ayra belum sempat menjawab tebakan Juna karena pria yang dimaksud tiba-tiba berjalan menghampiri mereka.


"Apa kabar Ayra?"


"Eh...kabar baik"


"Datang dengan siapa?"tanya pria itu


"Sayang, kenalin nih temanku" jawab Ayra yang dengan refleks mengapit tangan Juna.


"Gibran"


"Juna"


Ayra tersenyum dipaksakan karena tidak nyaman dengan kehadiran Gibran ditempat itu. Kalau tau bakalan ada Gibran, pasti Ayra tidak akan datang diacara ini.


Gibran terlihat sinis melihat Juna, namun Juna tidak mempedulikan hal itu dan tetap cuek tidak terpancing dengan sikap Gibran.


"Sampai nanti Ay"


Ayra hanya diam dan menyenderkan kepalanya di lengan Juna yang menambah ketidak sukaan Gibran. Karena dia tidak bisa lagi mendekati Ayra kalau Ayra sudah punya pasangan.


Setelah Gibran berlalu Ayra tetap mengapitkan kedua tangannya dengan Juna.


"Ay...dia sudah pergi, kamu bisa ngelepasin tanganmu sekarang".ujar Juna setengah berbisik. Ayra pura-pura tidak mendengarkan perkataan Juna dan tetap dengan tingkahnya.


---------------------------------------------------------------------------


Acara kemudian dilanjutkan dengan makan malam di Dining Hall


Juna menuangkan teh kecangkir Ayra.


"Terimakasih"

__ADS_1


"Kamu terlalu banyak minum Ay"


"Cuma sedikit itu Na"


"Aku cuma mengingatkan Ay"


Seorang wanita menepuk pundak Ayra, wanita itu adalah Salma istri dari Gibran.


"Ayra kamu disini juga?,boleh aku bergabung?"


Ayra mengangguk mempersilahkan Salma bergabung dimeja mereka.


"Sayang..ikut bergabung yuk" ujar Salma memanggil Gibran yang sedari tadi memperhatikan dari tiga meja disamping mereka. Dia lalu ikut bergabung sehingga suasana yang semula biasa menjadi canggung.


"Jadi bagaimana kabarmu Ay?, sudah bertemu seseorang tampaknya?" Tanya Salma.


"Oh..iya, perkenalkan ini..."


"Aku Juna calon suami Ayra"


"Hah?? Calon suami?? Selamat ya" ujar Salma


"Eheemmn" Ayra menjadi terbatuk dengan jawaban Juna.


Juna tersenyum dan menggenggam tangan kiri Ayra. Gibran yang mendengar hal itu menjadi terkejut, secepat itu Ayra bisa melupakannya dan akan menikah?.


"Heh...kalian berdua" sebuah suara memecahkan keheningan dimeja itu


"Tania?" Ujar Salma"


"Maaf ya, cowok-cowok tampan. Eike harus berbicara dengan para cewek-cewek ini" ujar Tania yang meminta Ayra dan Salma untuk bergabung dimejanya dengan para pragawati.


Juna dan Gibran hanya mengangguk. Setelah Ayra dan Salma meninggalkan meja itu, Gibran yang sedari tadi penasaran dengan Juna bertanya dengan penuh selidik.


"Kamu siapa?"


"Calon suaminya Ayra" jawab Juna


"Maksud ku bukan itu"


"Aku tidak mengerti dengan arah pertanyaan mu"


"Oke, karena aku tidak suka dengan caramu, jangan permainkan Ayra. Dia sudah mengalami hal yang sangat berat dalam hidupnya".


Juna memandang Gibran dengan tersenyum dingin, entah mengapa dia mulai merasa tidak suka dengan Gibran.


"Kamu jangan membuat hidupnya bertambah rumit. Mengerti??, jangan permainkan dia".

__ADS_1


"Mengapa tidak? Bukankah itu menyenangkan? Permainan itu menyenangkan". Jawab Juna dengan dingin.


"Permainan membuat kita tertawa, apa kamu membuat Ayra tertawa?".


"Kamu tidak tau apapun mengenai Ayra!"


"Aku tidak tau?...mengapa aku harus tau??"


"Sudah cukup, tidak penting berbicara denganmu". Gibran terlihat kesal dan beranjak dari tempat duduknya untuk meninggalkan Juna


Juna ikut berdiri dan mencegah Gibran untuk pergi. "Tunggu sebentar, kita belum selesai". Juna memegang tangan Gibran.


Gibran semakin kesal dan menepiskan tangan Juna dengan keras. Juna membalas reaksi Gibran dengan mendorongnya hingga Gibran hampir terjatuh. Dengan cepat pula dia mendorong Juna hingga tubuh Juna terduduk diatas trolly untuk peralatan makan dibelakangnya. Seorang staff hotel berusaha melerai dan seisi ruangan melihat kearah Juna dan Gibran.


"Maaf...maaf" Gibran berusaha menormalkan suasana dengan mengangkat kedua tangannya


"Aku hanya kepeleset" ujar Juna


"Maaf...maaf"


Melihat suasana yang mulai kondusif staff hotel yang melerai kemudian ikut membantu rekannya membereskan peralatan makan yang berantakan karena terduduk Juna.


"Sebaiknya kamu mengikuti perkataan ku!,jangan permainkan Ayra" ujar Gibran kepada Juna dengan wajah yang masih terlihat marah.


Juna mendekatkan wajahnya ke Gibran dan berkata " jangan terlalu banyak bicara, dan tersenyum. Aku tidak suka dengan senyummu, mulai saat ini jika kamu tersenyum kamu mati!!!" balas Juna dengan tidak kalah emosi.


Gibran yang terpancing emosi melayangkan tinjunya kearah wajah Juna, namun meleset karena Juna dengan cepat mengelak dan balas memukul dengan keras kearah perut Gibran sehingga membuatnya terduduk. Namun belum sempat dia memukul untuk kedua kalinya orang-orang disekitar melerai perkelahian mereka dan menarik Juna menjauh dari Gibran.


"Kamu ngapain Juna??!!" Teriak Ayra dengan marah, membuat Juna berhenti untuk menyerang Gibran.


"Laki-laki itu minum dari gelasku" jawab Juna.


"Dia bahkan tidak minta maaf, itu hal yang tidak sopan Ay".


Ayra melihat kearah Gibran yang hanya terdiam, Salma yang berada dibelakangnya terlihat bingung dan mengusap-ngusap punggung suaminya untuk menenangkan.


Dia lalu melihat kearah Juna lagi yang terlihat meredakan emosi.


"Gibran...kenapa kamu minum dari gelasnya?"


Gibran hanya tertegun dan tidak bisa menjawab pertanyaan Ayra.


"Kenapa kamu harus minum dari gelasnya??, kenapa selalu minum dari gelas orang lain??. Kamu seharusnya malu dan minta maaf!!!".


"Kenapa??...kenapa??!!" Ayra yang terlihat emosi mendekati Gibran dan mendorongnya dengan keras. Juna lalu menarik Ayra untuk pergi dari tempat itu agar emosinya tidak bertambah memuncak. "Maaf Ayra..aku minta maaf" hanya kata-kata itu yang terlontar dari Gibran yang merasa bersalah dengan sikap egoisnya.


__ADS_1


__ADS_2